Sunday, July 26, 2026

Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya

Puisi Pringadi Abdi Surya




Dongeng Hutan


Dulu, ada hutan. Hutan yang bernapas dengan seribu

udara, yang berbahasa dengan seribu suara: bisik daun, 

tawa kera, desau sungai purba. 


Setiap pohon adalah rumah, juga cerita. Di sana 

hujan jatuh begitu lebat, menghapus jejak waktu 

yang tak pernah terawat.


Kini, cerita kita berbeda. Ada barisan baru yang tumbuh.

Berdiri tegak, rapi, lurus, membisu. Seperti tentara

menunggu aba-aba.


Tak ada lagi semak belukar sunyi, tempat menyimpan 

rahasia, juga mimpi. Udara pun terasa berbeda, 

tipis, dan asing. Burung-burung pergi, tanpa pesan terakhir 

meninggalkan sehelai bulu, untuk pembatas buku.


Tapi apa lagi yang perlu kucatat:

Tanah ini, yang dulu hangat oleh akar yang menunjang dalam, 

atau menyerabut, menjadi sarang serangga menari, tempat 

kumbang bersemayam. Dan daun-daun khusuk bersembahyang.


(2025)



Tanpa Transportasi


Kau bertanya, kota seperti apa ini?


Di kota ini, tak ada bus yang berangkat pagi. 

Halte-halte karib dengan karat. Pondasi

telah tumbuh akar, merambat di tiang lampu, 

memanjat doa-doa orang yang lelah menunggu.


Rel kereta api juga masa lalu. 

Segerombol kucing berjalan di atasnya hati-hati, 

seperti penari kawat yang telah kehilangan sirkus 

dan penontonnya kini tinggal menunggu mampus.


Setiap bertanya seberapa jauh—kutunjukkan sol sepatu 

yang menipis dan punggung yang menghapal bentuk matahari. 

Setiap langkah adalah sudah

percakapan sunyi antara aspal dan debu yang tabah.


Kau bertanya, kota seperti apa ini?


Sebuah kota yang membiarkan penduduknya tersesat

Tak ada penunjuk arah. Di persimpangan jalan, 

lampu lalu lintas hanya nyala warna kuning. Selamanya.


(2025)



Di Ujung Toga


Kota ini bangun lebih pagi dari doa ibu,

mencetak kami lagi di mesin fotokopi nasib— 

barisan wajah serupa, di-laminating harapan tipis,

diapit ijazah yang mulai terasa seperti 

paspor ke negeri yang tak pernah ada di peta.


Kami datang dengan nama lengkap dan gelar,

seperti mantra yang kami hapal empat tahun,

berharap satu pintu akan terbuka oleh sihirnya. 

Tapi di sini, di lobi-lobi dingin berlantai granit, 

mantra itu gumam yang hilang ditelan suara pendingin.


Antrean ini lebih panjang dari cicilan KPR,

ular beton yang melingkari gedung-gedung kaca.

Di dalamnya, kami adalah arsip 

yang menunggu giliran untuk menguning. CV kami—

selembar surat cinta yang dikirim ke alamat

yang mungkin tak pernah membukanya.


"Sudah sampai mana?" tanya bapak dari seberang kota, 

suaranya seperti sinyal radio yang pecah dan berisik

Aku ingin menjawab, "Sudah sampai di titik 

mempertanyakan harga sebuah toga dan tawa di hari wisuda." 

Tapi yang keluar hanya, "Masih proses, doakan saja."


Di kedai kopi seberang kantor, kami bertukar cerita,

bukan tentang teori Foucault atau laba ditahan, 

tapi tentang aplikasi mana yang baru membuka lowongan,

tentang HRD yang hanya melihat sekilas ingatan, 

seperti memindai barcode barang diskon di pertokoan. 


Ijazah di dalam map ini terasa lebih berat dari tas 

yang dulu dibawa mendaki gunung di akhir semester. 

Dulu puncaknya jelas, kini aku berdiri di kaki 

menara gading yang tuli, melihat pantulanku di kaca—

seorang asing dengan sepatu yang solnya mulai menipis.


Kami adalah glitch di sistem kota ini,

notifikasi ‘telah dibaca’ yang tak pernah dibalas.

Setiap sore, kami pulang membawa lelah dan pertanyaan 

yang sama: untuk siapa sebenarnya menara-menara ini 

dibangun, jika pintunya hanya seukuran lubang jarum?


(2025)



Banjir Suatu Hari


Hujan menggantung di ingatan, dan 

tak kunjung surut.

Kautahu, ada berapa kata

yang hanyut di setiap tetesnya?


Aku menghitung lama genangan,

lewat embusan napas

yang tersangkut di antara doa dan cemas.


Air naik, dan kita belajar

bagaimana mencintai yang hilang,

dari meja makan yang mengambang

hingga sepatu-sepatu yang terbawa arus

ke muara sungai yang tak pernah kita urus.


Setiap rumah adalah perahu,

Jendela-jendelanya membuka diri ke langit

sambil menanti jawaban dari berbagai pertanyaan

yang selama ini terbentur lutut kekuasaan.


Benarkah bahwa

Yang fana adalah waktu, air abadi?


(2025)



Setelah Lama Tak Kutulis Puisi


setelah lama tak kutulis puisi, baru kusadari

telah lama pula hujan tak turun di kota ini

seribu daun ranggas, tapi tak ada pemakaman

iring-iringan kendaraan hanya milik pejabat

melaju cepat seperti hendak lari dari kematian


pada itu, kata-kata berkumpul di pinggir pantai

asap terkepul, mereka sedang membakar ingatan

aku tak tahu, bila niat itu belajar menjadi ibrahim

yang tak terbakar dijilati api. tetapi kobar

kian kobar, langit mulai tampak terpanggangi


setelah lama tak kutulis puisi, baru kupahami

telah lama pula tak ada seseorang yang kutangisi

kekasih yang berdiri di seberang jalan kini tak gadis


pada itu, aku mengingat-ingat kata terakhir

yang tak sempat kutuliskan di selembar surat

tentang hukum kekekalan cinta

bahwa cinta hanya menjadi kekal

bila ada perpisahan


______


Penulis


Pringadi Abdi Surya, dilahirkan di Palembang, 18 Agustus. Sekarang sedang bertugas di Banda Aceh. Catatan pribadinya sesekali tayang di https://catatanpringadi.com.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!