Puisi Pringadi Abdi Surya
Dongeng Hutan
Dulu, ada hutan. Hutan yang bernapas dengan seribu
udara, yang berbahasa dengan seribu suara: bisik daun,
tawa kera, desau sungai purba.
Setiap pohon adalah rumah, juga cerita. Di sana
hujan jatuh begitu lebat, menghapus jejak waktu
yang tak pernah terawat.
Kini, cerita kita berbeda. Ada barisan baru yang tumbuh.
Berdiri tegak, rapi, lurus, membisu. Seperti tentara
menunggu aba-aba.
Tak ada lagi semak belukar sunyi, tempat menyimpan
rahasia, juga mimpi. Udara pun terasa berbeda,
tipis, dan asing. Burung-burung pergi, tanpa pesan terakhir
meninggalkan sehelai bulu, untuk pembatas buku.
Tapi apa lagi yang perlu kucatat:
Tanah ini, yang dulu hangat oleh akar yang menunjang dalam,
atau menyerabut, menjadi sarang serangga menari, tempat
kumbang bersemayam. Dan daun-daun khusuk bersembahyang.
(2025)
Tanpa Transportasi
Kau bertanya, kota seperti apa ini?
Di kota ini, tak ada bus yang berangkat pagi.
Halte-halte karib dengan karat. Pondasi
telah tumbuh akar, merambat di tiang lampu,
memanjat doa-doa orang yang lelah menunggu.
Rel kereta api juga masa lalu.
Segerombol kucing berjalan di atasnya hati-hati,
seperti penari kawat yang telah kehilangan sirkus
dan penontonnya kini tinggal menunggu mampus.
Setiap bertanya seberapa jauh—kutunjukkan sol sepatu
yang menipis dan punggung yang menghapal bentuk matahari.
Setiap langkah adalah sudah
percakapan sunyi antara aspal dan debu yang tabah.
Kau bertanya, kota seperti apa ini?
Sebuah kota yang membiarkan penduduknya tersesat
Tak ada penunjuk arah. Di persimpangan jalan,
lampu lalu lintas hanya nyala warna kuning. Selamanya.
(2025)
Di Ujung Toga
Kota ini bangun lebih pagi dari doa ibu,
mencetak kami lagi di mesin fotokopi nasib—
barisan wajah serupa, di-laminating harapan tipis,
diapit ijazah yang mulai terasa seperti
paspor ke negeri yang tak pernah ada di peta.
Kami datang dengan nama lengkap dan gelar,
seperti mantra yang kami hapal empat tahun,
berharap satu pintu akan terbuka oleh sihirnya.
Tapi di sini, di lobi-lobi dingin berlantai granit,
mantra itu gumam yang hilang ditelan suara pendingin.
Antrean ini lebih panjang dari cicilan KPR,
ular beton yang melingkari gedung-gedung kaca.
Di dalamnya, kami adalah arsip
yang menunggu giliran untuk menguning. CV kami—
selembar surat cinta yang dikirim ke alamat
yang mungkin tak pernah membukanya.
"Sudah sampai mana?" tanya bapak dari seberang kota,
suaranya seperti sinyal radio yang pecah dan berisik
Aku ingin menjawab, "Sudah sampai di titik
mempertanyakan harga sebuah toga dan tawa di hari wisuda."
Tapi yang keluar hanya, "Masih proses, doakan saja."
Di kedai kopi seberang kantor, kami bertukar cerita,
bukan tentang teori Foucault atau laba ditahan,
tapi tentang aplikasi mana yang baru membuka lowongan,
tentang HRD yang hanya melihat sekilas ingatan,
seperti memindai barcode barang diskon di pertokoan.
Ijazah di dalam map ini terasa lebih berat dari tas
yang dulu dibawa mendaki gunung di akhir semester.
Dulu puncaknya jelas, kini aku berdiri di kaki
menara gading yang tuli, melihat pantulanku di kaca—
seorang asing dengan sepatu yang solnya mulai menipis.
Kami adalah glitch di sistem kota ini,
notifikasi ‘telah dibaca’ yang tak pernah dibalas.
Setiap sore, kami pulang membawa lelah dan pertanyaan
yang sama: untuk siapa sebenarnya menara-menara ini
dibangun, jika pintunya hanya seukuran lubang jarum?
(2025)
Banjir Suatu Hari
Hujan menggantung di ingatan, dan
tak kunjung surut.
Kautahu, ada berapa kata
yang hanyut di setiap tetesnya?
Aku menghitung lama genangan,
lewat embusan napas
yang tersangkut di antara doa dan cemas.
Air naik, dan kita belajar
bagaimana mencintai yang hilang,
dari meja makan yang mengambang
hingga sepatu-sepatu yang terbawa arus
ke muara sungai yang tak pernah kita urus.
Setiap rumah adalah perahu,
Jendela-jendelanya membuka diri ke langit
sambil menanti jawaban dari berbagai pertanyaan
yang selama ini terbentur lutut kekuasaan.
Benarkah bahwa
Yang fana adalah waktu, air abadi?
(2025)
Setelah Lama Tak Kutulis Puisi
setelah lama tak kutulis puisi, baru kusadari
telah lama pula hujan tak turun di kota ini
seribu daun ranggas, tapi tak ada pemakaman
iring-iringan kendaraan hanya milik pejabat
melaju cepat seperti hendak lari dari kematian
pada itu, kata-kata berkumpul di pinggir pantai
asap terkepul, mereka sedang membakar ingatan
aku tak tahu, bila niat itu belajar menjadi ibrahim
yang tak terbakar dijilati api. tetapi kobar
kian kobar, langit mulai tampak terpanggangi
setelah lama tak kutulis puisi, baru kupahami
telah lama pula tak ada seseorang yang kutangisi
kekasih yang berdiri di seberang jalan kini tak gadis
pada itu, aku mengingat-ingat kata terakhir
yang tak sempat kutuliskan di selembar surat
tentang hukum kekekalan cinta
bahwa cinta hanya menjadi kekal
bila ada perpisahan
______
Penulis
Pringadi Abdi Surya, dilahirkan di Palembang, 18 Agustus. Sekarang sedang bertugas di Banda Aceh. Catatan pribadinya sesekali tayang di https://catatanpringadi.com.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!