Cerpen Anri Dzakkir
Kilat memecah malam. Petir menggelegar. Ribuan
tetes air jatuh. Dua sosok tergopoh-gopoh menyeret karung besar berisi mayat.
Yang satu sambil membawa cangkul. “Ayo buruan, sebelum ada warga yang melihat
kita,” ucap salah satu sosok. “Gimana kalau kita kubur di sumur tua ini saja?”
Sahut sosok yang memegang cangkul.
“Jangan,” hujan terus menderu.
“Kita gali lobang baru saja. Buruan!”
Dua sosok itu pun menggali sebuah lubang
bergantian di dekat sumur tua itu.
“Buruan masukin mayatnya, nanti keburu ada yang
lihat,” ucap salah satu sosok setelah mereka selesai menggali lubang yang cukup
dalam.
“Baik,” jawab sosok di sebelahnya seraya
memasukkan karung berisikan mayat itu ke dalam lubang.
“Buruan timbun!”
“Oke.”
Setelah itu.
“Udah, ayo buruan kita pergi,” ajak salah satu
sosok tatkala mereka selesai menimbun lubang itu.
“Ayok,” jawab sosok di sebelahnya.
Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada
malam itu, namun tidak ada pula yang mengetahui bencana apa yang akan datang di
kemudian hari kepada mereka.
* * *
Delapan belas tahun kemudian.
“Ma, yang benar aja dong. Masa kita pindah ke
rumah kecil ini,” ucap seorang anak kecil yang berumur 11 tahun.
“Mau
gimana lagi Nak. Papa kan baru saja tertangkap KPK karena korupsi. Jadi cuma
rumah kecil ini yang kita punya sekarang,” jawab sang mama.
“Riko tahu
Ma, tapi kenapa kita gak tetep tinggal di kota aja sih Ma?”
“Biaya hidup di kota mahal Riko. Sedangkan kita
gak punya apa apa lagi. Semua aset kita sudah disita sama KPK,” jelas sang Ibu.
“Tapi kan....,” ucap Riko ingin membantah.
“Riko, kamu bisa gak sih paham sama keadaan kita
sekarang. Kita sudah gak punya apa apa lagi,” potong sang kakak yang dari tadi
hanya diam dan akhirnya tidak tahan dengan kelakuan adiknya.
“Benar apa yang dikatakan kakakmu itu Riko,” sambung
mama.
Riko hanya diam. Di dalam hatinya ia sangat kesal
kenapa semua ini harus terjadi kepada dirinya.
“Ya, sudah. Meningan kamu sekarang bantuin kak
Clara masukin barang barang kita ke dalam,” ucap sang mama sembari menunjuk
Clara yang mulai mengangkat barang barang ke dalam rumah.
“Iya...,” jawab
Riko dengan raut wajah yang sangat kesal.
Kemegahan cahaya matahari lenyap diterkam
gelapnya malam. Setetes cahaya bulan yang redup dengan sinar yang samar
perlahan-lahan muncul.
“Riko keluarlah dari kamarmu. Ayo kita makan
malam,” panggil mama dari arah dapur.
“Iya ma,” jawab Riko malas sembari melangkah
pelan menuju dapur.
Sesampai di meja makan.
“Makanan macam apa ni Ma? Riko gak sudi
memakannya,” ucap Riko dengan meninggikan suaranya.
“Hanya ubi rebus ini yang bisa mama masak Nak. Mama
belum sempat pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan. Lagi pula uang tabungan mama
juga tinggal sedikit, jadi kita harus hemat,” jelas mama panjang lebar.
“Semua ini menyaebalkan,” teriak Riko kemudian
berlari ke luar rumah.
“Riko, kamu mau ke mana?” panggil mama namun
tidak dipedulikan Riko.
“Riko mau
ke mana Ma?”tanya Clara yang baru keluar dari kamarnya.
“Dia marah
karena mama cuma bisa memberinya makan ubi rebus ini,” jelas mama.
“Dasar
anak bandel itu,” ucap Clara.
“Ayo, kita
kejar dia Clara,” pinta mama khawatir.
“Biar
Clara aja yang mencari Riko. Mama tenang aja di rumah,” ucap Clara.
“Kamu yakin Clara? Desa ini berbeda dengan kota Nak,”
jelas mama.
“Tenang aja Ma. Clara bisa kok,” jawab Clara
meyakinkan.
“Ya, udah, tapi kamu hati hati ya, Nak!” pinta mama.
“Iya, Ma,” saut Clara sembari bergegas
melangkahkan kaki ke luar rumah. Tanpa mereka sadari ada sebuah bayangan
(makhluk halus) yang sedari tadi memantau keributan yang terjadi di rumah kecil
itu.
* * *
“Riko. Di mana kamu Riko,” teriak Clara terus
memanggil manggil adiknya namun hasilnya tetap nihil. Dia tidak menemukan di mana
keberadaan adiknya itu.
“Ke mana ya semua penduduk desa ini. Kok sepi
kali sih,” gumamnya dalam hati dengan terus berjalan menelusuri gelapnya desa
itu.
“Menara apa ini? Seram amat kelihatannya,”
tatkala dia berdiri di bawah menara yang menjulang tinggi di tengah tengah desa
itu. Menara itu seperti di selimuti oleh aura yang menyeramkan. Belum lagi
lumut dan kerak banyak menempel di bagian dindingnya menambah ngerinya menara
itu, membuat bulu kuduk berdiri. Tetiba dia mendengar suara tangisan anak kecil
dari arah kegelapan di belakang menara itu.
“Siapa di sana. Riko apa itu kamu? ” ucapnya
sembari berjalan perlahan ke arah sumber suara itu. Jantungnya berdetak cepat.
Keringat dingin menjulur ke seluruh tubuhnya. Namun nihilnya dia tidak
menemukan siapa siapa di sana.
“Perasaan tadi dari sini arah suaranya, ”gumam
Clara . Udara malam itu sangat dingin. Clara merasa seperti ada yang
memantaunya sedari tadi dari kejauhan kegelapan malam.
“Riko. Kamu di mana?” panggil Clara pelan,
kakinya gemetar, kepalanya pusing dan keringat dingin. Jantungnya berdetak
semakin kencang, dan tiba tiba dia melihat sosok tanpa kepala yang sangat
menyeramkan berjalan pelan ke arahnya.
“Aaaaaa....”, teriak Clara lalu berlari sekencang
kencangnya ke sembarang arah. Napasnya tersenggal senggal, keringatnya
bercucuran. Saat dia berlari cukup jauh, dia berhenti dan menoleh ke belakang
namun dia tidak mendapati suatu apapun di sana, dia melihat sekeliling suasana
di tempat itu sangat sepi dan gelap, lalu,
“Siapa kamu?” ucap seseorang dengan suara yang sangat
berat dari belakang Clara. Clara terkejut bukan main karena kakek tua tiba tiba
sudah berdiri di belakangnya.
“Saya Clara Kek. Keluarga kami baru pindah ke
desa ini,” jelas Clara dengan gemetar.
“Kenapa kamu berada di luar malam malam begini Nak?”
tanya kakek tua mengintrogasi.
“Aku sedang mencari adikku Kek. Saat ini berada
di dekat menara. Aku mendengar suara tangisan anak kecil dan tiba tiba ada
sosok anak kecil tanpa kepala berjalan pelan ke arahku. Aku panik dan langsung
berlari ke sembarang arah,” jelas Clara susah payah.
“Gawat, ayo kita ke sana,” ucap kakek itu
terlihat panik dan langsung berlari ke arah menara diikuti Clara.
“Di mana kamu melihat sosok itu?” tanya kakek tua
saat mereka telah berada tepat di bawah menara tua itu.
“Di sana kek,” ucap Clara menunjuk tempat
berdirinya sosok tadi. Kakek itu diam. Sampai satu tetes cairan amis berwarna
merah segar jatuh tepat mengenai kening Clara. Dia mendongakkan kepalanya ke
atas lalu mendapati kepala Riko yang sudah terpenggal di ujung menara.
“Riko, ” teriak Clara histeris. Kakinya gemetar
lemas tak sanggup menahan tubuhnya. Akhirnya dia jatuh ke tanah sampai tak
sadadarkan diri. Lalu terdengar teriakan mama yang datang dengan berberapa
warga.
“Riko, anakkuuuu....,” teriak mama histeris lalu
jatuh ke tanah sepeti Clara. Semua orang diam, sampai salah satu warga ada yang
berkata,
“Kakek Yan, sumurnya,” ucap salah satu warga
mengingatkan.
“Ayo kita ke sana,” ucap sang kakek yang langsung
berlari ke tempat sumur tua yang berada di pinggir desa. Sumur tua itu mengeluarkan bau yang sangat
amis dari dalamnya. Airnya telah berubah jadi darah, terlihat tubuh Riko
mengambang di dalam sumur itu dengan kepala yang telah terpenggal.
“Ucup, keluarkan mayat Riko dari dalam sumur itu!”
perintah Kek Yan. Mama dan Clara yang sudah sadar semakin histeris melihatnya.
“Riko, jangan tinggalin mama Nak!” teriak mama
histeris.
“Apa yang sebenarnya terjadi Kek,” tanya Clara
masih menangis.
Kakek itu bercerita. Dulu sumur ini adalah sumber
kehidupan warga di desa ini, sampai pada akhirnya ada dua orang dari kota datang
dan membangun menara itu. Mereka melakukan perjanjian bersama iblis untuk
mengokohkan menara itu. Namun dengan
sarat satu kepala anak kecil di tanamkan di pondasinya, mereka menculik salah
seorang anak sebatangkara yang hidup di desa ini, mereka memenggal kepala anak
itu dan menanamkannya di pondasi menara itu, dan mengubur badannya di dekat
sumur ini, sampai pada akhirnya setelah satu bulan menara itu selesai dibangun,
anak-anak desa ini mulai menghilang
kalau mereka keluar pada malam hari karena dendam yang dimiliki setan menara
itu terus mencari cari korban lain. Setelah anak-anak itu ditemukan, nasibnya
sama, mati mengenaskan. Sejak saat itu, ada aturan wajib di kampung ini jika
ingin selamat. Anak anak tidak di perbolehkan keluar pada malam hari. Dua pria
yang membangun menara itu telah mati mengerikan
di ujung menara itu. Dendam yang membara akan menerkam apa saja yang ada
di hadapannya, sehingga sulit untuk memadamkannya. Kegelapan yang penuh misteri
akan merangkul semua dendam untuk mencapai semua tujuannya.
_______
Penulis
Anri Dzakkir, santri MA Basma Darul’Ilmi
Wassa’adah. Saat ini duduk di kelas XI IPS 3.
Kirim naskah ke
redaksi ngewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!