Monday, August 17, 2026

Karya Siswa | Tetesan Menara Tua | Cerpen Anri Dzakkir

Cerpen Anri Dzakkir



Kilat memecah malam. Petir menggelegar. Ribuan tetes air jatuh. Dua sosok tergopoh-gopoh menyeret karung besar berisi mayat. Yang satu sambil membawa cangkul. “Ayo buruan, sebelum ada warga yang melihat kita,” ucap salah satu sosok. “Gimana kalau kita kubur di sumur tua ini saja?” Sahut sosok yang memegang cangkul.

“Jangan,” hujan terus menderu.

“Kita gali lobang baru saja. Buruan!”

Dua sosok itu pun menggali sebuah lubang bergantian di dekat sumur tua itu.

“Buruan masukin mayatnya, nanti keburu ada yang lihat,” ucap salah satu sosok setelah mereka selesai menggali lubang yang cukup dalam.

“Baik,” jawab sosok di sebelahnya seraya memasukkan karung berisikan mayat itu ke dalam lubang.

“Buruan timbun!”

“Oke.”

Setelah itu.

“Udah, ayo buruan kita pergi,” ajak salah satu sosok tatkala mereka selesai menimbun lubang itu.

“Ayok,” jawab sosok di sebelahnya.

Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada malam itu, namun tidak ada pula yang mengetahui bencana apa yang akan datang di kemudian hari kepada mereka. 

 * * *

Delapan belas tahun kemudian.

“Ma, yang benar aja dong. Masa kita pindah ke rumah kecil ini,” ucap seorang anak kecil yang berumur 11 tahun.

 “Mau gimana lagi Nak. Papa kan baru saja tertangkap KPK karena korupsi. Jadi cuma rumah kecil ini yang kita punya sekarang,” jawab sang mama.

 “Riko tahu Ma, tapi kenapa kita gak tetep tinggal di kota aja sih Ma?”

“Biaya hidup di kota mahal Riko. Sedangkan kita gak punya apa apa lagi. Semua aset kita sudah disita sama KPK,” jelas sang Ibu.

“Tapi kan....,” ucap Riko ingin membantah.

“Riko, kamu bisa gak sih paham sama keadaan kita sekarang. Kita sudah gak punya apa apa lagi,” potong sang kakak yang dari tadi hanya diam dan akhirnya tidak tahan dengan kelakuan adiknya.

“Benar apa yang dikatakan kakakmu itu Riko,” sambung mama.

Riko hanya diam. Di dalam hatinya ia sangat kesal kenapa semua ini harus terjadi kepada dirinya.

“Ya, sudah. Meningan kamu sekarang bantuin kak Clara masukin barang barang kita ke dalam,” ucap sang mama sembari menunjuk Clara yang mulai mengangkat barang barang ke dalam rumah.

 “Iya...,” jawab Riko dengan raut wajah yang sangat kesal.

Kemegahan cahaya matahari lenyap diterkam gelapnya malam. Setetes cahaya bulan yang redup dengan sinar yang samar perlahan-lahan muncul.

“Riko keluarlah dari kamarmu. Ayo kita makan malam,” panggil mama dari arah dapur.

“Iya ma,” jawab Riko malas sembari melangkah pelan menuju dapur.

Sesampai di meja makan.

“Makanan macam apa ni Ma? Riko gak sudi memakannya,” ucap Riko dengan meninggikan suaranya.

“Hanya ubi rebus ini yang bisa mama masak Nak. Mama belum sempat pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan. Lagi pula uang tabungan mama juga tinggal sedikit, jadi kita harus hemat,” jelas mama panjang lebar.

“Semua ini menyaebalkan,” teriak Riko kemudian berlari ke luar rumah.

“Riko, kamu mau ke mana?” panggil mama namun tidak dipedulikan Riko.

 “Riko mau ke mana Ma?”tanya Clara yang baru keluar dari kamarnya.

 “Dia marah karena mama cuma bisa memberinya makan ubi rebus ini,” jelas mama.

 “Dasar anak bandel itu,” ucap Clara.

 “Ayo, kita kejar dia Clara,” pinta mama khawatir.

 “Biar Clara aja yang mencari Riko. Mama tenang aja di rumah,” ucap Clara.

“Kamu yakin Clara? Desa ini berbeda dengan kota Nak,” jelas mama.

“Tenang aja Ma. Clara bisa kok,” jawab Clara meyakinkan.

“Ya, udah, tapi kamu hati hati ya, Nak!” pinta mama.

“Iya, Ma,” saut Clara sembari bergegas melangkahkan kaki ke luar rumah. Tanpa mereka sadari ada sebuah bayangan (makhluk halus) yang sedari tadi memantau keributan yang terjadi di rumah kecil itu.

* * *                                                                        

“Riko. Di mana kamu Riko,” teriak Clara terus memanggil manggil adiknya namun hasilnya tetap nihil. Dia tidak menemukan di mana keberadaan adiknya itu.

“Ke mana ya semua penduduk desa ini. Kok sepi kali sih,” gumamnya dalam hati dengan terus berjalan menelusuri gelapnya desa itu.

“Menara apa ini? Seram amat kelihatannya,” tatkala dia berdiri di bawah menara yang menjulang tinggi di tengah tengah desa itu. Menara itu seperti di selimuti oleh aura yang menyeramkan. Belum lagi lumut dan kerak banyak menempel di bagian dindingnya menambah ngerinya menara itu, membuat bulu kuduk berdiri. Tetiba dia mendengar suara tangisan anak kecil dari arah kegelapan di belakang menara itu.

“Siapa di sana. Riko apa itu kamu? ” ucapnya sembari berjalan perlahan ke arah sumber suara itu. Jantungnya berdetak cepat. Keringat dingin menjulur ke seluruh tubuhnya. Namun nihilnya dia tidak menemukan siapa siapa di sana.

“Perasaan tadi dari sini arah suaranya, ”gumam Clara . Udara malam itu sangat dingin. Clara merasa seperti ada yang memantaunya sedari tadi dari kejauhan kegelapan malam.

“Riko. Kamu di mana?” panggil Clara pelan, kakinya gemetar, kepalanya pusing dan keringat dingin. Jantungnya berdetak semakin kencang, dan tiba tiba dia melihat sosok tanpa kepala yang sangat menyeramkan berjalan pelan ke arahnya.

“Aaaaaa....”, teriak Clara lalu berlari sekencang kencangnya ke sembarang arah. Napasnya tersenggal senggal, keringatnya bercucuran. Saat dia berlari cukup jauh, dia berhenti dan menoleh ke belakang namun dia tidak mendapati suatu apapun di sana, dia melihat sekeliling suasana di tempat itu sangat sepi dan gelap, lalu,

“Siapa kamu?” ucap seseorang dengan suara yang sangat berat dari belakang Clara. Clara terkejut bukan main karena kakek tua tiba tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Saya Clara Kek. Keluarga kami baru pindah ke desa ini,” jelas Clara dengan gemetar.

“Kenapa kamu berada di luar malam malam begini Nak?” tanya kakek tua mengintrogasi.

“Aku sedang mencari adikku Kek. Saat ini berada di dekat menara. Aku mendengar suara tangisan anak kecil dan tiba tiba ada sosok anak kecil tanpa kepala berjalan pelan ke arahku. Aku panik dan langsung berlari ke sembarang arah,” jelas Clara susah payah.

“Gawat, ayo kita ke sana,” ucap kakek itu terlihat panik dan langsung berlari ke arah menara diikuti Clara.

“Di mana kamu melihat sosok itu?” tanya kakek tua saat mereka telah berada tepat di bawah menara tua itu.

“Di sana kek,” ucap Clara menunjuk tempat berdirinya sosok tadi. Kakek itu diam. Sampai satu tetes cairan amis berwarna merah segar jatuh tepat mengenai kening Clara. Dia mendongakkan kepalanya ke atas lalu mendapati kepala Riko yang sudah terpenggal di ujung menara.

“Riko, ” teriak Clara histeris. Kakinya gemetar lemas tak sanggup menahan tubuhnya. Akhirnya dia jatuh ke tanah sampai tak sadadarkan diri. Lalu terdengar teriakan mama yang datang dengan berberapa warga.

“Riko, anakkuuuu....,” teriak mama histeris lalu jatuh ke tanah sepeti Clara. Semua orang diam, sampai salah satu warga ada yang berkata,

“Kakek Yan, sumurnya,” ucap salah satu warga mengingatkan.

“Ayo kita ke sana,” ucap sang kakek yang langsung berlari ke tempat sumur tua yang berada di pinggir desa.  Sumur tua itu mengeluarkan bau yang sangat amis dari dalamnya. Airnya telah berubah jadi darah, terlihat tubuh Riko mengambang di dalam sumur itu dengan kepala yang telah terpenggal.

“Ucup, keluarkan mayat Riko dari dalam sumur itu!” perintah Kek Yan. Mama dan Clara yang sudah sadar semakin histeris melihatnya.

“Riko, jangan tinggalin mama Nak!” teriak mama histeris.

“Apa yang sebenarnya terjadi Kek,” tanya Clara masih menangis.

Kakek itu bercerita. Dulu sumur ini adalah sumber kehidupan warga di desa ini, sampai pada akhirnya ada dua orang dari kota datang dan membangun menara itu. Mereka melakukan perjanjian bersama iblis untuk mengokohkan  menara itu. Namun dengan sarat satu kepala anak kecil di tanamkan di pondasinya, mereka menculik salah seorang anak sebatangkara yang hidup di desa ini, mereka memenggal kepala anak itu dan menanamkannya di pondasi menara itu, dan mengubur badannya di dekat sumur ini, sampai pada akhirnya setelah satu bulan menara itu selesai dibangun, anak-anak  desa ini mulai menghilang kalau mereka keluar pada malam hari karena dendam yang dimiliki setan menara itu terus mencari cari korban lain. Setelah anak-anak itu ditemukan, nasibnya sama, mati mengenaskan. Sejak saat itu, ada aturan wajib di kampung ini jika ingin selamat. Anak anak tidak di perbolehkan keluar pada malam hari. Dua pria yang membangun menara itu telah mati mengerikan  di ujung menara itu. Dendam yang membara akan menerkam apa saja yang ada di hadapannya, sehingga sulit untuk memadamkannya. Kegelapan yang penuh misteri akan merangkul semua dendam untuk mencapai semua tujuannya.

 

_______

Penulis

Anri Dzakkir, santri MA Basma Darul’Ilmi Wassa’adah. Saat ini duduk di kelas XI IPS 3.


Kirim naskah ke 

redaksi ngewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!