Oleh Kabut
Kolonialisme itu gagasan, senjata, bahasa, dan lain-lain. Sejarah di Indonesia, sejarah yang memuat beragam perubahan akibat kolonialisme. Yang mula-mula dimengerti adalah kerakusan Barat atau Eropa. Di alur sejarah, Barat itu mendapat “segala” meski Indonesia juga terbentuk dan bergerak akibat pengaruh peradaban India, Tiongkok, Arab, dan lain-lain. Indonesia yang menderita ingin mulia. Perlawanan dilakukan atas nama merdeka.
Pada babak yang mengejutkan, masa 1940-an, Indonesia hampir berubah nasib. Namun, yang terjadi adalah tumpukan derita. Pada 1942, yang berkuasa adalah Jepang. Pemerintah kolonial Belanda keok atas keberanian balatentara Jepang. Indonesia bukan bergirang, tetap saja sengsara.
Kini, kita menuju peringatan kemerdekaan Indonesia. Yang paling teringat, apakah Belanda atau Jepang? Di desa dan kota, jutaan orang mengungkapkan syukur atas kemerdekaan. Yang berkibar adalah bendera. Yang terucap adalah doa. Yang beredar adalah cerita. Yang diharapkan adalah Indonesia yang tidak digoncang “pidato” atau “kejutan-kejutan’ beragam kebijakan pemerintah, yang digerakkan Prabowo-Gibran. Yang diinginkan Indonesia terus mencipta sejarah indah, bukan kejatuhan, bimbang, dan sesalan.
Pada saat peringatan hari kemerdekaan, yang diadakan di pelbagai tempat adalah lomba-lomba. Kita mengandaikan anak-anak memilih perayaan dengan membaca buku-buku. Di perpustakaan sekolah dan umum, ratusan buku bisa menjadi pilihan. Yang beruang bisa mendatangi toko buku untuk memilih sesuai selerai dan berhitung harga.
Pada misi memenuhi hasrat membaca anak-anak, pemerintah memberi tanggung jawab atas nama perbukuan diharapkan bermutu. Kita mencatat itu “diharapkan”, belum ada keniscayaan bermutu. Maka, usaha pemerintah diwujudkan melalui pengadaan dan penyebaran buku. Pada 2024, diterbitkan buku berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang gubahan Fathul Khair Tabri. Di sampul depan, terlihat logo dan nama: Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku yang tidak main-main. Bukan bukan diperdagangkan tapi disuguhkan pada anak-anak di seantero Indonesia. Novel untuk anak yang mendapat pengantar sehalaman dari pejabat Pusat Perbukuan. Artinya, buku direstui pemerintah, diedarkan agar anak-anak mau membaca dan mendapat makna-makna. Novel yang berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang diinginkan menyadarkan anak-anak dengan sejarah Indonesia.
Cerita terjadi di Tarakan, tempat bersejarah saat pasukan Jepang datang ke Indonesia. Pengarang mengingatkan sejarah melalui tokoh remaja bernama Ibay dan Yayat. Ibay berkunjung ke rumah paman (Hanim) yang bekerja di Situs Cagar Budaya Peningki Lama. Percakapan Ibay dan paman menguak sejarah berdasarkan sumber lisan dan peninggalan-peninggalan yang masih ada. Sejak mula, novel menjadi pengajaran sejarah bagi pembaca. Novel yang cocok dengan misi pemerintah dalam pembentukan masyarakat melek sejarah.
Ibay melihat beberapa peninggalan masa perang dan paman berbagi pengetahuan. Cerita pun disisipi penjelasan: “Tahun 1942 menjadi tahun yang sangat membekas di ingatan sejarah Indonesia. Pada tahun itulah pertempuran Tarakan pecak antara Kekaisaran Jepang dan Belanda yang telah menduduki Tarakan. Pada masa itu Tarakan menjadi daerah penting bagi Belanda karena memiliki 700 sumur minyak, penyulingan minyak, dan lapangan udara. Sementara itu, Tarakan juga menjadi prioritas utama bagi Jepang karena lokasinya yang strategis. Sehingga, menjadi basis termudah dan terdekat bagi kekuatan Jepang di Pulau Mindanao, Filipina.”
Cerita yang dibaca oleh anak dan remaja bila mendapat penjelasan memudahkan pemahaman. Mereka tidak perlu tergesa membuka buku pelajaran sejarah. Yang menikmati halaman-halaman cerita mengenai sejarah cukup membayangkan masa lalu. Di cerita yang digubah Fathul Khair Tabri juga terdapat penjelasan garis khatulistiwa, yang biasanya dipelajari dalam geografi. Novel yang ceritanya sederhana tapi tampak menjejalkan beragam penjelasan.
Ibay sedikit memiliki pengetahuan sejarah. Namun, pamannya diberi peran besar dalam menjelaskan sejarah sekaligus memunculkan kehormatan sebagai pegawai pemerintah. Jadi, para pembaca ingin menikmati cerita yang seru bersama dua tokoh (Ibay dan Yayat) tapi kehadiran paman seolah merebut porsi cerita demi menegakkan sejarah. Pengarang dalam bercerita dan memberi penjelasan sejarah menggunakan beberapa referensi meski “kurang” meyakinkan.
Penjelasan lagi: “Perang Tarakan berakhir pada 12 Januari 1942 ketika pasukan Belanda banyak yang ditawan dan persenjataan mereka direbut Jepang. Dalam pertempuran ini, Jepang berhasil meraup kemenangan dan menguasai Tarakan.” Pada masa yang berbeda, Tarakan itu tempat bersejarah. Yang berkunjung bisa menilik sejarah. Di novel, keseruan dibuat oleh pengarang dengan hilangnya benda bersejarah. Pencurian itu berhasil dibongkar oleh Ibay dan Yayat. Benda yang bersejarah tidak boleh hilang, tidak boleh diperdagangkan demi keuntungan pihak-pihak yang menodai sejarah Indonesia. Peristiwa itu menggampangkan pengarang memberi pesan-pesan kepada para pembaca mengenai pentingnya museum dan peninggalan benda-benda bersejarah. Sekali lagi, novel sering disisipi penjelasan.
Akhir cerita adalah kebahagiaan dan kehormatan. Pengarang sengaja memanfaatkan cerita untuk kemunculan pesan-pesan gamblang yang sesuai kepentingan pemerintah. Yang terbaca dalam novel atas keberhasilan menggagalkan pencurian benda bersejarah dan bentuk perhatian pemerintah: “Walikota menyampirkan selempang dan ikat kepala khas Kalimantan di kepala kedua anak itu. Sedangkan Paman Hanim menjadi Pamong Budaya Kota Tarakan yang bekerja di bawah Direktorat Kebudayaan Republik Indonesia.” Cerita yang benar-benar khas kehendak pemerintah, yang mengurangi “mutu” dalam takaran kesusastraan anak.
_______

Terimakasih telah berkomentar!