Thursday, August 20, 2026

Esai Uwais Korni | Cara Menulis yang Paling Benar

Esai Uwais Korni




Barusan saya hampir terpengaruh sama metode menulis yang tidak nyaman untuk saya terapkan. Metode menulisnya begini. Pertama, saya harus buat premis tulisan terlebih dahulu. Buat premis ini yang susah. Jadi saya skip. Kedua, saya harus buat ranting-ranting paragraf apa yang mau saya tulis. Kalau buat beginian, saya tahu sedikit. Ketiga, saya harus menulis menyesuaikan premis dan kerangka tulisan tersebut. Nah, ini yang saya gak suka. Dengan ini saya jadi burung di dalam sarang. Gak bebas terbang ke mana-mana. Gak punya imajinasi lagi mau nulis apa.


Saya coba menerapkannya sedikit. Habis itu jijik sendiri sama tulisan yang saya buat itu. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi penulis yang asal menulis kayaknya.


Coba kita baca bareng-bareng empat paragraf yang saya buat dengan metode penulisan tadi itu. Di bawah ini.


“Istilahnya, semakin padi berisi semakin condong ke bawah tubuhnya. Mereka yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang luas akan terlihat seperti padi yang matang, siap panen, dan yang pasti isinya banyak. Cenderung merendahkan hati merupakan kebiasaan dari mereka yang bijaksana.


Mereka paham bahwa semakin banyak ilmu semakin merasa bodoh sekali dirinya. Bodoh disebabkan bukan mereka yang benar-benar bodoh, melainkan saking banyaknya pengetahuan yang lain yang belum mereka pahami lagi. Orang-orang seperti ini diumpamakan seperti kita yang kehausan tapi yang diminum adalah air laut. Bukan hilang dahaganya, malah bertambah haus jadinya.


Ilmu sedikit dicari kemudian diperoleh dan dipraktekkan lebih mengesankan dibandingkan langsung ilmu banyak yang diidam-idamkan namun tidak satu pun yang dipraktekkannya. Saya menyadari hal ini ketika saya mulai suka dunia literasi. Pas awal saya belajar menulis dulu, saya terburu-buru untuk cepat-cepatan mendapatkan materi penulisan sebanyak-banyaknya. Saya baca semuanya tanpa jeda. Saya melahapnya tanpa satu pun didiskusikan. Ujung-ujungnya semua itu lenyap tak tersisa.


Ilmu sedikit ingin diketahuinya, dicari-cari, ditanyakan satu persatu, dan dipraktekkan secara bertahap, lebih berkesan dibandingkan langsung banyak ilmu yang dibaca namun tidak ada penerapan. Dalam contoh materi kepenulisan, jika materi kepenulisan, metode atau cara menulisnya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lainnya itu masuk semuanya ke otak kita sekaligus, maka yang terjadi bukan kita langsung sanggup produktif menulis, melainkan kita akan pusing sendiri oleh ilmu yang luas tersebut. Sedikit demi sedikit saja belajar caranya menulis agar kita mampu menahan bobotnya praktek menulis yang susah-susah gampang itu. Ibaratnya bayi, mustahil baru lahir langsung bisa berlari. Ibaratnya tumbuhan yang berbuah, mustahil baru menanam besoknya langsung panen. Semuanya bertahap.”


Sumpah, itu paragraf yang kaku banget. Jelas-jelas itu bukan tulisan yang gue banget.


Malam 17 Agustus 2026 saya bertamu ke rumah guru mendiskusikan tentang bagaimana caranya cowok mendapatkan jodohnya. Ini konteksnya teman saya bingung nyari jodoh kok gagal mulu. Ada satu quotes yang terlontar dari diskusi semalam itu yang kurang lebihnya seperti ini: (translate dari bahasa Madura) “Yang penting ikhtiar menjemput jodoh. Tidak malu ngomong secara jujur dan tidak gengsi mengakui kalau suka sama perempuan calon pasangan hidup itu. Seperti apa ikhtiarnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu punya jodoh”.


Quotes singkat itu memantik daya berpikir saya untuk membelokkannya ke arah dunia kepenulisan. Seperti ini “Yang penting jadi tulisannya. Seperti apa metode menulisnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu sudah buat tulisan”.


Yang sering terjadi, saya bingung bagaimana caranya saya memulai menulis dan dengan metode apa saya menulis. Saking banyaknya metode menulis yang saya cari-cari di internet sampai saya kebingungan sendiri. Kok banyak, gitu loh. Jadi nge-blank ini otak.


Padahal ilmu tentang bagaimana caranya menulis itu tidak harus semuanya diterapkan dalam sekali duduk. Gak wajib juga untuk mempraktikkannya, gitu loh. Meskipun saya misalnya bikin-bikin sendiri metode menulis yang nyaman bagi saya, itu gak papa. Lagi pula tidak ada siapa pun yang memaksa saya untuk menulis pakai cara ini atau cara itu. Toh sebenarnya saat saya sedang menulis tidak ada siapa pun yang peduli sama saya ini lagi ngapain.


Begitu juga dengan pembaca. Pembaca maunya saya menulis, bukan maunya saya curhat tentang bagaimana caranya saya menulis. Pembaca bodo amat sama usaha saya ketika saya menulis. Pembaca maunya saya berhasil menulis. Dan ketika saya gagal menulis, pembaca juga bodo amat.


Pembaca butuh bukti bahwa saya mampu menulis, dengan apa? Yaitu dengan cara saya menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan cuman bisanya omong kosong doang ngomongnya bisa menulis tapi gak nulis-nulis.


Jadi, saya atau juga kalian yang bercita-cita menjadi penulis yang produktif, gak usah berkoar-koar “saya nulisnya begini, saya nulisnya begitu”. Kecuali jika ditanya. Gak perlu juga menyombongkan diri “saya nulisnya pakai metode ini nih, dan ini metode menulis yang paling baik dan paling benar”. Atau curhat “ini saya nulisnya dah capek banget loh, berbulan-bulan loh, bertahun-tahun loh, baru selesai sekarang”. Taik kucing itu. Toh pembaca juga bodo amat sama curhatan dan keluh-kesah kita.


Pembaca juga gak papa tajam mulutnya dan bukan cuman mengomentari tulisan kita, bahkan menghujatnya juga hak-hak mereka kok. Soalnya kan memang menjadi penulis harus siap dan menerima atas kritik, saran yang membangun, dan hujatan yang merusak mental penulisnya. Tulisan kita disebarluaskan untuk dikomentari. Pasti pembaca punya unek-unek atas bacaannya itu. Sebagian mendiamkannya. Yang lain ada yang sampai buat resensi buku-buku yang telah dibacanya itu. Kemudian dengan resensi itu adakalanya apa yang dikomentari tersebut jadi naik daun. Bahkan ada juga yang terjun payung.


Saya pribadi tidak akan peduli sama omongan pembaca. Itu hak mereka untuk ngomongin tulisan-tulisan saya. Dan saya tidak akan pernah tersinggung atas semua itu. Biarkan yang menanggung malunya adalah tulisan-tulisan saya sendiri. Saya anggap saja tulisan-tulisan saya itu punya jiwa dan mereka mau serang balik atau diam saja, ya terserah yang dihujat itu.


Kan gini. Nulis saja capek, kok malah ngeladenin pembaca. Tambah capek nantinya. Saya pribadi lebih fokus saja sih sama apa yang mau saya kerjakan. Jika misalnya saya ingin menjadi penulis, maka yang perlu saya perhatikan adalah pendisiplinan diri di dalam bidang yang saya geluti ini. Disiplin adalah kunci.


Beberapa minggu ini saya tidak menulis. Memang saya tidak menulis, tapi saya fokus merevisi tulisan-tulisan yang ada di draf yang kemudian ingin saya cetak insyaallah akhir tahun. Belum lagi saya bukan hanya jualan es teh, tapi juga nyambi sebagai penjaga konter. Pastinya saya sedikit waktu untuk menulis dan membaca. Seakan-akan cukup dengan dua alasan ini saya boleh pensiun dini dari dunia kepenulisan. Tapi kenyataannya saya malah semangat untuk membaca dan menulis. Apalagi sekarang internet sudah ada di mana-mana otomatis pengetahuan ada di mana-mana. Jadinya, di sela-sela saya bekerja, saya sesekali baca di Ipusnas. Grup FB kepenulisan juga saya buka mana tahu dapat ilmu baru dari sana.


Saya omongin diri saya sendiri dengan baik-baik, “sesibuk apa sih kamu sampai gak mau baca buku dan gak mau belajar menulis?”. Akhirnya hati saya luluh dan mau belajar menulis dengan lebih semangat lagi.


Bagi saya, sesusah apa pun pekerjaannya pasti gampang jika di-training dan disistem. Pertama kali saya jaga konter, saya gak tahu bagaimana caranya melayani pembeli, bagaimana caranya memasukkan vocer, dan lain sebagainya. Saya juga tidak tahu dompet mana saja untuk uang ini dan itu, dan dompet mana saja untuk uang itu dan ini. Tapi berkat training selama tiga hari, saya bisa kok menjadi karyawan yang disiplin dan lurus.


Apa saja jika tersistem itu enak. Gak ada drama di sana.


Menulis juga sama. Jika menulis itu disistem kapan mulainya dan kapan selesainya, maka gak drama di sana. Gak ada tuh nantinya capek menulis, bosen menulis, bingung mau menulis apa, dan lain sebagainya. Itu cuman banyak alasan bagi penulis yang malas.


Capek menulis kan bisa berhenti dulu. Bosen menulis, ya cari hiburan di luar. Bingung mau menulis apa, ya belajar hal baru.


Dengan sistem seperti ini, saya baru tahu bahwa selama ini saya penulis yang pemalas. Soalnya saya menulis ya menulis saja. Tidak ada sistem tertentu ketika saya belum menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sedang menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sudah menulis. Sebab, kembali ke paragraf di awal tadi, saya orangnya tidak enakan kalau fokus ke satu metode.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!