Puisi Dewis Pramanas
Lagi-Lagi Maafkan Aku!
Pada sepasang bola mata yang basah
Tersimpan mutiara kasih
Waktu menjadi saksi penerimaan
Duniamu berputar terbalik
Maafkan aku!
Pada wajah setiap pagi tersenyum
Setiap aku membuka mata
Tangan dan kaki tanpa alas
Menerbangkan ribuan harapan
Meski lara kau pikul di punggung itu
Maafkan aku!
Pada nada lisanmu nan merdu
Kau mengajarkan indahnya saling
Juga tentang hati selembut kapas
Menerjemahkan cinta tanpa tapi
Terus bertahan lewati nasib
Yang tak manusiawi
Maafkan aku!
Teruntuk pemilik hati
Kini jiwaku seperti pohon
Terombang-ambing oleh angin
Satu persatu daunnya gugur
Lagi-lagi maafkan aku
Subang, 11 April 2026
Malam Minggu
malam ini
dari jarum jam terus berdetak
lampu-lampu kota redup
mereka coba bertahan dari angkuh realita
suara bising kendaraan hilir mudik
menjadi pelik paling tuli
deretan gedung menyesakkan paru-paru dunia
sampai kapan?
tak ada lagi perempuan sederhana
mencuci pakaian di sungai
tak melihat lagi anak-anak bermain petak
umpat
berlarian tertawa lepas
justru sekawanan lelaki berpeci sembunyi dari ruang-ruang obral mulut
bebas menerobos jalan tidur
senyap
ada apa?
isi bumi makin porak
sementara aku masih mencari arah
malam ini!
Subang, 15 Agustus 2025
Kertas Robek
dari riuh suara
menjejak akumulasi luka
berulang-ulang selalu sama
di podium koar-koar merias diri
mereka berbicara atas nama
menyusun rancangan paling membela
keutamaan seluruh rakyat
namun, isi perut lebih utama
dibanding isi hati dan kepala
rancangan sekadar wacana
sedang carut marut hidup
semakin melebar
porak poranda amuk semesta di timur
di ujung barat negeri
rakyat ingin berpisah dari naungan pertiwi
para pencetak sumber daya
menggugat bobroknya aturan
tanah dan rerumputan di halaman
kini kering tak bersahabat lagi
mata ini menatap tajam
jalan kemakmuran gelap
keadilan sudah terusir
dari tempat yang semestinya
Subang, 16 Agustus 2025
Melawan Kenyataan
di depan dinding yang pudar
pohon mangga berdiri tegak
menghadap deretan bendera
berkibar tertuip semilir
seperti memberi isyarat
bangkit melawan kenyataan
di sepanjang jalan
biasa ramai burung bernyanyi
tetiba hening pagi ini
saat semua orang suka cita
rayakan hari bersejarah
satu sisi di ujung pulau
meratapi kisruh berpisah
tampak keramik mengelupas
sebab terus dihantam waktu
sesekali hujan menggenangi
di atas genting yang bocor
kumpulan peristiwa jadi penyebab
langit rumah berhamburan jatuh
semua telah menjadi dokumentasi
usah menunggu datang asa
seakan tak percaya lagi proses
meniti masa depan
cukup di mulut saja
menunggu habis
masa yang tersisa
Subang, 17 Agustus 2026
Berselancar Kelam
Kembali bulir perlahan jatuh di kedua pipi
Seperti mengoyak-nyoyak isi kalbu
Membawaku berselancar kelam
Teringat hal pemicu kepergianmu
Entah berapa lembar lagi
Catatan rindu tentang musim sunyi
Kala itu.
Waktu mengulang lagi dan lagi
Tentang pilu menusuk rongga dada
Di saat reranting itu patah
Hadapi peristiwa yang sama
Rapuh.
“Kau… mencintaiku dari hal berbeda?”
Bibir ini bergumam
Menyisakan renungan
Elegi perjalanan
Subang, 26 Juli 2026
______
Penulis
Dewis Pramanas,
lahir di Subang, 1 Maret 1987. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes,
Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di
berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu
Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media
daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan
menyuarakan keresahan hati.
Instagram: @dewispramanas
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!