Sunday, August 23, 2026

Cerpen Sumala Djaya | Bara di Wajah Ayah

Cerpen Sumala Djaya

 


Gadis itu sering meminjamkan buku paket kepada Angga bila ada pekerjaan rumah (PR). Ia juga suka melarang Angga jika hendak membolos. Karena perhatian gadis itu, Angga jatuh hati padanya. Dialah Rochilah. Ketulusan hati dan keikhlasannya membukakan hati yang tertutup. Tapi Angga tak pernah punya keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

 

Pada hari yang terik ketika liburan sekolah, angin berembus kian kemari meskipun mentari bersinar begitu terik. Burung-burung gereja melintasi angkasa seraya mendendangkan lagu sambil bercanda dengan kawanan burung lainnya. Angga tersenyum lebar. Ia tak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya karena hendak berkunjung ke rumah kakak sepupu Rochilah, Layla.

 

Setelah berganti pakaian dan merasa cukup matang untuk pergi sendirian, ia pun berangkat. Sesampainya di rumah Layla, ia langsung berkenalan. Ternyata Layla adalah gadis yang mudah bergaul, terbuka, dan tentu saja ramah. Angga merasa nyaman berbincang dengan Layla. Ia seperti mendapatkan dorongan spiritual saat berdiskusi dengan Layla.

 

"Setelah aku membaca buku harianmu, aku mempunyai nalar bahwa kamu menyukai adik sepupuku," ungkap Layla.

 

"Aku memang menyukainya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menyatakannya," jawab Angga.

 

"Kamu kan laki-laki. Gentle sedikit dong! Kamu hanya akan menyiksa diri jika seperti ini terus. Apa kamu tak menyesal jika ada yang merebutnya?" lanjut Layla.

 

"Mudah-mudahan saja aku bisa," ucap Angga.

 

"Harus bisa!"

 

Ia tergugah dengan semangat Layla yang begitu besar. Ternyata Layla memedulikannya. Layla tak ingin Angga menyiksa dirinya dengan cinta yang sia-sia.

 

Langit perlahan mulai gelap. Mentari tenggelam tersaput mega, sedangkan bulan begitu memancarkan cahayanya yang teduh kala itu. Burung-burung yang semula bercanda sambil mencari makan di rawa pun berterbangan satu per satu untuk pulang. Angga pun memutuskan untuk pulang.

 

***

 

Angga duduk di atas kasur yang masih tergelar di lantai kamarnya. Kertas surat, buku harian, serta catatan-catatan yang lainnya masih tergeletak di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memandangi sudut gelap kamar. Dilihatnya sosok gadis anggun berdiri mengenakan gaun berwarna merah jambu. Seketika ia terlempar ke alam fantasinya sendiri.

 

Beberapa jam kemudian ia beranjak dari kamarnya yang berantakan. Raut kusam dan tubuh yang kerempeng membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit. Duduklah ia di teras rumahnya sembari melihat orang yang lalu-lalang di jalan. Terbersit dalam benaknya untuk pergi ke rumah Rochilah. Akhirnya ia pun benar-benar pergi ke rumah gadis itu.

 

Sesampainya di depan rumah Rochilah, diketuknya daun pintu yang tertutup seraya mengucapkan salam. Tak seorang pun membalas salamnya. Ia memberi salam untuk kesekian kali dan sedikit mengeraskan suara. Akhirnya Rochilah pun membuka pintu rumahnya. Rochilah pasti akan menyuruhnya masuk, pikirnya. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, Rochilah mengusirnya.

 

"Pasti kamu habis main-main tak keruan. Lebih baik kamu pulang!"

 

Mulanya ia mengira Rochilah akan senang dengan kedatangannya. Mungkin Rochilah merasa terganggu dengan kedatangannya, atau ia memang datang di saat yang tidak tepat. Ia merasa terpukul sekali atas perlakuan Rochilah yang mengusirnya tanpa alasan. Akhirnya ia pulang menanggung rasa kecewa.

 

Di rumah, Angga langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dipejamkan matanya untuk tidur, namun kegelisahan hadir dan bergelayut dalam pikirannya. Diambilnya selembar kertas dan pena yang tergeletak di lantai kamar. Ditulislah apa yang berkecamuk dalam pikirannya pada selembar kertas itu.

 

Untukmu Selalu

 

Tak apalah kau usir aku dari rumahmu, asal jangan kau usir aku dari ingatanmu. Jujur, aku menyukaimu karena kau mau membimbingku meskipun aku tak pernah memedulikanmu.

Banyak cara aku tempuh agar dapat menemuimu, tapi kau mengusirku. Tidak adakah rasa rindu di hatimu seperti aku yang sangat merindukanmu?

Tahukah bahwa engkau akan selalu menjadi hal indah yang akan selalu aku ingat? Biarlah hari-hari terus berganti karena cinta sejati tak akan pernah mati.

 

Aku yang selalu mengagumimu.

 

***

 

Ia berjalan gontai membelah pagi yang berkabut seraya bernyanyi kegirangan. Dilihatnya Rochilah duduk di depan kios. Ia ingin memberikan surat yang ditulisnya semalam. Ah, biar jadi catatan pribadi saja, pikirnya. Akhirnya ia lebih memilih bergabung dengan kawan-kawannya di gang sekolah untuk nimbrung merokok dan menghirup kopi. Teman-temannya sering mencarinya jika ia tidak sekolah. Meskipun suka nimbrung makan seenaknya, ia juga sangat bijak.

 

Di dalam kelas, kerjanya hanya termangu memandangi Rochilah. Ia berharap akan ada yang menyampaikan isyarat cintanya kepada Rochilah.

 

"Aku biarkan bayangmu mengisi malam-malamku, sebagaimana cinta ini hanya bayang bagiku. Mungkin aku memang pengecut karena tak sampai kuasa mengatakan cinta padamu. Jika hanya dalam mimpi kau dapat kucumbui, maka biarlah aku tetap terlelap. Telah aku torehkan semua rasa, namun selalu saja engkau mengabaikannya."

 

Meski ia duduk terdiam, hati dan pikirannya terus berkecamuk. Tak satu pelajaran pun yang disampaikan oleh gurunya yang ia catat. Ia hanya berkutat dengan pikiran-pikiran kacaunya.

 

***

 

Dari pengeras suara kantor sekolah, terdengar jelas wali kelas memanggilnya untuk ke ruang TU (Tata Usaha).

"Kesalahan apa yang aku perbuat?" pikirnya. Ia keluar dari kelas. "Kenapa aku disuruh ke kantor, ya? Mudah-mudahan saja tidak ada masalah yang serius," gerutunya kemudian.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban terus menghampiri. Ditatapinya kantor sekolah setajam pisau. Lalu ia beranjak dari tempat duduk. Ia hendak menghadap wali kelasnya di kantor itu.

 

Wali kelasnya tengah menunggu sambil membaca koran. Tampak kursi kosong di depan meja yang sudah tentu disediakan untuk Angga.

 

"Kamu tahu kenapa dipanggil ke mari?" tanya wali kelasnya membuka perbincangan.

 

"Tidak, Pak," jawab Angga.

 

"Ya jelas tak tahulah, wong belum Bapak kasih tahu kok!" ucap wali kelasnya.


Angga menjadi geram.

 

"Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Angga menundukkan kepala.

 

"Tidak apa-apa kok. Bapak hanya ingin memberitahumu bahwa rapotmu tidak akan Bapak serahkan sampai kamu mau memanggil orang tuamu ke mari," tutur wali kelasnya.

 

"Pasti ada masalah serius ya, Pak?"

 

"Ah, tidak juga. Bapak hanya ingin mengobrol dengan orang tuamu. Kamu masih punya orang tua, kan?"

 

"Masih, Pak!"

 

"Kalau begitu, pulanglah. Bapak tunggu di sini sampai kamu dan orang tuamu datang."

 

Angga keluar dari kantor itu. Ia berjalan dengan perasaan tertampar. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh wali kelasnya. Ia juga tak tahu harus berkata apa pada orang tuanya. Setelah berpikir cukup matang dan tekadnya sudah bulat, akhirnya ia pun pulang diantarkan temannya.

 

Sesampainya di rumah, ia tidak melihat bapak atau ibunya. Dicarinya kedua orang tuanya di sawah dan ladang belakang rumah, tapi tetap tidak ada. Ke mana mereka? batinnya. Ia duduk menopangkan tangan di atas lututnya. Dilihatnya kakaknya baru pulang dari pasar, lalu disampaikannya kepada kakaknya bahwa bapak harus segera ke sekolah untuk mengambil rapotnya.

 

"Ya, nanti aku sampaikan," ucap kakaknya.

 

Angga pun berpamitan kembali ke sekolah. Sekolah sudah tampak sepi. Angga duduk di teras kantor. Berjam-jam ia duduk menerawang dalam alam bawah sadarnya.


"Kok melamun sih, Ga?" ucap seorang bapak-bapak.

 

"Eh, Mamang. Bakso buat siapa, Mang?" tanya Angga.

 

"Buat Bapak Kepala Sekolah," jawab si Mamang.

 

Ternyata bapak-bapak itu adalah mamang tukang bakso langganannya yang suka mangkal di depan sekolah.

 

"Sebenarnya ada masalah apa sampai Bapak disuruh ke mari?" tanya bapaknya. Angga terperanjat. Bapaknya sudah ada di sampingnya.

 

"Tidak tahu, Pak," ungkap Angga.

 

"Ya sudah, ayo kita ke dalam."

 

Mereka berdua masuk ke kantor.

 

"Selamat pagi, Pak," Bapaknya menyalami.

 

"Oh, ya. Selamat pagi, silakan duduk, Pak," jawab wali kelasnya.

 

"Kiranya ada masalah apa ya, Pak, sampai saya disuruh ke mari? Apa anak saya membuat ulah lagi?" lanjutnya.

 

"Sebenarnya tidak juga. Hanya yang lebih menyesalkan ialah ia harus tinggal kelas," ungkap si wali kelas.

 

Wajah bapaknya seperti mengeluarkan api.

 

____________

 

Penulis

 

Sumala Djaya, adalah anak petani yang menggeluti dunia tuli menulis di kamarnya sendiri (Belajar Secara Otodidak). Karyannya berupa puisi dan cerpen dipublikasi di media lokal dan nasional. Anak ke empat dari lima bersaudara, tinggal di Kragilan, bagian timur dari Kabupaten serang, Banten.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail .com


Terimakasih telah berkomentar!