Cerpen Sumala Djaya
Gadis
itu sering meminjamkan buku paket kepada Angga bila ada pekerjaan rumah (PR).
Ia juga suka melarang Angga jika hendak membolos. Karena perhatian gadis itu,
Angga jatuh hati padanya. Dialah Rochilah. Ketulusan hati dan keikhlasannya
membukakan hati yang tertutup. Tapi Angga tak pernah punya keberanian untuk
mengatakan cinta kepadanya.
Pada
hari yang terik ketika liburan sekolah, angin berembus kian kemari meskipun
mentari bersinar begitu terik. Burung-burung gereja melintasi angkasa seraya
mendendangkan lagu sambil bercanda dengan kawanan burung lainnya. Angga
tersenyum lebar. Ia tak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya karena hendak
berkunjung ke rumah kakak sepupu Rochilah, Layla.
Setelah
berganti pakaian dan merasa cukup matang untuk pergi sendirian, ia pun
berangkat. Sesampainya di rumah Layla, ia langsung berkenalan. Ternyata Layla
adalah gadis yang mudah bergaul, terbuka, dan tentu saja ramah. Angga merasa
nyaman berbincang dengan Layla. Ia seperti mendapatkan dorongan spiritual saat
berdiskusi dengan Layla.
"Setelah
aku membaca buku harianmu, aku mempunyai nalar bahwa kamu menyukai adik
sepupuku," ungkap Layla.
"Aku
memang menyukainya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menyatakannya,"
jawab Angga.
"Kamu
kan laki-laki. Gentle sedikit dong! Kamu hanya akan menyiksa diri jika
seperti ini terus. Apa kamu tak menyesal jika ada yang merebutnya?" lanjut
Layla.
"Mudah-mudahan
saja aku bisa," ucap Angga.
"Harus
bisa!"
Ia
tergugah dengan semangat Layla yang begitu besar. Ternyata Layla
memedulikannya. Layla tak ingin Angga menyiksa dirinya dengan cinta yang
sia-sia.
Langit
perlahan mulai gelap. Mentari tenggelam tersaput mega, sedangkan bulan begitu
memancarkan cahayanya yang teduh kala itu. Burung-burung yang semula bercanda
sambil mencari makan di rawa pun berterbangan satu per satu untuk pulang. Angga
pun memutuskan untuk pulang.
***
Angga
duduk di atas kasur yang masih tergelar di lantai kamarnya. Kertas surat, buku
harian, serta catatan-catatan yang lainnya masih tergeletak di lantai. Ia
menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memandangi sudut gelap kamar.
Dilihatnya sosok gadis anggun berdiri mengenakan gaun berwarna merah jambu.
Seketika ia terlempar ke alam fantasinya sendiri.
Beberapa
jam kemudian ia beranjak dari kamarnya yang berantakan. Raut kusam dan tubuh
yang kerempeng membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit. Duduklah ia
di teras rumahnya sembari melihat orang yang lalu-lalang di jalan. Terbersit
dalam benaknya untuk pergi ke rumah Rochilah. Akhirnya ia pun benar-benar pergi
ke rumah gadis itu.
Sesampainya
di depan rumah Rochilah, diketuknya daun pintu yang tertutup seraya mengucapkan
salam. Tak seorang pun membalas salamnya. Ia memberi salam untuk kesekian kali
dan sedikit mengeraskan suara. Akhirnya Rochilah pun membuka pintu rumahnya. Rochilah
pasti akan menyuruhnya masuk, pikirnya. Namun belum sempat ia membuka mulut
untuk menyapa, Rochilah mengusirnya.
"Pasti
kamu habis main-main tak keruan. Lebih baik kamu pulang!"
Mulanya
ia mengira Rochilah akan senang dengan kedatangannya. Mungkin Rochilah merasa
terganggu dengan kedatangannya, atau ia memang datang di saat yang tidak tepat.
Ia merasa terpukul sekali atas perlakuan Rochilah yang mengusirnya tanpa
alasan. Akhirnya ia pulang menanggung rasa kecewa.
Di
rumah, Angga langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dipejamkan
matanya untuk tidur, namun kegelisahan hadir dan bergelayut dalam pikirannya.
Diambilnya selembar kertas dan pena yang tergeletak di lantai kamar. Ditulislah
apa yang berkecamuk dalam pikirannya pada selembar kertas itu.
Untukmu
Selalu
Tak
apalah kau usir aku dari rumahmu, asal jangan kau usir aku dari ingatanmu.
Jujur, aku menyukaimu karena kau mau membimbingku meskipun aku tak pernah
memedulikanmu.
Banyak
cara aku tempuh agar dapat menemuimu, tapi kau mengusirku. Tidak adakah rasa
rindu di hatimu seperti aku yang sangat merindukanmu?
Tahukah
bahwa engkau akan selalu menjadi hal indah yang akan selalu aku ingat? Biarlah
hari-hari terus berganti karena cinta sejati tak akan pernah mati.
Aku
yang selalu mengagumimu.
***
Ia
berjalan gontai membelah pagi yang berkabut seraya bernyanyi kegirangan.
Dilihatnya Rochilah duduk di depan kios. Ia ingin memberikan surat yang
ditulisnya semalam. Ah, biar jadi catatan pribadi saja, pikirnya.
Akhirnya ia lebih memilih bergabung dengan kawan-kawannya di gang sekolah untuk
nimbrung merokok dan menghirup kopi. Teman-temannya sering mencarinya jika ia
tidak sekolah. Meskipun suka nimbrung makan seenaknya, ia juga sangat bijak.
Di
dalam kelas, kerjanya hanya termangu memandangi Rochilah. Ia berharap akan ada
yang menyampaikan isyarat cintanya kepada Rochilah.
"Aku
biarkan bayangmu mengisi malam-malamku, sebagaimana cinta ini hanya bayang
bagiku. Mungkin aku memang pengecut karena tak sampai kuasa mengatakan cinta
padamu. Jika hanya dalam mimpi kau dapat kucumbui, maka biarlah aku tetap
terlelap. Telah aku torehkan semua rasa, namun selalu saja engkau
mengabaikannya."
Meski
ia duduk terdiam, hati dan pikirannya terus berkecamuk. Tak satu pelajaran pun
yang disampaikan oleh gurunya yang ia catat. Ia hanya berkutat dengan
pikiran-pikiran kacaunya.
***
Dari
pengeras suara kantor sekolah, terdengar jelas wali kelas memanggilnya untuk ke
ruang TU (Tata Usaha).
"Kesalahan
apa yang aku perbuat?" pikirnya. Ia keluar dari kelas. "Kenapa aku
disuruh ke kantor, ya? Mudah-mudahan saja tidak ada masalah yang serius,"
gerutunya kemudian.
Pertanyaan-pertanyaan
yang tak kunjung mendapatkan jawaban terus menghampiri. Ditatapinya kantor
sekolah setajam pisau. Lalu ia beranjak dari tempat duduk. Ia hendak menghadap
wali kelasnya di kantor itu.
Wali
kelasnya tengah menunggu sambil membaca koran. Tampak kursi kosong di depan
meja yang sudah tentu disediakan untuk Angga.
"Kamu
tahu kenapa dipanggil ke mari?" tanya wali kelasnya membuka perbincangan.
"Tidak,
Pak," jawab Angga.
"Ya
jelas tak tahulah, wong belum Bapak kasih tahu kok!" ucap wali
kelasnya.
Angga
menjadi geram.
"Memangnya
kenapa ya, Pak?" tanya Angga menundukkan kepala.
"Tidak
apa-apa kok. Bapak hanya ingin memberitahumu bahwa rapotmu tidak akan Bapak
serahkan sampai kamu mau memanggil orang tuamu ke mari," tutur wali
kelasnya.
"Pasti
ada masalah serius ya, Pak?"
"Ah,
tidak juga. Bapak hanya ingin mengobrol dengan orang tuamu. Kamu masih punya
orang tua, kan?"
"Masih,
Pak!"
"Kalau
begitu, pulanglah. Bapak tunggu di sini sampai kamu dan orang tuamu
datang."
Angga
keluar dari kantor itu. Ia berjalan dengan perasaan tertampar. Ada sesuatu yang
disembunyikan oleh wali kelasnya. Ia juga tak tahu harus berkata apa pada orang
tuanya. Setelah berpikir cukup matang dan tekadnya sudah bulat, akhirnya ia pun
pulang diantarkan temannya.
Sesampainya
di rumah, ia tidak melihat bapak atau ibunya. Dicarinya kedua orang tuanya di
sawah dan ladang belakang rumah, tapi tetap tidak ada. Ke mana mereka?
batinnya. Ia duduk menopangkan tangan di atas lututnya. Dilihatnya kakaknya
baru pulang dari pasar, lalu disampaikannya kepada kakaknya bahwa bapak harus
segera ke sekolah untuk mengambil rapotnya.
"Ya,
nanti aku sampaikan," ucap kakaknya.
Angga pun berpamitan kembali ke sekolah. Sekolah sudah tampak sepi. Angga duduk di teras kantor. Berjam-jam ia duduk menerawang dalam alam bawah sadarnya.
"Kok melamun sih, Ga?" ucap seorang bapak-bapak.
"Eh,
Mamang. Bakso buat siapa, Mang?" tanya Angga.
"Buat
Bapak Kepala Sekolah," jawab si Mamang.
Ternyata
bapak-bapak itu adalah mamang tukang bakso langganannya yang suka mangkal di
depan sekolah.
"Sebenarnya
ada masalah apa sampai Bapak disuruh ke mari?" tanya bapaknya. Angga
terperanjat. Bapaknya sudah ada di sampingnya.
"Tidak
tahu, Pak," ungkap Angga.
"Ya
sudah, ayo kita ke dalam."
Mereka
berdua masuk ke kantor.
"Selamat
pagi, Pak," Bapaknya menyalami.
"Oh,
ya. Selamat pagi, silakan duduk, Pak," jawab wali kelasnya.
"Kiranya
ada masalah apa ya, Pak, sampai saya disuruh ke mari? Apa anak saya membuat
ulah lagi?" lanjutnya.
"Sebenarnya
tidak juga. Hanya yang lebih menyesalkan ialah ia harus tinggal kelas,"
ungkap si wali kelas.
Wajah
bapaknya seperti mengeluarkan api.
____________
Penulis
Sumala
Djaya, adalah anak petani yang menggeluti dunia tuli menulis di kamarnya sendiri
(Belajar Secara Otodidak). Karyannya berupa puisi dan cerpen dipublikasi di
media lokal dan nasional. Anak ke empat dari lima bersaudara, tinggal di
Kragilan, bagian timur dari Kabupaten serang, Banten.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail .com

Terimakasih telah berkomentar!