Saturday, August 1, 2026

Resensi Kabut | Tidak Pernah Belajar di Sekolah

Oleh Kabut


Sekolah-sekolah ramai lagi. Sejak bulan Juli, murid-murid rutin lagi belajar di kelas-kelas. Mereka yang mengesahkan pendidikan terjadi di Indonesia. Kehadiran mereka di sekolah mengesahkan kerja para menteri dan para kepala dinas yang mengurusi pendidikan. Konon, ada yang ikut bergirang. Pihak-pihak yang bernalar makan turut meramaikan tahun ajaran baru. Namun, masalah-masalah terus terjadi, belum ada jawaban dan tanggung jawab yang terang. Murid masuk sekolah. Makanan masuk sekolah. Murid meraih ilmu. Yang berurusan makanan sadar laba. Kita sekadar iseng mengikuti berita-berita mutakhir meski sering “salah paham” dan dikutuk bingung setiap hari.

Cerita tentang sekolah digelar lagi. Murid-murid membawa buku tulis yang baru. Pihak sekolah meragu dalam penggunaan buku-buku pelajaran. Beragam agenda lekas membikin sibuk sekolah, terutama lomba-lomba dan agustusan. Para orang tua juga repot dan diterpa masalah. Sekolah sama dengan uang. Artinya, uang yang digunakan untuk beragam kebutuhan. Yang tidak terlupa adalah jumlah ongkos untuk transportasi dan uang saku. Pokoknya, sekolah adalah himpunan masalah.


Kita terbiasa berpikir sebagai kaum dewasa. Jadi, sekolah bisa mudah mendapat kritik dan keluhan. Yang berpendapat macam-macam mengenai sekolah bisa pamer argumentasi atau asal-asalan saja agar dianggap mengerti pendidikan. Di Indonesia, serbuan pendapat bermunculan setiap hari di media sosial. Sekolah masuk daftar terpenting dalam tema-tema rancu dan ruwet di Indonesia, dari masa ke masa. 


Apakah kita mampu mengembalikan lagi ingatan dan pengandaian memahami sekolah sebagai anak? Ikhtiar itu dilakukan oleh Yus Rusyana melalui novel pendek berjudul Menempuh Jalan Sendiri. Novel diterbitkan Pustaka Jaya, 1975. Cerita rampung ditulis pada 1974. Kita yang membaca menempatkan cerita berlatar masa awal Orde Baru, yang punya janji besar dalam pemajuan pendidikan. Janji yang keramat meski presidennya tidak pernah belajar di universitas atau memiliki gelar mentereng. 


Wajib dimengerti bahwa novel bukan sumber pokok bagi yang ingin mengetahui kemajuan atau kemunduran pendidikan di Indonesia. Kita tetap memerlukan beragam data (resmi) atau pengisahan (lisan) yang memungkinkan untuk menilai pendidikan. 


Yang ditemukan dalam novel adalah cerita. Apakah itu terjadi dalam kenyataan? Konon, ada yang selalu beranggapan novel itu imajinasi. Hal terpenting, kita menemukan masalah pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan lain-lain dalam novel berjudul Menempuh Jalan Sendiri.


Abih, bocah yang diceritakan gagal masuk sekolah. Ia sudah berusaha mendaftarkan dirinya di sekolah. Namun, bapak dan ibu tidak merestui. Alasan yang pokok: ketiadaan uang. Pada usia tujuh tahun, Abih melihat temannya yang bernama Tatan berhasil sekolah. Dua bocah dengan nasib berbeda. Mereka tetap berteman beralasan belajar. Pada sore dan malam, Tatang bertugas mengulangi pelajaran di sekolah, disampaikan pada Abih. Mereka belajar bareng, berupaya bisa lancar membaca dan menulis.


Yang dikatakan Tatang sambil membuka buku pelajaran: “Nah, Bih, lihatlah ini. Tadi di sekolah aku belajar dari buku ini. Kita lihat, di dalamnya banyak gambar yang bagus-bagus. Lihatlah ini gambar rumah. Di pekarangannya, ada bapa, ibu, dan Ida. Ini lagi gambar yang bagus. Kata pak guru, dalam buku ini banyak cerita.” Dua bocah seperti membuat janji mengelak dari kebodohan. Sekolah adalah jawaban agar bisa membaca dan menulis, dilanjutkan berhitung. Ilmu yang digunakan dalam membentuk masa depan.


Tahun-tahun berganti, Abih tetap tidak belajar di sekolah. Ia memang mampu membaca, menulis, dan berhitung. Hidupnya masih dalam kemiskinan. Maka, ia memilih bekerja. Keputusan agar mendapatkan penghasilan, tidak menjadi beban keluarga. Ia pun bekerja sebagai pedagang kerupuk. Abih bertambah umur, menjadi remaja yang bekerja dan mendapatkan penghasilan. Ia terus berteman dengan Tatang, berbagi cerita di dua jalan yang berbeda. Tatang berhasil melanjutkan sekolah ke kota. Abih berpikiran kota adalah tempat mencari pekerjaan yang pantas.


Gairah dalam bekerja diceritakan pengarang: “Ia selalu memperhatikan apa yang disukai dan dibutuhkan oleh para pembeli. Jika ada waktu terluang di rumah, ia membuat mainan anak-anak seperti baling-baling, kedok, burung-burungan dan sebagainya. Waktu ia sedang meladeni anak-anak sering ia memakai kedok, sehingga anak-anak menyukainya. Ada-ada saja yang dilakukannya untuk menyenangkan hati pembeli. Karena itulah langganannya bertambah banyak.”


Dulu, Abih ingin menjadi murid di sekolah. Kegagalan yang ditebusnya dengan berdagang. Ia masih memiliki hasrat belajar meski terbatas. Di pekerjaan, ia membuktikan hidup yang dipertaruhkan. Umurnya terus bertambah. Abih tidak ingin hanya menjadi pedagang. Masa depan ingin diraih dengan pekerjaan yang berbeda. Pekerjaan itu berada di kota. Yang diinginkkannya adalah pergi dari rumah, mengembara ke kota untuk bekerja. 


Novel yang dibaca anak-anak ini tidak kentara mengajak rajin belajar. Pengarang tidak menampilkan tokoh anak yang beranjak remaja sebagai murid. Ia bukan pembaca buku-buku pelajaran yang diharuskan mengikuti ujian. Nasibnya tidak ditentukan nilai-nilai di sekolah atau kenaikan kelas. Pengarang yang cukup paham dengan Indonesia masa 1970-an, negara yang masih memiliki jutaan orang miskin. Keluarga yang miskin gagal mengantarkan anak meraih ilmu-ilmu di sekolah. Yus Rusyana memilih mengisahkan Abih yang tidak pernah sekolah dalam menjawab pelbagai pertanyaan dalam hidup. Ia berada dalam ujian yang nyata. 


Usaha membentuk masa depan perlahan menemukan jalan. Abih dalam obrolan bareng bapaknya Tatang. Sejak lama, bapaknya Tatang bekerja sebagai penjahit. Rezeki menjahit digunakan untuk ongkos sekolah Tatang. Pada saat masih sering main ke rumah Tatang, Abih sebenarnya terpikat mesin jahit. Ia memberi perhatian besar saat melihat bapaknya Tatang sedang menjahit. 


Akhirnya, Abih dan bapaknya Tatang semangat pergi ke kota. Segala hal dipelajari dan dipertaruhkan. Di kota, Abih mula-mula menjadi pelayan bapaknya Tatang. Pada hari yang dinantikan, ia berhasil mahir menjahit. 


Yang diceritakan pengarang tentang Abih yang bakal dewasa: “Ia bercita-cita akan membuka perusahaan sendiri. Perusahaan yang akan dibukanya ialah perusahaan menjahit dan bertoko. Malah setelah mengetahui kotan itu penghasil kelapa, ia pun bercita-cita akan membuka pabrik minyak kelapa. Bekerja dengan cita-cita yang jelas sungguh menggembirakan. Ya, ia selalu hidup bersemangat.” Sekali lagi, yang diceritakan pengarang bukan tokoh yang belajar di sekolah. Ia memiliki masa depan tidak sesuram seperti pandangan buruk publik atas anak atau remaja yang tidak bersekolah.


_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!