NGEWIYAK.com, CILEGON — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Cilegon menggelar "Workshop Menulis Cerpen" sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan keterampilan literasi, khususnya menulis. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (21/9) di SMPIT Al-Hanif Putri, Cibeber, Kota Cilegon, pukul 13.00–16.00, dan diikuti sekitar 60 guru.
Workshop ini merupakan pertemuan ke-5 MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Cilegon. Kegiatan dilaksanakan berdasarkan hasil pemetaan materi yang dilakukan pada awal semester ganjil.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Cilegon, Yullya Grestafiany, S.Pd., dari SMPN 8 Cilegon, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen MGMP untuk terus meningkatkan kualitas pendidik.
“Pertemuan ke-5 MGMP kali ini merupakan jawaban dari hasil pemetaan materi yang dilakukan saat awal semester ganjil. MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Cilegon berkomitmen untuk senantiasa tumbuh bersama, berkembang beriringan, demi peningkatan kualitas pendidik yang tujuan utamanya adalah peningkatan kemampuan murid di sekolah masing-masing,” ujarnya.
Yullya menegaskan bahwa guru harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman. “Guru wajib terus belajar, karena zaman tidak bisa dikendalikan, namun ilmu pengetahuan haruslah tetap dalam genggaman,” katanya.
Semangat belajar sepanjang hayat juga disampaikan Ketua Sanggar MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Cilegon, Hj. Masubaitillah, S.Pd., M.M. Ia mengajak para guru untuk menjadikan MGMP sebagai ruang belajar sekaligus mempererat silaturahmi.
“Menuntut ilmu kalau sudah tua wis ketul, tapi kalau diasah lagi insyaallah bisa mudah lagi mengingatnya, belajar sepanjang hayat,” tuturnya.
Hj. Masubaitillah juga mengingatkan para guru agar tidak bosan mengikuti kegiatan MGMP meskipun berlangsung singkat. Menurutnya, pertemuan tersebut tetap memiliki nilai penting karena menjadi ruang untuk belajar dan bersilaturahmi.
Workshop menghadirkan Encep Abdullah, narasumber sekaligus pegiat literasi Banten. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami cara menulis cerpen yang menarik dan memiliki daya pikat bagi pembaca.
Encep menekankan pentingnya fungsi setiap tokoh dalam cerita. Menurutnya, penulis harus menghindari tokoh yang hanya menjadi pelengkap tanpa memberikan kontribusi terhadap jalan cerita.
“Dalam menulis cerita pendek jangan sampai ada tokoh yang mubazir. Setiap tokoh harus mempunyai peran penting dalam cerita,” jelasnya.
Encep juga menyarankan agar cerpen dibuka dengan peristiwa yang mengejutkan sehingga pembaca langsung tertarik dan penasaran terhadap kelanjutan cerita.
Dalam sesi diskusi, peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman. Dua peserta yang tercatat mengajukan pertanyaan ialah Zuhrotul Uyun, S.Pd., dari SMPN 10 Cilegon, dan Nursyamsi, S.Pd., dari SMPN 7 Cilegon.
Salah seorang peserta, Kartika Dewi, S.Pd., dari SMP Unggulan Uswatun Hasanah, mengaku bersyukur dapat kembali belajar menulis cerpen. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan banyak inspirasi dan motivasi untuk kembali menghasilkan karya.
“Setelah kegiatan workshop menulis saya pribadi sadar bahwa menulis itu bisa berawal dari apa yang terjadi di sekitar kita, hal-hal yang natural dan tulus,” ungkapnya.
Kartika menilai kekuatan sebuah karya dapat dimulai dari kalimat pertama yang mampu menarik perhatian pembaca. Menurutnya, pengalaman dan peristiwa sederhana di sekitar dapat menjadi sumber ide untuk menghasilkan tulisan yang bermakna.
“Sejatinya karya kita nanti tak akan pernah mati dari generasi ke generasi,” katanya.
Panitia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai workshop, tetapi dilanjutkan dengan menghasilkan sebuah buku kumpulan karya guru Bahasa Indonesia Kota Cilegon. Buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi ide dan kreativitas guru sekaligus mendorong peningkatan budaya literasi guru dan siswa di sekolah.
(Redaksi)


Terimakasih telah berkomentar!