Saturday, September 19, 2026

Resensi Kabut | Sepakbola dan Omong Kosong

Oleh Kabut



Pada masa sekarang, anak-anak yang suka sepakbola atau balbalan bisa dengan gampang menontonnya di televisi. Banyak siaran langsung pertandingan sepakbola Indonesia dan Eropa, yang memiliki jutaan penggemar. Yang menonton di depan televisi biasanya menyiapkan minuman dan jajanan. Liga-liga penting yang mereka tonton memberi hiburan sekaligus adukan emosional. Para penonton biasa berteriak untuk gol dan pelanggaran-pelanggaran. Mereka pun berdoa demi kemenangan klub pujaan. Yang penting lagi berharap pemain idolanya mencetak gol, sebanyak-banyaknya.


Yang mulai fanatik balbalan menambahi kesibukan dengan gawai. Ia akan menonton beragam cuplikan pertandingan di Indonesia, Inggris, Spanyol, Italia, Turki, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan lain-lain. Tontonan yang gampang menimbulkan kecanduan. Anak-anak betah bergawai demi menghabiskan jam-jam sepakbola. Maka, pengetahuan mereka mengenai balbalan makin meriah. Rekaman-rekaman lawas bisa mereka lacak dan ditonton. Anak-anak terpuaskan saat tangan rajin bergerak di gawai. 


Anak-anak yang memiliki fanatisme dengan tim lokal atau nasional bisa memenuhi hasratnya dengan membeli tiket. Mereka berhak menjadi penonton di stadion. Pengalaman yang seru dan terkenang sepanjang masa. Peran menjadi penonton tidak mudah. Anak-anak belajar keuangan, yel, lagu, sikap, dan lain-lain. Yang memilih tetap berada di kampung, mereka cukup menonton pertandingan cap kampung di lapangan yang sederhana. Pokoknya, anak-anak dan sepakbola tetap tema yang bergulir sampai sekarang.


Anak-anak terus mencari pengalaman-pengalaman imbuhan. Mereka menjadi penonton film-film tentang sepakbola, buatan Jepang atau Eropa. Ada pula beberapa film bertema balbalan buatan Indonesia. Film menjadi referensi. Namun, kita mengingat bahwa film buatan Jepang sangat memukau, yang membuat anak-anak makin menggandrungi sepakbola. Mereka pun menyaksikan perkembangan pesat sepakbola di Jepang, yang mungkin disokong propaganda film.


Dulu, anak-anak yang suka balbalan memiliki kepentingan menjadi pembaca koran, tabloid, atau majalah. Rubrik olahraga (sepakbola) menjadi keutamaan, disusul beragam olahraga. Yang rajin membaca mendapat tumpukan informasi. Pembeli koran, tabloid, atau majalah kadang mendapatkan hadiah stiker atau poster pemain terkenal. Masa lalu menjadi pembaca itu tidak mendapat kelanjutan pada masa sekarang. Kita menduga “pembaca” sepakbola terus berkurang.


Ingatan tentang bacaan membawa kita pada buku berjudul Kapten Bola. Novel untuk anak-anak yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Buku yang tipis terbitan Pustaka Jaya (1977) itu turut mengiringi imajinasi dan pengetahuan sepakbola anak-anak di Indonesia, berlatar Orde Baru. Kita tidak menemukan kepastian bahwa sepakbola itu berdasarkan GBHN atau harus ikut menyukseskan pembangunan nasional. Yang jelas, jutaan orang di Indonesia suka sepakbola. Maka, penulisan cerita bertema sepakbola pantas digemari anak-anak. Artinya, mereka membacanya saat urusan sepakbola masih terbatas dalam siaran radio dan jarang dimunculkan di TVRI.


Adegan awal yang pantas tampil dalam film. Anak-anak berada di lapangan. Mereka menanti kedatangan lawan tanding. Menit-menit menunggu yang menimbulkan ragu. Yang diceritakan Arswendo Atmowiloto adalah percakapan anak-anak yang ingin segera bertanding tapi lawan tidak muncul. Tokoh yang bernama Edi berkata: “Agaknya PS Harimau Buas sekarang sudah tidak buas lagi. Perkumpulan sepakbola itu mulai kini kita sebut saja Harimau Jinak. Mereka takut melawan kita.”


Yang meminta perhatian bukan cuma perkataan Edi. Di kumpulan anak itu kita menyimak omongan Kunti dan Sumba, yang sering berbeda pendapat. Kunti, tokoh utama yang diajukan pengarang dalam memahami dunia anak, sekolah, sepakbola, keluarga, dan lain-lain. Kunti adalah anak bungsu. Ia memiliki empat saudara, yang semuanya lelaki. Ia pantang dimanja dan diistimewakan.


Di sekolah, ia akrab dengan teman-teman lelaki. Ia malah memiliki kelebihan. Kunti tidak mau diremehkan dan menanggungkan diskriminasi. Maka, ia memiliki sikap dan bahasa, yang membuatnya disegani teman-teman di sekolah. Kunti tampak sebagai murid istimewa. Yang membuatnya makin istimewa, Kunti adalah penjaga gawang. Perempuan yang paham sepakbola. Ia pun memimpin perkumpulan sepakbola. Sebutan yang mentereng miliknya: kapten bola. Ia hadir dalam perkumpulan yang para pemainnya adalah lelaki.


Mereka adalah murid-murid kelas enam di sekolah dasar. Kemauan bergabung dan bermain sepakbola dimulai dari pertandingan di sekolah dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Mereka lanjutkan dengan perkumpulan sepakbola, yang rutin berlatih dan bertanding. Kesebelasan di kelas mereka istimewa. Ada satu pemain yang perempuan: Kunti. Yang terjadi, mereka menang! Kunti dianggap penjaga gawang yang sakti.


Pengakuan teman-teman: “Kunti mempunyai mata yang tajam dan pandai menempatkan orang-orang dalam susunan pemain.” Cara bicara Kunti membuat teman-temannya sering patuh, susah memberi bantahan. Kunti memang pemimpin tegas. Ia mengelola para pemain yang laki-laki dengan cara yang terhormat dan sulit diremehkan. Kata-kata yang diucap Kunti: “Semua sama: mempunyai tugas menyerang dan memasukkan bola, dan membantu bek jika diserang. Ini sepakbola total, namanya.” Para pembaca tidak mendapat keterangan tentang referensi-referensi yang digunakan Kunti dalam memimpin perkumpulan sepakbola dan membuat taktik dalam pertandingan. 


Yang khas dalam cara bicara Kunti adalah memenangkan perdebatan. Ia biasa mengucapkan “omong kosong” untuk mematuhkan dan mengalahkan pendapat teman-teman. Kita mengikuti sikapnya mengenai hal-hal yang diperlukan dalam Perkumpulan Sepakbola Layang-Layang: “Bola kulit dan pakaian dapat kita pikirkan kemudian. Yang penting adalah hari latihannya dan kesanggupan kalian untuk berlatih sungguh-sungguh dan teratur. Tanpa itu semua adalah omong kosong.” Biasanya, teman-teman sadar pesona dan kekuatan Kunti bila berucap “omong kosong”. Mereka tidak kepikiran kesopanan atau pembedaan gaya bicara antara lelaki dan perempuan. 


Padahal, ada temannya yang bernama Sumba (penyerang) pernah menyindir: “Aku sudah memberi peringatan kepada kalian semua. Kalau ada seorang anak perempuan di antara kita, maka perkumpulan ini akan menjadi perkumpulan adu mulut. Perempuan selalu banyak cing…” Kalimat yang belum selesai, mendapat balasan yang keras dari Kunti: “Sekali lagi kau berani bermulut besar, kau akan kukeluarkan dari perkumpulan ini, Sumba! Aku adalah ketuanya. Ketua yang sah berdasarkan pemilihan. Seorang ketua berhak menghukum atau mengeluarkan salah seorang anggotanya bila berbuat salah. Jangan kaulupakan itu!”


Anak-anak yang membaca novel buatan Arswendo Atmowiloto itu bisa tertawa. Novel yang mengandung humor. Di situ, ada perempuan yang sulit dikalahkan. Kunti menjadi tokoh idaman bagi para pembacanya. Perannya (terlalu) besar dan menentukan nasib Perkumpulan Sepakbola Layang-Layang. Perkumpulan itu memang dibuat dengan pendanaan melalui membuat dan menjual layang-layang. Sebelumnya, ada beberapa usulan nama: PS Cenderawasih, PS Rajawali Muda, PS Singa Sakti, PS Semut, PS Burung Gereja, dan PS Sederhana.


Di beberapa pertandingan, mereka sering menang. PS Layang-Layang telah mendapatkan nama dan “ditakuti”. Namun, mereka juga pernah mengalami kekalahan tapi secara terhormat. Semuanya dipengaruhi sikap Kunti. Perempuan yang memiliki keberanian dalam berucap dan tindakan. Kita ambil contoh saat ia memberi petunjuk dalam pertandingan: “Omong kosong. Kau seharusnya jangan berkata demikian. Seharusnya kau sadar pada waktu turun minum. Kau dapat mengubah cara penyeranganmu.” Di halaman-halaman novel, tidak ada upaya memberi sebutan Kunti adalah “penguasa omong kosong” gara-gara keseringan mengucap dengan awalan atau akhiran: “omong kosong”.


Kita mengutip lagi: “Omong kosong… Kau jangan terlalu berlebih-lebihan menganggap mereka. Semangat kita bisa runtuh sebelum bertanding. Semangat berjuang untuk menang harus tetap kita jaga. Kalau semangat kita berkobar-kobar, maka separuh dari pertandingan ini telah kita menangkan. Mengerti kalian?” Kita membayangkan sosok Kunti itu berwibawa.


Novel yang bisa dicetak ulang bagi pengajaran sastra dan olahraga. Di sastra Indonesia, kita memerlukan bacaan anak dan remaja yang sanggup memberi rangsang untuk perkembangan pelbagai olahraga. Arswendo Atmowiloto telah membuktikan menceritakan balbalan. Pada suatu masa, ia pun menulis novel mengenai bulutangkis. Kita pun tidak sungkan memberi pujian pada Arswendo Atmowiloto yang tekun mengembangkan sastra-olahraga di Indonesia.


_______


Biodata Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!