Thursday, September 3, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Secangkir Kopi Cinta: Menikah karena Ibadah atau karena Takut Tertinggal?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Ada sebuah pertanyaan yang semakin sering terdengar di tengah masyarakat: “Kapan menikah?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut bisa berubah menjadi tekanan. Apalagi ketika teman sebaya satu per satu mengunggah foto lamaran, akad, pesta pernikahan, hingga kehidupan rumah tangga di media sosial. Masalahnya, hidup bukan kereta yang akan meninggalkan kita hanya karena belum menikah. Namun, tanpa sadar, banyak orang mulai melihat pernikahan sebagai sebuah perlombaan. Bukan lagi bertanya, “Apakah saya sudah siap menikah?”, tetapi, “Mengapa orang lain sudah menikah sementara saya belum?” Di titik inilah sebuah pertanyaan menjadi penting: kita menikah karena ibadah atau karena takut tertinggal?

 

Pernikahan memang merupakan ladang ibadah. Membangun keluarga, menjaga kehormatan diri, saling mencintai, menjalankan tanggung jawab, dan membesarkan generasi merupakan bagian dari kehidupan yang bernilai. Tetapi niat baik tidak otomatis membuat seseorang siap menjalani pernikahan.

 

Menikah itu mudah. Yang sulit adalah menjadi pasangan yang baik setelah akad selesai. Akad mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi setelah itu ada tagihan ini itu, perbedaan kebiasaan, ego, sikap keluarga besar dari pihak kita dan mertua, pekerjaan, masalah keuangan, konflik, dan berbagai tanggung jawab yang tidak bisa diselesaikan dengan satu kalimat, “Kan kita menikah karena ibadah.”

 

Oleh karena itu, kalimat “Saya ingin menikah karena ibadah” memang indah bahkan mulia banget, tetapi harus diikuti pertanyaan yang lebih jujur: apakah kita siap beribadah melalui kesabaran, akhlak, tanggung jawab, kompromi, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat indah? Jangan sampai kita ingin mendapatkan pahala dari pernikahan, tetapi kita malah belum siap menjalankan kewajiban di dalamnya. Jangan sampai ingin menikah segera, tetapi masih suka berkata kasar, mudah terpancing emosi, mudah berprasangka buruk, dan gemar menghakimi orang lain. Coba pikirkan hal itu.

 

Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa calon pasangan yang baik hanya bisa dinilai dari seberapa “alim” penampilannya. Tentu, ilmu agama adalah sesuatu yang sangat penting. Tetapi ilmu tanpa akhlak, itu bagaikan AK-47 yang dipegang oleh pelajar SMA yang sedang tawuran.

 

Sebab banyak banget kasus di mana orang-orang yang bisa hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal banyak hadits, rajin ikut pengajian ke mana-mana, lulusan pesantren atau sekolah agama, bahkan pandai berbicara tentang agama, tetapi itu belum menjadi jaminan bahwa dia mampu menjadi pasangan yang baik. Ingat, kita ini sedang cari suami, bukan cari imam masjid. Kita ini sedang cari istri, bukan sedang cari ustazah untuk mengisi pengajian atau ngajar di pesantren. Mencari imam masjid atau ustazah untuk ngajar di pesantren, kita harus tahu seperti apa akhlaknya, sikapnya, karakternya. Apalagi untuk mencari suami atau istri? Betul atau benar?

 

Kita juga harus mengetahui bagaimana sikapnya ketika marah? Apakah lisannya dan perbuatannya tetap terjaga? Apakah dia mampu menghormati orang yang berbeda pendapat? Bagaimana sikap dia ketika bertemu dengan orang yang tidak sesuai harapannya? Apakah dia mampu meminta maaf? Apakah dia menjaga batas dengan lawan jenis? Sebab pada akhirnya, yang akan hidup bersama kita bukan jumlah hafalannya, bukan gelarnya, dan bukan citra religiusnya, tetapi karakternya. Kita tidak sedang mencari manusia sempurna, tetapi kita perlu mencari manusia yang mau memperbaiki diri dan memiliki akhlak yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

Masalahnya, generasi hari ini hidup di tengah budaya membandingkan dan budaya validasi. Instagram dan TikTok membuat kita setiap hari melihat siapa yang baru lamaran, siapa yang menikah, siapa yang honeymoon, siapa yang membeli rumah, dan siapa yang sudah memiliki anak. Yang tidak kita lihat adalah apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.

 

Kita melihat foto pasangan tersenyum di pelaminan, tetapi tidak melihat pertengkaran mereka malam sebelumnya. Kita melihat caption “my forever”, tetapi tidak tahu bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Kita melihat kehidupan orang lain dari potongan terbaiknya, kemudian membandingkannya dengan kehidupan kita secara keseluruhan. Akhirnya muncul perasaan, “Semua orang sudah maju, kok saya masih di sini?” Padahal belum tentu mereka lebih bahagia, belum tentu pernikahannya lebih sehat, dan belum tentu jalan hidup mereka mulus-mulus saja. Media sosial akhirnya bukan hanya tempat berbagi kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi pabrik kecemasan sosial.

 

Di sinilah penyakit takut tertinggal mulai bekerja. Teman menikah, kita panik. Adik kelas menikah, kita merasa tertinggal. Teman sekolah sudah punya anak, orang tua mulai bertanya, “Kamu kapan nikah? Papa dan Mama pengen punya cucu."

 

Akhirnya keputusan sebesar pernikahan malah dibuat hanya karena kita tidak tahan dengan suara-suara sumbang dari orang lain. Lucunya, masyarakat sering menganggap belum menikah sebagai masalah, tetapi jarang bertanya apakah seseorang sudah mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik. Kita sibuk menghitung umur, tetapi lupa menghitung kedewasaan. Sebab kedewasaan sikap seseorang, tidak ditentukan oleh umur kita. Masih banyak orang yang umurnya dewasa, fisiknya dewasa, tapi sikapnya seperti bocah.

 

Jangan sampai kita memilih menikah karena sudah dikejar oleh umur yang makin menua. Lebih baik menikah muda, tetapi siap secara mental, karakter, dan ilmu, daripada menikah tua tapi belum siap secara mental, karakter, dan ilmu. Kalau umur 18 tahun sudah siap menikah, ya menikahlah. Kalau umur 40 tahun belum siap menikah, ya jangan dulu menikah.

 

Ada pula anggapan bahwa seseorang sudah siap menikah hanya karena sudah bekerja. Memang, kemampuan finansial penting. Rumah tangga membutuhkan nafkah, perencanaan, dan pengelolaan uang yang baik. Tetapi mari jujur: menikah bukan transaksi antara gaji dan buku nikah. Banyak orang merasa sudah siap menikah hanya karena sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang terbilang besar. Padahal kesiapan menikah bukan soal duit doang. Ada orang yang gajinya besar, tetapi akhlaknya buruk; pemarah, masih suka cengengesan dengan lawan jenis yang bukan mahrom, masih nyaman terlalu akrab dengan lawan jenis yang bukan mahrom, bahkan masih suka bersikap kasar. Lalu dengan mudahnya mengatakan, “Saya sudah siap menikah.”

 

Hei, kamu siap yang kayak gimana!? Siap menafkahi, tetapi belum siap menjaga diri? Siap membayar kebutuhan rumah tangga, tetapi belum siap mengendalikan emosi dan menjaga lisan?

 

Punya pekerjaan saja, tidak otomatis membuat seseorang menjadi dewasa. Punya gaji besar, tidak otomatis membuat seseorang berakhlak baik. Bahkan jabatan tinggi pun tidak menjamin seseorang mampu menjadi pasangan yang aman. Kita terlalu sering bertanya, “Kerjanya apa?” dan “Gajinya berapa?”, tetapi lupa bertanya, “Kalau dia marah, dia menjadi manusia seperti apa? Apakah dia tetap menjadi manusia atau berubah menjadi Hulk?” Sebab bisa saja seseorang terlihat baik di luar rumah, tetapi sangat kasar kepada orang terdekat. Bisa memiliki rekening yang sehat, tetapi emosinya tidak sehat. Bisa punya mobil bagus, tetapi lisannya menyakiti. Oleh sebab itu, menikah bukan hanya soal mampu membawa uang ke rumah, tetapi juga mampu membawa ketenangan ke dalam rumah.

 

Setelah menikah, lawan jenis tetap ada, media sosial tetap ada, godaan tetap ada, rasa bosan tetap mungkin muncul, dan konflik tetap akan terjadi. Yang membuat seseorang setia bukan karena setelah menikah seluruh godaan menghilang, melainkan karena ia memiliki integritas ketika tidak ada yang melihat.

 

Begitu pula dengan kemarahan. Jangan berharap akad nikah menjadi tombol reset kepribadian. Orang yang kasar sebelum menikah, maka tidak otomatis menjadi lembut setelah menikah. Orang yang egois tidak akan tiba-tiba menjadi dewasa, hanya karena memakai cincin. Orang yang tidak mampu menjaga batas dengan lawan jenis, tidak otomatis menjadi setia hanya karena sudah memiliki pasangan. Akad nikah bukan tombol reset. Pernikahan justru sering menjadi tempat karakter seseorang terlihat semakin jelas.

 

Pesta hanya berlangsung sehari, sedangkan kehidupan rumah tangga berlangsung bertahun-tahun. Cincin mungkin dipamerkan di media sosial, tetapi akhlak pasangan akan kita temui setiap hari. Yang menentukan kualitas rumah tangga bukan seberapa mahal pesta pernikahan, tetapi bagaimana dua orang berbicara ketika sedang marah, bagaimana mereka menyelesaikan masalah ketika uang sedang sempit, bagaimana mereka meminta maaf ketika salah, dan bagaimana mereka tetap saling menghormati ketika tidak ada yang melihat.

 

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan lagi, “Kapan kamu menikah?”, tetapi “Untuk apa kamu menikah?” Bukan lagi, “Kenapa belum punya pasangan?”, tetapi, “Sudahkah kamu siap menjadi pasangan?” Dan bukan lagi, “Takut tidak kebagian jodoh?”, tetapi, “Apakah kamu benar-benar ingin menikah, atau hanya takut hidupmu terlihat tertinggal?”

 

Jika keputusan sebesar pernikahan hanya dibuat untuk membungkam pertanyaan keluarga, memenuhi standar lingkungan, atau mengejar kehidupan yang terlihat indah di media sosial, kita sebenarnya sedang menyerahkan masa depan kepada orang-orang yang tidak akan menjalani rumah tangga itu bersama kita. Mereka mungkin hadir di pesta, memberi selamat, makan-makan, dan mengunggah foto. Tetapi ketika rumah tangga sedang berantakan, yang harus jungkir balik adalah kita, bukan mereka.

 

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukan “Kapan menikah?”, tetapi “Ketika aku menikah nanti, apakah aku benar-benar siap menjadi pasangan yang baik?”

 

Dan sebelum mencari seseorang untuk dinikahi, kita mungkin perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: “Kalau tidak ada seorang pun yang bertanya : kapan nikah, apakah aku tetap ingin menikah sekarang?”

 

Jika jawabannya adalah ingin menikah sekarang karena kita sadar dengan tanggung jawab, selalu memperbaiki sikap serta karakter, dan ingin menjalani pernikahan sebagai bagian dari ibadah, maka silakan menikah.

 

Tetapi, jika kita menjawab : ingin menikah karena takut tertinggal, takut umur makin tua, fisik makin tua, mungkin kita jangan dulu menikah. Kita harus mendewasakan sikap kita terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi selama ini kita bukan takut kehilangan jodoh. Kita hanya takut terlihat kalah cepat.

 

______

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, penulis adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris untuk SMP serta SMA. Pernah juga menjadi guru IPA dan guru IPS.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!