Oleh Kabut
Takdir dalam kesusastraan anak tetap berlaku sampai sekarang: cerita kerajaan. Maksudnya, cerita-cerita mengenai raja, permaisuri, pangeran, dan puteri masih terus dilestarikan dan dibuat. Kita mengetahui cerita-cerita itu condong mengenai “pernikahan” dan “kekuasaan”. Anak-anak yang menikmati ceritanya secara lisan dan tulisan seolah tidak merasakan jemu. Konon, imajinasi berpusat kerajaan tetap memikat, belum ada tandingannya.
Pesona itu makin kuat bila dibuat film-film di perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat, yang ditonton jutaan anak di pelbagai negara. Cerita mengenai kerajaan dengan segala hal yang megah tetap menggiring imajinasi yang meriah. Di hadapan buku, anak-anak mengetahui nasib para tokoh dan suasana kerajaan melalui kata-kata dan ilustrasi. Pada saat menonton film, mereka makin merayakan imajinasi silam yang tampak dari busana, makanan, kereta kuda, senjata. Arsitektur, dan lain-lain.
Kita kadang bingung dengan fanatisme cerita anak yang selalu memunculkan para tokoh di kerajaan atau istana. Anehnya, masalah pernikahan dianggan sangat penting dan menentukan dalam alur. Yang menyimak cerita kerajaan pun memiliki daftar fitnah, kebohongan, pengkhianatan, pembunuhan, kutukan, dan lain-lain. Pokoknya segala hal itu dianggap seru. Buktinya, cerita mengenai kerajaan awet selama berabad-abad. Di Indonesia, anak-anak tetap menggemari cerita kerajaan, yang berlatar di Nusantara atau tempat-tempat asing.
Pada 1976, terbit buku berjudul Puteri Berwajah Buruk gubahan M Poppy Donggo Hutagalung. Judul yang tidak salah. Judul yang tidak buruk. Sejak judul, pembaca sudah dibujuk membayangkan gadis yang wajahnya buruk. Gadis yang berada di istana tapi berwajah buruk. Pembaca memikirkan sikap raja dan permaisuri yang putrinya berwajah buruk. Padahal, kita sering menetapkan bahwa puteri harus cantik-jelita atau anggun.
Anak-anak cepat paham bila pengarang memberi judul menggunakan penyebutan “puteri”. Percayalah bahwa yang diceritakan adalah pernikahan dan kerajaan. Kita sangat mudah membuktikannya dengan membuka halaman-halaman buku.
Dulunya, buku yang diterbitkan Pustaka Jaya itu ditempeli keterangan yang dibuat oleh Tate Sere. Di balik sampul depan, tercantum keterangan menggunakan mesin tik: “Selamat membaca cerita ini dan semoga Zippy senang dan puas.” Buku sebagai hadiah dari tante. Zippy diharapkan bisa khatam. Yang terpenting anak itu mendapatkan kesan atas cerita yang digubah M Poppy Donggo Hutagalung. Kita menduga buku cerita itu mengena pada pembaca perempuan ketimbang lelaki. Penentunya adalah tokoh-tokoh yang “terpenting” adalah perempuan.
Yang dikenalkan awal adalah Puteri Mawar. Sosok yang “sempurna” bila mengikuti pengisahan dari pengarang: “Puteri Mawar menjadi mawar di istana, bahkan dalam kerajaan ayahandanya. Bila ia berlari-lari kecil di dalam tamannya yang indah di depan istana, maka akan merunduklah sekalian bunga, seakan-akan tak kuasa menentang kemolekannya.” Penjelasan yang belum cukup. Kita melanjutkan mengikuti pengakuan Puteri Mawar saat berada di depan cermin: “Alangkah bagus mataku, bersinar bagai bintang kejora. Alangkah indah mulutku, merah bagai mawar merekah. Alangkah mungil hidungku, alangkah lentik alisku. alangkah legam rambutku, berkilau bagai ombak tertimpa sinar matahari.” Putri yang membuat raja dan permaisuri bahagia.
Para pembaca gampang tergoda untuk memuja Puteri Mawar. Ia masih memiliki pelbagai keistimewaan. Kita makin mengerti bahwa cerita mengenai kerajaan memang mengharuskan kesempurnaan, yang melampaui batas-batas kewajaran. Maka, imajinasi pembaca (sangat) boleh berlebihan. Puteri Mawar itu idaman. Para pembaca ingin menjadi seperti Puteri Mawar meski tidak lagi hidup di zaman kerajaan.
Perbedaan mulai disajikan melalui adik Puteri Mawar. Sosok yang berkebalikan. Anak itu dinamakan Puteri Melur. Pembaca dibuat terkejut, dikenalkan dengan sosok yang bertentangan setelah memuja Puteri Mawar. Yang ditulis pengarang mengenai Puteri Melur: “Ia mempunyai wajah yang teramat buruk. Matanya kecil tak bersinar, hidungnya besar, bibirnya hitam tebal, rambutnya pendek dan jarang.” Namun, ia tetap anak dari raja dan permaisuri, yang sebelumnya memiliki Puteri Mawar. Artinya, dua puteri yang hadir dalam perbedaan. Buruk itu ditanggapi raja dan permaisuri dengan menghilangkan semua cermin yang pernah ada di istana. Maksudnya, Puteri Melur tidak perlu melihat dirinya di cermin.
Dua putri bertumbuh dewasa, yang berbeda nasib. Raja dan permaisuri bingung dalam mengasihi dua putri. Diskriminasi pun terjadi. Kita ingat lagi bahwa cerita mengenai kerajaan pasti berurusan pernikahan. Puteri Mawar akhirnya menikah. Ia mendapatkan pangeran yang istimewa. Raja berbahagia sekaligus menampilkan diri sebagai sosok yang “memerintah” secara buruk. Yang disampaikannya kepada Puteri Melur: “Dengar, Melur. Sebentar lagi kakakmu akan melangsungkan perkawinan. Pada hari itu, engkau tidak boleh menampakkan diri di ruang pesta. Hanya ada satu tempat bagimu, dan tempat itu adalah belakang tirai. Jangan beranjak dari situ, kalau engkau tak mau didera.” Cerita yang membuat pembacanya menaruh kasihan pada Puteri Melur. Raja yang tidak adil. Raja yang diskriminatif. Raja yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Pada situasi berbeda yang mentiksa, Puteri Melur menyadari dirinya buruk. Ia minggat dari istana. Perjalanan yang mengandung sedih, kecewa, marah, dan bingung. Di suatu desa, ia bertemu dengan ibu yang pengasih. Puteri Melur bernasib mujur. Ia diajak hidup di rumah Ibu Anik yang kesehariannya berdagang. Di situ, Puteri Melur belajar menjadi manusia biasa. Ia melakukan pekerjaan sehari-hari. Kenyataan yang membuatnya sadar perbedaan lakon hidup para penghuni istana dan rakyat.
Puteri Melur menyadari kehidupan rakyat yang bekerja keras. Desa yang tidak sejahtera. Makanan yang (sangat) sederhana. Busana yang sepatutnya saja. Ia mengingat di istana sering diadakan pesta, yang memamerkan busana dan makanan. Di desa, Puteri Melur belajar hidup pada Ibu Anik dan rakyat. Pengarang seperti sedang mengumumkan pada pembaca mengenai kegagalan raja dalam mencipta kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya.
Puteri Melur, perempuan yang berwajah buruk memiliki kepekaaan atas nasib rakyat. Ia ingin mengubahnya tapi mesti melalui kekuasaan. Anak-anak yang membaca cerita berjudul Puteri Berwajah Buruk perlahan belajar tema kekuasaan, selain pernikahan. Jadi, para pembaca mungkin memihak keberanian Puteri Melur dalam mengalami hidup sebagai rakyat. Ia tidak berada dalam kemewahan. Setiap hari, yang dipelajarinya adalah hidup yang merakyat meski dirinya berasal dari istana. Ia tetap saja keturunan raja dan permaisuri tapi sikapnya menembus tembok istana, mengerti dan mengasihi rakyat.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!