Showing posts with label Cerpen Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Terjemahan. Show all posts

Sunday, March 1, 2026

Cerpen Bram Stoker | Under the Sunset

Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno



Jauh, sangat jauh, terdapat sebuah Negeri yang indah, yang tak pernah tertangkap oleh mata manusia dalam keadaan terjaga. Negeri itu terletak di bawah Matahari Terbenam, di tempat cakrawala yang jauh membatasi siang, dan di mana awan-awan, gemilang oleh cahaya dan warna, memberi janji akan kemuliaan serta keindahan yang melingkupinya.

Kadang-kadang, kita dianugerahi kesempatan untuk melihatnya dalam mimpi.

Sesekali datanglah para Malaikat, dengan lembut, mengepakkan sayap putih mereka yang besar di atas dahi-dahi yang letih, dan meletakkan tangan-tangan sejuk di atas mata yang terpejam. Maka melayanglah jiwa si pemimpi. Ia terbang bangkit dari kelam dan keruhnya musim malam. Ia berlayar menembus awan-awan ungu. Ia melesat melalui hamparan luas cahaya dan udara. Ia terbang melintasi biru tua kubah langit; dan setelah menyapu cakrawala yang jauh, ia pun beristirahat di Negeri Indah di Bawah Matahari Terbenam.

Negeri itu dalam banyak hal serupa dengan negeri kita sendiri. Di sana ada laki-laki dan perempuan, raja dan ratu, orang kaya dan orang miskin; ada rumah-rumah, pepohonan, ladang-ladang, burung-burung, dan bunga-bunga. Di sana ada siang dan malam; panas dan dingin, sakit dan sehat. Jantung para lelaki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, berdenyut sebagaimana di sini. Ada kesedihan yang sama dan kegembiraan yang sama; harapan-harapan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sama.

Seandainya seorang anak dari Negeri itu berdiri di samping seorang anak di sini, kau takkan dapat membedakan keduanya, kecuali dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama seperti kita. Mereka tidak tahu bahwa mereka berbeda dari kita; dan kita pun tidak tahu bahwa kita berbeda dari mereka. Ketika mereka datang kepada kita dalam mimpi, kita tak menyadari bahwa mereka adalah orang asing; dan ketika kita pergi ke Negeri mereka dalam mimpi, kita merasa seolah-olah berada di rumah sendiri. Barangkali inilah sebabnya: rumah orang-orang baik berada di dalam hati mereka; dan di mana pun mereka berada, di sanalah mereka menemukan kedamaian.

Negeri di Bawah Matahari Terbenam, selama zaman yang sangat panjang, adalah sebuah Tanah yang menakjubkan dan menyenangkan. Tak ada satu pun di sana yang tidak indah, manis, dan menenteramkan. Baru ketika dosa datang, hal-hal di sana mulai kehilangan keindahan sempurnanya. Namun bahkan sekarang pun, negeri itu tetap merupakan tanah yang ajaib dan menyenangkan.

Karena matahari bersinar dengan kuat di sana, di sepanjang sisi setiap jalan ditanam pohon-pohon besar yang menghamparkan cabang-cabangnya yang rimbun. Dengan demikian para musafir memperoleh naungan ketika mereka melintas. Tugu-tugu penanda jarak di jalan bukanlah batu bisu, melainkan pancuran air yang manis dan dingin, begitu jernih dan bening, sehingga ketika seorang pejalan tiba di sana, ia duduk di bangku batu berukir di sampingnya dan menghela napas lega, sebab ia tahu bahwa di tempat itu ada perhentian dan istirahat.

Ketika di sini matahari terbenam, di sana justru tengah hari. Awan-awan berkumpul dan menaungi Negeri itu dari panas yang menyengat. Maka, untuk sesaat, segala sesuatu pun terlelap.

Jam yang manis dan damai ini disebut waktu Istirahat.

Saat Waktu Istirahat tiba, burung-burung berhenti bernyanyi dan meringkuk rapat di bawah tepi atap rumah yang lebar, atau di dahan-dahan pohon tempat cabang bertemu batang. Ikan-ikan berhenti melesat di dalam air, lalu berdiam di bawah batu-batu, dengan sirip dan ekor yang begitu tenang seakan-akan mereka telah mati. Domba dan ternak berbaring di bawah pepohonan. Para lelaki dan perempuan merebahkan diri di tempat tidur gantung yang disangkutkan di antara pepohonan atau di bawah serambi rumah mereka. Kemudian, ketika matahari tak lagi menyilaukan dengan teriknya dan awan-awan telah mencair dan lenyap, seluruh makhluk hidup pun terjaga kembali.

Satu-satunya makhluk hidup yang tidak benar-benar tidur selama Waktu Istirahat hanyalah anjing-anjing. Mereka berbaring sangat tenang, hanya setengah terlelap, dengan satu mata terbuka dan satu telinga tegak; berjaga sepanjang waktu. Lalu, jika seorang asing datang pada jam istirahat itu, anjing-anjing akan bangkit dan memandangnya dengan lembut, tanpa menggonggong, agar tidak mengusik siapa pun. Mereka tahu apakah pendatang itu berbahaya atau tidak; dan jika ia tidak berbahaya, mereka akan berbaring kembali, dan si orang asing pun ikut merebahkan diri sampai Waktu Istirahat berakhir.

Namun apabila anjing-anjing itu mengira bahwa orang asing tersebut datang dengan maksud berbuat jahat, mereka akan menggonggong keras dan menggeram. Sapi-sapi mulai melenguh dan domba-domba mengembik, burung-burung berkicau dan menyanyikan nada-nada mereka yang paling nyaring, namun tanpa irama yang merdu; bahkan ikan-ikan pun mulai melesat ke sana kemari dan memercikkan air. Orang-orang terjaga dan meloncat turun dari tempat tidur gantung mereka, lalu meraih senjata. Maka saat itu menjadi waktu yang buruk bagi sang penyusup. Seketika ia dibawa ke Pengadilan dan diadili; dan jika terbukti bersalah, ia dijatuhi hukuman, entah dimasukkan ke penjara atau diasingkan.

Setelah itu, para lelaki kembali ke tempat tidur gantung mereka, dan semua makhluk hidup kembali beristirahat sampai Waktu Istirahat berakhir.

Hal yang sama terjadi pada malam hari seperti pada Waktu Istirahat, bila seorang penyusup datang untuk berbuat jahat. Pada malam hari hanya anjing-anjing yang terjaga, serta orang-orang sakit dan para perawat mereka.

Tak seorang pun dapat meninggalkan Negeri di Bawah Matahari Terbenam kecuali melalui satu arah saja. Mereka yang datang ke sana dalam mimpi, atau yang datang dalam mimpi ke dunia kita, pergi dan datang tanpa mengetahui bagaimana caranya; tetapi bila seorang penghuni negeri itu mencoba meninggalkannya, ia tak dapat melakukannya kecuali melalui satu jalan. Jika ia mencoba jalan lain, ia akan terus berjalan, berputar tanpa menyadarinya, sampai akhirnya tiba di satu tempat yang menjadi satu-satunya jalan keluar baginya.

Tempat itu disebut Gerbang, dan di sanalah para Malaikat berjaga.

Tepat di tengah Negeri berdiri istana Sang Raja, dan dari sana jalan-jalan membentang ke segala arah. Ketika Sang Raja berdiri di puncak menara yang menjulang tinggi dari tengah istananya, ia dapat memandang sepanjang jalan-jalan itu, yang semuanya lurus tanpa belokan.

Jalan-jalan itu tampak semakin menyempit ketika menjauh, hingga akhirnya lenyap sama sekali dalam kejauhan semata.

Di sekeliling istana Sang Raja berdiri rumah-rumah para bangsawan besar, masing-masing terletak semakin dekat sesuai dengan tinggi rendahnya derajat pemiliknya. Di luar lingkaran itu terdapat rumah-rumah bangsawan yang lebih rendah; dan setelahnya rumah-rumah semua orang lainnya, yang kian kecil ukurannya semakin jauh letaknya.

Setiap rumah, besar maupun kecil, berdiri di tengah sebuah taman yang memiliki pancuran dan aliran air, pepohonan besar, serta petak-petak bunga yang indah.

Lebih jauh lagi, menuju ke arah Gerbang, negeri itu menjadi semakin liar. Setelah itu terbentang hutan-hutan lebat dan pegunungan besar yang penuh dengan gua-gua dalam, gelap gulita seperti malam. Di sanalah binatang-binatang buas dan segala sesuatu yang kejam berdiam.

Sesudahnya terdapat rawa-rawa berlumpur, paya-paya, dan tanah lembek yang dalam dan berbahaya, serta rimba yang lebat. Lalu semuanya menjadi begitu liar sehingga jalan pun lenyap sama sekali.

Di wilayah-wilayah liar di balik itu tak seorang pun tahu apa yang berdiam. Ada yang mengatakan bahwa para Raksasa yang masih ada hidup di sana, dan bahwa semua tumbuhan beracun tumbuh di tempat itu. Mereka berkata bahwa di sana berhembus angin jahat yang mengeluarkan benih segala kejahatan dan menyebarkannya ke seluruh bumi. Ada pula yang mengatakan bahwa angin jahat yang sama membawa keluar penyakit-penyakit dan wabah-wabah yang tinggal di sana. Yang lain berkata bahwa Kelaparan hidup di rawa-rawa itu, dan bahwa ia keluar berkeliaran ketika manusia menjadi begitu jahat—terlampau jahat sehingga Roh-roh penjaga negeri menangis tersedu-sedu hingga tak melihatnya lewat.

Tersiar bisikan bahwa Kematian memiliki kerajaannya di Kesunyian di balik rawa-rawa, dan tinggal di sebuah istana yang begitu mengerikan untuk dipandang sehingga tak seorang pun pernah melihatnya dan hidup untuk menceritakan bagaimana rupanya. Dikisahkan pula bahwa semua makhluk jahat yang hidup di rawa-rawa itu adalah Anak-anak Kematian yang durhaka, yang telah meninggalkan rumah mereka dan tak dapat menemukan jalan kembali.

Namun tak seorang pun mengetahui di mana Istana Raja Kematian berada. Semua manusia—laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak kecil yang masih sangat belia—hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ketika mereka harus memasuki istana itu dan berhadapan dengan Sang Raja yang muram, mereka tak gentar memandang wajahnya.

Untuk waktu yang sangat lama, Kematian dan Anak-anaknya tinggal di luar Gerbang, dan segala sesuatu di dalamnya penuh dengan sukacita.

Namun tibalah suatu masa ketika segalanya berubah. Hati manusia menjadi dingin dan keras oleh kesombongan atas kemakmuran mereka, dan mereka tidak mengindahkan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan kepada mereka. Maka ketika di dalam negeri tumbuh dingin, acuh tak acuh, dan penghinaan, para Malaikat penjaga melihat pada kengerian yang berdiri di luar itu sarana hukuman serta pelajaran yang dapat membawa kebaikan.

Pelajaran-pelajaran yang baik pun datang—sebagaimana hal-hal baik sering kali datang—setelah rasa sakit dan ujian, dan pelajaran-pelajaran itu mengajarkan banyak hal. Kisah tentang kedatangan mereka menyimpan hikmah bagi orang-orang yang bijaksana.

Di Gerbang, dua Malaikat senantiasa berjaga dan mengawal. Malaikat-malaikat ini begitu agung dan begitu waspada, dan selalu begitu teguh dalam penjagaan mereka, sehingga hanya ada satu nama bagi mereka berdua. Salah satu dari mereka, ataupun keduanya, bila diajak bicara, akan dipanggil dengan nama yang sama secara utuh. Yang satu mengetahui sebanyak yang diketahui yang lain tentang segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab mereka berdua mengetahui segalanya. Nama mereka adalah Fid-Def.

Fid-Def berdiri berjaga di Gerbang. Di samping mereka ada seorang Malaikat-Anak, lebih indah daripada cahaya matahari. Garis-garis wujudnya yang elok begitu lembut hingga seakan-akan senantiasa melebur ke dalam udara; ia tampak seperti cahaya hidup yang suci.

Ia tidak berdiri sebagaimana Malaikat-malaikat lainnya, melainkan melayang naik turun dan berkeliling. Kadang-kadang ia hanya tampak sebagai titik kecil, lalu tiba-tiba, tanpa terlihat melakukan perubahan apa pun, ia menjadi lebih besar daripada Roh-Roh Penjaga agung yang kekal itu.

Fid-Def mengasihi Malaikat-Anak itu, dan ketika ia naik mendekat dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan sayap putih mereka yang besar, dan kadang-kadang ia berdiri di atasnya. Sayapnya sendiri yang indah dan lembut dengan perlahan mengipasi wajah mereka ketika mereka berpaling untuk berbicara.

Namun Malaikat-Anak itu tidak pernah melampaui ambang batas. Ia memandang ke arah belantara di luar sana; tetapi ia tidak pernah meletakkan bahkan ujung sayapnya pun melewati Gerbang.

Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Fid-Def, dan tampak ingin mengetahui apa yang ada di luar sana, dan bagaimana segala sesuatu di sana berbeda dari segala yang ada di dalam.

Pertanyaan dan jawaban para Malaikat tidaklah seperti pertanyaan dan jawaban kita, sebab tak diperlukan kata-kata. Pada saat sebuah pikiran tentang keinginan untuk mengetahui sesuatu muncul, pertanyaan pun telah diajukan dan jawabannya diberikan. Namun demikian, pertanyaan itu tetap datang dari Malaikat-Anak dan dijawab oleh Fid-Def; dan seandainya kita memahami bahasa tanpa-bahasa yang dipakai para Malaikat untuk tidak-berkata, kita akan mendengarnya demikian. Fid-Def sedang berbicara kepada Fid-Def:

“Bukankah Chiaro itu indah?”

“Ia sungguh indah. Ia akan menjadi kekuatan baru di Negeri ini.”

Di sini Chiaro, yang berdiri dengan satu kaki di atas bulu sayap Fid-Def, berkata:

“Katakan padaku, Fid-Def, apakah makhluk-makhluk yang tampak mengerikan di balik Gerbang itu?”

Fid-Def menjawab:

“Mereka adalah Anak-anak Raja Kematian. Yang paling mengerikan di antara mereka semua itu, yang terbungkus dalam kelam, adalah Skooro, suatu Roh Jahat.”

“Betapa mengerikannya rupa mereka!”

“Sungguh sangat mengerikan, Chiaro terkasih; dan Anak-anak Kematian ini ingin melewati Gerbang dan masuk ke dalam Negeri.”

Mendengar kabar yang mengerikan itu, Chiaro melayang tinggi ke angkasa, dan membesar sedemikian rupa sehingga seluruh Negeri di Bawah Matahari Terbenam menjadi terang benderang. Namun tak lama kemudian ia mengecil kembali, semakin kecil hingga hanya tampak sebagai sebuah titik, seperti sinar berwarna yang terlihat di sebuah ruangan gelap ketika matahari masuk melalui celah sempit. Ia bertanya kepada para Malaikat di Gerbang:

“Katakan padaku, Fid-Def, mengapa Anak-anak Kematian ingin masuk?”

“Karena, Anak terkasih, mereka jahat, dan ingin merusakkan hati para penghuni Negeri.”

“Namun katakanlah, Fid-Def, apakah mereka dapat masuk? Tentulah, jika Sang Bapa Yang Mahakuasa berkata, ‘Tidak!’ mereka harus tetap selamanya di luar Negeri.”

Setelah sejenak terdiam, datanglah jawaban dari para Malaikat Penjaga Gerbang:

“Sang Bapa Yang Mahakuasa lebih bijaksana daripada yang dapat dibayangkan bahkan oleh para Malaikat. Ia meruntuhkan orang jahat dengan tipu daya mereka sendiri, dan menjerat sang pemburu dalam perangkapnya sendiri. Anak-anak Kematian, ketika mereka masuk—sebagaimana sebentar lagi akan terjadi—akan melakukan banyak kebaikan di Negeri yang hendak mereka celakai. Sebab lihatlah! Hati manusia telah rusak. Mereka telah melupakan pelajaran-pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Mereka tidak tahu betapa bersyukurnya mereka seharusnya atas nasib bahagia mereka, sebab tentang duka mereka tak mengetahui apa-apa. Maka haruslah ada rasa sakit, kesedihan, atau kepiluan bagi mereka, agar mereka dapat melihat kesesatan jalan mereka.”

Sementara berkata demikian, para Malaikat menitikkan air mata karena dukacita atas perbuatan manusia dan penderitaan yang harus mereka tanggung.

Malaikat-Anak itu menjawab dengan gentar:

“Kalau begitu, Makhluk yang paling mengerikan itu pun akan masuk ke dalam Negeri. Celaka! celaka!”

“Anak terkasih,” kata Roh-roh Penjaga, ketika Malaikat-Anak itu merapat ke dada mereka, “kepadamulah dipercayakan tugas yang besar. Anak-anak Kematian akan masuk. Kepadamu diserahkan penjagaan atas Makhluk yang mengerikan itu, Skooro. Ke mana pun ia pergi, di sanalah engkau harus berada; sehingga tak ada keburukan yang terjadi—kecuali hanya apa yang memang dimaksudkan dan diizinkan.”

Malaikat-Anak itu, tergugah oleh kebesaran amanat tersebut, bertekad bahwa tugasnya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Fid-Def melanjutkan:

“Engkau harus tahu, Anak terkasih, bahwa tanpa kegelapan tak ada ketakutan akan yang tak terlihat; dan bahkan kegelapan malam pun takkan menakutkan bila ada cahaya di dalam jiwa. Bagi mereka yang baik dan murni, tak ada ketakutan baik terhadap kejahatan-kejahatan di bumi maupun terhadap Kekuatan-kekuatan yang tak kasatmata. Kepadamulah dipercayakan penjagaan atas yang murni dan yang benar. Skooro akan menyelubungi mereka dengan kelamnya; tetapi kepadamu diberikan kemampuan untuk menyelinap ke dalam hati mereka dan dengan cahaya muliamu sendiri membuat kelam Anak Kematian itu menjadi tak terlihat dan tak terasa.”

“Namun dari para pelaku kejahatan—dari yang jahat, yang tak tahu bersyukur, yang tak mau mengampuni, yang tak murni, dan yang tak jujur—engkau akan menjauh. Maka ketika mereka mengharapkan engkau datang menghibur mereka—sebagaimana pasti mereka akan melakukannya—mereka takkan melihatmu. Yang mereka lihat hanyalah kelam, yang oleh cahaya jauhmulah akan tampak semakin gelap, sebab bayangan itu akan berada di dalam jiwa mereka sendiri.”

“Namun oh, Anak, Bapa kita begitu baik melampaui segala sangka. Ia menetapkan bahwa bila siapa pun yang jahat bertobat, engkau akan seketika terbang kepadanya, menghiburnya, menolongnya, menguatkannya, dan menghalau bayangan itu jauh-jauh. Tetapi bila mereka hanya berpura-pura bertobat, berniat kembali berbuat jahat setelah bahaya berlalu; atau bila mereka hanya bertindak karena ketakutan, maka engkau akan menyembunyikan cahayamu sehingga kelam itu menjadi semakin pekat atas diri mereka. Kini, Chiaro terkasih, jadilah tak terlihat. Waktunya mendekat ketika Anak Kematian akan diizinkan masuk ke dalam Negeri. Ia akan berusaha menyelinap masuk, dan kami akan membiarkannya, sebab kami harus bekerja tanpa terlihat dan tanpa diketahui, agar dapat menjalankan tugas kami.”

Lalu Malaikat-Anak itu perlahan memudar, sehingga tak ada satu mata pun—bahkan mata Fid-Def sendiri—yang dapat melihatnya; dan Roh-roh Penjaga berdiri seperti sediakala di sisi Gerbang.

Waktu Istirahat pun tiba; dan segalanya sunyi di Negeri itu.

Ketika Anak-anak Kematian yang jauh di rawa-rawa melihat bahwa tak ada sesuatu pun yang bergerak, kecuali para Malaikat yang tetap berjaga seperti biasa, mereka memutuskan untuk melakukan upaya lain guna memasuki Negeri.

Maka mereka memecah diri menjadi banyak bagian. Setiap bagian mengambil rupa yang berbeda, namun bersama-sama mereka bergerak menuju Gerbang. Demikianlah Anak-anak Kematian mendekati ambang Negeri.

Mereka datang di atas sayap burung yang sedang terbang; pada awan yang melayang perlahan di langit; dalam ular-ular yang merayap di bumi—dalam cacing, tikus, dan tahi lalat yang menyusup di bawahnya; dalam ikan-ikan yang berenang dan serangga-serangga yang terbang. Melalui bumi, air, dan udara mereka datang.

Tanpa rintangan dan tanpa halangan; dan dengan berbagai cara, Anak-anak Kematian memasuki Negeri di Bawah Matahari Terbenam; dan sejak saat itu, segala sesuatu di Negeri yang elok itu pun berubah.

Tidak serta-merta Anak-anak Kematian menampakkan diri. Satu per satu roh yang paling berani di antara mereka, melangkah dengan jejak-jejak yang mengerikan melintasi Negeri, memenuhi setiap hati dengan ketakutan ketika mereka datang.

Namun demikian, masing-masing dari mereka—tanpa kecuali—meninggalkan sebuah pelajaran menuju kebaikan di dalam hati para penghuni Negeri itu.


______

Penulis

Bram Stoker (1847–1912) adalah novelis Irlandia, mempopulerkan motif vampir dalam sastra Gotik di seluruh dunia dengan ciptaannya, Dracula.

Tulisan di atas terjemahan dari “Under the Sunset” yang diterbitkan ulang oleh Wildside Press (15 Juli 2002). Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno, dosen Universitas Muhammadyah Tangerang (UMT), bergiat di Kubah Budaya.


Friday, August 9, 2024

Cerpen Padrika Tarrant | Anatomi

Cerpen Padrika Tarrant



Di dalam diriku terdapat misteri; aku menyimpannya dengan tenang, tenang dalam serpihan dan tulang belulang yang berada di antara isi perut dan darahku yang hangat. Ketika aku berjalan, langkahku sempurna, seperti biasa.


Rahasiaku seperti kampus yang sering kali aku hampiri, meski orang-orang yang kukenal sudah tidak ada, kecuali Finn. Di kantin aku minum cokelat panas, aku duduk di atas kain katun beralaskan mantel hingga minuman itu menghangat. Ke mana pun aku pergi, aku selalu membawa buku tulis, kala siang memanas, lembaran-lembaran itu tampak begitu silau dan cukup membuat mata ini buta. Kantin ini juga menjadi tempat beberapa kelompok mahasiswa untuk sekadar duduk atau membaca. Mereka datang berkelompok atau sering sendiri. Aku pikir mereka juga memiliki rahasia di dalam dirinya; kau bisa mengetahuinya dengan cara bagaimana mereka memegang kepala.


Aku tetap menyimpan rahasiaku di bagian kulit terdalam. Ia mendekap di balik hatiku, melubangi selaput, dan seiring berjalannya waktu ia mendetik mengikuti jantungku yang berdetak.


Di dalam lemak yang lembut, rahasiaku tumbuh, menganak. Mungkin rahasiaku hanya bisa diselusuri oleh stetoskop yang biasa mendiagnosis denyut nadi, tetapi tidak ada yang mampu mendiagnosisnya kecuali aku.


Aku selalu menghabiskan banyak waktu di Museum Pathology. Tempat ini selalu tenang, kecuali saat para mahasiswa tengah melakukan tugas; mereka mengizinkan masyarakat untuk masuk, kau pastinya tahu karena ini bukan hal yang aneh. Mereka pikir aku adalah mahasiswa kedokteran: itu dulu dan tidak lama. Aku masih saja memperlihatkan kartu mahasiswaku pada pria yang berada di mejanya untuk beberapa saat, namun setelah beberapa minggu, aku berhenti untuk menunjukkan kartu padanya. Setiap harinya aku hanya perlu mengangguk dan tersenyum lalu ia selalu berkata “Selamat pagi”.


Aku masuk lalu berdiri di antara kendi dan menghirup udara bersih di antara peti dan beberapa model tubuh manusia yang terbuatkan dari lilin. Aku pun menghabiskan waktu dengan menggambar. Sering kali punggungku bersandar di dinding yang lengang, lalu aku melekuk-lekukan lengan hingga menghasilkan sebuah sketsa rak di atas papan coretan. Sepertinya akan lebih nyaman jika aku duduk di lantai. Aku tidak ingin merusak rahasiaku, apabila aku bersikap gegabah maka hal ini akan menguburku dan menusukku dari segala sudut. Ia tak ingin aku melupakannya; kerahasiaanku tidak ingin terluka.


Dulu tutorku seperti seorang nabi, kau tahu, rambutnya pirang. Kata laki-laki itu kami harus memanggilnya Finn: kami tidak ada yang berdiri ketika ia mengatakan itu. Di kelas bedah pertama, aku khawatir akan membuat hal yang memalukan, seperti muntah; perasaan itulah yang menghantuiku. Meski begitu, sewaktu tangan Finn mengeluarkan alat pencernaan, aku sangat lega, dengan hanya melihatnya sepintas.


Tubuh yang telanjang seperti bunga yang langka, dengan daun yang terkelupas, dan di dalamnya masih ada sisa daun yang berbunga. Dahulu aku pernah mendengar cerita bahwa sang dewi melihat tenggorokan dan di sanalah ditemukan segala kehidupan: bintang-bintang, pusat perbelanjaan, kuda-kuda dan kematian, semuanya bergetar dan saling menyerang, menggigil seperti epiglotis. 


Di pertengahan kelas ia memintaku untuk bertemu. Aneh, seperti ada sesuatu dalam penglihatannya; sering kali aku salah mengira. Aku cemas, tentu saja, dan yakin bahwa aku telah melakukan kesalahan. Di malam itu aku nyaris terlelap; aku melewati waktu di kasur dengan buku catatanku, merevisi, seandainya aku ingin melaluinya sampai pagi, aku juga bisa merenungkannya dengan baik. Kali ini aku memimpikan Finn dengan giginya yang sangat putih. Aku terperanjat, dengan posisi pipiku yang berlawanan dengan sketsa, ketika teman kamarku menyiram toilet.


Saat berdiri di depan cermin yang sesungguhnya, aku melihat sketsa indahku: yang dalam tapi warnanya dangkal, yang tenang juga halus. Rahasiaku mulai menyembunyikan organ-organ tubuh seperti bros yang mahal, yang tak simetris juga membingungkan. 



Hari ini Finn datang, tetapi ia tidak melihatku. Aku melihatnya: ia tampak berkilau dengan warna merah, abu-abu, juga biru; tulang parasnya tampak lembut seperti diselimuti kunci-kunci piano yang kuning. Aku melihat tulang tenggorokan yang melompat-lompat ketika ia menelan, kemudian aku memperhatikannya di balik pohon limau.


Kejadian ini tidak lama, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Ia telah membetulkan dasinya dan menyisir rambutnya dengan jemari. Tampaknya ia sudah lupa bahwa aku berada di belakangnya. Aku meraih mantel dan peralatanku lalu pergi. Ia tidak tahu karena ia sedang mengambil bolpen dan mulai memukul-pukul meja dengan benda itu.


Aku tidak segera pulang. Teman-teman serumahku berada di sana, mengobrol dan memakan roti bakar sambil menyaksikan televisi di saluran anak-anak. Aku memilih menenggelamkan diri di dalam museum, melakukan perburuan di antara kendi-kendi dan model anatomi plastik, aku memandangnya dengan perasaan kalut. Tempat itu mulai gelap dan wanita petugas kebersihan itu datang dengan berdeham, tapi aku masih belum menemukan benda itu, maka kuputuskan untuk pulang dan masuk ke kamarku secara diam-diam.


Kemudian, di bak mandi, aku membentangkan tangan yang ditutupi oleh gelombang busa kemudian aku menceburkan diri di dalamnya, mencepak-cepukannya dan keluar lagi. Selagi airnya mengalir, jari-jariku berdeklamasi bagai sebuah syair: yang meliputi tulang-belulang, urat dan syaraf. Di pergelangan tanganku terdapat luka memar.


Di malam pertama, sebuah rahasia telah terbentuk; seolah angin ribut yang bisa meretakkan jendela ia bernyanyi. Selama sepekan aku takut karena aku tengah mengandung. Aku sudah melakukan tes dan beberapa kali, hingga para pelayan toko kesehatan Boots and Superdrug mulai memandangku curiga. Tentu saja aku tidak setuju dengan pandangan aneh mereka; tak ada anak yang terlahir dari pedang dan mata pisau maupun kepingan email gigi. 


Setelah itu aku tidak masuk kelas. Bulan demi bulan pun berlalu, aku sadar aku tidak lagi kuliah; aku akan mendapatkan sesuatu yang baru, yang tidak diketahui: ini merupakan misteri fisiologi. Saat mereka mengirimiku surat yang isinya bahwa di tahun ini aku gagal, aku tidak peduli.


Aku telah mengirim gambar rampungku kepada Finn, tentu saja mesti selalu tepat, yang menampakkan tulang rawan dan cakar kuku juga rambut kepala yang kusut. Aku tidak membutuhkan pisau bedah lagi; kerahasiaanku begitu menyakitkan karena aku dapat merasakan bentuk garis di permukaan kulitku, aku seperti baru menelan jarum jahit. Setelah ketiga kalinya, amplop itu mulai ditutup. Aku mengirimkan gambar-gambar itu.


Kadang aku menyelinap ke dalam Lecture Theatre dan duduk di belakangnya. Sesekali, Finn menatap mataku, kemudian kembali ke papan tulis. Lama sekali, aku begitu penasaran mengapa ia tidak mengusirku; lambat laun ia marah lantaran ia takut padaku karena rahasia itu. 


Akhir-akhir ini aku lebih waspada. Aku tidak ingin diusir universitas; karena tak ada lagi tempatku untuk pergi. Maka aku bersikap ramah pada orang-orang kantin; aku memberi mereka kartu Natal. Mereka pikir aku orang baik.


Di dalam museum terdapat kematian dan kelayakan yang sering memberikan keseimbangan. Setiap rasa sakit itu sudah terkatalogkan dan tersusun, mencipta kesucian dalam kotak-kotak kaca dan lonceng, sampai rasa itu benar-benar perih. Di tempat ini terdapat banyak sindrom terkecuali yang kualami; aku sudah memandangnya dengan teliti; alamiah; dan sistematis. Di dalam Path Museum tidak ada rahasia. Walau di dalamnya begitu menyenangkan, tapi hujan di luar sana telah membasahi hari-hari. Kini aku berada di rumah. Bersama rahasia terpendamku.


______


Penulis


Padrika Tarrant lahir tahun 1974 dan tinggal di Norwich. Ia telah menamatkan studinya di Norwich School of Art. Cerpen di atas yang diterjemahkan dari antologi cerpen Broken Things oleh Eka Ugi Sutikno (0819 1115 4291).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, December 31, 2021

Cerpen Kurt Vonnegut, Jr. | 2BR02B

Cerpen Kurt Vonnegut, Jr.

(Diterjemahkan oleh Nisa Khoiriyah)



Semuanya sempurna.


Tidak ada penjara, tidak ada perkampungan kumuh, tidak ada rumah sakit jiwa, tidak ada orang cacat, tidak ada kemiskinan, tidak ada perang.


Semua penyakit telah musnah. Begitu pula penuaan.


Kematian, kecelakaan, adalah petualangan bagi para sukarelawan.


Populasi rakyat Amerika Serikat stabil di angka empat puluh juta jiwa.


Di suatu pagi yang cerah di Rumah Sakit Lying-in Chicago, seorang pria bernama Edward K. Wehling, Jr., tengah menunggu istrinya melahirkan. Ia satu-satunya yang menunggu. Tidak banyak orang terlahir dalam sehari.


Wehling berusia lima puluh enam, usia yang terbilang muda di populasi yang usia rata-ratanya seratus dua puluh sembilan tahun.


Sinar X menunjukkan bahwa istrinya akan melahirkan anak kembar tiga. Anak-anak ini akan menjadi anak-anak pertamanya.


Wehling muda duduk bertopang dagu di kursinya. Ia begitu kusut, tidak bergerak, dan air mukanya keruh. Kamuflase yang sempurna, karena ruang tunggu itu juga tampak kusut dan berantakan.


Ruangan itu sedang ditata ulang. Ruangannya ditata ulang dalam rangka memperingati seseorang yang mati secara sukarela.


Seorang pria tua sinis, berusia sekitar dua ratus tahun, duduk di tangga, melukis sebuah lukisan dinding yang ia tidak sukai. Dulu ketika usia manusia terlihat jelas, usianya akan ditebak sekitar tiga puluh lima tahun. Ia mengalami penuaan setua itu sebelum obat penuaan ditemukan.


Lukisan dinding yang ia kerjakan menggambarkan sebuah kebun yang sangat apik. Pria dan wanita yang berpakaian putih, yakni para dokter dan para perawat, menggemburkan tanah, menanam benih, menyemprot hama, menebar pupuk.


Pria dan wanita berseragam ungu mencabuti rumput-rumput liar, memangkas tanaman yang sudah tua dan jelek, menyapu daun-daun kering, mengangkut sampah ke tempat pembakaran sampah.


Tidak pernah – bahkan di abad pertengahan Belanda maupun di Jepang kuno – ada kebun serapi dan seterawat ini. Setiap tanaman memiliki tanah yang subur, cahaya, air, dan semua nutrisi yang dibutuhkan.


Seorang petugas kebersihan rumah sakit datang menyusuri koridor, mendendangkan sebuah lagu populer:



Bila kau tak suka ciumanku, Sayang,

Ini yang 'kan kulakukan:

'Kan kutemui gadis berbaju ungu,

Meninggalkan dunia yang menyedihkan ini.

Bila kau tak menginginkan cintaku,

Mengapa aku harus ada di tempat ini?

Aku 'kan pergi dari sini,

Agar ada tempat untuk bayi yang lucu.



Sang petugas kebersihan menatap lukisan dinding itu dan pelukisnya. "Terlihat begitu nyata," ujarnya, "aku bisa langsung membayangkan aku berdiri di tengah-tengahnya."


"Apa yang membuatmu merasa kau tidak berada di tengah-tengahnya?" tanya si pelukis. Ia tersenyum menyindir. "Lukisan ini berjudul 'Kebun Kehidupan yang Bahagia'."


"dr. Hitz terlihat tampan," ujar petugas kebersihan.


Yang ia maksud adalah salah satu gambar seorang pria berpakaian putih, yang merupakan potret dr. Benjamin Hitz, Kepala Obstetri di rumah sakit tersebut. Hitz memang pria yang sangat tampan.


"Masih banyak wajah yang harus diisi," kata petugas kebersihan. Maksudnya adalah masih banyak gambar tubuh di lukisan itu yang wajahnya kosong. Semua kekosongan itu harus diisi oleh potret wajah orang-orang penting baik dari staf rumah sakit maupun Kantor Biro Penghentian Federal di Chicago.


"Pasti menyenangkan bisa menggambar sesuatu yang mirip aslinya," kata petugas kebersihan.


Wajah sang pelukis menunjukkan ekspresi mencemooh. "Kau pikir aku bangga dengan lukisan jelek ini?" katanya. "Kau pikir ini gagasanku tentang kehidupan yang sesungguhnya?"


"Apa gagasanmu tentang kehidupan yang sesungguhnya?" tanya petugas kebersihan.


Sang pelukis menunjuk kain lap yang kotor. "Seperti kain lap kotor itu," jawabnya. “Bingkailah, dan kau akan memiliki sebuah lukisan kehidupan yang lebih jujur daripada lukisan ini.”


“Kau manusia tua yang menyedihkan, ya?” ejek petugas kebersihan.


“Apakah itu kejahatan?” sahut sang pelukis.


Petugas kebersihan itu mengangkat bahu. “Kalau kau tidak suka berada di sini, Kek,” ujarnya, dan ia menyelesaikan ucapannya itu dengan sebuah nomor telepon yang bisa dihubungi oleh orang-orang yang tidak ingin hidup lagi. Nol pada nomor telepon itu dilafalkan naught (kosong).


Nomornya adalah: "2 B R 0 2 B."


(Dilafalkan ‘two be R naught two be’).


Ini adalah nomor telepon sebuah lembaga yang juga sering dijuluki: “Sangkar Burung”, “Pabrik Pengalengan”, “Kotak Pasir Kucing”, “Pembasmi Kutu”, “Tempat Menghilang”, “Dadah, Ma”, “Penjahat Ceria”, “Banci”, “Lucky Pierre”, “Blender Penghancur”, “Penghilang Tangis”, dan “Jangan Cemas.”


“To be or not to be” (pilih hidup atau mati) adalah nomor telepon Ruang Eksekusi Kota milik Biro Penghentian Federal.


Sang pelukis mendorong hidungnya ke atas dengan ibu jarinya untuk mengejek sang petugas kebersihan. “Saat aku memutuskan untuk mati,” ujarnya, “aku tidak mau mati di Pembasmi Kutu itu.”


“Kau ingin melakukannya sendiri, ya?” tanya petugas kebersihan. “Itu merepotkan, Kek. Kau tidak memikirkan orang-orang yang harus bersih-bersih setelah kau mati?”


Sang pelukis dengan ekspresi meremehkan menunjukkan ketidakpeduliannya akan orang-orang yang harus bersih-bersih. “Dunia ini memang merepotkan, kau tahu?” ujarnya.


Sang petugas kebersihan tertawa dan berlalu.


Wehling, calon ayah tadi, menggerutu tanpa mengangkat kepalanya yang masih menunduk. Kemudian ia diam lagi.


Seorang wanita yang kasar dan sinis dengan sepatu hak tingginya berjalan dengan langkah yang panjang memasuki ruang tunggu. Sepatu, stoking, mantel, tas, dan topi baretnya semua berwarna ungu, ungu yang sang pelukis sebut-sebut sebagai ‘warna anggur di Hari Penghakiman’.


Di tas ungunya terdapat cap Divisi Pelayanan Biro Penghentian Federal yang terbuat dari medali, bergambar seekor elang yang bertengger di atas pagar.


Wanita ini memiliki banyak bulu di wajahnya – jelas itu kumis. Salah satu hal yang aneh tentang para nyonya rumah yang bekerja di ruang eksekusi adalah, secantik dan sefeminin apa pun mereka saat direkrut, kumis akan tumbuh di wajah mereka dalam sekitar lima tahun.


“Apakah ini tempat yang aku harus datangi?” tanyanya kepada sang pelukis.


“Tergantung pada apa tujuanmu,” jawab pelukis. “Kau tidak hendak melahirkan, kan?”


“Kata mereka aku harus berpose untuk suatu gambar,” kata wanita itu. “Namaku Leora Duncan.” Wanita itu pun menunggu.


“Dan kau melenyapkan orang-orang,” kata pelukis.


“Apa?” tanya wanita itu.


“Tidak apa-apa,” sahut pelukis.


“Itu lukisan yang indah sekali,” puji wanita itu. “Terlihat seperti surga atau semacamnya.”


“Semacamnya,” ujar pelukis. Ia merogoh sakunya untuk mengambil daftar nama. "Duncan, Duncan, Duncan," katanya sembari memindai daftar itu. “Ya, ini dia. Kau diberi hak untuk hidup kekal. Ada wajah kosong dari tubuh-tubuh di sini yang kau sukai? Akan kutempelkan gambar kepalamu. Masih ada sedikit pilihan.”


Wanita itu mengamati lukisan dinding dengan suram. “Ya ampun,” ujarnya, “semuanya tampak sama bagiku. Aku tidak tahu apa-apa tentang seni.”


“Sebuah tubuh hanyalah sebuah tubuh, ya?” tanya sang pelukis. “Baiklah. Sebagai seorang seniman ulung, aku merekomendasikan tubuh yang ini.” Ia menunjuk sosok tak berwajah dari seorang wanita yang sedang mengangkut tangkai-tangkai kering ke pembakar sampah.


“Hmm,” balas Leora Duncan, “itu lebih seperti orang pembuang sampah, bukan? Maksudku, aku di bagian pelayanan. Aku tidak melakukan pembuangan sampah apa pun.”


Sang pelukis bertepuk tangan mengejek. “Katamu kau tidak tahu apa-apa tentang seni, lalu di embusan napas berikutnya kau membuktikan bahwa kau lebih tahu dari aku! Tentu saja gerobak sampah tidak cocok untuk seorang nyonya rumah! Penembak, pemangkas, di situlah barisanmu,” sang pelukis menunjuk ke sebuah gambar sosok berpakaian ungu yang sedang menggergaji batang pohon apel yang mati. “Bagaimana dengannya?” tanyanya, “Kau menyukainya?”


“Astaga,” ujar Leora Duncan, pipinya merona malu-malu, “itu – itu membuatku berada tepat di sebelah dr. Hitz.”


“Itu mengesalkanmu?” tanya sang pelukis.


“Ya ampun, tidak!” ujar Leora Duncan. “Ini – ini adalah suatu kehormatan.”


“Ah, kau menyukainya, ya?” tanya sang pelukis.


“Siapa yang tidak menyukainya?” kata Leora Duncan, memuja potret Hitz. Itu adalah sebuah potret dari Zeus yang Mahakuasa yang berkulit kecokelatan dan berambut pirang, berusia dua ratus empat puluh tahun. “Siapa yang tidak menyukainya?” ulangnya. “Ia yang bertanggung jawab atas pendirian ruang eksekusi pertama di Chicago.”


“Tidak ada yang lebih menyenangkanku,” ujar sang pelukis, “daripada menaruhmu di sebelahnya untuk selamanya. Memangkas cabang – menurutmu itu bagus?”


“Itu seperti yang kulakukan,” jawab Leora Duncan. Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia lakukan. Yang ia lakukan adalah membuat orang nyaman saat ia membunuhnya.


---


Lalu, sementara Leora Duncan berpose untuk potretnya, dr. Hitz melompat masuk ke ruang tunggu. Tingginya dua meter, dan ia masuk dengan kepentingan, pencapaian, dan kegembiraan hidup.


“Baiklah, Nona Duncan! Nona Duncan!” seru dr. Hitz, dan ia melontarkan lelucon. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya. “Ini bukan tempat orang pergi. Ini tempat orang datang!”


“Kita akan berada dalam satu lukisan bersama,” jawab Leora Duncan malu-malu.


“Bagus!” ujar dr. Hitz sepenuh hati. “Dan, bukankah itu lukisannya?”


“Tentu aku merasa terhormat ada di lukisan itu bersamamu,” ujar Leora Duncan.


“Aku ingin mengatakan,” ujar dr. Hitz, “aku merasa terhormat ada di lukisan itu bersamamu. Tanpa wanita sepertimu, dunia yang indah ini tidak akan nada.”


dr. Hitz memberi hormat kepada Leora Duncan dan berjalan menuju pintu yang mengarah ke ruang bersalin. “Tebak siapa yang baru saja lahir,” kata dr. Hitz.


“Tidak tahu,” sahut Leora Duncan.


“Bayi kembar tiga!” seru dr. Hitz.


“Bayi kembar tiga!” seru Leora Duncan. Ia berseru atas implikasi hukum terhadap bayi kembar tiga.


Hukum mengatakan bahwa tidak boleh ada anak baru lahir yang selamat kecuali orang tuanya bisa menemukan seseorang yang bersedia mati dengan sukarela. Kembar tiga, kalau mereka semuanya akan hidup, membutuhkan tiga sukarelawan.


“Apakah orang tuanya sudah menemukan tiga sukarelawan?” tanya Leora Duncan.


“Yang terakhir kudengar,” kata dr. Hitz, “mereka sudah menemukan satu orang, dan sedang berusaha mencari dua orang lagi.”


“Kurasa mereka belum menemukannya,” sahut Leora Duncan. “Tidak ada yang membuat tiga janji temu dengan kami. Tidak ada satu pun hari ini, kecuali seseorang yang memanggil setelah aku pergi. Siapa namanya?”


“Wehling,” sahut sang ayah yang menunggu, bangkit dari duduknya, dengan mata yang merah dan wajah yang kusut. “Edward K. Wehling, Jr., adalah nama dari calon ayah yang berbahagia itu.”


Wehling mengangkat tangan kanannya, menatap satu titik di dinding, lalu dengan parau tertawa kecil menyedihkan. “Hadir,” ujarnya.


“Oh, Tuan Wehling,” sapa dr. Hitz, “aku tidak melihatmu tadi.”


“Manusia tak terlihat,” seloroh Tuan Wehling.


"Mereka baru saja meneleponku bahwa bayi kembar tigamu telah lahir,” kata dr. Hitz. “Mereka semua sehat, ibunya juga sehat. Aku akan melihat mereka sekarang.”


“Hore,” ujar Wehling hampa.


“Kedengarannya kau tidak bahagia,” sahut dr. Hitz.


“Siapa yang tidak akan bahagia ada di posisiku?” kata Wehling. Gerakan tangannya mengisyaratkan ketidakpedulian. “Aku hanya perlu memilih salah satu dari bayi itu untuk hidup, lalu mengirimkan kakekku ke Penjahat Ceria, dan kembali ke sini membawa kuitansi.”


dr. Hitz menjadi agak marah dengan Wehling, berdiri di hadapannya. “Kau tidak percaya pada kendali populasi, Tuan Wehling?”


“Kurasa itu sangat keras,” jawab Wehling tegang.


“Kau mau kembali ke masa-masa ketika populasi bumi berjumlah dua puluh miliar jiwa – akan menjadi empat puluh miliar, lalu delapan puluh miliar, lalu seratus enam puluh miliar? Kau tahu apa itu drupelet, Tuan Wehling?” tanya Hitz.


“Tidak,” jawab Wehling murung.


“Drupelet adalah salah satu dari bulatan-bulatan kecil, salah satu dari biji buah blackberry,” kata dr. Hitz. “Tanpa kendali populasi, manusia sekarang akan dipadatkan di muka bumi yang sudah tua ini seperti drupelet pada blackberry! Pikirkan itu!”


Wehling terus menatap titik yang sama di dinding.


“Di tahun 2000,” ucap dr. Hitz, “sebelum para ilmuwan turun tangan dan menetapkan hukum, tidak ada cukup air untuk diminum, dan tidak ada yang bisa dimakan selain rumput laut – dan tetap saja orang-orang bersikeras akan hak mereka untuk bereproduksi seperti kucing. Dan hak mereka, jika memungkinkan, untuk hidup selamanya.”


“Aku menginginkan anak-anak itu,” ujar Wehling pelan. “Aku menginginkan ketiganya.”


“Tentu saja kau menginginkan mereka,” sahut dr. Hitz. “Itu manusiawi.”


“Aku juga tidak mau kakekku mati,” lanjut Wehling.


“Tidak ada yang benar-benar bahagia membawa keluarga dekatnya ke Kotak Pasir Kucing,” ujar dr. Hitz pelan, bersimpati.


“Kuharap orang-orang tidak menyebutnya dengan sebutan itu,” ujar Leora Duncan.


“Apa?” tanya dr. Hitz.


“Kuharap orang-orang tidak menyebutnya ‘Kotak Pasir Kucing’, dan semacamnya,” jawab Leora Duncan. “Itu memberikan kesan yang salah.”


“Kau benar sekali,” kata dr. Hitz. “Maafkan aku.” Ia mengoreksi dirinya sendiri, yang memberikan ruang eksekusi kota itu nama yang resmi, sebuah nama yang tidak seorang pun pernah sebutkan dalam percakapan. “Harusnya kukatakan, ‘Studio Pembunuhan Etis’,” ucapnya.


“Itu terdengar jauh lebih baik,” sahut Leora Duncan.


“Anakmu ini, yang mana pun yang kau putuskan untuk tetap hidup, Tuan Wehling,” kata dr. Hitz. “Ia akan tinggal di planet yang bahagia, luas, bersih, dan sejahtera, berkat kendali populasi. Di sebuah kebun seperti lukisan dinding itu.” Ia menggelengkan kepalanya. “Dua abad lalu, ketika aku masih muda, dunia ini adalah neraka yang tidak seorang pun pikir akan bertahan dua puluh tahun lagi. Kini abad kedamaian membentang di hadapan kita sejauh imajinasi bisa berkelana.”


dr. Hitz tersenyum bercahaya.


Senyum itu memudar saat ia melihat Wehling baru saja menarik sebuah pistol.


Wehling menembak mati dr. Hitz. “Ada ruang untuk satu orang – ruang yang besar,” ujarnya.


Kemudian ia menembak Leora Duncan. “Ini hanya kematian,” ujarnya ketika Leora Duncan terjatuh. “Nah! Ada ruang untuk dua orang.”


Lalu ia menembak dirinya sendiri, membuat ruang untuk ketiga anaknya.


Tidak ada yang berlari menghampiri. Tidak ada, tampaknya, yang mendengar tembakan itu.


Sang pelukis duduk di atas tangganya, tertegun melihat adegan memilukan di bawah sana.


Sang pelukis merenungkan teka-teki menyedihkan akan hidup yang menuntut untuk dilahirkan dan, setelah lahir, menuntut untuk bermanfaat … untuk berkembang biak dan hidup selama mungkin – melakukan semuanya di atas planet yang amat kecil yang harus bertahan selamanya.


Semua jawaban yang sang pelukis renungkan menjadi suram. Bahkan lebih suram dari Kotak Pasir Kucing, Penjahat Ceria, dan Tempat Menghilang. Ia memikirkan perang. Ia memikirkan wabah. Ia memikirkan kelaparan.


Ia tahu ia tidak akan pernah melukis lagi. Ia membiarkan kuasnya jatuh ke kain lap di bawah. Lalu ia memutuskan bahwa ia juga sudah cukup dengan kehidupan di Kebun Kehidupan yang Bahagia, dan perlahan menuruni tangga.


Ia mengambil pistol Wehling, benar-benar berniat menembak dirinya sendiri.


Namun ia tidak punya nyali.


Lalu ia melihat bilik telepon di sudut ruangan. Ia menghampirinya, menghubungi nomor yang mudah diingat: “2 B R 0 2 B.”


“Biro Penghentian Federal,” ucap sebuah suara nyonya rumah yang begitu hangat.


“Kapan aku bisa membuat janji temu?” tanya sang pelukis dengan hati-hati.


“Kami mungkin bisa mendaftarkanmu sore ini, Tuan,” jawabnya. “Mungkin lebih awal, apabila ada yang membatalkan.”


“Baiklah,” kata sang pelukis, “tolong daftarkan aku.” Dan ia pun memberikan namanya, mengejanya.


“Terima kasih, Pak,” kata nyonya rumah. “Kotamu berterima kasih; negaramu berterima kasih; planetmu berterima kasih. Tetapi rasa terima kasih yang terdalam dari semuanya berasal dari generasi masa depan.”




_____

Penulis

Kurt Vonnegut Jr. adalah seorang penulis Amerika Serikat. Selama lima puluh tahun, Vonnegut menghasilkan empat belas novel, tiga koleksi cerita pendek, lima naskah drama, dan lima karya nonfiksi. Ia erkenal karena novel satir gelapnya, Slaughterhouse-Five. Karya "2 B R 0 2 B" adalah cerita pendek fiksi ilmiah oleh Kurt Vonnegut, aslinya diterbitkan di majalah intisari Worlds of If Science Fiction untuk Januari 1962, dan dikumpulkan di Bagombo Snuff Box Vonnegut.



Penerjemah 

Nisa Khoiriyah, atau lebih akrab disapa Icha, lahir di Pandeglang dan berdomisili di Cilegon. Karya-karya terjemahannya sudah diterbitkan oleh penerbit Basabasi dan Bhuana Ilmu Populer (BIP) Gramedia.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, September 23, 2021

Cerpen John W. Jakes | Cerita Paling Seram

Cerpen John W. Jakes



Ini ruangan yang sangat biasa. Ada empat dinding, langit-langit, dan lantai. Tetapi ini ruangan baru bagi Thompson karena ia tidak pernah melihat sebelumnya. Ia berdiri santai, mengamati ruangan tersebut. Ada sebuah meja di tengah-tengah ruangan. Meja itu berwarna abu-abu, tetapi Thompson tidak dapat mengenali terbuat dari apa meja itu. Seorang Bapak Tua berjanggut tipis duduk di balik meja tersebut. Sebuah lilin menyala di wadah yang terbuat dari kuningan di atas meja.



"Permisi," ujar Thompson.


Bapak Tua itu melihat Thompson. Ia menatap Thompson lama sekali. Malah, Thompson sampai tidak ingat kapan Bapak Tua itu tidak melihatnya.


"Kau suka cerita horor, baiklah," kata Bapak Tua itu. "Makanya kau ke sini. Semua orang di dunia ini menyukai cerita horor yang seru setidaknya sekali seumur hidup."


"Ya," ujar Thompson dengan kelegaaan samar, "kurasa itu alasanku ke sini."


"Baik," kata Bapak Tua itu. Tangannya menggapai ke bawah meja. Ke mana, Thompson tidak tahu. Tidak kelihatan begitu saja. Tidak ada tarikan laci. Lalu tangannya muncul lagi, memegang sebuah kartu berwarna putih. Lalu kedua tangan itu menghilang lagi. Kali ini kedua tangan itu memegang pulpen yang ujungnya terbuat dari besi saat muncul kembali. Ada tinta di dalam pulpen itu. Tinta itu bersinar dengan kilau kebiruan dalam cahaya lilin.


"Nama?" kata Bapak Tua.


"James Thompson."


"Lahir?"


"Tiga Maret, sembilan belas nol dua. Apakah ini penting?"


Bapak Tua itu tampak kesal. "Tentu saja. Kami harus mencatat semua data, agar kau bisa menjadi anggota penuh."


"Anggota penuh apa?" tanya Thompson. Ia memperhatikan bahwa pulpen itu tampak selalu penuh tintanya.


"Klub Buku Horor, tentu saja," jawab Bapak Tua. Ia menggores kartunya dengan pulpen, menulis semua informasi yang Thompson berikan. Lalu Bapak Tua menaruh kartu dan pulpennya di bawah meja. Kedua tangannya kembali kosong.


"Semuanya sudah diurus," ujar Bapak Tua. "Kau sudah diterima."


"Benarkah?" kata Thompson nyaring. Ia mulai heran apakah keanggotaan klub ini eksklusif. Lilinnya terus menyala, tetapi ukurannya tetap sama.


"Hm, buku jenis apa yang ada di sini? Maksudku, bisakah kau beri tahu beberapa judulnya? Dracula, Frankenstein, atau semacamnya?"


Bapak Tua tertawa lagi, kali ini seperti mengomeli anak kecil yang sangat bodoh. "Oh, tidak, Tuan Thompson. Kami menyajikan kisah horor sungguhan dan nyata. Kami tidak pernah menggunakan produk bekas."


Kedua tangan Bapak Tua itu ke bawah meja lagi. Thompson heran apakah ini semacam permainan. Kedua tangan itu kembali ke atas meja membawa sebuah buku. Bukunya tipis, ukurannya sekitar tiga puluh sentimeter persegi. Sampulnya berwarna putih. Jari-jari Bapak Tua meraba sampul buku yang telah diletakkan di atas meja.


"Kulit manusia," kata Bapak Tua dengan ceria. "Sampul yang sangat bagus."


"Hmm … ya," ujar Thompson. Ia melirik sampul itu. Dengan huruf balok di sampul itu tertulis, Cerita Paling Seram di Dunia. Dengan huruf yang lebih kecil, di sudut kanan bawahnya, tertulis, James Thompson, 3 Januari 1953.


"Oh, itu, kan, hari ini," ujar Thompson.


Bapak Tua melambai. "Sebuah formalitas. Kami selalu mencatat di buku ketika ada anggota baru yang bergabung. Agar tidak hilang."


"Oh," ujar Thompson. "Apakah aku ... baru saja mulai membaca?"


Bapak tua itu menggelengkan kepalanya dan ia bangun dari duduknya. Ia mengambil buku itu dengan salah satu tangannya, dan tangan yang satunya memegang lilin. "Aku akan mengantarmu ke salah satu ruang baca kami. Kami menyediakan ruang baca istimewa untuk digunakan para anggota kami."


Thompson tidak berkomentar. Ia mengikuti Bapak Tua itu. Mereka masuk melalui sebuah pintu masuk di salah satu dinding yang tidak pernah Thompson lihat sebelumnya. Tetapi pintu itu ada di sudut yang redup, sulit untuk melihat dengan jelas.


Mereka berjalan menuruni lorong yang panjang. Di setiap sisi lorong terdapat pintu-pintu yang tertutup. Cahaya lilin menciptakan bentuk-bentuk bayangan yang bergerak di dinding.


"Jeritan apa itu?" tanya Thompson, sedikit bingung. "Kedengarannya berasal dari balik pintu-pintu ini."


"Benar," jawab si Bapak Tua. "Ini adalah Klub Buku Horor, kau tahu. Semua anggota kami memiliki minat yang aktif dalam bacaan mereka. Mereka berpartisipasi. Mereka ketakutan. Ini sungguh buku yang horor, bukan?"


"Begitukah?" Thompson merasakan bulu kuduknya mulai berdiri. Tiba-tiba keheranan baru menyerangnya. "Apakah itu satu-satunya buku yang kau bawa?"


"Ya," jawab Bapak Tua itu. "Kami membuat banyak edisi. Ini cerita yang paling seram di dunia, kau mengerti. Yang paling seram yang pernah diketahui seseorang. Oleh karena itulah semua anggota kami membacanya."


Lorong itu tampak panjang tak berkesudahan. Pintu-pintu berlalu. Jeritan-jeritan semakin samar, jeritan-jeritan baru muncul menggantikan. "Kapan tempat ini tutup?" tanya Thompson.


"Aku berada di sini setiap saat," kata si Bapak Tua. "Anggota baru selalu berdatangan. Mereka biasanya tinggal cukup lama. Bukunya sangat menarik."


"Pasti," ujar Thompson.


Akhirnya mereka tiba di sebuah pintu. Bapak Tua itu berhenti. Ia terlihat menarik pintu itu dan pintunya terbuka, padahal tidak ada pegangan pintu. Ia mempersilakan Thompson masuk.


Di ruang baca itu terdapat sebuah kursi dan sebuah meja. Di atas meja terdapat sebatang lilin yang belum dinyalakan. Si Bapak Tua menyalakan lilin itu dari lilin yang dibawanya.


"Sederhana," ujar Bapak Tua, menjelaskan ruangannya. "Tetapi berfungsi. Kau hanya perlu menikmati sebuah cerita horor."


"Oh, terima kasih," Thompson tergagap. Bapak tua itu meletakkan bukunya di meja. "Apakah ... hm ... apakah aku perlu membayar atau memberi tip?" tanya Thompson canggung.


"Oh, tidak. Para Pendiri sudah mengurusnya."


"Hm, para pendiri. Masih hidupkah?"


"Oh, tentu."


"Pasti mereka menyukai cerita horor, membuat tempat seperti ini."


"Mereka memang menyukainya," Bapak Tua meyakinkan Thompson. "Baiklah, semoga kau suka bukunya."


Bapak Tua itu berjalan keluar dan menutup pintu. Thompson mengatakan, "Baiklah," sebanyak dua kali, melihat bahwa tidak ada yang mendengar, ia tertawa kecil dan duduk di kursi. Ia mengambil buku itu, bulu kuduknya berdiri sekali lagi. Ia pun mulai membaca.


Ceritanya sangat pendek. Ia menyelesaikannya hampir sekejap mata. Dan cerita ini memang benar-benar seram. Terlalu seram malah. Ia menutup bukunya dan bangkit. Wajahnya terasa sangat pucat. Ia pergi menuju pintu. Ia berusaha membukanya. Pintunya tidak mau terbuka.


"Bapak," panggilnya. "Bapak, Pak." Ia berteriak memanggil Bapak Tua itu dan tidak berhenti untuk memikirkan teriakan-teriakan lainnya yang terdengar di lorong. Ia berharap Bapak Tua itu datang, dan akhirnya datang.


Suara Bapak Tua terdengar melalui pintu, "Ya?"


"Aku tidak suka buku ini," kata Thompson.


Bapak Tua tidak berkata apa-apa.


"Dan pintunya terkunci. Aku mau keluar."


"Tidak bisa."


"Apa maksudmu tidak bisa? Lagipula tempat macam apa ini?" nada bicaranya mengancam, marah, dan lemah.


"Kau sudah menjadi anggota sekarang." Ini sudah final.


Thompson merasa Bapak Tua itu sudah pergi. Ia berteriak, "Bapak! Pak!" Tidak ada jawaban. Thompson kembali ke meja. Perutnya mulas. Ia membuka buku itu. Ia membaca lagi ceritanya. Ia tidak tahan untuk tidak membacanya. Ada semacam daya pikat pada buku itu. Ia mulai melihat horor yang sesungguhnya dalam cerita itu.


Setelah membaca lagi untuk yang kelima kali, ia mulai menjerit. Semua orang menjerit. Jadi, mengapa ia tidak? Lagi pula, ia terhanyut dalam cerita itu, perutnya terasa dingin. Lilinnya terus menyala, tetapi ukurannya tetap sama.


Matanya menunjukkan tatapan ekspresi kemarahan ketika seluruh makna dari apa yang ia baca memenuhi pikirannya. Kemudian ia menjerit, dan terus menjerit ....


Ia menjerit dan membaca secara bergantian. Dan setiap kali ia membaca, ceritanya semakin seram. Keseraman cerita horor ini terlalu luas untuk direnungkan.


Ia tidak merasa lapar, haus, atau mengantuk. Ceritanya terlalu seram.


Thompson berhenti menjerit dan membuka bukunya lagi, mungkin untuk ribuan kalinya. Ia sudah mengantisipasinya sekarang, mengantisipasi jeritan yang akan ditimbulkan.


Lilinnya terus menyala. Thompson membaca cerita dari buku bersampul kulit manusia yang bertuliskan namanya itu. Dia membaca dengan sangat cepat. Ceritanya sangat pendek.


Kau sudah mati.

 

___

Ket:

Naskah asli berjudul The Most Horrible Story karya John W. Jakes dan diterjemahkan oleh Nisa Khoiriyah dengan judul Cerita Paling Seram.



Biodata
















Penerjemah bernama lengkap Nisa Khoiriyah, atau lebih akrab disapa Icha. Lahir di Pandeglang dan berdomisili di Cilegon. Karya-karya terjemahannya sudah diterbitkan oleh penerbit BasaBasi dan Bhuana Ilmu Populer (BIP) Gramedia.