Saturday, August 29, 2026

Resensi Kabut | Selalu Penjelasan

Oleh Kabut




Buku-buku yang direstui pemerintah kadang bikin sedih dan putus asa. Buku yang hasil cetaknya tidak apik. Garapan sampul dan pilihan kertas berulang jelek. Buku yang mungkin asal terbit saja. Maksudnya, buku-buku tidak digarap secara serius agar membuat para pembacanya girang. Kita tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Penerbit-penerbit yang turut dalam kesuksesan pemerintah demi pengadaan buku memiliki beragam kelemahan dan kengawuran yang sulit diampuni.


Kita mengutip dulu keterangan di sampul belakang: “Buku ini telah dinilai oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional dan telah ditetapkan memenuhi kelayakan berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Perbukuan Nomor 1396/A8.2/LL/2008, Tanggal 25 Juli 2008 Tentang Penetapan Buku Pengayaan Pengetahuan…. Digunakan sebagai sumber belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.” Keterangan yang memastikan peran pemerintah dalam penerbitan buku berjudul Cenderawasih dan Burung Cantik Lainnya susunan Korrie Layun Rampan. Buku berisi puisi untuk anak-anak dan para remaja yang diterbitkan oleh Cakra Media, Jakarta. Pada 2010, mengalami cetak ulang keempat. Dulunya, cetak awal pada 1997. Buku yang memiliki titik perbatasan reformasi 1998.


Yang melihat sampul depan mudah prihatin. Buku seperti buatan masa 1980-an. Garapan yang tidak artistik. Yang membuka halaman-halaman buku boleh jengkel dan marah. Hasil cetak yang sangat buruk, terutama dalam mutu tinta. Yakinlah hasil fotokopian lebih apik dan tajam ketimbang hasil cetak dalam buku terbitan Cakra Media. Kita jangan lekas menuduh pihak percetakan kehabisan tinta atau penerbit menginginkan pengiritan. Bayangkan buku yang asal-asalan itu disahkan untuk digunakan sebagai sumber pengetahuan di SD dan SMP.


Buku yang digarap buruk cepat berpengaruh bagi kita yang membaca puisi-puisi gubahan Korrie Layun Rampan. Ia sudah tenar dalam kesusastraan, sejak beberapa dekade yang lalu. Dulu, novelnya yang berjudul Upacara meraih penghargaan dan menjadi perbincangan panjang melalui penerbitan Pustaka Jaya. Pada masa berbeda, novel itu terus cetak ulang.


Korrie Layun Rampan rajin menulis puisi, cerita pendek, novel, kritik sastra, digenapi menggarap buku untuk anak-anak. Konon, ia tertarik gara-gara kebijakan pemerintah dalam pendanaan buku melalui Inpres. Pada suatu hari, esainya di Kompas mengisahkan kehidupan pengarang dan dampak Inpres, selama masa Orde Baru.


Kita buktikan dengan membaca puisi yang berjudul “Namaku Burung”. Di sisi puisi, tersaji gambar empat burung yang berbeda namanya. Jangan berharap dicetak berwarna. Yang tampak mata cuma hitam dan putih. Yang ditulis Korrie Layun Rampan: Di seluruh dunia ini/ ada ribuan jenis burung/ di Indonesia saja/ ada ratusan jenisnya// Ada jenis burung/ yang besarnya luar biasa/ ada burung yang sangat mini/ hanya sebesar jari. Pembaca boleh usul mendingan itu menjadi kalimat dalam artikel, tidak wajib puisi meski disusun seperti puisi. Bagi anak atau remaja, puisi yang menjelaskan tidak memberi gereget imajinatif. Yang disampaikan agar anak dan remaja membaca puisi: Mengenal burung/ dan fauna lainnya/ membuat makin dekat dengan alam/ dan cinta pelestarian lingkungan hidup kita. Sekali lagi, yang minta pengakuan, tulisan yang disajikan adalah puisi. Maka, yang “dipelajari” adalah burung, bukan puisi.


Pada abad XXI, anak dan remaja yang membaca buku itu mungkin sempat “tertarik” sebelum berganti ke bacaan lain atau memilih belajar burung bersumber internet. Ingat, buku tidak menjadi sumber terpenting. Buku yang dicetak dengan jelek boleh diabaikan anak dan remaja. 


Kita lanjutkan membaca puisi yang berjudul “Burung Merpati Kertas”. Anak-anak yang berada di desa atau berkraban dengan alam mungkin mengenali beragam jenis burung. Yang tidak berada di desa tapi di rumah memiliki seri ensiklopedi atau tersedia majalah-majalah bakal mengetahui burung-burung, tidak harus yang disampaikan melalui puisi. 


Yang disampaikan Korrie Layun Rampan: Meskipun ukuranku/ termasuk kecil/ dengan berat 280-360 gram saja/ aku memiliki keunikan rupa// Kekhasan rupaku/ pada bulu ekorku itu/ yang jumlahnya antara/ 30-38 helai banyaknya// Bulu ekorku itu/ berjajar rapi/ membentuk setengah lingkaran/ seperti kipas adanya. Yang dicetak adalah puisi. Namun, keterangan itu mudah diperoleh di internet. Yang membedakan, penulis menganggap tulisan itu puisi yang diharapkan membuat anak dan remaja tergoda berimajinasi burung. Kita membandingkan pikat anak dan remaja mungkin mengarah lagu-lagu mengenai burung ketimbang puisi. Sejak TK, mereka sudah dikenalkan lagu-lagu yang mengisahkan dan menjelaskan burung.


Di buku, ada 62 puisi mengenai burung. Kita seolah sedang mendalami biologi tapi bukan dari buku pelajaran. Puisi-puisi yang dibuat bermaksud memberi tambahan ilmu, tidak ada gelagat menggairahkan imajinasi. Artinya, buku yang sulit mengesankan tapi dicetak sampai empat kali. Segala anggapan dan tuduhan kita bisa salah.


Korrie Layun Rampan menulis puisi berjudul “Burung Puyuh”. Burung yang sangat terkenal di Indonesia. Jadi, puisi hanya “mendukung” dan “membenarkan” pengetahuan yang sudah dimiliki anak dan remaja. Yang terbaca: Aku termasuk burung/ yang memiliki andil besar/ bagi umat manusia// Telurku enak sekali/ proteinnya tinggi/ dagingku enak sekali/ sebagai lauk untuk dikonsumsi. Puisi yang ditulis pengarang dewasa dan tenar. Kita membayangkan dapat membandingkan dengan puisi gubahan anak atau remaja yang bertema burung. Yang kita baca adalah puisi berdasarkan kesepakatan penulis, penerbit, dan pemerintah. Kita tidak perlu mati-matian membantah bahwa tulisan itu puisi.


Kita semestinya tidak berpikiran jelek atas kemauan menerbitkan buku puisi di Indonesia. Buku yang menyasar untuk anak dan remaja. Misi besar sudah diwujudkan saat pembaca menggunakan hak-hak dalam penilaian. Ingatlah, buku itu berisi keilmuan bertema burung. Yang membaca diharapkan mengenali dan paham burung, belum tentu menikmati puisi. Kita telanjur membaca sambil berpikiran bahwa buku-buku yang diterbitkan di Indonesia, yang dibaca anak dan remaja, sengaja “mengabaikan” mutu.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, August 23, 2026

Puisi-Puisi Dewis Pramanas

Puisi Dewis Pramanas




Lagi-Lagi Maafkan Aku!

 

Pada sepasang bola mata yang basah

Tersimpan mutiara kasih

Waktu menjadi saksi penerimaan

Duniamu berputar terbalik

Maafkan aku!

 

Pada wajah setiap pagi tersenyum

Setiap aku membuka mata

Tangan dan kaki tanpa alas

Menerbangkan ribuan harapan

Meski lara kau pikul di punggung itu

Maafkan aku!

 

Pada nada lisanmu nan merdu

Kau mengajarkan indahnya saling

Juga tentang hati selembut kapas

Menerjemahkan cinta tanpa tapi

Terus bertahan lewati nasib

Yang tak manusiawi

Maafkan aku!

 

Teruntuk pemilik hati

Kini jiwaku seperti pohon

Terombang-ambing oleh angin

Satu persatu daunnya gugur

Lagi-lagi maafkan aku

 

Subang, 11 April 2026

 

 

 

Malam Minggu

 

malam ini

dari jarum jam terus berdetak

lampu-lampu kota redup

mereka coba bertahan dari angkuh realita

 

suara bising kendaraan hilir mudik

menjadi pelik paling tuli

deretan gedung menyesakkan paru-paru dunia

sampai kapan?

 

tak ada lagi perempuan sederhana

mencuci pakaian di sungai

tak melihat lagi anak-anak bermain petak umpat

berlarian tertawa lepas

 

justru sekawanan lelaki berpeci sembunyi  dari ruang-ruang obral mulut

bebas menerobos jalan tidur

senyap

 

ada apa?

isi bumi makin porak

sementara aku masih mencari arah

malam ini!

 

Subang, 15 Agustus 2025

 

 

 

Kertas Robek

 

dari riuh suara

menjejak akumulasi luka

berulang-ulang selalu sama

di podium koar-koar merias diri

mereka berbicara atas nama

 

menyusun rancangan paling membela

keutamaan seluruh rakyat

namun, isi perut lebih utama

dibanding isi hati dan kepala

rancangan sekadar wacana 

 

sedang carut marut hidup

semakin melebar

porak poranda amuk semesta di timur

di ujung barat negeri

rakyat ingin berpisah dari naungan pertiwi

para pencetak sumber daya

menggugat bobroknya aturan

 

tanah dan rerumputan di halaman

kini kering tak bersahabat lagi

mata ini menatap tajam

jalan kemakmuran gelap

keadilan sudah terusir

dari tempat yang semestinya

 

Subang, 16 Agustus 2025

 

 

 

Melawan Kenyataan

 

di depan dinding yang pudar

pohon mangga berdiri tegak

menghadap deretan bendera

berkibar tertuip semilir

seperti memberi isyarat

bangkit melawan kenyataan

 

di sepanjang jalan

biasa ramai burung bernyanyi

tetiba hening pagi ini

saat semua orang suka cita

rayakan hari bersejarah

satu sisi di ujung pulau

meratapi kisruh berpisah

 

tampak keramik mengelupas

sebab terus dihantam waktu

sesekali hujan menggenangi

di atas genting yang bocor

kumpulan peristiwa jadi penyebab

langit rumah berhamburan jatuh

 

semua telah menjadi dokumentasi

usah menunggu datang asa

seakan tak percaya lagi proses

meniti masa depan

cukup di mulut saja

menunggu habis

masa yang tersisa

 

Subang, 17 Agustus 2026

 

 

 

Berselancar Kelam

 

Kembali bulir perlahan jatuh di kedua pipi

Seperti mengoyak-nyoyak isi kalbu

Membawaku berselancar kelam

Teringat hal pemicu kepergianmu

Entah berapa lembar lagi

Catatan rindu tentang musim sunyi

Kala itu.

 

Waktu mengulang lagi dan lagi

Tentang pilu menusuk rongga dada

Di saat reranting itu patah

Hadapi peristiwa yang sama

Rapuh.

 

“Kau… mencintaiku dari hal berbeda?”

Bibir ini bergumam

Menyisakan renungan

Elegi perjalanan

 

Subang, 26 Juli 2026

 

 

 

______

 

Penulis

 

Dewis Pramanas, lahir di Subang, 1 Maret 1987. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes, Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Instagram: @dewispramanas


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Cerpen Sumala Djaya | Bara di Wajah Ayah

Cerpen Sumala Djaya

 


Gadis itu sering meminjamkan buku paket kepada Angga bila ada pekerjaan rumah (PR). Ia juga suka melarang Angga jika hendak membolos. Karena perhatian gadis itu, Angga jatuh hati padanya. Dialah Rochilah. Ketulusan hati dan keikhlasannya membukakan hati yang tertutup. Tapi Angga tak pernah punya keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

 

Pada hari yang terik ketika liburan sekolah, angin berembus kian kemari meskipun mentari bersinar begitu terik. Burung-burung gereja melintasi angkasa seraya mendendangkan lagu sambil bercanda dengan kawanan burung lainnya. Angga tersenyum lebar. Ia tak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya karena hendak berkunjung ke rumah kakak sepupu Rochilah, Layla.

 

Setelah berganti pakaian dan merasa cukup matang untuk pergi sendirian, ia pun berangkat. Sesampainya di rumah Layla, ia langsung berkenalan. Ternyata Layla adalah gadis yang mudah bergaul, terbuka, dan tentu saja ramah. Angga merasa nyaman berbincang dengan Layla. Ia seperti mendapatkan dorongan spiritual saat berdiskusi dengan Layla.

 

"Setelah aku membaca buku harianmu, aku mempunyai nalar bahwa kamu menyukai adik sepupuku," ungkap Layla.

 

"Aku memang menyukainya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menyatakannya," jawab Angga.

 

"Kamu kan laki-laki. Gentle sedikit dong! Kamu hanya akan menyiksa diri jika seperti ini terus. Apa kamu tak menyesal jika ada yang merebutnya?" lanjut Layla.

 

"Mudah-mudahan saja aku bisa," ucap Angga.

 

"Harus bisa!"

 

Ia tergugah dengan semangat Layla yang begitu besar. Ternyata Layla memedulikannya. Layla tak ingin Angga menyiksa dirinya dengan cinta yang sia-sia.

 

Langit perlahan mulai gelap. Mentari tenggelam tersaput mega, sedangkan bulan begitu memancarkan cahayanya yang teduh kala itu. Burung-burung yang semula bercanda sambil mencari makan di rawa pun berterbangan satu per satu untuk pulang. Angga pun memutuskan untuk pulang.

 

***

 

Angga duduk di atas kasur yang masih tergelar di lantai kamarnya. Kertas surat, buku harian, serta catatan-catatan yang lainnya masih tergeletak di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memandangi sudut gelap kamar. Dilihatnya sosok gadis anggun berdiri mengenakan gaun berwarna merah jambu. Seketika ia terlempar ke alam fantasinya sendiri.

 

Beberapa jam kemudian ia beranjak dari kamarnya yang berantakan. Raut kusam dan tubuh yang kerempeng membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit. Duduklah ia di teras rumahnya sembari melihat orang yang lalu-lalang di jalan. Terbersit dalam benaknya untuk pergi ke rumah Rochilah. Akhirnya ia pun benar-benar pergi ke rumah gadis itu.

 

Sesampainya di depan rumah Rochilah, diketuknya daun pintu yang tertutup seraya mengucapkan salam. Tak seorang pun membalas salamnya. Ia memberi salam untuk kesekian kali dan sedikit mengeraskan suara. Akhirnya Rochilah pun membuka pintu rumahnya. Rochilah pasti akan menyuruhnya masuk, pikirnya. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, Rochilah mengusirnya.

 

"Pasti kamu habis main-main tak keruan. Lebih baik kamu pulang!"

 

Mulanya ia mengira Rochilah akan senang dengan kedatangannya. Mungkin Rochilah merasa terganggu dengan kedatangannya, atau ia memang datang di saat yang tidak tepat. Ia merasa terpukul sekali atas perlakuan Rochilah yang mengusirnya tanpa alasan. Akhirnya ia pulang menanggung rasa kecewa.

 

Di rumah, Angga langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dipejamkan matanya untuk tidur, namun kegelisahan hadir dan bergelayut dalam pikirannya. Diambilnya selembar kertas dan pena yang tergeletak di lantai kamar. Ditulislah apa yang berkecamuk dalam pikirannya pada selembar kertas itu.

 

Untukmu Selalu

 

Tak apalah kau usir aku dari rumahmu, asal jangan kau usir aku dari ingatanmu. Jujur, aku menyukaimu karena kau mau membimbingku meskipun aku tak pernah memedulikanmu.

Banyak cara aku tempuh agar dapat menemuimu, tapi kau mengusirku. Tidak adakah rasa rindu di hatimu seperti aku yang sangat merindukanmu?

Tahukah bahwa engkau akan selalu menjadi hal indah yang akan selalu aku ingat? Biarlah hari-hari terus berganti karena cinta sejati tak akan pernah mati.

 

Aku yang selalu mengagumimu.

 

***

 

Ia berjalan gontai membelah pagi yang berkabut seraya bernyanyi kegirangan. Dilihatnya Rochilah duduk di depan kios. Ia ingin memberikan surat yang ditulisnya semalam. Ah, biar jadi catatan pribadi saja, pikirnya. Akhirnya ia lebih memilih bergabung dengan kawan-kawannya di gang sekolah untuk nimbrung merokok dan menghirup kopi. Teman-temannya sering mencarinya jika ia tidak sekolah. Meskipun suka nimbrung makan seenaknya, ia juga sangat bijak.

 

Di dalam kelas, kerjanya hanya termangu memandangi Rochilah. Ia berharap akan ada yang menyampaikan isyarat cintanya kepada Rochilah.

 

"Aku biarkan bayangmu mengisi malam-malamku, sebagaimana cinta ini hanya bayang bagiku. Mungkin aku memang pengecut karena tak sampai kuasa mengatakan cinta padamu. Jika hanya dalam mimpi kau dapat kucumbui, maka biarlah aku tetap terlelap. Telah aku torehkan semua rasa, namun selalu saja engkau mengabaikannya."

 

Meski ia duduk terdiam, hati dan pikirannya terus berkecamuk. Tak satu pelajaran pun yang disampaikan oleh gurunya yang ia catat. Ia hanya berkutat dengan pikiran-pikiran kacaunya.

 

***

 

Dari pengeras suara kantor sekolah, terdengar jelas wali kelas memanggilnya untuk ke ruang TU (Tata Usaha).

"Kesalahan apa yang aku perbuat?" pikirnya. Ia keluar dari kelas. "Kenapa aku disuruh ke kantor, ya? Mudah-mudahan saja tidak ada masalah yang serius," gerutunya kemudian.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban terus menghampiri. Ditatapinya kantor sekolah setajam pisau. Lalu ia beranjak dari tempat duduk. Ia hendak menghadap wali kelasnya di kantor itu.

 

Wali kelasnya tengah menunggu sambil membaca koran. Tampak kursi kosong di depan meja yang sudah tentu disediakan untuk Angga.

 

"Kamu tahu kenapa dipanggil ke mari?" tanya wali kelasnya membuka perbincangan.

 

"Tidak, Pak," jawab Angga.

 

"Ya jelas tak tahulah, wong belum Bapak kasih tahu kok!" ucap wali kelasnya.


Angga menjadi geram.

 

"Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Angga menundukkan kepala.

 

"Tidak apa-apa kok. Bapak hanya ingin memberitahumu bahwa rapotmu tidak akan Bapak serahkan sampai kamu mau memanggil orang tuamu ke mari," tutur wali kelasnya.

 

"Pasti ada masalah serius ya, Pak?"

 

"Ah, tidak juga. Bapak hanya ingin mengobrol dengan orang tuamu. Kamu masih punya orang tua, kan?"

 

"Masih, Pak!"

 

"Kalau begitu, pulanglah. Bapak tunggu di sini sampai kamu dan orang tuamu datang."

 

Angga keluar dari kantor itu. Ia berjalan dengan perasaan tertampar. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh wali kelasnya. Ia juga tak tahu harus berkata apa pada orang tuanya. Setelah berpikir cukup matang dan tekadnya sudah bulat, akhirnya ia pun pulang diantarkan temannya.

 

Sesampainya di rumah, ia tidak melihat bapak atau ibunya. Dicarinya kedua orang tuanya di sawah dan ladang belakang rumah, tapi tetap tidak ada. Ke mana mereka? batinnya. Ia duduk menopangkan tangan di atas lututnya. Dilihatnya kakaknya baru pulang dari pasar, lalu disampaikannya kepada kakaknya bahwa bapak harus segera ke sekolah untuk mengambil rapotnya.

 

"Ya, nanti aku sampaikan," ucap kakaknya.

 

Angga pun berpamitan kembali ke sekolah. Sekolah sudah tampak sepi. Angga duduk di teras kantor. Berjam-jam ia duduk menerawang dalam alam bawah sadarnya.


"Kok melamun sih, Ga?" ucap seorang bapak-bapak.

 

"Eh, Mamang. Bakso buat siapa, Mang?" tanya Angga.

 

"Buat Bapak Kepala Sekolah," jawab si Mamang.

 

Ternyata bapak-bapak itu adalah mamang tukang bakso langganannya yang suka mangkal di depan sekolah.

 

"Sebenarnya ada masalah apa sampai Bapak disuruh ke mari?" tanya bapaknya. Angga terperanjat. Bapaknya sudah ada di sampingnya.

 

"Tidak tahu, Pak," ungkap Angga.

 

"Ya sudah, ayo kita ke dalam."

 

Mereka berdua masuk ke kantor.

 

"Selamat pagi, Pak," Bapaknya menyalami.

 

"Oh, ya. Selamat pagi, silakan duduk, Pak," jawab wali kelasnya.

 

"Kiranya ada masalah apa ya, Pak, sampai saya disuruh ke mari? Apa anak saya membuat ulah lagi?" lanjutnya.

 

"Sebenarnya tidak juga. Hanya yang lebih menyesalkan ialah ia harus tinggal kelas," ungkap si wali kelas.

 

Wajah bapaknya seperti mengeluarkan api.

 

____________

 

Penulis

 

Sumala Djaya, adalah anak petani yang menggeluti dunia tuli menulis di kamarnya sendiri (Belajar Secara Otodidak). Karyannya berupa puisi dan cerpen dipublikasi di media lokal dan nasional. Anak ke empat dari lima bersaudara, tinggal di Kragilan, bagian timur dari Kabupaten serang, Banten.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail .com