Jumat, 08 Oktober 2021

Cerpen Eko Setyawan | Aku Ingin Melahirkan Ibu

 Cerpen Eko Setyawan



***

Jika saja di dunia ini setiap orang berhak mendapat mukjizat atau paling tidak bisa menciptakan keajibannya sendiri, maka aku akan memilih melahirkan ibu.


Aku ingin melahirkan ibu dalam keadaan apa yang aku kehendaki yakni aku ingin melahirkannya dalam kesunyian. Sehingga kelak, ketika ia mulai dapat berbicara, tidak lagi berbicara sesukanya sendiri dan lebih bisa memikirkan perasaan orang lain, khususnya diriku. Jika kelak aku disebut anak durhaka, maka hal itu tak kupedulikan. Aku sangsi dengan konsep anak durhaka yang diciptakan tak jelas entah oleh siapa. Kenapa kedurhakaan hanya melekat kepada anak dan hal itu tak berlaku untuk orang tua atau bahkan ibuku yang sebenarnya jauh lebih layak untuk disebut durhaka.

Orang tua menginginkan anak menjadi seperti dirinya dan kelak, ketika anaknya tidak sesuai apa yang diharapkan atau anak memiliki keinginannya sendiri, maka anak itu akan disebut pembangkang. Pemikiran orang tua semacam ini sering kali kujumpai sehingga kesalahan akan selalu ditimpakan kepada seorang anak, dan hal itu mutlak. Apakah seorang anak ingin dilahirkan oleh ibu? Tentu tidak. Seorang anak tidak pernah bisa memilih lahir dari ibu siapa ia, sehingga apa yang diterimanya saat ini adalah sebuah keputusan bukan keinginan. Mungkin lebih tepatnya aku menyebut takdir. Termasuk aku, ditakdirkan untuk menerima kenyataan bahwa aku dilahirkan oleh ibu yang mulutnya seperti kilatan petir.

Membicarakan mukjizat atau keajaiban yang ingin kuterima dan miliki itu, semua bermula ketika ibu memarahiku, dan sungguh, kata-kata yang keluar dari mulutnya tak berbeda dengan seribu belati yang menancap di ulu hatiku. Ucapannya begitu menyakitkan dan menghancurkan apa yang selama ini kubangun mengenai ibu. Kepercayaan dan kebangganku kepadanya seperti luruh seketika.

Ibu memang menciptakan banyak kebanggan di luar sana. Ia mendapat banyak penghargaan dari pemerintah sekaligus ia didapuk untuk menjadi pembicara di banyak tempat. Apa yang ibu capai saat ini adalah bentuk kepandaian sekaligus ketelitiannya dalam berkerja. Selain itu, kelihaiannya dalam berbicara menguatkan apa yang ia miliki. Dapat dikatakan, ibu adalah orang yang memiliki tempat di hati banyak orang karena kecerdasannya sekaligus kecakapannya menyampaikan isi kepala dan hal-hal luar biasa lainnya.

“Kau anak yang tak tahu diri! Kau selalu bangun siang dan lebih memilih menjadi penulis yang tak ada uangnya. Tidak mau melanjutkan pekerjaanmu yang jelas-jelas dapat menghidupimu! Apa kau pikir dengan menulis dan segudang piala itu dapat menjamin hidupmu!?”

Kemarahannya mengenai pekerjaan yang kupilih itu menjadi bahasan berulang-ulang sejak aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih menulis. Aku sebenarnya juga telah dicarikan pekerjaan oleh ibu di sebuah instansi pemerintah, tapi tidak bertahan lama. Aku tidak nyaman di tempat itu karena sejak awal tak menyukai pekerjaan yang ada.

Selain itu, jika perkerjaan di rumah tidak beres, mulut ibu akan meracau seperti serigala betina kelaparan. Semua orang di rumah akan kena sakitnya taring serigala itu, bukan di tubuh melainkan di hati. Setiap apa yang dipandang ibu salah, maka kemarahannya akan menjadi-jadi dan diakhiri dengan: aku sudah bosan mengingatkan, mulutku lelah mengatakannya lagi. Padahal kalimat itu selalu diucapkan—entah sejak kapan—pada setiap kemarahannya. Ibu seperti mencari pembelaan atas dirinya. Kalimat yang terus diulang dengan racauan-racauan lainnya. Tak pernah memikirkan perasaan kami.

Ibu memang sukses di dunianya, memiliki pekerjaan yang sangat baik dan dipandang lebih tinggi oleh orang-orang. Dihargai bahkan disanjung-sanjung. Tapi, hal itu tak membuatku nyaman dengan sikapnya memperlakukanku, bapak, juga bibi yang membantu di rumah kami. Karena terpandang di luar itulah, ibu lupa memikirkan kami. Bahkan, merasa apa yang kami sampaikan kepadanya seluruhnya salah. Menurutku, pandangan ibu adalah pandangan kacamata kuda. Apa yang dilihatnya adalah apa yang harus dilakukan semua orang di rumah. Tidak boleh membantah, bahkan silang pendapat di antara kami hanya akan berakhir dengan gema toa yang memekakkan telinga.

Segala yang dikatakan ibu adalah benar. Tak boleh dibantah. Apa yang keluar dari mulutnya adalah sabda. Selalu dan akan selalu benar. Bahkan ucapannya harus diiyakan, tanpa boleh ada sanggahan. Aku tidak paham dengan apa yang ada dipikiran ibu. Ucapannya jauh lebih dulu daripada berpikir di rumah ini. Ia berkata jauh keras dan menyakitkan. Apa yang sekiranya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya jadi ledakan. Jadi perang di rumah. Bahkan ayah yang menimpali perkataan ibu seolah dilahapnya. Menghindari pembicaraan dengan ibu adalah pilihan terbaik.

Di sisi lain, ibu lupa bahwa kesuksesan yang dimilikinya itu tak berlaku di sini. Di rumah ini. Sebab ketika ia dipercayai oleh semua orang di luar sana, kenyataan di rumah ini jauh dari apa yang orang-orang lihat dan dengar. Ibu mungkin menciptakan surga di luar sana dan orang-orang memuja ibu layaknya dewa, namun di sini, di rumah ini, ibu tak lain sedang menjadi dewa yang angkuh. Seperti halnya Siwa yang mengutuk Uma menjadi Durga. Ibu mungkin Siwa di luar sana, penuh kharisma dan dipuja-puja banyak orang. Tapi di balik itu semua terdapat keangkuhan yang teramat luar biasa.

Kemarahan ibu kepadaku bermula ketika aku jauh lebih banyak bercerita dengan orang lain mengenai masalah yang kuhadapi, bukan kepada ibu. Aku banyak berkeluh kesah kepada tetanggaku sehingga aku lebih sering berada di sana daripada di rumah. Selain itu, ibu beranggapan bahwa apa yang kukerjakan di rumah dalam membantunya menyiapkan kebutuhan untuk seminar dan juga untuk penilaian jabatan hanya setengah hati. Ibu berkata bahwa jika dilihat dari mimik wajahku, aku dipandangnya selalu mecucu, atau cemberut dan itulah yang menyebabkan kemarahannya. Ibu meracau sembari memukulkan tangannya pada meja. Begitu geram.

“Jika tidak serius membantu ibu, tinggalkan saja pekerjaan itu. Aku bisa melakukannya sendiri. Pergi saja dari sini. Aku tak pernah mengharapkanmu juga ada di sini. Kau bisa minggat dari sini dan tinggal bersama orang yang lebih kau percayai dalam urusan masalahmu itu!” ucapan yang disampaikan penuh emosi dan penuh amarah. Hatiku getir mendengarnya.

Sebenarnya aku tidak masalah ketika harus menerima kemarahan itu jika sesuai dengan kenyataan yang ada. Nyatanya, pemahaman ibu tentangku sangat jauh bahkan tidak dapat memahamiku secara baik. Kemarahannya tak berdasar, sebab ada alasan mengapa kedua hal itu kulakukan. Pertama, ketika aku akan menceritakan segala keluh kesah dan masalahku kepada ibu, aku tidak dapat menentukan waktu yang tepat karena kesibukan ibu. Aku belajar dari ayah yang menyela pekerjaan ibu di rumah dan berakhir pada pertengkaran hebat. Ibu memarahi ayah dan berkata begitu keras. Dari sanalah aku belajar bahwa sebaiknya tidak bicara dengan ibu. Ada dunia lain yang harus dipikirkan ibu bahkan dunia jauh itulah yang lekat dengan kepalanya.

Kedua, ketika ibu menganggapku tidak serius membantunya dengan memandang mimik wajahku, ia salah besar. Aku sedang bersemangat membantunya namun gelisah karena tidak ada percakapan di antara kami. Lantas ibu marah-marah. Dari sana aku menyimpulkan bahwa ibu memang tak pernah memahamiku bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tampak itu. Selain kedua itu, yang menyakitkan dari racauannya itu adalah ketika ibu mengatakan bahwa ia tak mengharapkanku. Pikiranku jadi tak jelas arahnya dan hal itu sangat mengangguku. Apakah aku juga menginginkan dilahirkan oleh ibu? Pertanyaan itu bersemai di kepalaku. Tumbuh begitu lebatnya. Ibu tak pernah bertanya kenapa dan mengapa, tapi langsung menghakimi.

Kupikir, ibu lupa bahwa setiap orang, oleh Tuhan, diberi karunia untuk berpikir. Lebih jauh, setiap orang bebas menentukan jalannya sendiri termasuk aku, anaknya. Ketika ibu merapalkan sabdanya, ia seolah menjelma dalang yang bebas mengatur wayang. Ia tak mempedulikan apa yang kupikirkan dan tidak mau peduli. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya, keajaiban yang diciptakan ibu di luar sana membuatku juga ingin mendapat mukjizat bahkan aku harap dapat menciptakan keajaibanku sendiri yakni aku ingin melahirkan ibu dalam balutan kesunyian. Melahirkan ibu dalam keadaan paling sunyi.

Tawangmangu, 20 Desember 2020





_____
Penulis

Eko Setyawan dilahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.







Kirim naskahmu ke
redaksingewiyak@gmail.com