Kamis, 07 Oktober 2021

Esai Ma'rifat Bayhaki | Coretan Dinding dan Literasi

 Esai Ma'rifat Bayhaki




“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.” (Tan Malaka)



Tahun lalu, kali pertama saya bertandang ke rumah guru menulis saya di komunitas. Di dinding ruang tamunya, saya dapati coretan berwarna-warni yang meliuk, melingkar, dan memanjang, serupa jaring laba-laba yang menumpuk. Aduh, anggapan saya saat itu sungguh pemandangan yang semrawut. Apa guru saya itu tidak memikirkan sebelumnya kalau coretan-coretan itu akan banyak yang melirik dan menciptakan asumsi-asumsi liar. 


Sebulan kemudian saya kembali datang ke rumah guru saya untuk minta koreksian cerpen yang saya buat sebelumnya. Ternyata coretan-coretan di dinding itu masih ada. Bahkan semakin menumpuk, tapi bedanya ada beberapa tulisan angka dan huruf yang bentuknya belum sempurna—masih bengkok, mencong. Karena rasa penasaran kenapa dinding itu tak segera dicat, malah dibiarkan dicorat-coret anak pertama guru saya yang kisaran berusia empat tahun itu.


“Pak, kenapa kok dindingnya gak segera dicat, malah dibiarkan acak-acakan seperti itu?”


Pertanyaan saya dijawab panjang lebar seperti pidato kepala sekolah.  


“Anak kecil itu tak boleh terlalu dibatasi. Kita menyediakan kok buku-buku gambar untuk ia mencorat-coret sepuasnya. Namun, coba kamu perhatikan mengapa anak saya itu bisa berpikir untuk mencorat-coret di dinding padahal sudah disediakan buku gambar. Sebab itu imajinasinya dalam melihat sesuatu hal, bukankah saat kita masih anak-anak rasa penasaran kita sangat tinggi pada hal apa pun. Seiring waktu berjalan imajinasi anak saya terus berkembang, ia tidak hanya menggunakan krayon untuk moncerat-coret dinding, ia juga memanfaatkan arang bahkan lipstik ibunya."


Saya hanya mengangguk-ngangguk mendengar itu.


“Coba kamu tengok goresan-goresan yang tak jelas menulis-melukiskan apa. Di balik coretan-coretan itu tentunya terdapat ekspresi si anak. Bukankah ekspresi ialah karunia yang diberikan Tuhan kepada kita melalui rasa. Rasa yang tak bisa dimiliki oleh teknologi secanggih apa pun. Bukankah ekspresi yang dibatasi kiranya kurang baik untuk tumbuh kembang si anak yang sedang dalam masa pertumbuhan,” imbuh guru saya.   


Ia juga menjelaskan pernah memaksa anaknya untuk tidak mencorat-coret dinding dan mengalihkannya ke buku gambar. Namun, anaknya tetap membandel, selalu ingin mencoret di dinding. Kalau dilarang, anaknya malah nangis. Kalau sudah nangis begitu, malah lebih membikin repot dunia persilatan. Akhirnya guru saya itu mengalah dan membiarkan anaknya mencorat-coret dinding sepuasnya. 


“Bukankah kebandelan anak ialah kemauannya yang kuat? Bukankah kemauan yang kuat dan ketulusan hati merupakan modal dalam belajar?” 


Kira-kira begitu pidato yang disampaikan guru saya untuk menjawab satu pertanyaan di atas.  


 “Membaca buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik.” (Buya Hamka)


Bukankah membaca buku yang baik harus bermodalkan diri yang baik pula, entah itu kemauan, kemerdekaan, ataupun perasaan.  Apa jadinya kalau kita membaca buku dalam keadaan malas, depresi, terkekang, panik, tentu bisa kita bayangkan hasil bacaannya seperti apa. 


Mencoret di dinding, barangkali pelajaran pertama untuk anak-anak agar bisa menumbuhkan kemauan yang kuat, imajinasi yang luas, dan perasaan yang peka, dan menciptakan ruang belajar bahagia bagi mereka. Tentunya peran orang tua tetap penting dalam mendampingi si anak.  


Kita ketahui bersama, Banten pernah menjadi kesultanan besar dan tersohor sampai ke mancanegara. Namun, itu dulu. Sering kali kita terjebak pada romantisme lama yang membius kita pada kebanggan semu. Contohnya hari ini saya bangga sebagai orang Serang Utara yang berdekatan dengan tempat kelahiran Syekh Nawawi Al Bantani. Padahal saya sendiri membaca surat Al Fatihah saja belepotan. Kemudian coba kita lihat bagaimana Pelabuhan Karangantu yang dulunya sebagai pusat perdagangan internasional sekarang tak lebih dari pelabuhan lokal kumuh yang berair cokelat dan berbau. 


Hal itu bisa kita simpulkan jika perubahan itu suatu keniscayaan dan sesuatu yang tidak berubah ialah perubahan itu sendiri. Kisah kejayaan lama memang cocok untuk membangkitkan semangat patriotisme, nasionalisme, dan sejenisnya, tetapi di zaman ini kita tidak bisa bersandar pada kisah kejayaan masa lampau. 


Untuk memahami sejarah yang konkret, seyogiyanya pandangan kita harus diperluas, tidak terpaku pada kejayaan, kehancuran, atau tragedi-tragedi semata. Akan tetapi, tentang hal apa, pergulatan sosial semacam apa, keresahan batin seperti apa yang membuat Banten bisa menjadi kesultanan yang besar. Kemudian pergulatan semacam apa yang menjadikan Syekh Nawawi Al Bantani bisa menjadi tokoh kaliber dunia, dan contoh lainnya. Tentu ada proses berdarah-darah dan kontinuitas yang tersambung untuk membangun suatu kejayaan. 


Kejayaan semacam itu tentu bermula pada kesadaran. Kita bisa menganalogikannya dengan kisah salah satu guru saya di SMA yang terlahir dari keluarga buruh tani. Ia sadar sebagai manusia ia dianugerahi akal untuk berpikir dan merencanakan hidupnya sendiri. Bermodalkan kesadaran serta kemauan yang kuat. Singkatnya hari ini beliau menikmati hasil jerih payahnya. ia sudah lama menjadi pegawai negeri sipil (PNS), memiliki beberapa usaha, rumah, kendaraan, istri yang cantik, dan anak-anak yang saleh-salihah. Tentu ada tantangan dalam setiap prosesnya, dan tantangan-tantangan itulah yang membentuk ia hari ini. Seperti perkataan Tan Malaka: "terbentur-terbentur-terbentuk".


Lalu pertanyaannya, apakah hari ini kita sadar dengan kemampuan yang kita miliki, bebas dengan pikiran kita sendiri, memiliki kemauan yang kuat seperti anak guru saya yang membandel mencorat-coret dinding dengan krayon, arang, dan lipstik ibunya? Apakah kita merdeka dan peka setiap kali kita mempelajari sesuatu?


Akhir-akhir ini banyak teman saya yang sibuk melaksanakan KKM, Kampus Merdeka, Pengabdian Masyarakat, dan sejenisnya. Dari beberapa kegiatan tersebut, banyak yang memilih tema literasi. Mereka memikirkan dan mengonsep bagaimana cara menumbuhkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak. Mereka sangat serius mencari sumbangan buku-buku, meminta surat izin, survei, membeli keperluan untuk menghias tempat yang nantinya dijadikan taman baca masyarakat (TBM) dengan harapan bisa memicu minat belajar anak. 


Ada tiga konsep literasi klasik: A literat, I literat, dan literat. Konsep ini sangat sederhana bagaimana orang yang belum bisa membaca dan menulis—A literat diajarkan agar bisa membaca tetapi masih belum sampai pada kesadaran pentingnya membaca atau masih dipaksa-paksa—I literat dan sampai kepada literat—orang yang bisa membaca, menulis, dan sadar akan pentingnya baca-tulis. 


Ada ambivalensi yang saya temukan pada diri teman-teman saya yang tengah sibuk mencari sumbangan buku-buku, membuat logo TBM, dan mewarnai tempat TBM agar terlihat menarik. Karena mereka teman saya, jadi saya tahu kegiatan keseharian mereka di kampus, kelas, kos-kosan, dan tempat tongkrongan mereka. Jarang saya melihat teman saya ini membaca buku, padahal mereka saban bulan membeli buku. 


Artinya, kurang memadai kiranya ketika kita membujuk orang untuk suka dan sadar akan pentingnya membaca, tapi kita sendiri belum sampai pada tahap itu. Keadaan sosial yang seperti ini tentu akan membentuk Banten di masa yang akan datang. Kiranya kurang memadai teman saya itu, jika membuat taman baca yang sedemikian nyentrik, tapi substansi yang dibawa malah pudar. Bahayanya kita bisa terjebak menjadikan orang lain sebagai objek untuk sadar membaca, sedangkan menganggap diri sendiri seperti dewa. 


Terakhir, saya memiliki pengalaman saat bergelut di #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa) yang berdiri tahun 2016. Saya sendiri bergabung pertengahan tahun 2018. Saat itu saya menemukan cara belajar yang unik, mirip-mirip mondok begitu. Pertemuan pertama saya diberikan dua buku dan harus habis dibaca selama seminggu. Awalnya saya enggan membaca. Saya mau ambil bukunya saja buat gaya. Bahkan tugas menulis karya baik puisi, cerpen, esai, tidak pernah saya kerjakan. Saya hanya fokus pada makanan yang berjejer setiap pertemuan. 


Hingga suatu waktu, Encep Abdullah memamerkan karya-karyanya yang mejeng di berbagai media. Kemudian buku-buku antologi setiap angkatan sebelumnya dan karya salah satu anggota #Komentar angkatan pertama yang masuk koran. Akhirnya, saya coba serius memerhatikan cara tutur Encep Abdullah mengoreksi tulisan-tulisan para anggota komunitas. Ternyata lumayan keren juga. Hal itu menumbuhkan keinginan saya untuk bisa melampaui beliau. 


Berlandaskan kemerdekaan—tanpa paksaan siapa pun dan di dorong kemauan yang kuat, akhirnya saya memaksa diri saya sendiri untuk membaca buku-buku yang diberi pinjam secara teliti. Setahun kemudian, akhirnya saya merasakan proses yang telah saya alami selama ini. Saya menjadi suka membaca, menulis, bahkan ada beberapa karya saya yang dimuat di media. Hal itu senyap tanpa poster-poster yang berseliweran. Beliau juga mengajarkan saya menabung untuk membeli buku sendiri untuk dijadikan koleksi perpustakaan pribadi. “Beli buku untuk di baca, bukan dijadikan snap WA,” ujarnya.  


Artinya seorang guru, relawan pendidikan, harus memiliki ilmu yang luas, perasaan yang peka, dan keikhlasan yang tinggi. Menjadi guru bukan sekadar urusan kebesaran dan pundi-pundi rupiah. Oleh karena itu, bagi saya pendidikan di #Komentar seperti sedang menyulap saya menjadi anak yang mencoret dinding. Merasa bebas, merdeka, dan memacu kemauan yang tinggi. 


Untuk menyongsong Banten pada kejayaan masa lampau, kiranya kita perlu memulai dari hal-hal kecil. Apalagi di zaman modern ini anak-anak lebih suka bermain gawai. Tentunya menjadi seorang literat tidak kaku pada kesadaran teks tulisan, tapi bisa pula pada teks realita. Bagaimana kita sebagai orang dewasa mampu menciptakan ruang-ruang belajar bersama adik, anak, dan kemenakan kita. Harusnya masa pandemi ini menjadi momentum yang mana saat pendidikan formal ditutup, kita bisa lebih mesra dan peka pada keluarga dan orang terdekat kita. Terkadang kita terlalu fokus pada hal yang besar, membuat TBM, bagi-bagi buku, ngampar buku, tapi kita lupa anak-anak kita di rumah terabaikan. 


Sekali lagi, seperti yang saya kutip di awal: “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” (Tan Malaka)


Tabik. 



Serang, 30 September 2020



Informasi Tambahan:

Esai ini meraih Juara Harapan III dalam Lomba Menulis Esai yang diselenggarakan oleh DPK Banten 2021.




____

Penulis


Ma’rifat Bayhaki, lahir di Pesisir Utara Banten tanggal 5 Juni. Pengurus #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa) dan Redaktur Pelaksana di ngewiyak.com. Tercatat sebagai mahasiswa aktif Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Beberapa karyanya dimuat di media cetak dan daring: Republika, Simalaba, Mbludus. Menjadi penyair terpilih Mbludus 2020. Suka membaca buku sejarah, sastra, dan filsafat. 





Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com