Selasa, 12 Oktober 2021

Proses Kreatif | Puisi Itu Anu

 Oleh Encep Abdullah



Dua hari yang lalu saya di-WA oleh seorang rekan guru. Ia mengomentari puisi Sunda Yudi Damanhuri yang berjudul "Ngabacot" (ngewiyak.com, 6 Okt 2021). Kata rekan saya itu, kenapa judulnya kasar, bukannya puisi itu harus indah ya?



Pikiran ini persis seperti pertama kali saya belajar puisi. Tentu karena referensi bacaan yang itu-itu saja. Mungkin misalnya hanya membaca buku puisi Sapardi Djoko Damono. Maka, yang ada di kepala hanya konsep yang indah dan puitis. 


Definisi yang indah-indah itu pun tidaklah salah. Dan, pernyataan puisi itu harus indah juga tidak salah. Mungkin rekan saya itu menyerap definisi Samuel Taylor Coleridge bahwa puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.


Kalau dalam KBBI ada tiga pengertian: 1 ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak. Kira-kira, menurut Saudara, mana yang lebih condong definisi puisi di zaman sastra kontemporer saat ini?


Malah, semakin saya banyak membaca pengertian puisi, saya malah tidak mengerti bagaimana menulis puisi. Bahkan, menghafal beberapa pengertian puisi itu tidak menjamin saya jadi penyair. Mungkin saya bisa hafal beberapa pengertian puisi menurut ini dan itu hanya demi kepentingan saya mengajar—karena saya harus menyampaikan kepada siswa. Namun, secara pribadi, sebenarnya saya punya kesimpulan sendiri mengenai apa itu puisi. Tapi, cukup Allah saja yang tahu. 


Saya jadi teringat esai seorang kawan dari Bandung (buruan.co) bahwa banyak kawan sibuk kepengin jadi penyair ketimbang sibuk menulis puisi. Jangan-jangan guru-guru di sekolah juga hanya sibuk menghafal "apa itu puisi" ketimbang menulis puisi itu sendiri. Yang pada akhirnya, keukeuh puisi adalah ini bukan itu. Yang lebih parah lagi, ada yang menyatakan diri dengan sangat pede bahwa "SAYA PENYAIR". Tapi, puisinya nol.


Jadi, sekali lagi saya katakan, semakin saya banyak menghafal pengertian puisi, saya semakin tidak bisa menulis puisi. Semakin saya banyak membaca buku puisi, saya semakin sulit mendefinisikan apa itu puisi. Semakin saya sering menulis puisi, semakin saya jadi bingung apakah yang sudah saya tulis sudah itu sudah puisi. Duh, belibet amat otak saya ini, Bray!


Kalau Saudara baca buku puisi saya—bisa Saudara unduh di sini (Tuhan dalam Tahun, 2014) dan di sini (Dandan Kawin, 2019) Saudara akan menemukan definisi saya tentang puisi saat itu. Mungkin besok, tahun depan, selama saya masih hidup, bisa jadi saat saya menulis buku puisi lagi, saya akan bilang bahwa puisi itu anu yang mengandung anu karena anu yang menjadikannya anu.


Sebagai bahan renungan apa itu puisi, barangkali Saudara bisa baca puisi Om Gusjur Mahesa berikut.



Mending Edan daripada Kebagian Korupsi


anjing goblog

ternyata teman makan teman itu ada

ternyata sodara minum darah sodara sendiri itu ada

ternyata seniman memeras keringat seniman lainnya itu ada

anjing goblog


sejak saat itu aku tak percaya lagi seniman

aku keluar jadi seniman dan memilih jadi edan



Definisi Partai


PARTAI berasal dari kata

PART dan TAI

PART itu bagian

TAI itu podol

 

podol itu waduk

waduk itu bohong

bohong itu rujit


Jadi partai itu

bagian dari…

rujiiit anyiiiing…




Di akhir tulisan singkat ini, saya serahkan kembali puisi kepada Saudara. 


Selamat berpuisi! Selamat berbahagia!





_____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di kolom ini.






Kirim karyamu ke

redaksingewiyak@gmail.com