Selasa, 12 Oktober 2021

Sosok Inspiratif | Muhammad Asqalani eNeSTe | Penyair Nyentrik

 


Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran, Paringgonan, 25 Mei 1988. Adalah seorang Youtuber di kanal Dunia Asqa. Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris - Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris di Smart Fast Education, serta menjadi mentor Kelas Puisi Online (KPO) di bawah naungan WR Academy. 1 Januari 2019 buku puisinya berjudul doksologi memenangkan Sayembara Buku Fiksi, Komunitas Menulis Pontang - Tirtayasa (Komentar) 2018.



Karyanya dimuat di media lokal dan nasional. Juga mengikuti beberapa kegiatan kesusastraan.


Buku puisi tunggalnya: Tangisan Kanal Anak-Anak Nakal (2012), Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas (2012), ABUSIA (2013), doksologi (2014), Anak Luka Susu (2015), Bimbilimbica (2016), Doa Orang Telanjang (2016), MANDELE (2017), Anglocita Nama Cumbu (2018), ULANG DOKON-DOKON NA HUDOKON-DOKONI, PALA DOKONKO NA HUDOKON-DOKONI (2020). Sedang mempersiapkan buku ke, 11, 12 dan 13 nya, masing-masing berjudul: Ungkapan-ungkapan Pendek untuk Kasih Sayang yang Panjang, Surat Kaleng Tersembunyi untuk Kekasih yang Lebih Fantastis dari Dongeng, Mengaku Idris.


Selain itu, ia pendiri dan pembina di Comunity Pena Terbang (COMPETER). Mengajar Kelas Puisi Online (KPO) bersama WR Academy. Mendirikan Asqa Imagination School (AIS), yang berkenaan dengan Puisi, Motivasi dan Terapi.


Kuy, kita berkenalan lebih jauh lagi dengan sosok penyair nyentrik ini. Berikut dialog santuy dengan Bung Asqalani.




1. Bro, kenapa kau memilih jalan untuk jadi penulis? 


Awalnya, terlalu banyak hal kesedihan, ketidaknyamanan, serta impian yang bersihimpit di kepala saya. 


Ketika akhirnya ada seseorang yang mengatakan, saya punya potensi menulis, saya pun memulai.


Karya-karya awal saya yang benar-benar saya alami yang tentang kehidupan, kehilangan dan kesunyian.


Tentang cinta. Saya hanya akal-akalan. Imajinasi saya saja, sebab saya tidak punya pacar haha.


Sekarang, saya menulis karena saya ingin memperbaiki diri dari dalam. Cara lain untuk diterima, berdamai, juga upaya saya menyuarakan apa-apa yang saya yakini benar, bukan apa yang dianggap semua orang benar.


Saya pikir saya akan terus menulis. Sebagai upaya mencari, kenapa saya dan orang-orang yang datang dan pergi, yang saya kenal dan tidak saya kenal, harus hidup.




2. Hal apa yang paling berat kau jalani sebagai penulis?


Melawan diri sendiri.


Sebab, semangat saat karya kita diterima, dimenangkan atau dibukukan, itu perkara gampang.


Namun saat kamu begitu semangat, ternyata kamu ditolak, itu bikin kaget dan mendadak capek, mendadak ingin berhenti.


Lalu diam-diam, saya hanya mengamati orang-orang menulis dan karya orang-orang diterima, dimenangkan, dibukukan.


Kadang-kadang, saya kembali kepada karya saya yang tidak diterima, tidak dimenangkan, tidak dibukukan.


Beberapa karena memang jelek. Saya jadi geli-geli sendiri, tertawa sendiri, tepok jidat sendiri.


Beberapa lainnya, menurut saya hanya perihal selera atau perihal tempat.


Karya-karya itu bisa dikirim ke tempat lain, tempat yang memang semestinya karya itu berterima.




3. Sudah berapa buku yang sudah kau hasilkan selama ini? Buku mana yang menurutmu paling mengesankan saat kau tulis? Mengapa harus buku itu?


Ada sepuluh buku. Buku doksologi adalah buku yang paling mengesankan. Buku itu saya tulis saat saya pengangguran, numpang di kontrakan teman, putus asa dan serasa gelandangan.


Saya tetap menjalankan perintah Tuhan sesuai keyakinan saya, tapi sebenarnya menurut saya, saya tak lagi memiliki agama. 


Entah kenapa, rasanya seperti "murtad", aneh saja rasanya dunia ini. Hampa, dan rusak, tercampakkan.


Doksologi hanya sebuah judul esai yang dimuat di surat kabar terbesar di kota saya. Kala itu yang tertangkap oleh saya adalah cara makhluk bertasbih kepada Tuhannya: batu dengan diam, angin dengan kesiur, daun dengan jatuh, dan semacamnya dan seterusnya.


Saya tanya penyair senior, boleh gak Mas buat buku 40 puisi saja?


Beliau bilang boleh.


Malam itu saya seperti kesetanan. Langsung saya kumpulkan, dan pukul 02 dini hari selesai.


80% memang puisi yang sudah dimuat media. Tapi menurut saya, inilah buku puisi yang jelek.


Saya tidak mengharapkan hal-hal baik mendatangi saya, sebab doksologi tak lebih kumpulan puisi-puisi jelek.


Begitu endors teman-teman selesai, saya terima dan saya baca, malah komennya bagus-bagus. 


Saya tiba-tiba semangat.


Begitu pula saat guru saya Cecep Syamsul Hari memberi Catatan Penutup, kok dia nulis sekeren itu ya? Apa benar puisi saya bagus?


Lantas, buku dicetak. Dua orang teman saya kaget. Satu kakak angkat saya, pendidikannya setingi-tinggi langit, dia bilang: eh, kenapa doksologi? Itu kidung agama Yahudi dan Nasrani loh.


Satu lagi adik angkat saya, Kak loe mabuk atau apa nulis buku judulnya doksologi? Lu tahukan apa makna yang kamu tulis?


Saya cuma bilang, gak apa-apa, tidak ada yang perlu diubah. Buku itu adalah penanda, saya pernah tidak percaya Tuhan. Buku itu bukti saya pernah di titik serendah itu. Senadir itu.


Buku itu masuk nominasi Anugerah Sagang tahun 2013. Dan menang kategori buku puisi di Komunitas Pontang-Tirtayasa.


Alamak! Ternyata ada juga yang menganggap puisi saya layak dimenangkan, haha....

 



4. Apa capaian yang belum kau raih sebagai penulis? Apa yang mau kau raih di masa mendatang?


Menang lomba buku puisi, diundang, berpidato, sehingga saya ingin berbagi rasa perih yang harus dilalui seorang penulis.


Saya juga ingin mendapat kesempatan resedensi penulis ke mana saja di luar negeri. Agar saya merasa keren bisa menginspirasi orang dan saat bersamaan saya ngobrol Bahasa Inggris ke mana-mana. Sebab saya alumnus Pendidikan Bahasa Inggris.




5. Apa yang ingin kau sampaikan kepada rekan-rekan penulis pemula yang barangkali sedang membaca dialog ini?


Menulis itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berani. Kalau kamu merasa takut, berhenti jadi penulis.


Menulis itu harus membaca. Kalau kamu mau menulis tapi gak mau membaca. Ke laut za dah, berenang dan berhayal nyampek ke seberang.


Menulis puisi harus berani berkhayal, aneh-aneh tidak apa-apa. Sebab pikiran manusia jauh lebih aneh di dasar jiwanya, hanya belum keluar saja. Jangan takut tidak diterima akal manusia, karena itu akan membuatmu lebih berani menjadi pribadi seperti apa pun yang kamu inginkan. 


Tinimbang pakai frasa-frasa basi milik orang lain, macam kau tidak punya kerjaan saja.



Medsos Asqalani

Facebook : Muhammad Asqalani Reborn 

IG : muhammadasqalanie

Youtube: Dunia Asqa





___

(Tukang nanya: Encep Abdullah)