Jumat, 12 November 2021

Dakwah | Kematian dan Persiapan Diri Menyambutnya

  Oleh Izzatullah Abduh, M.Pd.




Jika kita mengamati kehidupan dunia ini dengan saksama, maka kita dapati bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan memiliki batas waktu tertentu. Segala sesuatu yang ada di dalamnya akan sirna dan hilang. Termasuk kita selaku manusia, makhluk yang bernyawa dan bernapas, juga akan mengalami hal yang sama. Kita semua sejatinya akan mengalami kematian. Cepat atau lambat. Dengan sebab atau tanpa sebab. Datang tiba-tiba atau terprediksi. Kematian itu tetaplah kematian. Kedatangannya adalah suatu kepastian yang tidak bisa dielak dan ditangguhkan.



Seorang ahli syair Zuhair ibn Abi Salma dalam bait syairnya menuliskan,


و من هاب أسباب المنايا ينلنه ، و إن يرق أسباب السماء بسلم


"Orang yang berjuang lari menghindar dari sebab-sebab kematian, niscaya kematian tetap akan menghampirinya, meski pun ia berusaha berlari ke atas langit dengan tangga-tangga (yang dimiliki)."


Dan di dalam Al Qur’an, Allah subhanahu wata’ala berfirman,


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali 'Imran : 185)


Senada dengan ayat di atas, Allah juga berfirman,


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al-Anbiya' : 35)


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS Al-Ankabut : 57)


Syaikh As Sa’di rahimahullah di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat yang menginformasikan tentang kematian ini, sejatinya menjadi petunjuk bagi setiap hamba untuk hidup zuhud di dunia, mengetahui hakikat dunia dengan sebenarnya, bahwa ia akan sirna dan tidak kekal. Dan bahwa dunia dengan segala perhiasan dan harta benda di dalamnya hanyalah kesenangan sementara yang menipu, yang pada ahirnya akan berpindah tangan setelah kematian. Sedangkan yang mati, ia juga berpindah ke tempat yang lain yang di sana ia akan diadili sesuai dengan amalannya: kebaikannya dan keburukannya.


Kematian itu sangat berbeda dengan penyakit. Kalau penyakit, ia bisa dihindari dengan mengaplikasikan pola hidup sehat, berolahraga, makan-minum yang cukup, dsb. Dan jika penyakit itu menimpa, maka bisa diobati dan disembuhkan (dengan izin Allah). Sedangkan kematian, maka ia tidak bisa dihindari dan dielak, meski sekuat apa pun kita berusaha menghindarinya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,


أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ


“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (QS An-Nisa' : 78)


قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ


"Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'.” (QS Al-Jumu'ah : 8)


Dan apabila kematian telah datang merenggut nyawa, maka tidak ada yang bisa mengobati. Allah subhanahu wata’ala berfirman,


كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِيَ، وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ، وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ


“Tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa yang dapat menyembuhkan?' Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia).” (QS Al-Qiyamah : 28)


Dan Allah subhanahu wata’ala menegaskan di dalam firmanNya,


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ


“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS Al-A'raf : 34)


Setelah kita mengetahui akan kepastian datangnya kematian, maka hendaknya setiap kita selalu mawas diri di dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kita jadikan kematian sebagai nasihat terbaik. Sahabat Anas radiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati sekelompok orang yang sedang duduk-duduk sambil tertawa ria, beliau pun bersabda,


أكثروا من ذكر هادم اللذات المو


"Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kenikmatan. Yaitu kematian.” (Shahih Targhib wat Tarhib)


Dan dalam hadis yang lain, beliau pernah bersabda


لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثير


"Kalau sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis.” (HR Bukhari)


Demikianlah anjuran dari sang suri teladan supaya kita selaku umatnya banyak mengingat kematian, agar tidak terlalu bereuforia di dalam kegembiraan terhadap kenikmatan dan kelezatan dunia, yang sejatinya hanyalah sementara dan akan sirna.


Dan sahabat Al Barra radiyallahu ‘anhu menceritakan, “Dahulu kami pernah bersama Rasulullah mengiring jenazah, kemudian beliau duduk di samping kubur dan menangis sehingga tanah yang di bawahnya basah (oleh tetesan air matanya), lalu beliau bersabda,


"Wahai saudara-saudaraku sekalian, untuk yang seperti inilah hendaknya kalian mempersiapkan diri.” (HR Ibnu Majah)


Lalu bekal apakah kiranya yang perlu dipersiapkan untuk menyambut kematian?


Sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib radiyallahu ‘anhu pernah mendatangi pemakaman kubur, beliau pun berseru,


يا أهل القبور، يا أهل الضيق والوحدة، يا أهل الظلمة والوحشة! أما الديار فقد سكنت، وأما الأموال فقد قسمت، وأما النساء فقد نكحت هذا خبر عندنا، فما خبر عندكم؟ )فالتفت إلى أصحابه فقال ) أما إنهم لو أذن بالكلام لقالوا إن خير الزاد التقوى


"Wahai para penghuni kubur, wahai para penghuni tempat yang sempit dan sepi, wahai para penghuni tempat yang gelap dan mengerikan! Rumah-rumah yang kalian tinggalkan telah ditempati orang lain, dan harta-harta kalian telah dibagikan kepada ahli waris, dan istri-istri kalian telah dinikahi oleh lelaki lain. Inilah kabar yang kami dapati setelah kalian meninggal, maka bagaimanakah kabar kalian di dalam kubur?” Beliau kemudian menoleh kepada kawan-kawannya, lalu berkata, “Sungguh, jikalah sekiranya mereka bisa menjawabi, niscaya mereka akan berkata, “sesungguhnya sebaik-baik bekal (untuk hari ini: kematian) adalah ketakwaan.”


Dan Syaikh Misyari al Kharaz hafizhahullah di dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan,


"Sejatinya husnul khotimah bukanlah berarti Anda harus wafat dalam keadaan sujud atau rukuk atau membaca Al-Qur’an dan atau yang lainnya. Tetapi cukuplah Anda dikatakan husnul khotimah tatkala Anda wafat dalam keadaan sebagai seorang Muslim yang berserah diri kepada Allah ‘Azza wajalla.”


Apa yang diungkapkan di atas termaktub dalam firman Allah subhanahu wata’ala, yang mana Allah wasiatkan kepada kita orang-orang yang beriman,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS Ali 'Imran : 102)


Bekal terbaik untuk menyambut kematian dan atau wafat dalam keadaan husnul khotimah adalah istiqamah di atas ketakwaan dan Islam.


Dan di antara tanda-tanda seseorang akan meraih keematian yang baik yakni husnul khotimah adalah ia dimudahkan oleh Allah di dalam mengerjakan amal-amal shalih sebelum datang ajal kematiannya, yang mana hal tersebut menunjukan akan bagusnya nilai takwa dan Islam pada dirinya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


إذا أراد الله بعبده خيراً استعمله

قالوا : كيف يستعمله ؟

قال : يوفقه لعمل صالح قبل موته


"Apabila Allah menghendaki kebaikan (husnul khotimah) bagi seorang hamba, niscaya Allah akan memperkerjakannya.”


Para sahabat bertanya, “bagaimanakah Allah memperkerjakannya?!”


Beliau bersabda, “yaitu Allah memberinya kemudahan untuk beramal shalih sebelum kematiannya.” (HR Ahmad)


Dan beliau juga bersabda,


الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ


”Orang yang pandai adalah ia yang pandai menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.” (HR Ahmad)


Pada akhirnya, sebagai orang yang beriman, maka kita tidak boleh berhenti beraktivitas menghambakan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Baik penghambaan dengan ibadah ritual maupun penghambaan dengan mempraktikkan nilai-nilai ajaranNya dan RasulNya dalam keseharian hidup.


Allah subhanahu wata’ala berfirman,


وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ


“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS Al-Hijr : 99)


Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.




___

Penulis


Ust. Izzatullah Abduh adalah Imam Masjid Andara, Cinere.







Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com