Jumat, 17 Desember 2021

Cerpen Ma'rifat Bayhaki | Senggarow

 Cerpen Ma'rifat Bayhaki



Senggarow dan seluruh keluarganya berkumpul untuk merundingkan nasib perkawinan yang sudah ditentukan. Maskawin yang disyaratkan pihak perempuan menjadi perdebatan panjang malam itu. 


“Perkawinan itu bentuk penyatuan dua keluarga yang diikat sumpah dan disaksikan oleh Tuhan. Maskawin yang disyaratkan tak akan mengubah kesakralan ikatan cinta dua calon pengantin,” Rasman—Paman Senggarow berkata di tengah kegelisahan keluarga yang berkumpul.


“Syarat perempuan itu harus bisa dipenuhi pengantin lelaki sebagai bukti kejantanan dan mempertegas martabat. Apa kata orang, jika anakku berhasil mengawini Lipah, tapi gagal memenuhi syarat. Bisa hancur martabat anakku dan seluruh keluarga kita,” ujar Abah Senggarow. 


“Sepuluh bulan lagi perkawinan Senggarow akan dilaksanakan dan perkawinan itu tak boleh tertunda. Sebab waktu yang sudah ditetapkan dan didoakan kepada Tuhan adalah kesakralan yang pantang untuk diingkari. Jika penetapan waktu pernikahan itu berubah, hilang sudah harapan baik yang dipanjatkan,” ujar Laetamae—Bibi Senggarow. 


“Aku punya saran untuk masalah ini, bagaimana kalau Senggarow ikut denganku ke kota. Di sana Senggarow aku titipkan bekerja menjadi buruh di pelabuhan atau di pasar ikan milik temanku. Nanti, uang yang didapatkan bisa dibelikan maskawin yang disyaratkan,” Darip—Paman Senggarow yang sudah berpindah ke pinggiran kota memberi saran. 


“Kau ini bukannya meyelesaikan masalah, malah memberi masalah baru!” ujar Abah Senggarow. 


“Sulit sekarang mencari ikan di laut, barangkali saudara-saudaraku tahu, jika ikan-ikan itu banyak berkembang biak di teluk—tempat dulu kita bersama-sama menebar jala, menarik mata kail dengan layang-layang yang diterbangkan, memancing cumi dengan umpan sikat gigi bekas, dan sekarang kita tak bisa melaut di tempat itu lagi. Sebab telah disulap menjadi pertambangan pasir dan jalur kapal-kapal besar penarik tongkang. Apalah daya nelayan kecil seperti kita ini selain mengelus dada,” ujar Rasman.

 

“Maskawin yang disyaratkan harus hasil jeratan calon pengantin laki-laki, sebagai bukti kedewasaan, kemahiran, dan kemampuan calon pengantin mengarungi kehidupan secara mandiri. Jika maskawin yang diserahkan bersumber dari transaksi darat, bukan hanya makna yang berubah, tapi keburuntungan bisa jadi sirna. Aku tak mau anakku menjadi pecundang atau dipecundangi oleh kapal-kapal besar itu,” ujar Abah Senggarow sembari mengembuskan asap kretek ke udara dengan mata yang nyalang. 

 

“Tapi tunggu Abah. Sepertinya Senggarow tertarik dengan ajakan Paman Darip. Sebab sulit menjerat ikan di laut akhir-akhir ini, sedangkan perkawinanku sebentar lagi akan dilaksanakan. Masalah kemandirian aku sudah layak Abah. Ini bukan soal mampu tidaknya menjerat ikan, tapi karena kapal-kapal besar itu telah membawa musim pailan berkepanjangan, dan merebut tempat berlayarku Bah. Kalau aku tetap memaksa melaut, aku takut tak sampai pada waktu yang ditetapkan,” ujar Senggarow dengan mata yang menajam ke arah sang Abah. 

 

“Itu sangat berbahaya! Dan tidak ada jaminan kau selamat atau mendapatkan uang untuk maskawinmu di kota. Bukan hanya itu, kau pun telah berbuat curang dalam perkawinan ini,” Abah Senggarow mencoba mengajak anaknya untuk berpikir panjang. 

 

“Aku bisa menjamin keselamatan Senggarow selama di kota. Aku pastikan Senggarow akan membawa uang banyak yang bersumber dari laut,” ujar Darip. 


***


Genap sepuluh tahun pelabuhan itu hadir bersama kapal-kapal besar, tongkang, jangkar, dan tetesan minyak yang menaburi lautan. Senggarow yang sekarang berusia dua puluh tiga tahun, harus memaksa lengannya mengayuh dayung tiga kali lebih lama hanya untuk menemukan seekor ikan atau biota laut lainnya. 

 

Program pemerintah yang mengupayakan kemajuan, kesejahteraan, masyarakat nelayan tradisional membuat kepala desa semakin bungkam dan menutup rapat-rapat pintu ruang kerja dari kebingungan masyarakatnya. Sedangkan saudara dan teman-teman Senggarow terpaksa memilih mengikuti program paket pendidikan yang akhirnya menggiring mereka bekerja dan bertempat tinggal di rumah deret pinggiran kota. Mereka meninggalkan rumah-rumah bilik, anyir laut, perahu, lumpur, kepiting, terumbu karang, ikan-ikan, kail, bakau, dan jala yang biasa mereka jahit sisi-sisi yang putus dan sobek setiap menjelang matahari terbenam. Mereka tak lagi mengawinkan anak-anaknya dari hasil laut, mereka benar-benar mulai meninggalkan segala warisan keterampilan, budaya, dan gaya hidup orang laut. 

 

Senggarow yang masih setia dengan anyir air laut terus berkutat dengan nasib. Saban pagi ia mengayuh dayung di bawah terik matahari yang membuat rembas pakaiannya. Jala ditebar, kail dilempar, berharap banyak ikan yang terjerat. Namun, ikan-ikan itu seperti menghilang tegusur oleh turbin-turbin kapal yang kencang memutar dan jangkar-jangkar besar yang dijatuhkan di atas karang. Senggarow hanya bisa termangu di buritan perahunya yang bergoyang-goyang oleh gelombang kiriman kapal-kapal besar yang lalu lalang, sembari menarik benang-benang jaring dan kail, kemudian menebar-lemparkannya kembali. 


***


Beberapa bulan bekerja di ibu kota, Senggarow mendapatkan banyak sekali pengalaman baru di dalam hidupnya. Bukan hanya tentang dayung, kail, jala, ikan, laut, lumpur, tapi lebih dari itu. Ia bisa mengetahui bagaimana rasanya naik kereta, bus trans, melihat kerlap-kerlip lampu perkotaan, keliling mal yang disesaki perempuan cantik berpakaian unik yang membuat berahinya naik. 


Senggarow yang bekerja sebagai buruh bongkar muat ikan di teluk ibu kota, awalnya malu-malu dan tertutup. Ia jarang berbicara dan langsung pulang ke kontrakan seusai bekerja. Tapi, perlahan Senggarow mulai beradaptasi dan terbuka. Ia jadi sering berdialog, bercanda, membicarakan perihal apa pun saat istrahat bersama teman sepekerjaannya. Mulai dari obrolan upah, bos yang culun, mencuri ikan, sampai janda-janda penjual kopi yang bertebaran di pelabuhan. 

 

Warung kopi Karmela menjadi tempat langganan Senggarow dan teman-temanya nongkrong saat istirahat atau seusai bekerja. Senggarow acapkali melihat teman-temanya dengan santai menggoda dan tak jarang menyentuh tubuh Karmela sembari tertawa memikat. Pemandangan itu perlahan mulai mengganggu pikiran Seggarow yang tengah menahan rindu pada calon bininya. 

 

Suatu sore, Senggarow tengah beristirahat di amben warung Karmela setelah seharian menguras tenaga. Sore itu sepi, lengang, tidak seperti biasa ramai orang lalu lalang. Karena tak ada lawan bicara, Senggarow hanya termangu membayangkan wajah Lipah dan beberapa momen percumbuannya sebelum pergi ke ibu kota. 

 

“Sudahlah bang Garow kalau ada masalah tak usah dilamuni, tidak akan memperbaiki keadaan. Lebih baik bang Garow nikmati saja kehidupan yang ada,” ujar Karmela dari dalam warung yang membuyarkan lamunan Garow, “Bang Garow mau aku buatkan kopi, susu, atau jahe?” sambung Karmela.

 

“Boleh deh kopi satu Neng,” ujar Senggarow sembari melengos ke arah tubuh Karmela yang memakai daster dan rambut kunciran.  

 

Beberapa waktu kemudian Karmela membungkuk sembari meletakan secangkir kopi di sisi Senggarow. Karmela pun duduk di sisi Senggarow dan memulai percakapan-percakapan kerinduan, kenelangsaan mereka masing-masing. Percakapan itu membetot kemurungan pada seri senyum dan tawa yang terbahak-bahak. 


Sejak saat itu hubungan Senggarow dan Karmela menjadi lebih dekat. Tidak sekadar penjual kopi dan pelanggan. Kedekatan itu terus merekahkan rasa nyaman, tenang, bahagia, pada diri mereka yang tengah terlempar di perantuan.  


***


Bulan depan Senggarow sudah harus pulang, uang yang ia kumpulkan sudah cukup untuk membeli maskawin yang disyaratkan. Senggarow sangat bersemangat dan berbahagia menyongsong waktu kepulangannya. Bukan hanya mejemput pujaan hatinya yang telah ia tinggal beberapa bulan, tetapi mata kail, geladak perahu, dan jala yang selalu ia jahit setiap sore. Akan tetapi, saat ia hendak beranjak pulang tersebar informasi jika pemerintah setempat memberlakukan kebijakan karantina wilayah. Mal, pasar, sekolah, semua ditutup, dengan alasan keselamatan seluruh masyarakat dari pandemi yang tengah melanda seluruh negeri. 

 

Senggarow yang terjebak di ibu kota kebingungan. Saat ia hendak kembali ke pelabuhan, ternyata semua aktivitas diliburkan karena alasan keselamatan dari pandemi. Senggarow akhirnya terpenjara di tempat ini tanpa jaminan makan dan biaya kontrakan. Senggarow yang mengantisipasi bekal uang pernikahanya habis, memutuskan pergi ke kontrakan Karmela. Senggarow berharap dengan tinggal berdua, biaya hidup selama penantian karantina ini lebih sedikit. Karmela yang kehilangan pelanggan dan harus membayar cicilan hutang ibunya di kampung akhirnya menyutujui inisiatif Senggarow. 

 

Hari pertama, kedua, ketiga, kehidupan Senggarow dan Karmela biasa-biasa saja. Mereka memasak bersama, berpikir bersama untuk lepas dari jeratan masalah ini. Hingga datang suatu waktu, mereka berdua jenuh, karena tak ada aktivitas yang mereka kerjakan. Kejenuhan itu memantik, membetot berahi Senggarow dan Karmela. Awalnya mereka sanggup menahan betotan berahi itu. Tetapi karena pikiran yang semakin kalut karena ketidakjelasan berakhirnya karantina wilayah, sedang Senggarow harus pulang untuk menikah dan Karmela harus segera membayar hutang ibunya di kampung membawa depresi yang begitu berat dan membetot mereka pada arena pergumulan badan yang terus mereka lakukan sembari menanti karantina wilayah dicabut. Hingga suatu waktu di tengah penantian, Karmela mual-mual yang janggal. 


Ciruas, Juni 2021




_____

Penulis

Ma’rifat Bayhaki dilahirkan di Pesisir Utara Banten pada 5 Juni 1998. Beberapa cerpennya pernah menjuarai lomba dan dimuat di beberapa media, di antaranya Republika, Majalah Kandaga, Simalaba, dan yang lainnya. Gemar membaca buku sejarah, sastra, dan filsafat. 







Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com