Minggu, 19 Desember 2021

Esai Ray Ammanda | Penulis Tak Sepopuler Penyanyi

 Esai Ray Ammanda



Usai membaca buku di pagi hari, saya membuka YouTube, iseng-iseng scrool mencari konten. Ada satu video peserta X Factor Indonesia yang sepertinya menarik. Saya klik. Saya tonton hingga selesai. Wow, ternyata benar, fantastis!

Nama kontestan itu Danar Widianto, pemuda 18 tahun asal Purwokerto, Jawa Tengah. Lewat lagu berjudul "Dulu", hasil dari buah karyanya sendiri, Danar tampil memukau dengan perpaduan petikan gitarnya. Kendati kreasi lagunya cukup simpel, tetapi substansi isinya begitu mendalam. Penggalan liriknya juga tertata menarik. Saya dibuat terhipnotis ketika menontonnya. Wajar saja sejak video penampilannya tersebut diunggah 13 Desember 2021 di kanal YouTube X Factor Indonesia hingga 19 Desember 2021, jumlah pengunjungnya sudah tembus di angka 13 juta. Gila! 

Sebagai seorang yang bergelut dalam bidang kepenulisan, saya kemudian berpikir sejenak. Wah, betapa enaknya mereka yang memilih jalan karier sebagai penyanyi. Banyak seribu satu cara untuk lebih populer, baik nama maupun karyanya, ketimbang kami para penulis. 

Dalam kasus melejitnya nama Danar, kendati dia tampil dengan hasil buah karyanya sendiri, hanya dengan (satu) kali tampil dipanggung X Factor Indonesia, dia sudah bisa mengguncang para pendengar jagt musik Indonesia, terutama di YouTube. Lah, sedangkan para penulis, kendati berhasil memenangkan ajang kompetisi kepenulisan tersohor sekalipun, tetap saja euforianya tak seheboh dengan mereka para penyanyi. Lihat saja kasus Danar itu. Padahal dia penyanyi pendatang baru. Untuk ukuran penulis, palingan populernya hanya kalangan tertentu saja. Sementara seorang penyanyi punya peluang besar dikenal khalayak. Coba saya tanya, siapa yang tak kenal Rhoma Irama dengan sederet lagunya? Coba Anda bandingkan dengan penulis Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka-nya?

Apalagi model penulis macam saya, yang terbilang masih bau kencur, tentu harus berjuang sampai keringat mengucur untuk bisa dikenal. Bahkan, sekelas penulis yang sudah terbilang mentereng namanya di media nasional, saya rasa tetangga samping rumah saya tidak kenal mereka. Tampaknya, seorang Fiersa Besari sudah menyadari fenomena demikian. Melalui medium kanal YouTube-nya, dia terbilang cukup berhasil menarik perhatian banyak kalangan lewat kreasi karya tulisan dari bukunya sendiri yang dikemas dalam sebuah bentuk audio-visual. Patut kita tiru!

Tak hanya d isitu. Penyanyi zaman sekarang juga bisa mudah populer hanya dengan bermodal meng-cover lagu orang lain. Bisa kita lihat, seorang Tri Suaka, penyanyi yang memulai debutnya lewat salah satu tempat Angkringan Pendopo Lawas di Yogyakarta itu, bisa menjadi publik figur hari ini lewat wasilah cara tersebut. Kepopuleran namanya terus melesat. Meskipun, harus tetap kita akui, cara menyanyikannya memang dengan gaya dan karakter khas suaranya sendiri.

Sementara, untuk kami para penulis, meng-cover karya penulis lain tidak terlalu berdampak pengaruhnya. Misalkan seorang penulis pemula dalam setiap tulisannya selalu mencomot kata-kata tertentu dari buku hasil pikiran orang lain. Apakah dengan mengutip itu penulis pemula tersebut langsung terdongkrak namanya? Kan tidak. Sebab yang saya tahu, penulis hebat dan populer biasanya besar dengan karya yang memiliki karakter khasnya sendiri, hasil buah pikiran dan perenungannya sendiri, serta keluasan pengembaraan referensi dan pengalaman yang dijalaninya sendiri.

Kemudian, jalan lain yang bisa ditempuh seorang penyanyi untuk bisa meningkatkan kepopulerannya juga bisa melalui tampil dari panggung ke panggung. Salah satu contoh nyata adalah penyanyi dangdut cantik Via Vallen. Berkat jam terbangnya diberbagai panggung "kecil" seperti acara hajatan di kampung-kampung dan ditambah ia sudah bisa menembus jagat panggung musik nasional, Via Vallen hari ini bak seorang Ratu Dangdut. Siapa ibu-ibu, bapak-bapak, akang-teteh, akhi-ukhti sekalian yang tak kenal seorang Via Vallen?

Sedangkan kami para penulis, meskipun bisa tampil dari panggung ke panggung, jelas bakal memerlukan waktu yang lebih lama. Audiensnya pun terbatas. Masa bedah buku di meriahkan seperti layaknya sebuah konser musik? 

Padahal bila kita pikir-pikir, menjadi penulis atau pun penyanyi sama saja. Sama-sama berbagi pikiran. Berbagi pengalaman. Juga, berbagi kebermanfaatan. Tapi kenapa peluang kepopuleran penyanyi lebih tinggi ketimbang penulis di negeri Indonesia tercinta kita ini? Sekali lagi, kalaupun bisa terkenal, ya terbatas.

Akhirny, saya merenung dan menemukan jawaban. Barangkali, dengan keterbatasan itu, posisi penulis saya kira malah menemukan posisi istimewanya. Terkenal bukan menjadi hal yang paling utama. Musabab, hakikatnya, menjadi penulis adalah pertimbangan pikiran, pertarungan penghayatan, pergulatan pengamatan, serta analisis kritis dalam mengurai masalah dalam menemukan jawaban atas setiap permasalahan. Soal terkenal, mungkin dianggap sebagai bonus. Dan hal tersebut, menurut saya, tidak terlalu dipikul bebannya oleh sebagian mereka yang memilih jalan menjadi seorang penyanyi. Buktinya, banyak lagu populer yang sekadar cuma hiburan, tapi tidak mencerdaskan.

Pontang, 16 Desember 2021





___
Penulis

Ray Ammanda, penulis buku Suluh Literasi yang diterbitkan oleh Penerbit #Komentar dan akan diluncurkan Januari 2022.










Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com