Jumat, 07 Januari 2022

Cerpen Finka Novitasari | Lamborghini dari Pak Camat

Cerpen Finka Novitasari




“Ragumu, rugimu!” tegas Pak Camat berapi-api saat memberikan penyuluhan terkait pengembangan bisnis pedesaan di wilayahnya.


Kemudian, disambut meriah oleh warganya. Ada yang bertepuk tangan, meneriakkan yel-yel, dan mengagungkan nama Pak Camat. Demam investasi merebak. Kecamatan Pagutan dipenuhi pelaku bisnis. Entah tua atau muda, semua berbondong-bondong berinvestasi di bisnis Pak Camat. Pak Camat gembar-gembor mengampanyekan investasi kepada para petani, sebab ini adalah salah satu program kerjanya untuk menumbuhkan jiwa wirausaha kepada warganya.


Seperti yang sudah-sudah, siapa pun yang ingin menginvestasikan uangnya di bisnis Pak Camat, diwajibkan menyetor uang minimal lima juta rupiah. Nantinya setelah setahun uang tersebut baru bisa diambil dan menjadi dua puluh juta. Makin banyak yang diinvestasikan, makin banyak keuntungan yang akan didapatkan. Pak Camat selalu menegaskan bahwa dalam bisnis ini tidak ada risiko rugi. Semua dijamin untung seratus persen.


Tidak hanya itu, Pak Camat menjanjikan mobil Lamborghini bagi yang berada di level platinum. Warga yang mayoritas petani itu, rata-rata hanya tamatan SD. Mereka taktahu apa itu level silver, gold, dan platinum seperti yang sering diucapkan Pak Camat. Tetapi yang pasti, dalam pikiran mereka hanyalah ingin cepat-cepat kaya dan memiliki harta berlimpah.


“Orang pintar yang malas, akan kalah dengan orang gaptek yang rajin,” lanjut Pak Camat.


Tidak ada yang tahu, bisnis apa yang sedang dijalankan oleh Pak Camat. Toh, siapa yang peduli. Tidak ada yang mau tahu juga, yang penting mereka akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat serta Lamborghini yang telah dijanjikan Pak Camat bila syarat-syaratnya sudah terpenuhi.


Ada yang menjual ternak, sawah, hingga menggadaikan BPKB motor demi ikut investasi di bisnis Pak Camat. Bahkan, orang-orang yang ikut investasi dengan Pak Camat takmau lagi bila disebut sebagai petani. Bila ditanya pekerjaan, mereka akan menjawab "investor", sedangkan menjadi petani hanyalah pekerjaan sampingan. Selama ini, petani di Kecamatan Pagutan selalu mengeluh akibat persediaan pupuk yang langka, gagal panen, dan harga-harga yang melambung tinggi. Tetapi, kini mereka sudah tidak memikirkan itu semua. Sebab, bayangan pupuk langka, gagal panen, dan harga-harga melambung tinggi sudah teralihkan oleh kekayaan yang akan segera mereka dapatkan.


“Nanti kalau saya dapat Lamborghini, saya mau menyembelih kambing untuk syukuran,” ucap Martono sepulangnya dari penyuluhan di kantor kecamatan.


“Itu pasti, Pak. Makanya jangan ragu, Bapak cepat investasikan uang Bapak di bisnis Pak Camat,” balas Suloyo, tetangga Martono satu desa yang notabenenya sekretaris kecamatan.


“Iya, saya mau jual sawah yang dekat musala itu sama jual beberapa kambing,” ujar Martono dengan antusias.


Hari-hari Martono membayangkan memiliki mobil Lamborghini. Brosur yang ia dapat saat prospek dengan Pak Camat tempo lalu ditempel di kamar tidurnya. Setiap kali hendak tidur maupun saat bangun, pikiran Martono akan langsung tertuju pada mobil Lamborghini.


***


“Bukannya ini sudah setahun, ya kita investasi sama Pak Camat?” tanya Rosid saat berjaga di Pos Ronda.


“Iya ya, berarti kita sudah bisa ambil uang kita dong, Pak Sul?” timpal Agus mengarah pada Suloyo yang juga bertugas ronda malam ini.


Suloyo tercekat. “Anu, saat ini Pak Camat sedang ada urusan di luar kota.”


Agus dan Rosid saling pandang.


“Bagaimana nasib uang kita, Pak Sul?” Martono angkat bicara.


Suloyo terdiam. Dirinya masih sibuk memainkan ponselnya. Gerak jarinya lincah di layar gawai. Martono, Rosid, dan Agus menunggu. Sesaat setelah Suloyo memencet tombol keluar dari aplikasi perpesanannya ia menjawab, “Begini ya Bapak-Bapak, dalam bisnis pasti ada untung dan ruginya. Saya aja menginvestasikan uang saya senilai lima ratus juta,” Suloyo menjeda ucapannya. Beberapa warga tadi memelotot tajam mendengar nominal yang disebutkan Suloyo. “Sampai sekarang saya belum dapat apa-apa. Tapi saya biasa aja. Intinya sekarang kita berdoa, semoga Pak Camat segera selesai urusannya, dan uang kita segera balik,” tukas Suloyo.


Esoknya, pagi-pagi sekali Suloyo mendatangi rumah Martono. Langkahnya tergesa sambil mengapit beberapa map.


“Selamat ya, Pak Martono, sampeyan bisa mendapatkan satu unit Lamborghini,” ujar Suloyo sesampainya di sana.


Air muka Martono semringah. “Ini beneran, Pak?”


“Betul, Pak, tapi ada syaratnya,” lanjut Suloyo.


Dahi Martono mengernyit. “Syarat?” tanyanya.


“Begini, sampeyan bisa dapat Lamborghini kalau mau investasi lagi dua puluh lima juta.”


Tanpa pikir panjang, Martono langsung mengiyakan persyaratan yang diajukan Suloyo. Meski harus menggadaikan sertifikat rumah, Martono mantap menginvestasikan uangnya di Pak Camat. Toh nantinya ia akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat, pikirnya. Ucapan selamat tak henti-hentinya diberikan untuk Martono. Namanya seketika masyhur di Kecamatan Pagutan. Seseorang yang notabenenya petani ulung itu, akhirnya bisa mewujudkan mimpinya membeli mobil Lamborghini, akibat mau menjalankan bisnis binaan Pak Camat.


***


Acara penyambutan mulai dipersiapkan. Rencananya, Martono akan mengadakan syukuran atas keberhasilannya menjalankan bisnis. Hal ini juga bertujuan untuk memacu semangat warga lain yang belum berhasil agar bisa seperti dirinya. Di belakang, orang-orang sedang menyembelih kambing—sesuai janji Martono tempo lalu. Ada pula yang menata kursi serta panggung kecil untuk Martono menyampaikan sepatah dua patah kata. Janur kuning dihias bak acara kawinan di pagar rumah Martono. Baliho selamat datang tidak luput dipajang di depan rumah.


Martono tidak sabar menyambut mobil barunya. Matanya taklekang menatap ujung jalan. Sebab, dari sanalah nantinya Lamborghini-nya datang. Ia dan orang-orang yang rewang di rumahnya belum tahu, di saat mereka sibuk mempersiapkan acara syukuran, sebuah kabar tidak disangka-sangka terjadi. Dini hari tadi, Suloyo dan Pak Camat kedatangan tamu yang akan menjemput mereka untuk dimintai keterangan.


***


KOMPAK Yogyakarta, Agustus 2021



_____

Penulis 

Finka Novitasari, mahasiswi Manajemen Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak dan media daring. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com