Jumat, 14 Januari 2022

Cerpen Julie Binjie | Wabah

Cerpen Julie Binjie 



Aku tidak tahu bagaimana satu wabah diciptakan Tuhan. Apakah Ia ingin menguji sedikit saja rasa damai dan tenteram yang ada pada umat-Nya? Bukankah ironi yang terjadi pada bumi ini? Dataran dengan puluhan ribu pulau, siraman matahari tak henti sepanjang tahun, hasil bumi yang selalu berlimpah, dan penduduk yang tak bosan menebar senyum. Bukankah jika ingin menurunkan wabah, Tuhan bisa memilih belahan bumi lain: yang lebih sepi, lebih tandus, lebih sakit, agar tak banyak korban berjatuhan? Mungkin Tuhan sedang bercanda. Atau negeri ini sedang menerima kutukan? Tapi kenapa? 


***


Aku berlari sekuat tenaga kala Cak Karto memberi kabar anakku satu-satunya dilarikan ke balai kesehatan. Kalau kabar itu aku dengar sebulan lalu, aku mungkin tetap menyelesaikan urusanku di ladang. Istriku selalu dapat aku andalkan untuk hal-hal besar, apalagi sekadar membawa anakku yang panas ke balai kesehatan.


Tapi kali ini tak mungkin hanya karena panas istriku harus membawa Danis ke tempat orang memerlukan perawatan kesehatan itu. Sudah satu bulan terakhir sesuatu menghampiri anak-anak seusia Danis. Ia sudah memakan dua korban jiwa. Walau dengan rapi ditutupi, aku tahu setiap wajah yang aku temui di jalan memancarkan ketakutan dan kecemasan.


Saat tiba di rumah beberapa orang tetangga dekat sudah memenuhi halaman depan, mereka duduk di kursi dan sebagian lagi di teras rumah. Sayup isak tangis terdengar. Di kamar, apa yang mencemaskanku sejak dari ladang tadi terbukti. Istriku duduk di samping dipan dengan pundak yang bergerak naik turun. Sementara di atas dipan Danis terbaring terpejam. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan bintik-bintik merah.


***


Beberapa dusun tetangga juga digemparkan hal serupa. Radio setiap pagi menyiarkan berita hal yang sama. Aku sengaja tidak ke ladang pagi itu. Beberapa orang aku kumpulkan, mereka yang sudah menjadi korban atau target korban berikutnya.


"Kita harus menemui Kepala Dusun. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Sebelum semua menjadi korban dan terlambat," aku tidak memerlukan basa-basi lagi. Mereka yang hadir sudah mafhum akan niatku meminta pertemuan ini.


Sahut menyahut terjadi. Salah seorang dari mereka memberi tahu jika dusun sebelah Timur sudah meminta Kepala Dusun mereka untuk ke kota. Aku mengangguk dan memberi tanda kepada semua untuk segera berangkat.


Dalam perjalanan kami bertemu dengan Bu Muji. Dalam gendongannya, Gendis tampak tertidur, kulitnya pun dipenuhi bintik-bintik seperti yang dialami anakku di rumah. Tanpa perlu kami tanya wajah cemas Bu Muji sudah bercerita banyak. Langkahku semakin mantap menapak. Wabah ini tidak bisa dianggap remeh. Jika terus dibiarkan, bisa punah generasi penerus desa kami, di Bringinbendo ini.


Sesuai namanya, dusun kami dulu banyak ditumbuhi pohon berdaun lebat ini, menjadi bagian wilayah Sidoarjo, Bringinbendo menjadi wilayah agraris yang subur. Aku dan sebagian besar penduduk bertani atau menjadi buruh tadi. Saat musim kemarau, aku memilih menanam singkong. Dan seperti saat ini, kemarau panjang ditambah wabah yang tiba-tiba melanda.


Kepala Dusun tidak ada. Sejak wabah ini merebak tidak ada kabar yang kami terima darinya. Temanku yang bekerja sebagai Pamong Desa juga mengakui Kepala Dusun sudah beberapa hari tidak masuk kerja. Segala urusan administrasi ditangani oleh wakilnya.


Penjaga rumah dengan wajah masam membukakan pintu untuk kami. Pintu dia buka sedikit saja, seakan sengaja tidak membiarkan kami masuk. Dia tidak memberi kesempatan pada kami untuk bertanya lebih banyak tentang tuannya. Saat kami terdiam dengan terburu-buru dia menutup pintu. Aku menatap satu demi satu wajah dalam rombongan. Tatapan yang diartikan beragam oleh mereka.


Belum sempat salah satu dari kami berbicara, suara kentongan nyaring terdengar dari salah satu musala. Itu kentongan tanda bahaya. Tanpa menunggu komando, kami semua menyebar kembali ke rumah masing-masing.


***


Dusun senyap. Tidak ada yang berani keluar rumah. Hampir semua mengunci diri untuk menghindari sesuatu yang tidak dapat mereka hadapi. Berita yang tersebar simpang siur, tidak ada yang bisa menjamin kebenaran berita yang kami terima. Satu-satunya cara yang dapat kami lakukan untuk mengetahui situasi terakhir adalah dengan mendengarkan radio. Kami menerima dan menjalankan instruksi dari Pemerintah Pusat. Situasi ini, benar-benar membuat kami hampir putus asa.


Kondisi Danis belum ada perubahan. Badannya masih panas. Bintik merah di tubuhnya sudah menjadi luka sekarang. Dia mulai sering mengigau, memanggil nama teman-temannya. Beberapa yang dia panggil sudah lebih dahulu meninggalkan kami semua. Aku berpikir apakah roh Danis sebenarnya saat ini sedang bermain dengan teman-temannya yang sudah meninggal itu? Aku menepis jauh-jauh pikiran itu.


Kami semua menunggu. Seminggu sekali ada petugas kesehatan yang mengirimkan obat ke rumah-rumah di mana ada anak yang sakit. Mereka selalu datang dengan pakaian terbungkus rapat bak astronot. Hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang, menunggu.


Petugas kesehatan itu tak banyak bicara. Mereka tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami. Jawaban paling panjang yang dapat mereka berikan adalah, bahwa mereka hanya menjalankan tugas, tidak lebih. Mereka pun tidak mendapat informasi lain selain keterangan tentang obat-obat yang tidak boleh terlambat diberikan.


Aku geram dengan situasi ini. Entah siapa pemilik kendali, kabar yang tersiar serba tidak jelas. Pemerintah kota menunggu petunjuk dari pemerintah pusat. Sementara pemerintah pusat masih membisu. Dalam dua minggu ini pintu rumahku telah dua kali diketuk hanya untuk menerima undangan salat jenazah. Jika situasi tidak membaik, lama-lama dusun kami akan jadi dusun hantu, tak berpenghuni.


Setelah beberapa bulan berlalu, dusun sudah seperti kota mati. Suara yang terdengar hanya dari daun-daun yang menari diterpa bayu, dengan lembut menyapu apa pun yang dilaluinya, berdesir dengan tenang, seakan merasakan debar dan cemas yang bermukim dalam diri setiap makhluk bernyawa.


***


Aku sedang memilih singkong yang akan menjadi santapan kami hari itu. Beberapa bulan ini, hanya makanan ini yang dapat aku sediakan di rumah. Setidaknya nasibku lebih baik dari beberapa tetangga yang lain. Mereka hampir tidak punya apa-apa untuk dimakan. Kadang mereka harus meminta kepada saudara atau tetangga terdekat.

Suara penyiar di radio membuat tanganku terhenti. 


Terhitung tiga bulan sejak merebaknya wabah di seluruh negeri, telah memakan seribu seratus nyawa. Pemerintah terus memantau hasil penyelidikan dan menunggu vaksin yang saat ini masih dalam tahap pengujian.


Aku mendongak menatap langit. Gelombang awan itu kini berwarna kelabu. Wabah yang tersebar saat ini, merubah banyak hal. Ladang-ladang mulai tidak menghasilkan. Ladang yang mati, diikuti kepergian salah satu penghuni dari dari pemiliknya. Hari ini, aku melihat hasil singkong di ladangku menurun drastis.


“Mas, Danis!”


Suara cemas istriku terdengar. Ini waktuku, debar di dadaku menyisakan sesak dan marah.  


Sidoarjo, Januari 2022



_______

Penulis

Julie Binjie, beberapa kali meraih tiga besar lomba menulis cerpen tingkat nasional. Tulisannya termaktub dalam puluhan antologi bersama puisi dan cerpen, juga beberapa media seperti Mata Sastra, Medan Pos, Apajake Media, KPFM Samarinda. Menulis buku Meminjam Waktu (2020), Sunyi Ini Milik Siapa (2021). Siswi Kelas Puisi Online Angkatan 07, dimentori Muhammad Asqalanie eNeSTe, bergiat belajar di COMPETER (Community Pena Terbang), Kelas Puisi Alit (KEPUL), juga Kelas Menulis Simpel (KMS). Kini menetap di Sidoarjo.







Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com