Selasa, 08 Maret 2022

Proses Kreatif | Anda Tipe Penulis yang Begini Bukan?

 Oleh Encep Abdullah



Di luar sana, kadang banyak orang yang melihat saya kayaknya “wow banget” bisa bikin buku. Mereka kepo bagaimana sih biar bisa punya buku sendiri, baik diterbitkan penerbit mayor, indie, atau self publishing. Walaupun saya belum punya pengalaman diterbitkan di penerbit mayor, saya tetap tunjukkan jalannya. Kadang, anehnya, mereka tetap tidak bisa membuat buku karena beberapa hal. Tipe-tipe orang macam ini unik-unik.


Pertama, penulis fatamorgana. Dia adalah orang yang kepengin punya buku, tapi tidak pernah mencoba menulis, saya katakan TIDAK PERNAH MENCOBA. Atau, kalaupun ada yang mencoba menulis, setengah-setengah. Suatu hari, ada seseorang yang pernah WA saya--mungkin sudah pernah saya ceritakan dalam tulisan lain. Dia bilang bahwa dia mau menerbitkan buku. Saya jawab saja “Oke, kirim saja naskah, Mbak.” Saya kaget saat dia bilang, “Maaf, Kang, tulisannya belum ada. Masih ada di kepala. Tapi, mau saya terbitkan.” Saya pengin ketawa sebenarnya. Akhirnya, saya bilang, “Mbak lebih baik tulis dulu. Kumpulkan saja kalau memang sudah banyak. Setelah itu, kirimkan ke saya, nanti saya terbitkan.” Hebatnya, sampai sekarang tidak ada kabar lagi. Dia menghilang di makan hantu. 


Ada juga teman saya, guru, yang juga kepengin menulis dan punya buku. Saya kasih banyak teori, tapi dia tidak mau mempraktikannya sama sekali, sampai sekarang. Anehnya, dia masih sering minta diajarkan menulis, kepengin jadi penulis, dan punya buku. Ya, susahlah, Coy! Kecuali dia punya duit satu miliar, bayar tah eta: Ghost Writing.


Kedua, penulis perfeksionis. Dalam buku esai Budi Darma, dia bercerita bahwa ada seorang kawannya yang kepengin melahirkan buku—mungkin sudah pernah saya sampaikan juga dalam tulisan lain. Namun, di satu sisi dia bilang bahwa tulisannya belum sempurna seperti apa yang dia inginkan. Dia kepengin tulisannya itu maksimal. Saat menjadi buku, dia pengin bisa menjadi karya fenomenal. Boro-boro mau diterbitkan, kebanyakan revisi iya. Sampai mati, buku tak kunjung jadi. Untung kalau ada orang yang tak sengaja menemukan dokumennya sebelum atau selepas dia mati. Kalau tidak? Tulisannya ikut mati juga. 


Ketiga, penulis tak tahu diri. Penulis ini tidak mengerti tata bahasa, tapi sok mengerti, sok maksimal malah. Dia mengirimkan karyanya ke beberapa penerbit besar. Ngotot sekali pengin menerbitkan bukunya di sana. Penerbit mana yang mau dengan karya yang tata bahasanya hancur. Apalagi dia bukan artis. Dia bukan orang terkenal. Atau bukan publik figur. Tulisannya tidak layak di pasaran. Tidak memberikan sudut pandang yang berbeda. Tapi, dia tetap memaksa agar bisa tembus ke penerbit-penerbit mayor. Susah, Coy! 


Orang seperti ini, sengotot apa pun dia, tidak akan pernah bisa punya buku sendiri. Harusnya harus sadar diri. Lekas tobat. Pelajari dulu tetek bengek bagaimana cara menulis yang benar. Salah satu caranya dengan terus berlatih membaca buku, sebanyak-banyaknya. Baca buku-buku cerita atau buku-buku yang sesuai dengan apa yang mau ditulis. Pliss, jangan baca Wattpad! Penulis pemula biasanya kiblatnya ke sana. Padahal, di sana banyak loh yang asal tulis walaupun pembacanya banyak. Penulis pemula sering terjebak pada persoalan itu. Pembaca banyak bukan berarti baik untuk dibaca. Penulis pemula tidak tahu mana yang harus dia contoh sebagai bahan tulisannya. Mungkin ada beberapa penulis Wattpad yang tata bahasanya benar, tapi seberapa banyak penulis pemula yang tahu? Intinya, menurut saya, membaca di Wattpad tidak sama seperti membaca buku yang notabene sudah melalui jalur yang “cukup panjang”: dirapikan oleh editor. Dan, saya sarankan cari buku dari penerbit-penerbit mayor atau penerbit yang minimal tulisan dalam buku itu sudah ada “campur tangan” editor (profesional).


Terakhir, saya sebut penulis kere. Mungkin tulisannya tidak jelek-jelak amat. Tapi, dia ngotot pengin punya buku. Dia kirim ke penerbit mayor atau indie. Namun, ditolak. Satu-satunya cara adalah dengan mengeluarkan uang pribadi. Mungkin dengan cara dia ikut antologi berbayar atau menerbitkan sendiri melalui self publishing. Atau, kalau punya printer sendiri bisa nge-print sendiri. Dan kalau tidak mau capek, ya fotokopi sendiri dengan uang sendiri. Masalahnya, si orang ini tidak punya uang. Dan, dia masih ngotot pengin punya buku. Ya, susah, Coy! Penulis kere begini banyak kayaknya. Mungkin yang baca tulisan ini juga termasuk salah satu tipe terakhir ini. Pengin punya buku, tapi tidak punya kesanggupan finansial. Bahkan cetak satu halaman pun tidak mampu. Yo, wislah!


Oh, iya saya mau menambahkan satu lagi. Saya punya teman. Kemarin dia WA saya. Dia sering mengirim tulisannya kepada saya, bahkan dia punya tiga karya yang siap untuk dibukukan. Namun, dia dilema. Dia bilang, siapa yang mau beli buku saya? Saya bilang, ya mahasiswa. Mahasiswanya banyak. Tawarkan saja kepada mahasiswanya untuk beli. Dia bilang bahwa tak satu pun mahasiswanya yang mau membeli bukunya. Innalillahi. Padahal, kalau diterbitkan di penerbit besar, bisa. Tulisannya bagus, sudut pandangnya oke. Atau dia terbitkan dengan uang sendiri juga bisa, finansialnya sangat mencukupi. Sayangnya, dia bukan figur publik atau tokoh populer. Wong, dia pernah bikin buku beratus eksemplar dan buku-buku itu menumpuk di rumahnya, mungkin sudah dimakan rayap. Saya tidak mengerti dengannya. Apakah dia malas menjual atau tidak punya asisten pribadi untuk menjualnya. Yang saya tahu, kalaupun ada yang mau, bukunya hanya bisa dicerna oleh orang-orang terbatas. 


Ah, tipe seperti ini kira-kira disebut tipe penulis macam apa? Mohon bantu saya!


Kiara, 8 Maret 2022



_____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.