Selasa, 31 Mei 2022

Proses Kreatif | Perlukah Kita Ikut Bahagia Saat Melihat Rekan Penulis Bahagia?

 Oleh Encep Abdullah



Kabar-kabar menyenangkan datang di wajah saya beberapa hari belakangan ini. Ada M. Nanda Fauzan yang mewakili Banten dalam perhelatan Ubud Writers and Readers Festival di Bali 2022 ini. Meskipun ia yang ikut, saya turut senang. Saya juga tak paham. Padahal seharusnya saya kesal dan “benci”. Kenapa bukan saya yang masuk atau teman-teman komunitas saya? 


Bagaimana saya mau masuk, wong ngirim juga nggak. Sejak enam tahun lalu, sejak saya ke Bali (bukan acara Ubud), saya tak begitu minat lagi untuk berburu Ubud Writers and Readers Festival. Dulu sih kepengin banget. Apalagi beberapa tahun setelah rekan seperguruan, Wahyu Arya dan Niduparas Erlang, terpilih masuk Festival Ubud itu. Mendengar cerita-cerita mereka di sana, sepertinya sangat seru. Mungkin kalau saya tanya sekarang kepada kedua orang itu, pasti mereka akan menjawab “Ngapain sih ikut-ikutan?” Prediksi saya sih begitu jawaban mereka.


Beberapa tahun setelah kedua orang itu, ada Ade Ubaidil dan Aksan Takwin Embe yang masuk Ubud. Saya ikut bangga atas capaian mereka. Untungnya, mereka ke Bali setelah saya ke Bali duluan. Kalau mereka dulu, saya pasti panas. Meskipun saya dan mereka berbeda acara, tetap saja kegiatan saya dan mereka sama-sama kegiatan perhelatan kepenulisan. 


Betapa saya senang sekali saat melihat orang lain senang atas capaian dalam karier kepenulisan mereka. Siapa pun itu. Apalagi orang-orang yang dekat dengan kita. Orang-orang yang satu perjuangan dengan kita. Tak dimungkiri, meskipun itu bukan ukuran "sukses" setiap orang, sebagian orang akan merasa bahwa penulis yang mendapatkan kesempatan-kesempatan dalam silaturahmi macam itu, sangat beruntung. Kalau kau mau macam itu, tentu saja perlu dikejar, perlu ditarget. 


Menurut saya, targetnya tentu saja bukan terfokus pada acaranya, melainkan sejauh mana kita berproses menulis, berkreatif menulis, bertungkus lumus menulis di dalamnya. Saya kira, perhelatan untuk masuk ke sana bukan pertarungan ecek-ecek-- walaupun ada sebagian kawan bilang biasa-biasa saja. Yang saya tahu, dewan juri/kurator tidak melihat jabatan penulis, tidak melihat sepak terjang penulis atau kita yang menjabat sebagai penulis-konsultan tersohor. Mereka melihat dari karya. Benar-benar dari karya. Barangkali kita bisa mengukur sendiri sejauh mana karya yang kita tulis sebelum berkirim ke perhelatan ini. Sudahkah berbeda dengan kebanyakan yang orang tulis? Sudahkah rajin mengirim setiap tahun? Sudahkah …. Niat yang kuat, usaha yang tak pernah berkarat, pasti akan menuai hasil yang pantas. 


Oh iya, kemarin sore, ada Lukman datang ke rumah. Ia minta restu mau berangkat ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Lukman terpilih sebagai salah satu peserta Sekolah Literasi yang diadakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ia akan bergulat di sana selama seminggu. Sebelumnya, Lukman bercerita bahwa sebelumnya ia memimpikan banyak hal dalam dunianya, tapi banyak yang gagal. Lalu, ia menabung dari banyak kegagalan itu dan membuahkan hasil. 


Kenapa saat ini saya bangga dengan pencapaian Lukman. Saya sangat tahu prosesnya. Tiga tahun belajar menulis di komunitas yang saya asuh, cukup lumayan untuk bekal di Kendari berkawan dengan 19 peserta lainnya. Beberapa kesempatan Lukman memang mencoba ikut lomba menulis dan pernah menang. Tentu saja lebih seringnya kalah. Ia sering datang ke rumah saya di waktu-waktu keramat sebelum karyanya dikirim ke lomba. Beberapa kali juga saya utus untuk ikut kegiatan pelatihan menulis. Bagi saya, ia sangat layak bila ia memang terpilih menjadi salah satu peserta dalam Sekolah Menulis di Kendari itu. Bahkan, saya bilang, ia pantas jadi Ketua Sekolah Literasi dari semua peserta itu, bila memang harus ada pemilihan ketua dari 19 peserta lainnya itu.


Saya akan selalu memantau, terutama anak-didik di sekolah atau di komunitas saya, bila mereka punya kemauan yang keras untuk ikut dalam perhelatan dunia kepenulisan. Memang jarang sekali sosok seperti Lukman itu--untuk ukuran anak sekolah seusianya dan sekampung halamannya-- yang bermain-main dengan serius dengan literasi. Kemauannya dalam belajar, membaca, menulis, dan meraih cita-cita begitu tinggi. Mana ada seorang Encep dulu zaman sekolah bergelut macam begitu. Salah satu yang mendasari adalah aktif berorganisasi. Lukman sangat aktif, sedangkan saya pasif, bahkan dulu saya nyaris tidak pernah ikutan organisasi. Saat kuliah, barulah saya menjajal dunia itu. Dan, dunia organisasi sangat berpengaruh dengan kejiwaan saya. Akhirnya, saya dibesarkan dan membesarkan diri di sebuah organisasi menulis bernama Kubah Budaya.


Di Kubah Budaya, apa yang saya lakukan persis seperti apa yang Lukman lakukan. Tiada pernah berhenti berproses. Namun, bagi saya berorganisasi saja tidak cukup, perlu ada ketekunan pribadi. Mungkin banyak juga rekan saya yang satu bendera kepenulisan, tapi mereka mati tertindas oleh kesibukan pekerjaan mereka. Mereka fokus mencari uang, berkeluarga, dan melupakan diri untuk mengembangkan ilmu menulis mereka. Mungkin sebagian ada yang berniat balikan lagi dengan masa lalu mereka, tapi teman, situasi, dan lingkungan kurang mendukung. Lalu mereka "ngumpet" kembali.


Setelah di Kubah Budaya sudah tak lagi menjadi tempat berteduh--karena saya menikah, beranak, dan berbahagia--saya membesarkan diri kembali dengan cara membuat komunitas menulis. Saya tidak bisa melulu bergantung pada komunitas saya sebelumnya. Berbagai hal sudah berubah: waktu, teman, lingkungan, situasi, mood, dsb. Namun, semangat saya tak pernah luntur dalam bergelut dengan dunia kepenulisan. Saya juga akan tetap kembali kepada rumah di mana saya tumbuh: Kubah Budaya. Kapan pun itu. Selagi masih ada ruang, kesempatan, dan tentu saja gorengan.


Salam olahraga!


Kiara, 31 Mei 2022



______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).