Sabtu, 27 Agustus 2022

Resensi Afifah Wahda T.P. | Mendedah Realitas Konflik Berumah Tangga




Judul : Bulan Ziarah Kenangan

Penulis          : Sapta Arif

Penerbit : Jagat Litera

Cetakan I : April 2022

Tebal : viii + 156 halaman

ISBN : 978-623-5893-25-9


Ada satu tema dalam cerita yang tidak akan habis diulik penulis, yaitu perkara percintaan. Lebih spesifiknya lagi hubungan laki-laki dan perempuan. Ketika penulis lain kerap menampilkan kisah perjuangan cinta yang acapkali berakhir tragis, Sapta Arif dalam kumcer Bulan Ziarah Kenangan justru mendedah kisah pergolakan cinta dalam rumah tangga.


Terhitung ada 9 cerpen dari 15 cerpen dalam buku ini yang melibatkan tokoh yang telah berumah tangga. Mari kita tengok cerpen "Apron Merah Muda dan Mesin Jahit Tua". Cerpen ini menceritakan konflik yang terjadi antara mertua dan menantu dalam biduk rumah tangga Kania dan Riza. Kania di masa lalu sempat berprofesi sebagai pemandu lagu karaoke nampaknya mendapatkan stigma tidak baik dari mertuanya—Ibu Riza. Meski mereka sudah resmi menikah, hal ini justru memicu banyak permasalahan. Suatu ketika, Kania menemukan apron kesayangannya telah terpotong-potong menjadi kain lap. Hal ini memicu pertengkaran antara Kania dan mertuanya. Riza yang sempat ikut marah pada ibunya sendiri memilih berdiri di posisi netral. 


Konflik bergulir, hingga Kania mengingatkan suaminya untuk menengok rumah di dekat balai desa Rempoah. Pasangan suami-istri ini berniat mengontrak rumah. Itu artinya pergi dan terbebas dari pondok mertua. Sapta Arif memberikan penanda (clue) ending yang bagus. Hal ini terdapat di awal cerita manakala si mertua Kania terlihat duduk di samping mesin jahit tua yang rusak sambil merajut kain berwarna merah muda. Itu artinya, si mertua pemarah ini—merasa bertanggung jawab—ingin menjahitkan apron baru untuk menantunya. Begitu juga dengan Kania, di akhir cerita meminta suaminya untuk mengantar ke toko Sandira—toko jual beli mesin jahit. Riza menangkap sinyal itu dengan lega. Cerpen ditutup dengan ending terbuka, namun menggunakan penanda yang jelas.


Konflik antara suami-istri juga diangkat dalam cerpen "Jam Klasik yang Ritmis". Berkisah tentang realitas suami-istri yang baru saja mendapatkan momongan di tengah pandemi Covid-19. Kerepotan mengurus rumah tangga ditunjukkan penulis selepas Yu Nah—asisten rumah tangga—memilih pulang kampung lantaran suaminya meninggal dunia. Dalam cerpen ini, Sapta mengeksplorasi kejiwaan tokoh perempuan—Astri—yang tengah datang bulan. Ketidakstabilan tokoh perempuan berhadapan kesabaran tokoh laki-laki yang dipaksa menggantikan peran perempuan di dalam rumah tangga.


Kadangkala, membicarakan soal momongan bisa menjadi hal sensitif di mata pasangan yang bertahun-tahun belum memilikinya. Hal ini juga tidak luput dari pengamatan Sapta Arif di cerpen Ikan Salmon. Cerpen ini dibuka dengan tokoh aku yang melihat keanehan terjadi pada istrinya. Di suatu subuh ia mendapati istrinya mengobrak-abrik kulkas melakukan kegiatan yang aneh. Membaca pembuka cerpen ini, saya jadi ingat pembukaan novel Vegetarian karya Han Kang. Hal ini juga diamini penulis di paragraf ketiga, sebagai berikut.



Ingatanku merekam adegan sosok Kim Young Hye dalam novel Vegetarian karya Han Kang. Pada suatu pagi, si lelaki mendapati istrinya berdiri termangu di depan kulkas. Tidak memerlukan waktu yang lama, perempuan ini mengemasi seluruh daging dalam kulkas itu. Ketika ditanya, ia hanya menjawab: aku bermimpi. (hlm. 92)



Ajeng dan suaminya belum juga mendapatkan momongan meski sudah menikah lima tahun lamanya. Berbagai cara sudah mereka lakukan hingga minum ramuan dari Ibu Ajeng. Awal dari konflik ini adalah percakapan di meja makan. Dalam percakapan yang berakhir panas itu, Ibu Ajeng kembali mengingatkan agar Ajeng dan suaminya berupaya lahir batin. Si ibu tidak mengira, percakapan ini menjadi awal stres berkepanjangan Ajeng. Hingga ia mengalami kecemasan tingkat akut. 


Konflik hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga juga disinggung Sapta dalam tiga cerpen berjudul "Fana", "Bingkisan Bunga", dan "Renjana". Ketiga cerpen ini berakhir dengan tragis, salah satu tokoh mengalami kematian. Tokoh perempuan dalam ketiga cerpen ini menjadi tumpuan konflik. Pada cerpen "Bingkisan Bunga", tokoh perempuan ditengarai menjadi awal masalah. Tokoh Nur Laela yang digambarkan sebagai penulis bertalenta menjadi kekasih gelap seorang dosen sekaligus motivator. 


Konflik serupa juga diangkat dalam cerpen "Fana",  tokoh perempuan ditengarai pernah menjalin hubungan dengan seorang pelukis laki-laki sebelum perempuan itu menikah. Pada cerpen lain berjudul "Renjana", saya menemukan keunikan. Cerpen yang pernah tayang di Radar Surabaya ini mengadaptasi nama-nama tokoh dalam pewayangan Ramayana yang dikonstruksi ulang. Hal ini terlihat jelas sejak dalam pembukaan cerpen, sebagai berikut.



“Jika Dewi Shinta lebih dulu bertemu Rahwana, akankah dia tetap mencintai Rama, ketika mereka dipertemukan? Mungkinkah jika ia malah mencintai Rahwana? Bukankah Shinta sosok yang ditakdirkan untuk setia?” (hlm. 104)



Terlepas dari konflik-konflik yang banyak melibatkan perempuan, saya mengamini pendapat Maman S. Mahayana dalam pengantar buku ini. Pendapat ini bisa dikatakan kontra dengan pengantar penulis yang menyebut bahwa kebanyakan cerpen dalam buku ini mengeksplorasi tokoh perempuan yang kuat. Keunikan dalam buku ini memang selain pada konflik yang diangkat perihal hubungan laki-laki dan perempuan adalah pada cara penulis mengakhiri cerita. Sapta dengan beragam clue di badan cerita membuka ruang imaji pembaca untuk melanjutkan cerpen ini sejak akhir cerita. Maka tak heran jika Maman menyebutnya sebagai cerpen yang cerpen: ceritanya boleh selesai, tetapi masalahnya menggoda kita untuk menafsirkan bagaimana kelanjutan peristiwa itu. 



________

Penulis


Afifah Wahda Tyas Pramudita. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Unitomo Surabaya. Bergiat di komunitas Sutejo Spectrum Center. IG: @afifahwahda_.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com