Jumat, 26 Agustus 2022

Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita | Babi-Babi Datang ke Rumah

 Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita



Selama aku pergi ke kota lain untuk menempuh pendidikan lanjutan, ayah memberitahuku bahwa beberapa ekor babi pernah datang ke rumah kami, duduk di ruang tamu kami, memakan hidangan yang ibu suguhkan, dan “merampok” beberapa ratus ribu dari dompet ayah.


***

Babi-babi itu datang ke rumah kami tidak dengan wujud asli mereka, melainkan dengan wujud para kerabat kami. Rambutnya seperti rambut para kerabat kami, keningnya mirip kening para kerabat kami, sorot matanya sama dengan sorot mata kerabat-kerabat kami, tinggi badannya, gemuk-kurusnya, cara bicaranya, dan cara berjalannya pun sama dengan para kerabat kami. Semuanya mirip, tak bercelah. Sungguh begitu sulit untuk membedakan mana yang benar-benar kerabat kami dan mana yang seekor babi.


Begitu mereka tiba, ayah tidak akan langsung tahu bahwa tamu itu sejatinya adalah seekor babi. Penyamaran mereka begitu sempurna. Hanya orang-orang pintar saja yang mampu melihatnya, hanya orang-orang yang memiliki kelebihan yang dapat melihat wujud sejati mereka. Ayah berkata bahwa salah seorang temannya yang memiliki kelebihan semacam itu pernah bercerita kepadanya, “Kawan, rumahmu sering kedatangan babi. Dompetmu sering kosong daripada berisi.” Ayah baru akan menyadari kenyataannya ketika babi-babi yang menyamar sebagai para kerabat kami itu telah menggeber sepeda motornya dan melaju kencang menjauhi rumah kami. Saat itu, ayah hanya akan diam dan menunduk.


Babi-babi itu akan datang ke rumah di waktu yang tidak menentu. Kadang enam bulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan sebulan sekali. Babi-babi memiliki wajah muram ketika datang ke rumah kami. Mereka selalu memulai sebuah cerita sedih setelah ayah bertanya tentang kabar mereka.


“Ya, begitu itu. Harus beli susu anak, popok, dan buburnya. Yang besar juga sudah mau masuk SD. Harga-harga kebutuhan pokok naik. Yang besar juga rewel, tidak mau makan tahu dan tempe. Maunya ayam atau bebek.”


Ayah adalah orang baik hati. Dia tahu maksud babi yang menyamar sebagai kerabat kami yang sedang duduk di ruang tamu di seberangnya itu. Ayah, tanpa pikir panjang, akan menolongnya, memberinya pinjaman. “Namanya juga saudara,” kata ayah selalu kepada ibu ketika mengeluarkan uang yang bergambar dua proklamator kemerdekaan negeri ini sebanyak tiga lembar dari dalam dompetnya. Ketika pergi ke depan lagi dan menyerahkan tiga lembar uang kertas bergambar Bung Karno dan Bung Hatta itu, ayah akan berkata lagi kepada si babi, “Tidak bisa membantu banyak. Buyung juga mau naik ke SMP, perlu beli seragam dan buku baru.”


“Ini sangat membantu. Terima kasih banyak. Saya akan segera mengembalikannya. Insyaallah,” kata si babi.


“Tidak perlu terburu-buru,” balas ayah. “Kalau memang sudah benar-benar ada saja.”


Di lain waktu, babi yang lain datang. Dia menyamar sebagai saudara tua ibu. Tujuannya sama: meminjam uang. Pekerjaan ayah sebagai sopir begitu lancar, uang seakan terus mengalir tanpa ada sekat-sekat yang akan menghalangi aliran uang itu sampai ke dalam dompet ayah. Ketika si babi telah mengutarakan maksudnya, ayah akan memberi tiga lembar kertas merah dengan foto Bung Karno dan Bung Hatta yang sedang tersenyum itu. Si babi akan menerimanya, berterima kasih, dan akan berjanji manis seperti janji para calon legislatif ketika kampanye bahwa dia akan segera mengembalikan uang itu.


Begitulah ayah, tidak pernah perhitungan dengan para kerabat kami.


***


Terkadang, meski belum membayar, babi yang sama akan datang lagi ke rumah kami dengan maksud yang sama seperti dahulu.


Saat itu, pekerjaan ayah tidak selancar dulu. Akhirnya, dia hanya bisa memberikan dua lembar, lebih sedikit dari biasanya, dan kami sekeluarga harus mengurangi isi piring kami dan sedikit berlapar-lapar.


“Menolong orang itu baik,” kata ayah. “Ini seperti menanam. Suatu saat pasti akan tumbuh. Maksud ayah, jika nanti kamu mengalami kesulitan, akan ada orang lain yang tidak akan pikir panjang untuk menolongmu. Jangan pernah pikir panjang untuk berbuat baik.”


Pekerjaan ayah semakin macet, ditambah lagi diberlakukannya PPKM oleh pemerintah sehingga banyak pabrik tidak beroperasi untuk waktu yang tidak ditentukan. Ayah tidak bisa mengirimkan bahan baku ke sana. Ayah libur panjang. Sehari-hari berada di rumah. Bangun, olahraga pagi, menonton tayangan sepak bola di televisi atau, ini lebih banyak, menonton sinetron tentang suami-suami yang doyan selingkuh dan istri-istri yang teraniaya. Kadang ayah bekerja, seminggu sekali. Uang hasil bekerja itu hanya cukup buat makan. Kadang harus diambilkan dari tabungan yang ayah simpan di bawah kasur, satu-satunya tempat di dalam rumah kami yang hanya boleh diakses ayah.


Salah seorang kerabat kami, yang belum mengembalikan uang yang dia pinjam, datang lagi untuk meminjam. Kali ini alasannya adalah bahwa menantunya akan segera melahirkan, perlu biaya operasi. Ayah bilang bahwa dia sudah lama tidak bekerja. Tapi, si babi itu semakin berkeluh kesah di hadapan ayah.


“Menantuku, dengan demikian juga keponakanmu, akan melahirkan. Perlu biaya rumah sakit. Aku memang ada uang, tapi belum cukup. Kurang sejuta.”


Itu—ayah menceritakan ini kepadaku setelah peristiwa ini jauh berlalu—adalah jumlah sisa tabungan yang dimiliki ayah. Ayah ingin menolongnya, tapi dia harus berpikir tentang biaya sehari-hari keluarganya. Banyak kebutuhan pokok yang harganya melambung tinggi.


“Tidak pas sejuta juga tidak masalah. Nanti aku cari pinjaman ke yang lain.”


“Yang dulu belum sampeyan kembalikan.” Entah mengapa, ayah keceplosan mengatakan kalimat itu. Dia, juga si babi, syok. Ayah diam, kemudian menunduk.


“Kita ini saudara, Dik. Jangan berkata seperti itu. Kau tidak ingat kalau istrimu dulu itu ketika kecil aku yang merawatnya?”


Itu semua bohong. Ibu hanya menumpang tempat tidur. Dia makan cari sendiri atau dibantu oleh saudaranya yang lain. Babi itu tidak keluar sepeser pun untuk makan ibu. Dia hanya memberikan ibu tumpangan untuk tidur, itu pun di gudang.


“Kau perhitungan juga rupanya,” kata si babi lagi. “Baik. Aku akan cari pinjaman ke yang lain.”


Si babi beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi sebelum kemudian ayah menghentikannya. Dia berkata akan membantu, tetapi tidak sepenuhnya. Maka, ayah mengambil lima lembar uang kertas bergambar Bung Karno dan Bung Hatta dari bawah kasur dan menyerahkannya kepada si babi.


“Terima kasih banyak. Dengan begini, meski masih kurang lima ratus lagi, keponakanmu bisa segera menjalani operasi sesar. Aku bisa pinjam yang lain untuk sisanya. Secepatnya akan aku kembalikan. Insyaallah.” Dia menepuk-nepuk pundak ayah seperti seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.


***


Hingga kemudian ayah tidak sanggup bekerja karena kondisi fisiknya yang terus melemah. Dia mengembalikan truknya kepada juragannya, pemilik truk yang dikemudikannya sehari-hari, dan berpamitan kepadanya bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi bekerja. Meskipun terdengar sepele, berkendara tetaplah menguras banyak energi. Seseorang dituntut untuk fokus ke jalan dan tidak boleh sampai mengantuk satu detik pun atau sesuatu yang buruk akan terjadi.


Kehidupan kami berjalan sedikit pontang-panting. Gajiku tidak seberapa, hanya cukup buat makan, sementara kami harus membayar iuran bulanan ke koperasi syariah. Suatu kali, yang tidak perlu dijelaskan terlalu panjang di sini, kami pernah meminjam sejumlah uang ke koperasi syariah. Satu bulan kami tidak membayar dan itu, tentu saja, tidak baik bagi koperasi.


Ayah pun mengutusku untuk mengambil uang-uang yang dipinjam oleh para babi itu. Aku berangkat seorang diri di hari libur ke rumah para babi itu. Aku bertamu sesuai adat yang berlaku: mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan bersalaman. Duduk jika disuruh duduk oleh tuan rumah dan menyampaikan maksud kedatanganku.


Namun, jawaban yang kuperoleh cukup menyakitkan. Aku, juga ayah, dituduh sebagai kerabat yang suka perhitungan. Mereka bahkan menasihatiku agar lebih ikhlas kalau menolong. Kalau ikhlas, Tuhan akan mencatatnya sebagai amal baik dan, tentu saja, akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih besar. Masih panjang nasihatnya, aku tidak terlalu mengingatnya. Sebenarnya, aku coba mengabaikan nasihat-nasihat itu. Aku hanya ingin mengambil uang ayah dari para babi itu.


Mereka memang kemudian memberiku uang, tapi jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah yang telah mereka pinjam. Dari puluhan lembar yang tak tercatat secara pasti, aku hanya menerima lima lembar. Kumasukkan uang itu dalam saku dan berpamitan pulang. Sebelum aku pulang, mereka menasihatiku lagi tentang keikhlasan dan balasan dari Tuhan untuk orang-orang yang mampu berbuat ikhlas. Aku hanya manggut-manggut dan segera pergi dari sana. Babi-babi itu tiba-tiba menjadi juru bicara Tuhan.


Sesampainya di rumah, kuserahkan uang itu kepada ayah dan kuceritakan semua yang mereka katakan kepadanya. Ayah menerimanya dengan kening berkerut. Dia menyimpan uang itu di sakunya kemudian berpesan kepadaku.


“Maruta, jika kau menghabisi mereka, katakanlah sekadar menggorok leher mereka, wujud sejati mereka akan kelihatan.”


“Apa wujudnya?”


“Babi. Babi berwarna merah muda dengan hidung besar, telinga lebar, ekor mungil, dan tubuh gemuk seperti yang ada di televisi. Kau penasaran?”


“Kita pasti masuk penjara jika membuktikannya.”


“Itulah masalahnya. Babi-babi itu, bagaimanapun, tetap dilindungi hukum.”


Mojokerto, 15 Juni—20 Agustus 2022


________

Penulis

Mochamad Bayu Ari Sasmita lahir di Mojokerto pada HUT RI ke-53. Cerpen-cerpennya pernah tayang di media daring dan luring. Lebih senang tinggal di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, setelah lulus kuliah di Malang. Akun instagramnys @sasmita.maruta.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com