Jumat, 07 Oktober 2022

Cerpen Re Makram | Manusia Terakhir

 Cerpen Re Makram




Saya tidak bercanda, Anda itu kecantikan abadi yang pernah diciptakan.


Anda tanya kenapa? Saya berkata demikian karena saya sendiri adalah keabadian. Saya tidak bilang saya tidak bisa mati, tetapi berbicara sendirian setelah Badai Korona-Elektrik, harus jadi pertimbangan Anda.


***


Ini semua tentang cerita cinta di akhir dunia. Biar saya ceritakan pada Anda bagaimana saya bisa lolos, sementara kekasih saya tidak. Tapi sebelumnya, tolong Anda bantu saya dulu meniupi bara itu agar saya mudah menempa besi saya.


Saya bilang tolong Anda bantu saya dulu. 


Soal ini semua, saya akan jelaskan segera setelah besi ini bisa dibentuk. Saya percaya setelah ini, tidak akan lagi ada cerita cinta di dunia. 


Biar saya kembali fokus membahas besi ini. Kenapa besi ini ditempa? Karena di akhir zaman ini, cinta hanyalah sisi tertajam dari sebuah pedang. Layaknya leluhur kita yang saling mencintai dengan saling memahat. 


Ya, kita mungkin akan kembali berperang dengan pedang. Di zaman tanpa akses listrik seperti sekarang, arduino hanya sekadar sejarah sampah. Anda alami sendiri semua inovasi yang pernah kita anggap ciptaan terbaik, kini tidak berfungsi lagi. Satu-satunya harapan kita untuk tetap hidup dari semua kekacauan ini adalah dengan cara menempa besi menjadi pedang.


Fiuhhh!


Baiklah, saya lanjutkan kisah saya, tapi tolong jangan Anda ceritakan lagi kepada penyintas lain. Eh, itu pun kalau Anda menyala. Maksud saya apinya yang menyala.


Buahahaha.


Tapi ngomong-ngomong, Anda sangat manis loh.


Eh.


Ah sudahlah. Maaf.


Boleh saya minta tolong lagi.


Pegang dulu besi ini.


Saya cari sesuatu dulu.


Sebentar. Nah, ini dia. Ketemu. 


Tapi saya benar-benar memohon kepada Anda untuk tidak banyak bicara pada makhluk lain. Maksud saya, makhluk hidup. Mungkin juga sih benda yang hidup. Atau mungkin benda yang pura-pura hidup. Mereka itu semua penipu. Anda jangan terkecoh dengan lampu menyala yang mereka perlihatkan. Seolah mereka menawarkan cinta. Cinta yang menipu.


Ini foto saya dan dirinya.


Bisa lihat kan?


Saya dan kekasih saya lahir di zaman kekacauan terakhir. Kami bertemu dalam sebuah kondisi yang kurang menyenangkan untuk disebut saling mencinta. Dia adalah seorang aktivis, sedangkan saya adalah seorang penggila sains. Awalnya, saya tidak pernah punya waktu untuk berbagi rasa, karena bagi saya perempuan itu adalah ciptaan Tuhan yang gagal. Akan tetapi, semenjak orasinya pada petang itu di balai kota, saya mengoreksi pendapat saya. Saya pikir Tuhan sengaja menciptakan satu-satunya perempuan sempurna untuk mencoba menyadarkan saya tentang kemungkinan adanya cinta.


Sejak diresmikannya Konvensi Hak Asasi Makanan satu dekade lalu oleh gubernur, kota kami telah melakukan inovasi untuk mengurangi dampak penggunaan tanah sebagai lahan pertanian. Karena itu juga, negeri kami adalah negeri pertama di muka bumi yang punya sistem pengolahan kotoran menjadi makanan higienis. Kekasih saya menentang konvensi itu. Nah, saya adalah juru bicara balai kota. Ketika saya mengatakan semua tentang masa depan yang lebih baik, sekonyong-konyong dia merangsek keamanan dan melempari saya dengan kotorannya. Sambil berucap keras di hadapan pers, salah satu jemari kirinya ditayangkan di seantero negeri. 


Hahaha, entah kenapa sejak saat itu saya merasa kejadian itu mengubah cara pandang saya. Pada satu titik, saya seperti baru tersadar kalau selama ini, ternyata kami menggelontorkan banyak uang untuk membeli kotoran kami sendiri. 


Setelah itu saya lantas berpikir, konvensi itu adalah kegagalan saya yang pertama. 


Loh, Anda tidak percaya saya bisa menyesal? Berarti cerita saya ini adalah lelucon menurut Anda.


Saya tersinggung.


Saya tidak suka disebut lelucon.


Apa?


Baiklah saya maafkan.


Kalau begitu saya lanjutkan. 


Seminggu setelah kejadian itu, saya pergi ke penjara kota untuk membebaskannya. Dia berpaling, mungkin karena saya memang tidak pantas dipercaya pada waktu itu. Saya pun tidak percaya apa yang saya lakukan demi dirinya. 


Apa Anda bilang?


Itu tidak bisa dijadikan bukti kalau saya sedang melempar lelucon.


Ketidakpercayaan bukanlah lelucon. Ketidakpercayaan adalah awal dari saling percaya. Percayalah!


Baik, saya lanjutkan ya?


Pokoknya, saya hanya ingat; saya berkata bahwa kelak para petani lebih senang menyerahkan pekerjaan pengolahan tanah pada para makhluk berkecerdasan buatan. Kelak, saya khawatir petani akan punah. Dia luluh saat saya katakan petani akan punah. Seolah, dia adalah petani yang akan punah.


Akhirnya, kekhawatiran itu terjadi kan? Anda rasakan sendiri sekarang, ketika Badai Korona-Elektrik menyerang, tidak ada lagi robot yang bisa hidup dan bekerja kan? Termasuk Anda. 


Tapi, tenang saya akan tetap memperbaiki Anda. Karena saya masih sangat mencintai kekasih saya.


Lalu ...


Sebentar, Anda tanya bagaimana ceritanya saya jatuh cinta dengan kekasih saya? Tadinya, saya berharap Anda sudah bisa menebak arah ceritanya! 


Hmmm, sejak pembebasannya dari penjara, saya pun keluar dari pekerjaan saya. Atau paling tidak saya kembali menjadi penggila sains biasa. Saya mengajar di sebuah sekolah swasta. Saya mencukur rambut saya sampai botak. Saya ikut berinvestasi di mata uang Krypto. Dan, saya mendatangi rumah perempuan itu. Saya katakan saya jatuh cinta, semenjak dirinya melempari saya dengan kotoran.


Kami pun menikah.


Seperti dongeng?


Ya, memang cinta itu dongeng.


Hanya dongeng tidak pernah membahas kisah setelah cinta itu terjadi.


Nah, dalam kehidupan kami. Kisah setelah dongeng adalah saat-saat kami tidak lagi percaya bahwa cinta bisa datang kapan saja. Kisah setelah dongeng adalah saatnya cinta menghentikan kehidupan. 


Pada kehidupannya, dia berhenti menjadi aktivis dan memilih menjadi istri yang setia. Dia mulai belajar mencintai saya.


Pada kehidupan saya, saya pun mencintainya. Sangat mencintainya. Hanya saja, saya tidak tahu cara untuk mencintainya. 


Saya tidak mendapatkan lagi uang karena tidak bekerja. 


Puncaknya, kami menjadi sering saling meluapkan emosi. Saya tahu, ketika kami dilanda amarah, salah satu dari kami ada yang lapar. Tapi saya tidak tahu cara menghilangkannya. Jadi, saya kalap. Saya tidak bisa menghilangkan lapar, saya pun tidak bisa menghilangkan amarah. Yang saya tahu, saya bisa menghilangkan dirinya.


Ya, saya membunuhnya. Wajahnya yang sangat cantik itu, saya sengat dengan kabel listrik. 


Setelah itu, saya tidak bisa berpikir lagi. Saya lapar, saya marah, dan saya pun tidak punya lagi kekasih. Saya merasa masuk pada fase kegagalan yang kedua. Ya, gagal jadi manusia. Saya pikir, saya telah menjadi robot. Seperti ciptaan-ciptaan saya sebelumnya pada Konvensi Hak Asasi Makanan.


Sesudah itu, saya tenggelam dalam kesendirian. 


Saya mencoba beberapa kali bangkit. Saya pikirkan cara yang tepat.


Saya coba membuat robot yang manusia. Sebentar saya ralat; manusia yang tidak robot. Saya jadikan jasad istri saya, kekasih saya yang cantik itu, sebagai bahan percobaan awal saya.


Oh ya, saya keluar topik sebentar ya. Soal kepunahan setelah Badai Korona-Elektrik ini, saya pikir Anda sudah pernah baca nurbuat para nabi dan para fisikawan. Sudahkah?


Ah, Anda tersenyum. Manis sekali.


Loh, kenapa berubah marah?


Anda pikir sekarang saya sedang bercanda? 


Baik, saya punya lelucon tentang ini. Saya berpikir jika manusia tidak ingin bumi Kiamat, manusia harus membuat teknologi untuk dapat memperistri para robot. Kalau sudah begitu, saya pasti membayangkan robot yang cantik dan setia. Anda tahu sendirilah, bahwa istri saya mantan aktivis. Hahaha. Maaf saya tertawa, tapi saya memang tidak sedang berkelakar. Saya tahu itu karena saya pernah bertengkar dengannya!


Jadilah, saya menciptakan seorang istri yang setia, istri yang tidak lapar, sekaligus istri yang tidak perlu menjadi aktivis.


Seperti apa?


Sebelum Badai Korona-Elektrik. Istri saya itu seperti Anda.


Apa? Anda menganggap saya biadab? Tentu saja tidak! Saya percaya bahwa cerita hidup saya sebelum Badai Korona-Elektrik menyerang sistem tata surya kita adalah cara Tuhan memperbaiki makna cinta di muka bumi. Bahkan, keberadaan saya yang masih selamat dan abadi hari ini, saya anggap lebih terpercaya dari semua kebiadaban yang pernah terjadi di muka bumi.


Anda bilang itu takdir? Jika demikian, berarti takdir itu menggelikan. Kita sedang dilanda Kiamat gelombang pertama dan Anda bilang makhluk-makhluk yang mungkin selamat di hari ini, memang ditakdirkan selamat? Ayolah, Tuhan tidak sebercanda itu!


Otak manusia yang sudah punah itu diprogram untuk membuat segala persoalan menjadi mudah. Namun, otak-otak itu tidak pernah diprogram tentang bagaimana menghadapi kenyataan jika otak itu dimatikan. Badai Korona-Elektronik adalah semacam maut bagi manusia-manusia berotak robot. Saya pikir, Tuhan tidak suka manusia terlalu banyak protes. Oleh karena itu, saya pun ingin ciptaan-ciptaan saya tidak banyak protes. 


Hahaha, ternyata ciptaan saya memang tidak bisa protes. Semua baterai sudah mati di zaman ini. Kecuali saya. Itulah kenapa saya abadi. Namun, sekali lagi Anda itu kecantikan abadi yang pernah diciptakan.


Sekali ini percayalah pada saya. Karena saya percaya Tuhan. Meski Tuhan mungkin tidak percaya saya. 


Eh, tapi, kekasih saya sebelum meninggal, pernah percaya omongan saya. Dia pasrah pada saya. Entah apa alasannya. Mungkin dia cemburu karena saya pernah memimpikan memperistri robot yang bahenol.


Wah, sepertinya Anda ikut tertawa kali ini. Jujur, saat Anda tertawa: itu adalah saat-saat terindah yang bisa saya lihat dari diri Anda. Senyum Anda benar-benar memikat.


Apa? Anda bilang saya gombal? 


Bukan?


Jadi? Itu senyuman sinis Anda.


Oh maksud Anda, saya lebih jahat begitu, dari para robot ciptaan saya itu. 


Hahaha, sepertinya saya harus menceritakan semua rencana saya. Saya melakukan ini semua demi keberlangsungan ras manusia. Untuk bertahan hidup, manusia-manusia perlu menjadi petani, tetapi saya hanya berusaha menjadi peternak. Ya, peternak robot. Mungkin juga saya beternak manusia. Apakah itu kejahatan? Saya pikir itu adalah lelucon yang nyata.


Tuhan menciptakan petani dan peternak. Saya dan Anda. Robot dan Manusia. Pasangan-pasangan ini saling melengkapi, seperti inti dan satelit; bumi dan bulan, matahari dan bumi. Saya adalah peternak; dan manusia-manusia, makhluk-makhluk, benda-benda yang mungkin masih bertahan hidup di bumi adalah para petaninya. Saya harus menggembala mereka menuju kehidupan yang baru. Tuhan sudah merencanakan ini semua. Sebagai bukti, bahwa Tuhan menyelamatkan hidup saya agar kita bisa bercinta.


Anda tanya kenapa? Saya berkata demikian karena saya sendiri adalah keabadian. Saya tidak bilang saya tidak bisa mati, tetapi berbicara sendirian setelah Badai Korona-Elektrik, harus jadi pertimbangan Anda.


Dan, Anda berada di sini kan?


Oh, ya, ngomong-ngomong, saat ini pun saya sudah selesai menempa. Apinya sudah padam. Pedangnya pun sudah tajam. Bolehkah saya mencobanya pada leher Anda?


Sukabumi, Maret 2022


_________________

Penulis


Re Makram, menulis puisi, prosa, dan esai. Karya-karyanya dapat ditemukan di media cetak dan online, seperti Republika, Pikiran Rakyat, NGEWIYAK.com, ghibahin.id, suarakrajan.com, dan lainnya. Novel Perkamen Sanada memenangkan Juara II Sayembara Novel Kwikku.com dan masuk Scarlet Pen Award 2022 untuk kategori Best Digital Novel. Penulis berkomunikasi pada IG @pan1pra1.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com