Jumat, 07 Oktober 2022

Puisi-Puisi Mochammad Asrori

Puisi Mochammad Asrori





Senja

saat senja, kita kadang mencari-cari 
apakah ada kawan yang menghilang 
pada duka

di tepian telaga
di bawah rindang angsana
kita hirup kuat angin yang menerpa
duduk bersama sungguh
membuat luka menjadi sederhana

acuhkan dulu, bisikan angin
nan selalu mengingatkan 
ihwal yang sama-sama kita tahu
menuju sunyi, menuju sendiri
menuju diri, menuju kehilangan 
yang paling dekat
namun membebaskan pagi

di kicau burung, senyummu
kugapai ranum-ranum
mendekatkannya ke dada hingga 
memanggil-manggil gairah
sepanjang hari
sepanjang selasar yang menarik waktu 
menjadi kembali muda dan sesak mimpi

penyesalan-penyesalan
segera berserak bersama dedaun 
cokelat yang jatuh diterpa angin
musafir yang jauh lelah
dari tanah dan rumah
tempat berbaring mimpi ringin

saat senja, kita kadang
mencari-cari kata yang hilang
pada entah, pada lagu kangen nan langut 
dan mendera

Mjk, 31/08/2022




Masa Lalu

di samping masa lalu
suara penyanyi dari gawai 
segera menjelma dirimu
memanggil-manggil 
bersama gemerisik daun
saat senja mengaduk kangen
nan rimbun

kupikir nafasku nantinya
akan segera terengah
sarat lelah, gembira ini 
dalam ucap salam dan senyuman
akan tercekat, kering pendek
seperti bisik dan teriak 
dalam satu senda igauan

sesaat lepas, dari pintu menuju pagar
dari panas matahari membelukar
aku hanya mendengar langkahku sendiri
penuh ingin tahu dan ragu 
"bertemu senja di pertengahan oktober
saat tabebuya mekar, saat jalanan surabaya 
penuh warna debar."

kebenaran memang selalu tampak lemah
sepasang sayap yang lungkrah
tanpa bisa menggapai 
gerbang antarbintang tempat mimpi-mimpi
dikabulkan tabah

di samping masa lalu
suaramu terngiang kembali
bayang-bayang yang jauh
dari pelukan pulang

Mjk, 06/09/2022



Panggung

menepi, suara-suara 
telah dibunuh sunyi
panggung gelap mati 
senyum menggigil
enggan meningkah pagi

menepi, langkah-langkah 
tlah menyeberang, jalan desa 
dengan sorot bulan
dua tubuh diperam kemalangan

menepi, menunggu harapan
para pembisik 
berloncatan, mencari cara
melemparkan adegan

kabut mengambang 
kepak sayap kelelawar bungkam
tidak ada yang muskil
dalam pengembaraan

Mjk, 07/08/2022



 
Pada Kata

menjauhlah, pada kata 
yang membuat pulau-pulau terpisah
sebagaimana jejak kaki
menerjemahkan berat
dan persembunyian arah

mulailah mendaki, tinggi
walau kata membuat
darah membuncah ke bumi
sejarah kelam, timbul tenggelam
bagaimana manusia 
memelihara salah paham

padang rumput buruan
hutan dan lembah rambahan
kata menyelam di dasar
telaga dan sungai berpusaran

menjauhlah, namun segera
taklukkan kata
titi kuat pada angin
lalu kirimkan kabar, lekas-lekas
pada hujan pertama 
yang mencipta dingin

kata cintaku, melekat erat
di dinding malam, menghirup embun
saat fajar lebam, turut
hanyut ke debur laut

Mjk, 07/09/2022



_______


Penulis


MOCHAMMAD ASRORI, karyanya—berupa cerpen, puisi, naskah drama, dan esai—telah terbit di berbagai surat kabar, media daring, dan buku-buku antologi bersama. Sehari-hari bekerja sebagai guru di SMKN 2 Mojokerto. Buku puisinya yang telah terbit Tiga Postur Kota (Sarbi, 2015) dan Saat Jarum Jam Bersandar di Punggung Kursi Pelabuhan (Temalitera, 2020). Pegiat Sanggar Interlude ini aktif menjadi kurator buku, editor buku, dan sesekali juri lomba kepenulisan. 




Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com