Jumat, 16 Desember 2022

Puisi-Puisi MH. Dzulkarnain

Puisi-Puisi MH. Dzulkarnain




Di Kening Malam Minggu

: Syafa Putri Nabila


Di kening malam minggu

Aku menyeduh pekatnya waktu 

Memberi sebuah kehangatan

Pada setiap bingkai status Tuhan

Mungkin di malam ini 

Aku simpan sejenak beberapa obituari 

Dalam dompet yang hanya berisi mimpi;

Mimpi-mimpi pejabat negeri yang ngeri


Mungkin cakap-cakap tak terasa cukup

Jika dari sebutir katamu tak berhasil kukecup

Pada setiap ceritamu yang penuh alur 

Aku mencoba untuk lembur

Tanpa merasakan libur maupun tidur


Dengan menyayangimu 

Aku merasa suatu kesempurnaan pelukan Tuhan

"...".


Bandung, 8 Oktober 2022


Rubaiat Taman Sorga


Bunga-bunga mekar tak pernah sukar 

Pada tubuh tamanmu yang gemar segar.

Dengan senyum, doa, dan penuh rindu

Banyak orang menyiraminya tanpa keluh

Berseru begitu maha aduh.


Tuhan beri kita taman sorgamu 

Tempat segala macam bentuk kata bermuara

Merangkul para penyair Nusantara 

Untuk menyeduh sejarah pada palung tubuhnya

Dan sesekali menggoda para perawan atau janda 

Lalu mereka anggap sebagai selir setianya


Di taman sorgamu itu para sanak penyair

Tak pernah alpa memberimu syair-syair 

Sejuk mengalir sambil berdesir 

Pada rongga dadaku yang fakir 

Secangkir puisi dan seberkas kopi

Adalah kawan penangkal sunyi

Mereka pun hirup bersama-sama 

Hingga hilang obituari insomnia 


1968 hingga sekarang 

Namanya akan tetap narasi 

Pada setiap jengkal hidup kami


Annuqayah, 2022



Risalah dari Penghuni Maya

: Batavia


Jam telah mengukur panjang tubuhmu

Dari mula-mula tanduk sejarah 

Kau kami kenal sebagai Batavia

Hingga sekarang sebagai ibu dari kota kata kita


Jauh setelahnya banyak kulihat percikan-percikan di layar kaca

Tentang riuh, malu, dan beberapa keangkuan para suhu

Tentang tawa, luka, dan senyum yang ramah dibingkai maya

Tentang anak yang merintih, juga yang bernyanyi 

Dan ada pula para remaja yang gemar mabar hati 


Aku termenung sesaat diiringi senyum yang lekat

Apakah memang seperti itu keberadaan mereka di tempurung kepalamu

Atau hanya analisis kepalaku saja yang kebanyakan ngehalu


Kini lima abad telah berlalu sudah

Dan di keningmu penuh dengan mekar bunga

Segala bentuk harap merayakannya dengan sehat

Semoga Batavia yang kini telah Jakarta

Tetap ramah di jendela-jendela mata para pengguna maya


Sumenep, 2022


Di Kota Peci


Nadham-nadhaman asyik 

Adalah instrumen klasik

Merangkul doa-doa pada Sang Khalik

Meredam akal akar fanatik


Kota itu adalah kota malam

Kota di mana pernak-pernik firman Tuhan

Melekat erat terus kami baca, kami dengar, kami pandang

Suatu pemberian kalam keabadian


Waktu memang tak pernah lusu 

Membangunkan pangeran subuh

Dari ruang remang tipu-tipu membelenggu


Rindu Ayah Ibu 

Kami bungkus dalam hanagat kantong saku baju

Kadang kami letakkan di balik bantal batu


Di kota peci ini

Semoga berkah tumpah 

Membasahi hidup tubuh tabah kami


Sumenep, 2022



Titipan Tuhan


Di padang Nusantara

Tepatnya di pundak Jawa 

Tuhan menitip kebun sorga

Tempat teduh

Bagi para wali menyulam ilmu

Tangan sejarah mencatat

Dengan persaksian dua kalimat syahadat

Langkah awal jalannya syariat

Bermula indah serta keramat


Doa-doa para leluhur

Terus meraba tubuh Demak yang subur

Dan telah kian berumur


Semoga,

Kami sebagai manusia pribumi

Bisa membayar dahaga rindu nabi

Lewat Demak-mu yang telah diberkahi


Annuqayah, 2022

 


Aku sebagai Sajakmu


-Chairil Anwar

Apa kabar denganmu di sana 

Saat ini puing-puing puisimu masih terhidang mewah 

Di meja koran dan majalah atau bahkan di mana-mana

Kini, semuanya menjelma rubaiat kisah tanah sorga


Selama aku masih sumringah di mata waktu

Bait-baitmu tetap terjaga segar utuh,

Bersama hangat kopi, mimpi dan seberkas obituari

Bingkai doa, tawa, dan beberapa peristiwa

Lirik lagu, haru, dan juga aku

Semua telah menjadi ritme perjalananmu


Sketsa wajahmu sering kali aku jumpai indah

Di dinding sekolah, di kolom sejarah

Bahkan di ruang pojok pemeran tertata megah


Aku selalu menafsir tentang dirimu tempo hari

Yang menanam angan pada sebuah puisi

Bahwa kau ingin berjejak sajak satu abad lagi

Dan Tuhan pun mengabulkannya setiap hari

Sampai saat ini kau tetap narasi 

Di kening kami


Lewat puisi ini

Aku banyak-banyak berterima kasih padamu

Yang telah menjadikan Aku sebagai sajakmu


Annuqayah, 2022


_______

Penulis


MH. Dzulkarnain. Nama pena dai Noer Moch Yoga Zulkarnain. Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pemuda kelahiran Sumenep, 16 Juni 2003. Alamat rumah: Ds. Gunung Kembar, Kec. Manding, Kab. Sumenep. Masyarakat  ‘Majelis Sastra Mata Pena’ (sebuah Komunitas Literasi dan Seni). Salah satu Kontributor puisi pada Antologi Puisi DNP (Dari Negeri Poci) ke-11 Khatulistiwa 2021 (KKK Jakarta, 2021), Antologi Puisi DNP ke-12 Raja Kelana 2022 (KKK, 2022). Beberapa tulisannya pernah dimuat/dipublikasikan di media online, majalah dan koran harian. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com