Jumat, 16 Desember 2022

Cerpen Buaya Dayat | Telepati Mati

Cerpen Buaya Dayat



Psikiater bilang aku anti sosial. Pihak sekolah menyebutku bebal.  Sementara ayah memanggilku titisan Dajjal. Faktanya, aku cuma seorang remaja yang bisa berkomunikasi dengan mereka yang sudah menemui ajal. 


***


Aku lahir ke dunia dengan tumbal nyawa dua manusia lainnya, ibu dan kakak kembarku.  Ayah, yang dengan kematian mereka sudah tawar dengan kehidupan memberiku nama Mawar, nama yang banyak digunakan untuk alias korban perempuan di berita kriminal.  Atas nama tulisan di batu nisan, kakak kembarku pun harus punya nama, maka diberilah pasangan sejati Mawar. Ya, Anda benar, ayah memberi nama untuk batu nisan kakak: Melati.


Katanya nama adalah doa. Nama Mawar menjelma keindahan dalam paras wajahku, tapi dengan bonus duri penderitaan di kehidupan ayah.  Sementara Melati tetap suci terjaga dari dosa karena baru lahir langsung mati.


***


Entah ada hubungannya atau tidak dengan aku yang diasuh oleh single father, cara berekspresiku cenderung dingin dan tertutup.


“Kamu tuh introvert banget, sih?” begitu komentar Tasya, teman sebangku dari sejak kelas satu SD saat aku lagi-lagi menolak ikut pesta ulang tahun teman sekelas.

  

Introvert? Entahlah, aku tak pernah latah cari tahu lewat kuis kepribadian di Facebook.  Yang kutahu cuma belajar dan belajar karena aku ingin melihat senyum tipis ayah yang langka saat aku dapat nilai bagus.  


Aku lulus SD dengan predikat bintang kelas. Untuk itu aku dapat pelukan singkat yang kehangatannya masih sering kukenang hingga sekarang. Kepintaran membuatku dengan bebas memilih melanjutkan ke sekolah mana pun. Kawan, aku mau bilang ini berdasarkan pengalaman, “Kadang terlalu banyak pilihan malah membuatmu salah pilih”.  Seperti pilihanku kali ini, SMP Favorit khusus wanita, karena aku tak mau ada drama jatuh cinta. 

 

Di sini, aku malah merasa tak ditemani. Aku merasa dimusuhi sejak hari pertama, hanya karena aku dianggap punya kombinasi terlarang yang bisa dimiliki seorang perempuan: cantik sekaligus pintar. Dua kombinasi yang banyak dibilang anugerah, malah jadi musibah di sekolah ini.  


Puncaknya saat Kak Rosa, kakak kelas yang dengan sengaja menyenggol mangkok mi ayamku di kantin.  Diiringi pandangan penasaran pengunjung yang lain.


“PRANG!”


Mangkok pecah. Mi ayam tumpah. Aku menatap menengadah.


“Kenapa? Gak suka, lo!? Makanya jangan kurang ajar, ini kursi gue! Jangan mentang-mentang cakep, ngerasa bintang di sini. Jangan mentang-mentang pinter, deh!”


Aku pusing menghitung begitu banyak kata "jangan" yang diucapkan dalam satu kalimat.  Rok kotak-kotakku menghangat ditumpahi kuah, seragam putihku yang terciprat saos merah membuat memanas dan marah.  Aku berdiri menatap lurus Kak Rosa dan berkata dingin.


“Soal cantik, kenapa Kakak nggak protes saja sana sama Tuhan, dia yang bikin begini. Aku pintar karena belajar. Kalau Kakak malas, ya jangan salahkan kalau bodoh di kelas.”


Cantik, pintar, dan bermulut tajam tentu bahan bakar terbaik untuk pipiku kena tampar.  Tamparan yang mestinya sakit itu tak terjadi. Karena begitu tangan Kak Rosa melayang, dia seperti terganjal sesuatu yang tak nampak dan tergelincir dengan sukses. Tentu bukan salahku, tapi hal itu malah menambah dendam kesumat di hati Kak Rosa dan para murid lain, yang sama-sama memiliki sindrom rendah diri yang akut. Aku tidak takut!


***


Keberanian ternyata bukan segalanya di dunia sekolah. Kesendirian di kelas, lama kelamaan membuatku jengah. Ternyata aku tidak se-introvert seperti dugaan Tasya. Di rumah ayah tak bisa diajak bicara, beliau seperti robot pencari nafkah. Nilai bagus tak lagi membuatnya terlalu gembira. Sekolah tadinya adalah pelarian dari suasana rumah, bagaimana bisa menghibur jika semua teman kabur? Bahkan di kelas tak ada yang mau berbagi meja denganku. Lebih tepatnya "tak bisa" bukan "tak mau".  Mereka takut dengan Kak Rosa dan gengnya, yang titahnya ditaati seantero sekolah. 

 

Aku pun mengalah. Kuturuti klise yang entah diembuskan pria minder yang mana dalam sejarah: "Tuhan itu adil, kalo mukanya cantik biasanya bodoh. Kalo pinter biasanya jelek.”  Sungguh pernyataan yang merendahkan, tapi sayangnya banyak diiyakan oleh perempuan itu sendiri. Sekolah ini buktinya.


Maka demi boikot pertemanan denganku dibuka, aku mulai berakting bodoh. Kujaga nilaiku tepat ada di garis rata-rata. Jika awal masuk dulu aku akan antusias tunjuk tangan untuk semua pertanyaan guru, sekarang aku lebih memilih melihat ujung kuku dan pura-pura tidak tahu. Bertingkah sebodoh yang diharapkan dari orang yang dianggap masuk standar "cantik". Ternyata menjadi orang pintar sendirian lebih buruk daripada menjadi orang bodoh, yang membuat murid lain nyaman untuk berteman.


Ketika aku mulai bisa menikmati masa sekolah dengan lebih mudah dan lumayan indah, datanglah Senin jahanam dalam bentuk noda darah di rok putihku. Rupanya yang dengki belum sepenuhnya sembuh, karena menstruasi pertama yang mestinya wajar di sekolah yang hanya berisi perempuan, menjadi bahan olokan Kak Rosa dan gengnya saat upacara bendera.


“Hormat dong tuh ke pantatnya Mawar, ada merah putih di situ!”


“Hahahahahahahaha!”


***  


Di saat aku merasakan nyerinya menstruasi untuk pertama kali, ayah kebingungan dan salah tingkah bicara dari balik pintu kamar.


“Ngg ... Mawar, ayah suruh Mbok belikan pembalut di minimarket depan ya?”


Mawar membunuh sejenak rasa perih demi memadamkan kebingungan ayahnya.


“Sudah Yah, tadi sudah dikasih sama guru di sekolah kok. Mawar istirahat dulu, ya, Yah.”


“Oh  iya ... iya. Kalo ada apa-apa panggil ayah aja ya.”


Kudengar helaan napas lega dari balik pintu kamar. Ini adalah kali pertama ayah bicara lebih dari tiga kata padaku. Ah, ayah, apakah harus melibatkan darah untuk dapat perhatian ayah?


Begitu ayah melangkah menjauh, dari ekor mata kulihat sesosok makhluk mendekat.  Manusia yang amat menyerupai diriku. Sesaat akal sehatku mengira aku sedang berkaca.


“Halo Mawar, aku Melati saudara kembarmu.  Aku ditugaskan untuk menjagamu.”


Pernahkah kalian menghadapi makhluk yang kau tahu sudah mati? Pernahkah kalian menatap sosok serupa dirimu dengan tampilan transparan? Kalau kalian pernah, mungkin reaksinya akan sama denganku. Pingsan.


***


Maka, mulai hari itu mata batinku dibuka perlahan. Aku melihat apa yang tak kasat mata.  Mataku melihat yang sudah meninggal sebagai manusia normal, sama sekali bukan tampakan seram seperti di film horor. Sialnya mataku malah menangkap manusia hidup dengan berbeda. Aku melihat apa yang ingin disembunyikan. Pencitraan duniawi tak akan laku di mataku, belakangan aku belajar, ternyata tampakan manusia di dunia nyata sesuai kebaikan mereka, jika batin orang tersebut buruk maka bisa seburuk beruk-lah tampakannya di mataku.  Melihat berita tentang politikus di media, seperti menyaksikan parade marga satwa. Beragam tampakan binatang ada di wajah mereka. Ada yang haus darah seperti hiu, banyak yang bertampang pengecut seperti cecurut atau tukang janji yang bikin kecewa berwajah kecoak.


Seminggu penuh melihat hal tersebut membuat psikisku kena, membuat fisikku panas tinggi.  Hal ini diperparah saat aku marah melihat tampang ayah yang "untungnya" sebagian besar masih manusia tapi ketika berbicara lidahnya bercabang dua seperti reptil, kulit di sekitar mulut pun kulihat ditumbuhi sisik.


Guru di sekolah yang harusnya digugu dan ditiru sayangnya tidak lebih baik. Bagaimana aku bisa percaya diajari moral Pancasila oleh Bu Guru bertampang babi? Bagaimana aku bisa menahan tawa saat Pak Umar, guru olahraga, melakukan pemanasan dengan tampang bekantan.


Maka, dimulailah hari-hariku yang bermasalah. Penampakan membuatku makin tawar dengan yang namanya manusia. Aku yakin, kalau ikut tes kepribadian di Facebook, bukan hanya introvert yang kudapat, mungkin paranoid?  Tak ada yang bisa mengerti apa mauku, aku pun tak mau tahu. Aku mogok sekolah agar tak punya teman berwajah hewan.


Ayah yang putus asa makin terpuruk setelah aku mendapat vonis antisosial dari psikiater. Bermacam obat anti depresan harus kuhabiskan.  


Ayah yang tak percaya hal berbau klenik akhirnya menyerah setelah melihatku bicara dengan tembok kamar. Aku pun diruqyah.  Ruqyah yang malah membuatku nyaman karena kalimat mulia yang dilantunkan membuatku tertidur lelap dengan damai. 

 

“Tak ada yang salah dengan anak Bapak.”


“Bagaimana bisa gak ada yang salah, Ustaz? Dia cuma bicara dengan benda mati, paling sering dengan tembok di kamarnya. Sudah sebulan anak saya ini tidak bicara sekalipun ke saya, menatap saja tidak pernah. Seperti jijik.”


Jika ada penghargaan Ayah Tersabar aku yakin ayah adalah juaranya. Berbulan-bulan beliau jadi bulan-bulanan tingkahku yang makin meresahkan. Ayah sampai menghabiskan jatah cuti dari pekerjaannya untuk merawatku.


***


“Ning, kalau saja kamu masih hidup, kamu pasti tahu apa yang harus dilakukan. Aku sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, Ning ....”


Dari Kak Melati aku tahu, ayah sedang berbicara dengan foto ibu di ruang tamu, hal yang membuat Melati terharu.


“Dik, sudah saatnya kamu beritahu ayah.  Beliau berhak tahu.”


Atas usul cemerlang kakak, itulah awal kisah aku jadi titisan Dajjal. 


“Ayah, Mawar mau bicara.”


Ayah terperanjat kaget, anak perempuannya yang sudah lama tak bicara dengannya tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya yang sedang mengadu pada foto mendiang istrinya.


“Eh iya, Mawar. Ayah juga kangen ngobrol kayak dulu.”


Dulu. Dulu yang mana? Biasanya juga obrolan ayah hanya formalitas, bukan?


“Mawar punya mata ketiga, bisa melihat apa yang nggak kelihatan orang lain. Mawar punya telepati, bisa melihat yang sudah mati. Mawar bisa lihat kakak.”


Ayah terhenyak.  Beliau menatapku tak percaya.  


“KALAU KAMU MALAS SEKOLAH, GAK USAH CARI ALASAN YANG BUKAN-BUKAN!”


Aku hanya bisa menghela napas sambil menatap ke balik punggung ayah, ke sosok Melati yang salah tingkah karena usulannya berbuah kemarahan ayah.


“Tuh kan Kak, Ayah gak akan paham deh ....”


Ayah bangkit, meraih pigura foto di tangannya.  Menunjukkan padaku dengan telunjuk yang gemetar, senada dengan suaranya yang bergetar.


“Mawar, Melati itu janin tanpa dosa. Berani-beraninya kamu bilang dia gentayangan dan bicara dengan kamu. Malah ngaku-ngaku punya mata ketiga kayak Dajjal.”


“Kak, biar aku kasih bukti ke ayah biar percaya.”


Bukti yang diberikan Melati adalah bau harum semerbak Melati dan lagu “Lihat Kebunku” yang tiba-tiba muncul di TV yang tadinya dalam keadaan mati.


Suasana hening, aku melihat bosan ke arah TV, ayah menatap tegang, melihat dan mendengar nyanyian yang mengilhami namaku dan kakak.


“... Mawar Melati semuanya indah. Mawar yang hidup Melatinya mati!”


Ayah tergeragap dengan lirik terakhir, menatapku ngeri.


“Kamu titisan Dajjal!”


***


Titik balik hubunganku dengan ayah adalah saat kemampuanku bisa menangkap pelaku pembunuhan Bu Seno, tetangga kami. Informasi dari para hantu membuat alibi para tersangka jadi percuma. Pemecahan kasus Bu Seno tentu saja bukan yang terakhir, itu adalah jalan awal bagiku untuk terkenal. Hal klenik semacam ini sangat mudah untuk viral di negeri ini. Aku dijuluki Mawar si “Dukun Cantik”.  


Bahkan sebuah stasiun TV membuatkanku acara dengan judul “Mata Mawar”. Rating acaraku meledak mengalahkan Mata Najwa yang terlalu serius untuk manusia Indonesia.  Kalau Mbak Nana harus susah payah mendatangkan narasumber dan harus menanggung akomodasi jika dari luar daerah.  Maka, tamuku tak kasat mata, bisa datang tanpa alat transportasi yang mahal.  


***


Ternyata terkenal adalah penawar paling manjur untuk kelelahanku melihat manusia berwajah hewan.  Tawaran uang membuat mataku bisa memaklumi jika produser acaraku berwajah lintah. Teman? Jangan ditanya, orang asing pun kini mengaku kenal.  Follower-ku jutaan!  


Cuma ayah yang kelihatan mulai resah, “Kamu jangan terlalu lelah ya, Nak.”


Kak Melati dan hantu lain mulai protes, “Dik, ingat tujuan kita? Membantu orang bukan untuk kepentinganmu pribadi.”


Telepatiku makin tumpul seiring dengan aku yang makin menikmati ketenaran dan sanjungan. Dan pada suatu pagi sehabis tapping acara TV, aku menyadari, telepatiku sudah mati.


***


Hidup memang bisa se-Srimulat itu. Kalau awal masuk SMP dulu aku pura-pura tak pintar agar diterima berteman, kini aku harus pura-pura (masih) mampu berkomunikasi dengan orang mati, agar hidup ini tidak menjadi sepi. Lagi.


________

Penulis

Buaya Dayat adalah penulis iklan yang ingin jadi penulis beneran. Novel digitalnya Catatan Harian Para Pembohong menjadi salah satu pemenang kompetisi menulis dan Insyaallah akan difilmkan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com