Selasa, 20 Desember 2022

Proses Kreatif | Jangan Menulis di HP!

Oleh Encep Abdullah



Saya paling kesal saat baru pegang HP, istri saya langsung ngedumel "Maen HP mulu!" Padahal seharian, saya tidak pegang. Saya ingin mengecek dan membalasi pesan penting yang masuk di WA.


Saya baru mau mulai ngetik, sudah ada panggilan, "Ayah ambilkan ini ... ". Mau ngetik lagi, "Ayah, ambilkan itu ...". Mau ngetik lagi, "Ayah, ...". Padahal sebelum saya pegang HP, saya tidak disuruh ngapai-ngapain. Sebaliknya, saat ia pegang HP, saya tidak pernah usik dan usil walaupun sebenarnya yang ia lihat tidak penting-penting amat. Misal, buka-buka Shoppe (untuk apa seharian mantengin Shoppe), berjam-jam lihat reel, baca hampir semua status orang lain, dll. Sesekali memang ia memberi informasi penting, tapi kebanyakan yang ia lakukan, bagi saya, tidak terlalu penting.


Saya melihat ketidakpentingan itu karena istri saya bukan penulis atau yang pekerjaannya memang habis di situ. Kalau saja ia sama seperti saya, saya tidak pernah iri melihatnya berlama-lama bermedia sosial karena semua itu pasti akan menjadi inspirasinya. 


Saya bisa bandingkan bila saya dan istri saya seharian sama-sama "berlomba" pegang HP. Hasilnya tentu beda dan kontras. Yang ia simpan-rekam dalam pikiran dan gawainya adalah setumpuk barang yang sudah diangkut ke dalam keranjang yang kelak akan ia beli. Saya, pasti akan memasukkan banyak inspirasi ke dalam keranjang ide saya untuk kelak saya tuliskan kembali. Maka, saya sering kali katakan, setiap peristiwa apa pun yang diamati penulis adalah inspirasi, sekalipun ia seharian main HP. Seorang penulis tidak akan pernah sia-sia melakukan atau dikenai sesuatu yang mungkin itu membahayakannya, merisaukannya, merugikannya, menyakitinya, mengintimidasinya, mendepresikannya, atau apalah itu-- dalam hal ini bukan sesuatu yang disengaja, walau disengaja pun ya tak masalah kalau memang itu sudah diskenariokan, dalam beberapa kasus, saya sering kali sengaja untuk disakiti dsb. Seperti halnya istri saya yang melihat saya tampak berbahaya "tak ada guna" main HP. Padahal yang saya kerjakan adalah banyak hal untuk kebudayaan. Edian, serius beud!


Anehnya, saat saya membuka laptop--tidak hanya istri saya, bapak/ibu saya juga--dikira saya sedang mengerjakan suatu peradaban besar, bahkan tidak berani menyuruh atau mengganggu saya walau hanya memanggil nama. Padahal bisa jadi saya sedang buka YouTube atau berleha-leha bukan sedang menulis. Kadang, sesekali saya jadikan senjata bermain laptop seharian agar saya bisa berzikir lebih lama di kamar. Mengapa stigma mereka berbeda saat saya berlama main HP dengan saya berlama main laptop? Saya tak mungkin ke mana-mana berlama-lama bawa laptop dong agar selalu dianggap sedang melakukan hal penting. 


Zaman sudah canggih. Manusia bisa bekerja dalam separuh waktunya melalui HP. Teman saya, seorang wartawan, di tangannya tak pernah lepas dari HP. Saya memaklumi kalau ia suntuk di situ. Kalau istri saya yang suntuk di situ, tepatnya lebih banyak menghabiskan waktu yang tidak penting, bukan untuk mengembangkan diri, mendapatkan banyak materi, apalagi mencari inspirasi. 


Tapi saya tidak pernah melarang. Saya biarkan saja. Tahu sendiri kalau banyak melarang, "jatah" saya pasti berkurang. 


"Kan Ayah penulis. Tidak usah menyuruh aku menulis. Mencari inspirasi. Ayah saja. Tulis saja apa yang aku lakukan, yang aku perbuat. Itu sudah cukup memberikan sumbangsih dan inspirasi untuk Ayah, untuk hidup kita, dan dunia," ujarnya dalam mimpi saya.


Kiara, 20 Desember 2022


______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).