Kamis, 15 Desember 2022

Esai Joni Hendri | Menularkan Kesibukan Sastra kepada Anak

Esai Joni Hendri 



Sebagai pencinta sastra, saya merasa belum puas hati berjuang menaklukan kehendak untuk membuat rasa cinta saya tertular kepada dunia anak hari ini. Kondisi saat ini semuanya serba canggih, namun tidak menyurutkan keinginan. Karena, bukankah banyak para pencinta sastra hanya mencibir bahwa tak berguna riwayat sastra dibandingkan dengan riwayat kehilangan nyawa generasi sastra hari ini!


Rasa sedih saya mungkin serupa dengan rasa sedih banyak orang. Tapi, sedih itu kemudian menjadi jalan saya menuju sebuah negeri yang asing. Ya, mungkin soal rasa yang hampa atau boleh jadi rasa sunyi. Hal tersebut merupakan pengalaman paling purba bagi setiap manusia. Nah, rasa hampa dan sunyilah yang menjadikan para pencinta sastra untuk tumbuh dengan sendirinya. Maka, tularkanlah rasa tersebut kepada anak-anak yang terlalu sibuk dengan zaman yang semakin melaju oleh dunia kedua, yakni game.


Sastra anak merupakan sebuah ilustrasi yang dapat menunjukkan bahwa dunia sastra bukan sesuatu yang asing bagi semua kalangan. Terutama anak-anak yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. Namun, tetap mengenal sastra di kalangan mereka. Sebagaimana dunia sastra bukan dunia masa lampau. Misalnya kita kaitkan dengan dua hal yang menurut Lukens (2003: 09) menjadi esensial dalam karya sastra yakni “kesenangan” dan “pemahaman” dua hal tersebut unsur pertama yang sedang berkembang bagi kalangan anak. Menurut Hunt (1995: 61) sastra anak adalah sastra yang menyangku baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan yang lain. Namun, semua isi dari tulisan harus berangkat dari sudut pandang anak. Bukan dari orang tuanya.


Kesenangan identik dengan dunia anak, dunia keliaran imajinasi. Kesenangan bagi anak sangat berdampak dalam kehidupannya. Baik positif maupun negatif, mereka memiliki waktu yang harus menyenangkan dirinya setiap waktu. Hal ini dapat diperhatikan bahwa ada suatu manfaat dengan terjunnya mereka dalam dunia sastra. Dunia yang jarang diminati oleh kebanyakan orang.


Pemahaman identik dengan rasa ingin tahu yang kuat serta kebutuhan mereka atas berbagai informasi. Usia anak merupakan fase perkembangan yang sangat labil. Kita bisa memberi pemahaman sastra sebab mereka mudah menerima berbagai hal. Perkembangan intelektual maupun moral akan terbentuk ketika sastra itu ditekuni.


Alangkah beruntungnya jika pada masa pencarian mereka terhadap tulisan itu kemudian produktivitasnya terus dibimbing. Maka, nasib sastra anak hari ini tak terpinggirkan jika kita menganggap sastra anak penting dihidupkan di sekolah, khususnya di Riau. Sebab, sastra anak tidak kalah saingnya dengan pengetahuan yang lain. Akan tetapi, kita mempunyai persoalan yang serius terhadap ruang-ruang “bermain” bagi anak-anak kita hari ini. Minimnya membaca karya sastra dan tidak ada pendukung lain seperti tontonan yang bisa membangkitkan gairah anak-anak dalam menulis. Kesulitan bagi orang tua untuk memilah mana yang bisa dikosumsi anak-anak dan mana yang tidak layak.


Pada kenyataannya sastra anak merupakan sebuah genre, bahkan seolah termarjinalkan dalam dunianya sendiri. Saya menduga bahwa para penulis, penerbit, dan pembaca kurang memerhatikan sastra anak sehingga ada jarak dengan sastra anak, lalu mengabaikannya. Kalaupun ada penulis anak, penerbit akan berpikir panjang untuk menerbitkannya. Karena siapa yang akan membacanya?


Mulailah hari ini kita berpikir kembali, dari berbagai pihak secara perlahan untuk mengubah paradigma, untuk melihat bahwa sastra anak sangat penting. Anak-anak yang haus akan informasi itu. Sastra tidak semata menjadi sebuah buku, namun menjadi hal yang bisa membuat anak dalam melatih pemikirannya secara kritis dengan sebuah teks sastra.


Dalam terpaan arus global yang semakin menderas perlu ditekan bahwa sastra anak sangat ditonjolkan hingga menjadi isu bebas yang patut dijadikan dampak terhadap perkembangan bacaan. 


Strategi


Agar sastra anak berhasil diterapkan di sekolah dengan baik, perlu strategi yang jitu. 


Pertama, hidupkan gerakan menulis di setiap sekolah dengan guru pendamping yang paham terhadap dunia sastra. Tidak usah banyak pertimbangan untuk menarik guru yang paham terhadap sastra. Perlu disadari sastra menjadi sebuah tonggak yang berdiri menompang bahasa dan menghidupkan bahasa ibu. Sebab bahasa ibu bahasa yang bisa menjadi jejak budaya setempat untuk bisa dikenali berbagai pihak luar daerah.


Kedua, menyadari bahwa sastra akan menjadi hal penting di dunia global saat ini, yang semakin deras. Sastra mampu membenteng hal-hal yang membuat anak-anak tersesat dalam berpikir dan membaca. Sebab sastra sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini, dengan sedikit pembiasaan dan pengasahan akan bisa diterapkan. 


Ketiga, ajari membaca yang baik kemudian mulailah menulis. Hingga mereka bisa menyampaikan gagasan dunia mereka sendiri. Mengungkapkan hal-hal yang dikuasainya. 


Maka, mari terapkan sastra kepada anak meski hal tersebut dianggap asing. Jangan ditanya apakah berhasil atau tidaknya penerapan tersebut. Tapi, laksanakan dan nikmati apa pun yang akan terjadi. Sebab, segala yang dirasakan tak mudah untuk diraba. Mungkin sastra akan menjadi hal yang segar di tengah-tengah anak-anak yang sedang mencari dunia tersebut.


Rimbo Panjang, 2022


__________

Penulis


Joni Hendri, S.S., kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus AKMR Jurusan Teater. Dan juga alumni UNILAK Jurusan Sastra Indonesia. Karya-karya berupa naskah drama, esai, cerpen, dan puisi. Sudah dimuat di beberapa antologi dan media seperti  Riau pos, Solo Pos, Medan Pos, Radar Bayuwangi, NusaBali, Tanjung Pinang Pos, Pontianak Pos, Sulawesi Tengah, Bali Pos, Singgalang, Bhirawa,Waspada dan media online kompas.id, mediaindonesia.com, balipolitika.com, lamanriau.com, ngewiyak.com, langgar.co, haripuisi.id, riau sastra.com, riaukepri.com, marewai.com, becik.id, ceritanet.com, cerano.id, metafor.id, dll. Bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau dan bergiat di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Sekarang mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com