Jumat, 06 Januari 2023

Cerpen Kurnia Gusti Sawiji | Korek Kuping, Perang Dunia Ketiga, dan Serangan Senjata Nuklir di Negeri China

Cerpen Kurnia Gusti Sawiji



Di antara segala hal yang tidak disukai Pik, hal yang paling tidak disukainya adalah membersihkan telinga dengan korek kuping. Membayangkan salah satu lubang tubuhnya yang paling sensitif dijamah dan diobok-obok oleh benda asing membuatnya merasa dihinakan. Mungkin karena itulah alam bawah sadarnya menolak ingat ketika ibunya sudah dua kali memintanya membeli korek kuping yang sudah habis di rumah. Ibu dan adik laki-lakinya suka korek kuping. 


Hanya sebuah nasib buruk yang menyelinap seperti seorang maling yang kini meletakkannya di hadapan seorang kasir di satu-satunya cabang Alfamart di desa tempat dia tinggal. Pukul 5 sore, dia baru pulang kerja, dan pagi tadi ibunya sudah memperingatkan untuk ketiga kalinya supaya dia membeli korek kuping. Sekarang dia berhadapan dengan seorang kasir cantik yang mempunyai kebiasaan buruk menyampaikan trivia kepada pelanggannya dengan mengatakan “Tahukah Anda...” di awal.


“Tahukah Anda bahwa distribusi korek kuping sudah dihentikan dua hari yang lalu karena terhambatnya impor kapas Indonesia sejak minggu lalu? Brazil, penyedia kapas terbesar sudah bangkrut seperti Yunani; sementara Amerika Serikat yang biasa mengekspor kapas kini lebih fokus memproduksi senjata dan dana perang. Langkanya kapas di Indonesia membuat Menteri Perdagangan harus memilih di antara dua pengorbanan: pakaian atau korek kuping,”  jelasnya dengan nada iklan televisi.


“Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Lagipula negara agraris macam apa yang masih menerima kapas dari negara lain? Saya hanya perlu korek kuping, dan hanya untuk benda laknat itu saya sudah keliling 13 toko kelontong dan 17 cabang Indomaret. Kalau tidak terpaksa, saya tidak ingin menginjakkan kaki ke sini, jadi kalau memang kau tidak punya korek kuping, lebih baik kau diam saja.”


“Tapi, Pak, tahukah Anda bahwa korek kuping berbah...,” belum sempat kasir cantik itu menyelesaikan kalimatnya, Pik sudah keluar toko dengan menendang pintu kaca di samping kanannya. Sepintas dia lihat kasir memanggil manajernya, tetapi dia sudah duluan menaiki motornya dan tancap gas.


Dua hari yang lalu. Pertama kali ibunya meminta tolong dibelikan korek kuping. Jika dua hari yang lalu distribusi korek kuping berhenti, berarti berkemungkinan dalam dua hari itu masih ada sisa korek kuping di toko-toko. Dia yakin sedang berjalan ke dalam rahang naga, tetapi itu adalah kenyataan yang harus dijalankannya. Dan benar, sesampainya dia di rumah dan menyampaikan berita ketiadaan korek kuping kepada ibunya, apa yang dia dengar adalah hinaan.


“Sudahlah. Salah saya yang berharap kepadamu. Lagipula, kau dan adikmu adalah anaknya,” demikian desis ibunya. Dari segala hal yang ditakuti Pik, yang paling ditakutinya adalah ketika ibunya menyebut dirinya ‘Saya’, dan dari segala hal yang membuatnya marah, yang paling membuatnya marah adalah dibandingkan dengannya.


“Bu, korek kuping itu sudah habis sejak lama. Ibu pikir apa yang bisa kulakukan!?” Ini senjata andalan Pik; sedikit memutarbalikkan fakta demi keselamatan pantatnya.


“Anak tak tahu diuntung, kau kira sudah berapa kali kau kuingatkan untuk beli korek kuping!? Saya sudah ingatkan sejak dua hari yang lalu! Kau kira saya bodoh? Saya tahu tipu dayamu! Distribusi korek kuping berhenti dua hari yang lalu, itu ada di berita! Kalau kau ingat sejak kemarin saja untuk beli korek kuping, pasti dapat!”


“Bu, tapi itu hanya...”


“Kau mau membantah apa lagi, heh!? Kau dan adikmu dan dia semua sama! Kalian adalah laki-laki keparat yang hanya peduli sebatas keinginan kalian! Kau tidak peduli dengan korek kuping karena kau tidak menyukainya, walaupun keluargamu menyukainya. Empatimu itu empati setan! Bangsat!”


Yang selanjutnya terjadi adalah sebuah pertaruhan. Pik dihadapkan kepada dua pilihan: menunduk dan mengalah dan membiarkan ibunya mengatakan atau melakukan apa pun terhadapnya sambil berharap keadaan akan membaik satu atau dua hari setelah dia memohon ampun kepadanya, sebagaimana biasanya; atau melawan sampai dia adu jotos dengan keluarganya, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Kali ini, dan untuk kali ini saja, dia memilih untuk melawan.


Perang Dunia Ketiga


Di antara segala hal yang menantang bagi Pik, hal yang paling menantang baginya adalah bertaruh. Saat dia masih bekerja sebagai tukang tagih utang di rantau orang, rekan-rekannya menjulukinya ‘Pik si Koin Maut’, di mana dia akan meletakkan nasib ekonomi pengutang yang berada dalam penanganannya pada sekeping koin. Agak mirip cara Thomas Shelby ketika melawan Aberama Gold yang melecehkan ladang milik temannya, tetapi tentu Pik belum pernah seekstrem itu.


Sambil mengendarai motor dan menjauhi rumah, dia mengingat kembali pertaruhan terbesarnya, yang berakhir dengan kekalahan dan berakibat kepulangannya dari rantau orang kembali ke desa kelahirannya. Ibu dan adik laki-lakinya menjadi korban, dan oleh karena itulah sikap mereka lebih intoleran terhadap dirinya. Biasanya dia akan mengalah saja, sadar akan kasta barunya dalam rumah tangga. Tetapi kali ini, dan untuk kali ini saja, dia mempertaruhkan kenormalannya.


Keadaan desa setelah 13 tahun ditinggalkan mengingatkannya kepada Bu Halimah, tetangganya yang mengingatkannya kepada Ponce de Leon dan harta karunnya; semakin dia bau tanah dan mengerut, semakin banyak gelang emas yang ditimpakan ke tubuhnya. Sebuah kawasan desa yang Pik paham betul hanya berisi sawah dan jalan lumpur kini menjelma menjadi pusat bisnis bernama Xentre. Ruko-ruko berhamburan, pedagang jalanan berserakan, tetapi itu tidak membuat desanya semakin hidup.


Pik sampai di deretan ruko di Xentre. Sebagian besar sudah melompong, atau ditempeli spanduk ‘RUKO DIJUAL’. Berdasarkan informasi dari teman-temannya, ruko-ruko itu disewakan beberapa pengembang swasta yang menjamah desanya dengan harga yang cukup tinggi, sehingga hanya bisa dimiliki badan usaha yang cukup bermodal. Tetapi kala pandemi menyerang dan nilai beli masyarakat menurun, banyak badan usaha yang tidak punya pilihan lain kecuali gulung tikar, pulang kampung, dan bercocok tanam. Yang bertahan hanya mereka yang berjualan di jalanan.   


Minggu lalu, Rusia mengeluarkan deklarasi resmi bahwa perang dunia ketiga sudah dimulai. Ini bukan lagi perang antara Rusia dan Ukraina, antara Rusia dan Amerika, antara Rusia dan NATO, atau di antara para pemilik senjata nuklir. Ini adalah perang ego. Pengaruhnya adalah keadaan ekonomi dunia. Tidak lama lagi, pedagang-pedagang jalanan juga akan gulung tikar. Mereka bisa abai dengan keadaan dunia, tetapi dunia tidak pernah abai dalam menemukan cara-cara baru untuk membuat mereka menderita. Begitulah hidup, dan siapa pun tidak bisa berbuat apa pun terhadapnya.


Keadaan yang sama sekali tidak lucu ini membuat Pik ingin menelepon seseorang.


Dan Serangan Senjata Nuklir dari Negeri China


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika Pik meneleponku. Setelah menanyakan kabar dan keberadaanku (yang kujawab dengan ‘Baik-baik saja’ dan ‘Aku lagi di rumah, kenapa?’), dia mengajakku nongkrong di Bubur Ayam Adiba. Setahuku warung bubur itu sudah tutup minggu lalu, walaupun kursi-kursi dan meja makan masih dibiarkan sebagai bukti bahwa warung bubur paling populer dan paling sedap di seantero Kabupaten Tangerang pernah berdiri di sana. 


Ketika kutanya untuk apa nongkrong malam-malam begini, jawabannya singkat: lagi ingin teman ngobrol, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku menghela napas, mengiyakan. Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kami, tetapi kami sudah berjanji kenyataan itu tidak akan menghilangkan apa pun di antara kami. Toh perpisahan kami tidak diwarnai dengan konflik yang bisa membuat Luhut sekalipun jadi uring-uringan. Kami berpisah sebagai dua orang dewasa yang sadar tentang segala konsekuensi yang akan kami terima jika hubungan itu dilanjutkan.


Aku sampai di warung bubur pada pukul 7:30 malam, dan ada tiga hal yang dikomentari Pik: pertama, jaket jeansku yang baru; kedua, rambutku yang awalnya kubuat benar-benar pendek seperti laki-laki kini sudah sebahu panjangnya; ketiga, kebiasaan bersolekku yang agak bertolak belakang dengan penampilanku. Khusus yang ketiga membuatku bertanya dari mana dia tahu kalau aku bersolek, dan dia menjawab warna bibirku lebih cerah dari yang biasa dia lihat ketika kami berpacaran. Kerincian itu membuatku tertawa. Pik memang jenis laki-laki seperti itu.  


“Oke, aku sudah di sini. Mau bicara apa?” tanyaku. Sebelum mulai berbicara, dia menawarkanku sebotol teh pucuk yang dibelinya di Indomaret.


“Tidak, hanya ingin bicara tentang perang dunia ketiga,” celetuknya. Aku menggelengkan kepala. Pik memang jenis laki-laki seperti itu.


“Oke, kalau kamu ingin bertemu denganku hanya untuk berbicara tentang hal-hal aneh...,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia langsung memotong, “Ayolah. Kamu kan tahu, bahwa aku memang jenis laki-laki seperti itu.”


Aku menyerah. 


Pik bercerita seru tentang sebuah video yang dilihatnya, tentang kehancuran dunia ketika negara-negara pemilik senjata nuklir saling adu kekuatan. Aku membalasnya dengan sebuah konspirasi tentang serangan senjata nuklir dari negeri China yang kubaca di sebuah postingan Facebook kemarin. Pik menertawakanku sebagai orang yang masih percaya Facebook, dan aku balas mengejeknya sebagai orang yang pretensius. Kami berdua tertawa. Kegiatan saling mengejek ini mengingatkanku bahwa dulu, aku pernah mencintai laki-laki ini dan menjalin hubungan bersamanya.


“Tapi asyik juga sih, jika China benar-benar akan menghancurkan dunia dengan senjata nukir mereka,” ungkapnya.


“Kenapa begitu?”


“Bisa jadi itu adalah penyelesaian dari semua permasalahan dan penderitaan kita. Maksudku, tidak akan ada orang yang menderita, jika semua orang sudah mampus,” jawabnya sambil cengengesan.


Kami diam dan rehat sejenak. 100 meter di hadapan kami, keramaian para penjaja jalan mewarnai malam seperti krayon. Ruko-ruko kedaluwarsa di kiri dan kanan kami menjadi lorong yang menghubungkan kesendirian kami dan keramaian di sana. Aku bisa merasakan wajah Pik masih lunak seperti biasanya, tetapi bayangan malam membuat wajah itu bersembunyi. Lirih.


“Jadi... ada apa sebenarnya?” tanyaku. Pik menoleh dan tersenyum tipis.


“Tidak ada apa-apa. Hanya aku yang mencoba kembali bertaruh,” balasnya sebelum menceritakan apa yang terjadi kepadanya tadi sore. Di antara korek kuping, perang dunia ketiga, dan keinginan untuk memiliki hidupnya sendiri setelah sekian lama menjadi bahan pelampiasan keluarga lantaran sebuah kesalahan fatal yang dilakukannya 7 tahun silam dan menyebabkan dia didepak dari rantau orang. Aku menyimak dan mendengarkan setiap kata yang dituturkannya.


“Itu bagus kan? Maksudku, aku tahu mereka masih belum bisa memaafkanmu atas kesalahanmu, tetapi kamu juga tidak bisa terus-menerus menghukum diri dengan bertahan, bukan? Kamu berhak melepaskan diri dari masa lalumu. Atau dari bayang-bayang ayahmu. Dari apa pun,” jelasku menenangkan Pik yang masih diam.


“Lalu sekarang, bagaimana?” lanjutku lagi. Pik kembali menoleh dan bertanya, “Bagaimana apa?”

“Sekarang apa yang ingin kamu lakukan? Kalau kamu mau, di sebelah rumahku ada kamar kosong yang bisa kamu sewa.”


“Entahlah. Semua ini masih terasa kurang nyata di kepalaku,” balas Pik. Kami berdua pun menenggelamkan diri dalam lamunan masing-masing, berusaha untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi di masa depan. 


“Kamu mau tidak, balikan sama aku?” Pik tiba-tiba memecahkan lamunan. Aku menatapnya lekat-lekat, dan dia menatapku lekat-lekat. Sekali Pik mempertaruhkan sesuatu, maka dia tidak akan ambil pusing mempertaruhkan hal lain. Termasuk masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Dan hanya serangan senjata nuklir dari China-lah yang dapat menghentikannya. Menghancurkan masa lalu, masa kini, dan masa depannya sehingga dia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.


Pik memang jenis laki-laki seperti itu.


Tangerang, Mei 2022


_________

Penulis


Kurnia Gusti Sawiji lahir di Tangerang, 26 November 1995. Guru fisika yang pernah bercita-cita jadi raja bajak laut. Dapat diikuti di Instagram @kurnigs. Beberapa karyanya sudah termaktub ke dalam beberapa antologi, sementara dua karya solonya yang sudah terbit adalah: novel Tanah Seberang (Buku Mojok, 2018) dan kumpulan cerpen Dongeng Pengantar Kiamat (Unsapress, 2022).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com