Jumat, 06 Januari 2023

Puisi-Puisi Winarni Dwi Lestari

Puisi Winarni Dwi Lestari



Penyeberangan Jalan


harus seberapa banyak bilur 

lebam di dadaku

digilas berbagai roda 

agar mampu menahan langkahmu 

tetap menunggu mata lampu 

itu akan memerah?

harus seberapa panjang?

tak henti merengkuh semua jejak

yang selalu tergesa sebelum

habis waktu saat bersamaku.


tatap dan tetaplah pada putih rusukku

-dari mana kaki-kakimu diciptakan-

sebagai batas yang kan menjagamu 

dari mara bahaya 

dari kendaraan pengangkut amarah dan cemas

sebelum menjauh dan lesap

di hampar trotoar.

lalu aku akan merindukanmu 

kembali dengan langkah bergegas

seperti angin melintas

seperti hujan yang buru-buru membilas.


meski kau hanya melihat dadaku 

hanya selebar jalan

namun percayalah

ingatan akan diriku

tetap mengiringimu sepanjang jalan

sepanjang tujuan.


Karawang, 2022



Hendak Menyeberang Jalan


trotoar ini menyimpan banyak jejak

dengan satu tujuan: pergi atau kembali

kita takkan pernah bisa menebak

apa yang ada tepat satu langkah di depan

sesaat adalah seberapa nyaman untuk diam

dan sesaat yang lain hanya luapan penasaran.

ketika baru mengangkat setengah langkah 

tiba-tiba teriakan klakson dan sumpah serapah 

rem yang ugal-ugalan kembali menyurutkanku.

lalu hening.


ada suara ricik

kemudian menderas di aliran aspal jalanan

kendaraan berenang-renang di arus jeram

becak dan bus yang melintas mengingatkanku

pada koki dan koi di kolam depan rumah.

tiba-tiba bebek menyelonong -mirip ibu-ibu 

yang tak pernah memakai lampu sein- 

hampir menyerempet

reflek kuangkat kaki dan semua lenyap.


menjadi debur yang timbul tenggelam

dari ombak yang menabrak cone pembatas jalan.

beberapa kelomang mencuat di hampar trotoar

sesosok nelayan menebar jala di atas onthel

peselancar telah kembali sambil 

menenteng skateboard

hari pun surut.

cahaya merah mercusuar perempatan jalan

tengah menerangi sesosok aku yang lain

yang telah berdiri di seberang.


Tuban, 2022



Naik Angkot


tak ada yang lebih ahli untuk memintamu

berhenti atau pergi kecuali lambaian tangan.

rute makin sepi di jalan yang selalu padat dan macet

sosok tuamu tak lagi dinanti.

kaca mata lamur penuh stiker jaman dulu,

angka trayek dan penanda pulang pergi

bukan lagi pilihan untuk menuju ke mana pun.


pada bangku -yang dulu dipaksa memuat

belasan pantat, kini bernapas lega-

aku memarkir diri menanti pantat lain 

yang enggan mampir

sambil memakan jarum-jarum jam 

lebih banyak dan makin banyak.


roda terseok tak lagi mampu mengejar waktu

sering terhenti sesaat, melepas dahak

dari sisa napas yang sarat emisi dan asap.

keriput kulit yang kadang hijau, merah atau biru

serupa besi berkarat terkerat asam hingga coklat

engkau mendongak, sebentar lagi hujan

dan aku lupa membawa payung.


Tuban, 2022



Mudik


lautan kardus berjejalan di jalan-jalan

dalam kendaraan pengangkut serapah

tersangkut di persilangan lampu merah.

kardus yang memendam rindu

pada rahim ibu

muasal dari yang lepas akan kembali

pulang menuju riang masa kanak-kanak

pada lembut usap jemari emak

di mana suara isak dan air mata diserap-keringkan.

pulang melepas berbagai kutukan ibukota

mengubah semua anak menjadi batu

namun air mata ibu adalah alir mata air

yang menerima setiap batu

dalam dekapnya yang lembab dan dingin.

lautan kardus lelah berkejaran

sarat menyunggi mimpi dan tali-temali

yang menjerat hingga sekarat.

namun aku,

satu yang tak pernah terisi dan tersesat

di labirin angka merah kalender dinding rumah

bersama debu, gema waktu

dan bayangan harimu.

aku tersesat

di sebuah jalan dalam kepalaku.


Kudus, 2022



Lampu Perempatan Jalan


mata cekung yang suka berkedip

saat ada yang lewat di persimpangan itu

jauh tenggelam dalam pejam.

mungkin lelah terus menjaga dan terjaga

atau jenuh akan pengabaian.


sesosok becak yang bijak

lewat bersijingkat

agar derit kayuh dan denting belnya

tak mengusik dengkur.

angkot yang suka menyerobot

selalu iseng menyorotkan silau matanya 

kelopakmu tetap bergeming.

bahkan motor muda yang bengal

sengaja berteriak dengan suara paling pekak

namun mimpi telah membawamu menjelajah

jauh ke negeri entah.


berdiri tepi jalan yang -saling silang

memikul banyak tujuan itu- telah lengang

saat ini satu-satu pelintas 

yang tiap pagi selalu berharap lepas

hanya ingin bergegas untuk pulang

meletakkan setiap beban dan berharap

setiap malam menjadi lebih panjang.


Tuban, 2022


________

Penulis


Winarni Dwi Lestari, lahir di Tuban, kini tinggal di Karawang, Jawa Barat.  Saat ini menekuni usaha properti.  Studi terakhir Sarjana Univ Telkom.  Puisinya dimuat di media cetak maupun online. Pecinta puisi dan masih terus belajar menulis puisi.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com