Kamis, 05 Januari 2023

Esai Bandung Mawardi | Cerita dan Pria

 Esai Bandung Mawardi



Keramaian sastra di Indonesia dipengaruhi sayembara-sayembara. Ratusan sayembara diadakan sejak masa 1950-an. Dulu, sayembara diselenggarakan oleh majalah, instansi pemerintah, radio, koran, dan lain-lain. Pada abad XXI, sayembara-sayembara diadakan saat orang-orang sibuk dengan gawai. Sayembara makin ramai tapi diadakan oleh pihak-pihak sadar kuasa digital dan ketentuan-ketentuan baru.


Pihak paling sering mengadakan sayembara saat Indonesia berlimpah majalah: Femina, Kartini, Gadis, dan Sarinah. Pada suatu masa, majalah sastra bernama Horison juga mengadakan sayembara tapi terhitung jarang. Sayembara-sayembara membuat geliat sastra terasakan, berharapan bermunculan pengarang-pengarang baru. Harapan kada tak mewujud gara-gara para pemenang itu melulu nama-nama sudah “langganan”.


Konon, sayembara sastra masih dianggap bergengsi diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Para pemenang mendapat ketenaran. Dulu, naskah-naskah mereka dicetak menjadi buku. Penerbit sering tertarik dan bertaruh buku sulit laku: Pustaka Jaya. Sejak 1998, naskah-naskah pemenang sayembara itu diincar penerbit-penerbit besar. Buku-buku hasil sayembara pernah laris sebelum redup lagi. Sekian tahun terakhir, naskah-naskah sayembara justru dipublikasikan oleh penerbit-penerbit kecil di pelbagai kota.


Kita ingin mengenang masa lalu bersama Matra. Majalah digemari pria tapi memiliki selera sastra. Di majalah Matra edisi Februari 1991, dipasang pengumuman sehalaman. Bukti berpihak sastra. Deretan kata terbaca: “Sayembara Penulisan Cerpen Matra ‘91”. Sayembara dimaksudkan menandai usia Matra 5 tahun.


Para penulis cerita pendek pernah dimuat majalah Matra mengaku mendapat honor besar dibandingkan pelbagai majalah. Tampilan halaman cerita pendek di Matra pun apik. Ilustrasi sering warna-warni. Matra, majalah sasaran bagi para pengarang untuk terhormat dan mendapat rezeki besar.


Pengakuan para pengarang menambahi bobot sayembara diadakan Matra. Hadiah I: Rp2.000.000. Pada masa 1990-an, jumlah itu besar. Konon, sayembara terus terkenang dan tercatat sejarah bila memberi hadiah besar. Matra termasuk pihak sadar gengsi dan bertanggung jawab atas mutu sayembara. Matra menghormati para pengarang telah memberi persembahan cerita-cerita.


Ketentuan perlu dimengerti: “Tema bebas, tetapi relevan untuk kehidupan pria.” Pada masa lalu, majalah-majalah wanita sering membuat sayembara. Tulisan para pemenang dimuat di majalah. Sekian naskah terbit menjadi buku. Matra menjadi kejutan saat menginginkan cerita-cerita masuk berurusan “kehidupan pria”. Majalah untuk pria berselera sastra. Ketentuan tak boleh disepelekan: “Gaya bercerita bebas, tidak menyinggung SARA dan tidak porno.” Pada masa Orde Baru, hal-hal itu sering menimbulkan masalah dan polemik. Orang-orang mengerti bila “melanggar” bakal mendapat hukuman.


Sayembara-sayembara terbukti memajukan sastra. Kita bisa menengok tulisan-tulisan lama HB Jassin dan Sapardi Djoko Damono. Dua tokoh sering menjadi juri. Mereka pun menulis laporan atau esai mengenai sayembara. Kita mendapat acuan untuk mengetahui pasang-surut mutu sayembara-sayembara, dari masa ke masa.


Pada 1991, HB Jassin dalam usia tua menjadi juri sayembara cerita bersambung diadakan majalah Gadis. Ia bermaksud mengetahui selera bahasa kaum muda. HB Jassin membandingan mutu bercerita masa 1990-an dan saat ia masih muda, puluhan tahun lalu.


Pada saat memberi nilai untuk tumpukan cerita, HB Jassin mengaku “terkejut” dan enteng memberi pujian. Ia pun sempat kecewa. Kita mengingat kecewa: “Sungguh menjemukan membaca cerita panjang yang tidak berbumbu, yang ditulis tanpa memperhatikan cara mengungkapkan peristiwa, pikiran, dan perasaan. Bagaimana menulis kalimat yang menarik dan memikat perhatian pada kalimat pertama dan kalimat selanjutnya. Cetusan-cetusan yang mengharukan, menggetarkan dawai-dawai rasa keindahan, rasa geregetan, menimbulkan rasa senang, gembira, lucu, sedih, harapan, dan kekecewaan. Untuk itu, diperlukan tidak sekadar kata-kata pemberitahuan, tetapi kata-kata yang mengandung makna lebih dalam serta daya gugah imajinasi yang kaya.” Sejak lama, HB Jassin dikenal sebagai editor dan juri memiliki kesabaran. Ia tetap saja terhormat sampai menua meski harus berhadapan dengan teks-teks cerita gubahan kaum muda.


Pada 1991, Matra juga mengadakan sayembara, menginginkan kemunculan cerita-cerita memikat. Matra bukan majalah untuk remaja. Naskah-naskah masuk tentu mengesankan, cerita dinikmati kaum dewasa. Para pembaca Matra bakal paham selera, diinginkan tak boleh jauh dari rubrik-rubrik yang terdapat dalam majalah. Pada masa 1990-an, Matra termasuk majalah yang bikin penasaran dan kecanduan. Sayembara memastikan Matra bakal memuat cerita-cerita pemenang mengimbuhi gengsi dan pengaruh majalah di Indonesia. Begitu.


_________

Penulis

Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Silih Berganti (2021), Titik Membara (2021), Tulisan dan Kehormatan (2021), Bersekutu: Film, Majalah, Buku (2021), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020), Pengisah dan Pengasih (2019).


redaksingewiyak@gmail.com