Friday, February 16, 2024

Cerpen Dede Soepriatna | Lelaki yang Menyimpan Harapan di Saku Celananya

Cerpen Dede Soepriatna 



Bagi Morten, hidup di rumah sederhana dengan satu kamar tidur dan satu lampu yang menggantung di ruang tengah sudah lebih dari cukup. Terpenting baginya yaitu kedua anaknya yang baru duduk di bangku sekolah dasar bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa menahan lapar, tanpa merasakan udara dingin yang kerap kali menusuk hingga ke tulang rusuk. Namun, Morten sadar bahwa kedua anaknya menyimpan harapan yang begitu besar. Apalagi Ratmi, istrinya, selalu bertanya kapan mereka bisa tinggal di rumah yang layak.


“Kita harus bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang tidak punya tempat tinggal, Dik!”


“Dan di luar sana masih banyak orang yang bisa tidur di kasur empuk sekaligus selimut yang hangat!” timpal Ratmi acuh tak acuh.


“Jangan selalu memandang ke atas, nggak baik!”


“Selalu melihat ke bawah juga nggak bagus, kalau nanti nambrak pohon gimana?”


Morten menghela napasnya panjang. Ia menyudahi percakapan pada malam itu dengan masuk ke kamar tidurnya yang sempit.


Perdebatan-perdebatan kecil itu selalu muncul saat kedua anak mereka sudah tertidur. Ketika rasa lelah dan pusing hinggap di kepala Ratmi. Mengurus dua anak kecil sekaligus memang bukan perkara yang mudah. Belum lagi pekerjaan rumah yang tak pernah ada habisnya. Ratmi acap kali dijadikan bahan candaan di tukang sayur keliling karena hutangnya yang tak kunjung dibayar. Mereka bilang keluarga Ratmi sudah terkena kutuk. Ratmi ingin sekali menyumpal mulut-mulut itu, atau setidaknya menyangkal omongan mereka, tapi ia tidak punya kuasa.


Saat Morten merasa capek untuk menimpali omongan istrinya, ia akan masuk ke kamar menemani kedua anaknya yang tertidur pulas. Ia mafhum bahwa tak akan pernah menang melawan istrinya. Dalam hati ia hanya berkata, “Maafkan Bapak, Nak. Maaf!”


Pagi saat langit masih redup, Morten sudah bersiap dengan peralatan berkebunnya. Tidak seperti kebanyakan lelaki lain di kampungnya yang memilih menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan. Morten lebih suka menggarap lahan milik orang lain untuk ditanami sayur atau rempah-rempah. Bukan saja karea ia tidak pernah makan bangku sekolah, juga perkara tubuhnya yang sering sekali sakit-sakitan. Menjadi buruh tani adalah pilihan yang tepat karena tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran. Meski memang pada kenyataannya upah menjadi buruh tani itu tidak cukup untuk banyak hal. Tapi Morten akan merasa penuh bangga ketika pulang membawa beberapa ikat sayuran segar. Meski pada akhirnya Ratmi akan menerima sayuran itu dengan wajah masam karena keinginannya untuk makan ayam berbalut tepung yang renyah tak kunjung terwujud.


“Kata Seno dan Satrio, besok hari terakhir untuk bayar buku paket!” ucap Ratmi ketika Morten baru saja menjatuhkan pantatnya ke kursi, sambil sesekali menyeka keringat di ujung dahi.


“Harga lengkuas sedang turun, Dik. Panenku juga lagi nggak banyak,” sahut Morten kemudian.


Seketika itu Ratmi berpaling menatap suaminya.


“Beras, minyak, gula, teh, terigu, kopi juga sudah habis. Aku nggak berani ngambil ke warung lagi karena yang kemari saja belum dibayar.”


Morten pindah menatap wajah istrinya. Dalam keadaan seperti itu ia hanya bisa tercenung. Sebagai seorang kepala rumah tangga ia merasa telah gagal.


“Mending kita jual saja hp dari juragan waktu itu, Mas!” usul Ratmi.


“Tapi itu satu-satunya benda elektronik yang kita punya, Dik,” sahut Morten kemudian. “Lagi pula apa ada yang mau beli hp kaya gini? Sekarang itu musimnya layar yang bisa disentuh. Hp mirip talenan gini apa bisa laku?”


Sesaat itu Morten melihat sebuah garis melengkung di bibir istrinya. Bagi Morten, melihat istrinya tersenyum adalah sebuah obat yang paling mujarab untuk menenangkan pikirannya. Meski ia sadar tak pernah bisa memberi kemewahan, tapi ia selalu berjanji tak akan pernah menghilangkan senyuman dari wajah istrinya. Begitu juga sebaliknya, bagi Ratmi, kebahagian yang sesungguhnya muncul dari hati dan ketulusan suaminya. Ratmi bisa saja pergi dari rumah itu dan melanjutkan hidup dengan orang lain. Tapi ia enggan. Sebab hanya dengan Morten muncul sebuah perasaan yang tidak pernah bisa diutarakan lewat kata-kata.


Tak berselang lama, Seno dan Satrio muncul di muka pintu dengan mata yang basah. Sepatu yang mereka kenakan jebol sehingga menjadi olok-olokan teman di sekolah. Morten mendekap kedua buah hatinya dengan perasaan penuh bersalah. Tanpa berpikir panjang akhirnya Morten pamit untuk mencari uang tambahan. Diliriknya posel pemberian juragan yang telah usang. Tidak ada pilihan lain. Mungkin ia memang harus mencoba menjual ponsel itu.


Morten berjalan mengitari pasar dengan kepala yang terasa penuh. Sesekali ia meraba ponsel di dalam saku. Hanya itu satu-satunya harapan Morten sekarang. Morten mendatangi beberapa gerai ponsel untuk menawarkan benda itu. Namun, bukan hanya mendapat penolakan, ia juga mendapat hinaan dan gelak tawa dari si pemilik toko. Morten meninggalkan tempat itu dengan wajah lelah dan perasaan yang teriris.


Saat dalam keadaan setengah bingung itu, tetiba ia mendapat sebuah bisikan yang aneh. Bisikan itu terasa dekat sekali dengan kupingnya. Samar dan berdengung. Entah mengapa jantungnya juga kini terasa lebih cepat berdetak. Sekelebat sebuah pikiran aneh muncul dalam bayangannya.


Morten menyelinap ke sebuah toko perhiasan. Memandangi deretan benda yang berkilau dengan pikiran yang kotor. Saat-saat menegangkan itu, fokus Morten justru teralihkan dengan sebuah dompet yang menyembul di saku celana seorang wanita. Tanpa berpikir ulang, Morten mendekati wanita itu dan dengan cepat menarik dompetnya. Salah seorang penjaga toko yang melihat segera meneriaki Morten pencuri.


Morten berlari tunggang-langgang seperti orang yang kesetanan. Di belakangnya beberapa pria dewasa mengejar dengan wajah penuh ambisi. Morten berusaha berlari lebih cepat, tapi keadaan tubuhnya tak cukup kuat untuk diajak lebih jauh. Badannya limbung. Morten tersungkur. Orang-orang yang mengejarnya tadi berkumpul dan menghajarnya hingga babak belur.


Saat orang-orang itu menghakimi Morten dengan penuh kebencian, tetiba ponsel di dalam sakunya berdering sangat nyaring. Salah satu orang itu mengambilnya. Di ujung telepon sana terdengar suara anak laki-laki dengan nada yang bergetar.


“Bapak di mana? Satrio sudah lapar, Pak? Bapak cepat pulang!”


Orang-orang itu hanya saling lirik. Tak ada yang berani menjawab. Mulut mereka terkunci. Rapat sekali.


________

Penulis


Dede Soepriatna lahir di Bogor. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com