Sunday, February 25, 2024

Novel | Salim Halwa (#2) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev



#2


Pukul 06.00 WIB.


Udara pagi sejuk sekali setelah semalaman di guyur oleh hujan yang tak mau mengalah sedetik pun. Lampu yang padam di malam hari hampir saja menghambatku untuk mengerjakan PR hari ini. Untung aku telah menyelesaikannya kemarin sebelum mendung berkunjung dan menetap semalaman. Sepertinya awan-awan gelap itu telah berjanji untuk saling bertemu di atas langit, pas lokasi kampungku.


Halwa adalah sahabat karibku atau bestie. Kedekatanku dengannya dimulai saat kami kelas 3 SMP, tepatnya SMPN 1 Pontang. Mungkin karena kedekatan mamahnya dan ayahku yang bekerja dalam satu kantor yang sama sehingga semuanya tampak smooth bertemu dan akrab satu sama lain.


Orang-orang mengira kami adalah pasangan dalam satu kesepakatan rasa. Kami hanya diam dan sesekali kami berkata kami hanyalah sepasang besti tak lain dan tak lebih soal rasa biarlah mengalir begitu saja.


Kulaju sepeda Yamaha Nmax-ku dengan pelan menuju sebuah rumah sahabat terbaikku. Kegiatan inilah yang kami lakukan saat hubungan kami mulai akrab berangkat dan pulang bersama dengan motor yang sama. Sesekali kami naik angkot jika hari kurang begitu akrab atau kondisi hujan gerimis menghentikan ingin kami.


"Lama banget, aku sudah menunggu lama," ujar Halwa.


"Baru saja lima belas menit," jawabku.


"Itu lama Sam, lumayan bosan."


"Lah, kamu juga nunggu di rumah bukan di tempat lain. Begitu saja kok udah gampang bosan."


"Udah deh diem, jangan bawel. Nih bekalmu."


"Loh, apaan ini?"


"Dari mamah buat kamu".


"Oke, makasih. Eh, sebentar aku lupa".


"Maaf, Bu Haji ini, ada titipan kunci dari bapak, katanya bapak agak terlambat ke sekolah, ada pertemuan di aula PGRI."


"Oh, makasih Nak Salim. Hati-hati ya Nak, kalian berdua."


"Iya Bu, bismillah kami pamit duluan Bu Haji."


***


"Untung pagi ini hujan reda, aku gak tahu kalo hujan terus berlanjut pasti naik angkot."


"Sepertinya."


"Hei kenapa sedih?"


"Gak apa-apa." 


"Gak apa-apa apanya? Aku gak biasa melihatmu seperti ini, biasanya kamu happy."


"Eh, PR-mu udah beres?" tanya Halwa.


"Alhamdulillah dari kemarin udah beres".


"Makasih ya."


"Makash buat apa?"


"Dah ngajarin aku logaritma."


"Oh, iya gimana nilai ulangan harian Matematikamu."


"Alhamdulillah lumayan, gak segede kamu."


"Makanya tadi kubilang makasih udah mengajariku logaritma."


Tak terasa kami sampai di gerbang pintu masuk SMAN 1 Ciruas. Masih terlalu pagi kulihat aroma tanah setelah hujan terasa lumayan menyulap debu-debu yang biasanya menari-menari di depan lapangan kelasku, kali ini sedikit berkurang.


"Masih jam setengah tujuh, mau ke mana dulu kita?"


"Duduk di situ dulu yuk!"


"Selamat pagi Salim," Sapa Fani dengan senyumnya yang lumayan agak membuat sport jantung bagi sebagian anak-anak SMA ini. Ia adalah idol di sekolah. Aku tidak tahu kenapa perhatiannya kepadaku agak lumayan berlebih di kelas 3 ini, "Ini ada roti tawar buatanku untuk kamu. Isi keju kok sesuai kesukaanmu. Udah dulu ya, aku mau ke dalam dulu," pamit Fani.


"Mana roti pemberian mamahku?" tanya Halwa, "Sini kembalikan!"


"Eh, apaan sih," jawabku.


"Udah sih, kamu kan udah dapet dari si Fani, buat apaan lagi roti buatanku?"


"Buatanmu? Katanya dari mamahmu?"


"Udah sini, malas aku bahasnya!"


"Gak mau lah."


"Sesuatu yang telah diberi jangan kau ambil lagi. Itu gak boleh Halwa."


"Iya, tapi sikapmu bikin sebel. Udahlah, males aku sama kamu."


"Kalo gitu terus, gimana ini nanti pulangnya."


"Gak tahu, malas aku sama kamu."


***


Pelajaran pun berlalu.  Waktu menunjukkan pukul 15.00.


Kulihat Fani mendekat dan bertanya sesuatu.


"Mana bekalku tadi?"


"Ini," kutunjukkan box bekal pemberian Fani yang kosong. Bukan aku yang memakannya, tapi si Ilham yang kelaparan, tanpa izin dan begitu lahap menikmatinya. Bila Fani tahu bisa perang dunia ketiga.


"Enak gak buatanku? Besok mau dibawain apa?"


"Enak kok, alhamdulillah."


"Gak usah repot-repot"


"Ya udah, terserah aku aja yah."


Di depan parkiran, kulihat Halwa dengan alis yang naik dan muka yang memerah terlihat sudah lama menungguku.


"Dari mana saja? Lama sekali."


"Ya itu ngobrol sebentar sama anak-anak."


"Anak anak atau si Fani itu?"


"Kamu kok jadi gini sih".


"Mana bekal dari mamah?


"Nih habis."


"Bohong, pasti bekalku dibuang ya?"


"Astagfirullah, Halwa, ya nggak mungkin."


"Udah sih ketimbang kamu marah, hayuk kita ke bakso Aci Akang."


"Gak usah. Aku dah kenyang."


"Sapa tau kuahnya bisa buat reda emosimu."


"Mau nggak nih, buruan," tanyaku, "Udah makin sore Halwa."


"Iya, oke, aku manut."


"Nah gitu dong!"



(Bersambung)