Friday, March 1, 2024

Dakwah | Lelaki Sederhana Ahli Surga

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Rahmat Allah subhanahu wata’ala amatlah begitu luas, tidak terbatas untuk perorangan atau kelompok tertentu. Namun mencakup semua makhluk yang ada di muka bumi ini dan kelak dikhususkan untuk kaum beriman di akhirat. Karena memang syarat utama untuk mendapatkan rahmat Allah subhanahu wata’ala di akhirat adalah dengan beriman kepada-Nya dan kepada rukun-rukun iman lainnya yang enam.


Maka selaku manusia yang telah diciptakan untuk tujuan penghambaan diri kepada-Nya dengan dasar keimanan, sudah seyogiyanya kita senantiasa berusaha menjaga dan memupuk keimanan tersebut hingga kita diwafatkan dalam keadaan beriman.


Dan di antara bentuk yang bisa mengokohkan keimanan seseorang adalah dengan menjaga diri dari sifat ingin menipu orang lain dan dari sifat iri dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Bahkan kedua sifat ini merupakan bagian dari pokok sebab yang bisa menghantarkan seorang hamba kepada surga Allah subhanahu wata’ala.


Mari kita tengok di dalam riwayat hadits Imam Ahmad rahimahullah dengan derajat shahih menurut Syaikh Syu’aib al Arna’uth, bahwa sahabat mulia Anas ibn Malik radiyallahu ‘anhu pernah bercerita,


كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى


Dahulu kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ beliau bersabda, "Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga", lalu muncul seorang laki laki Anshar yang jenggotnya masih bertetesan air sisa wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya pada tangan kirinya. Esok harinya Nabi ﷺ bersabda seperti juga, lalu muncul laki laki itu lagi seperti yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi ﷺ bersabda seperti itu juga dan muncul laki laki itu kembali seperti keadaan dia yang pertama.


Sahabat Anshar yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai lelaki ahli surga seperti diatas, ternyata membuat para sahabat yang lain penasaran, ingin mengetahui rahasia apa kiranya yang membuat ia disebut oleh Rasulullah sebagai lelaki ahli surga. Dan di antara sahabat yang penasaran adalah Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash radiyallahu ‘anhuma.


Anas ibn Malik melanjutkan kisahnya bahwa Abdullah kemudian berinisiatif meminta izin kepada sahabat anshar tersebut supaya ia bisa menginap di rumahnya selama tiga hari tiga malam untuk melihat apa kiranya rahasia amalan yang ia kerjakan sehingga ia bisa mencapai derajat sebagai lelaki ahli surga.


Setelah berlalu tiga hari tiga malam, Abdullah tidak mendapati jawabannya, sehingga ia putus asa dan bertanya langsung kepada sahabat Anshar,


سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


“Sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirimu tiga kali, "Akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang membuat Rasulullah ﷺ sampai mengatakan engkau ahli surga?"


Sahabat Anshar pun menjawab,


مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ 

فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ


"Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku, rasa ingin menipu terhadap siapapun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seorang atas nikmat/kebaikan yang telah Allah karuniakan kepada seseorang.”


Maka Abdullah radhiallahu'anhu berkata, 


"Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami lakukan." (HR Ahmad, shahih menurut Syu'aib al Arna'uth)

 

Masyaallaah. Inilah ternyata rahasia yang dimiliki oleh sahabat Anshar yang menjadikannya disebut oleh Rasulullah sebagai lelaki ahli surga. Penampilannya yang sederhana yang sering tampak sebagaimana manusia pada umumnya, hanya seorang yang jenggotnya sering basah bekas air wudhu dan tangan kirinya yang sering menyangking kedua sendalnya. Tapi ternyata di balik penampilannya itu, ia menyimpan rahasia akhlak yang mulia, yaitu


1. Tidak ingin menipu seorang pun dari kaum muslimin


Menipu memang perbuatan yang sangat tercela, yang dapat merugikan orang lain. Dan tidaklah melakukannya kecuali orang yang hatinya kotor dan berpenyakit. Yang hanya ingin menguntungkan diri sendiri dan tidak memikirkan kerugian yang diderita oleh orang lain. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan peringatan kepada seorang pedagang yang beliau jumpai,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka beliau pun bertanya, "Apa ini wahai pemilik makanan?" sang pemiliknya menjawab, "Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami." (HR Muslim)


Hadits di atas menjadi peringatan keras dari Rasulullah supaya kita menghindarkan diri dari berperilaku menipu orang lain. Terlebih lagi ketika kita sedang berdagang atau berbisnis, maka jangan sekali-kali kita menipu konsumen atau klien bisnis kita. Sebab Rasulullah telah mengultimatum bahwa orang yang menipu bukanlah termasuk golongan umat beliau.


Dan peringatan juga beliau tujukan kepada siapa saja di antara kita yang diamanahi mengurus urusan rakyat, supaya kita berlaku jujur kepada mereka, tidak menipu dengan mengumbar-umbar janji dan atau lain sebagainya, yang kemudian ujungnya kita tidak sanggup merealisasikannya.


مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ


"Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya'." (HR Muslim)


Dan dalam riwayat Imam Ahmad, “maka niscaya Allah tempatkan ia di dalam neraka.”


Menipu rakyat merupakan perbuatan yang dapat menyusahkan kehidupan mereka. Bahkan dapat mematahkan harapan baik mereka terhadap pemimpin. Yang awalnya mereka percaya, akhirnya kepercayaan itu menjadi pupus. Rasulullah pernah bermunajat di dalam doanya,


اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ


“Ya Allah siapa saja yang mengurusi urusan umatku, kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah kehidupannya dunia-akhirat. Dan barangsiapa yang sayang kepada umatku, maka sayangilah ia.” (HR Muslim)

 

2. Tidak menaruh perasaan iri dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain


Di dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wata’ala berfirman,


أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ


"Apakah mereka iri dengki kepada orang lain atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?" (QS An-Nisa' : 54)


Ayat di atas menjadi perenungan bagi kita, bahwasanya apa hak kita merasa iri dengki terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain? Bukankah Allah Dzat yang membagi-bagikan rezeki? Bukankah Allah berhak memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya? Lantas apa urusan kita merasa iri dengki terhadap nikmat yang telah Allah bagikan dan berikan kepada orang lain?! Sungguh sejatinya iri dengki adalah penyakit hati yang sangat akut dan parah di mana kita merasa sakit hati ketika ada orang lain mendapat karunia/nikmat, dan bahkan kita ingin supaya karunia/nikmat itu hilang dari orang tsb.


Dan ketahuilah bahwa iri dengki dapat menghapuskan pahala-pahala kebaikan. Maka ini menunjukkan betapa merana dan meruginya orang yang hatinya dijangkiti iri dengki.


إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ


"Jauhilah hasad (iri dengki), karena hasad dapat menghanguskan pahala kabaikan seperti api menghanguskan kayu bakar." (HR Abu Daud, dengan derajat dha'if menurut Al Albani)


Dan dalam riwayat yang lain beliau bersabda,


دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ


"Penyakit umat-umat sebelum kalian merayap mendatangi kalian; hasad dan kebencian, itu dapat memangkas. Aku tidak mengatakan memangkas rambut tapi memangkas agama." (HR Tirmidzi, dengan derajat hasan menurut Al Albani)


Hadits di atas menggambarkan betapa bahayanya sifat iri dengki yang mana ia dapat menghanguskan pahala kebaikan dan dapat memangkas nilai agama seseorang. Wal’iyadzu billah.


Maka marilah kita bercermin daripada sahabat Anshar yang mana beliau adalah orang yang sederhana penampilannya dan juga orang yang amalannya terbilang sederhana juga. Tetapi beliau memiliki akhlak yang mulia yang mana dengannya beliau mendapat derajat surga. Bahkan hal tersebut lantang diungkapkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “lelaki ahli surga.” Dan tidak lain, tidak bukan, itu karena dua sifat dominan yang ada padanya, yaitu; tidak ada perasaan ingin menipu orang lain dan tidak memiliki sifat iri dengki terhadap karunia/nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.


Dan akhirnya, kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala semoga kita dibimbing oleh-Nya untuk bisa memiliki akhlak yang mulia seeperti sahabat Anshar di atas yang mana menjadikannya mendapat derajat mulia sebagai "lelaki ahli surga".


Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.


_______


Penulis


Izzatullah Abduh, M.Pd., Pengisi Kajian Kitab At-Tazkiyah Masjid Ar-Rauf Green Andara Residence, Depok.