Sunday, June 2, 2024

Novel | Salim Halwa (#10) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



#10


Halwa duduk, merebahkan tubuhnya ke sisi kanan, bersandar pada tiang teras rumah. Sesekali menghela napas dan perlahan terdengar lirih isakan tangis.


"Apa aku ini tak menarik?" tanya Halwa membuatku kaget. Aku kira dia akan marah dengan berkomat-kamit menanggapi pertanyaanku. Namun sebaliknya, isakan itu lirih terdengar.


"Maksudmu?" tanyaku balik, penasaran.


"Kenapa semuanya hanya menganggapku sebagai sebuah kotak penebusan dosa di sebuah Gereja? Semua ingin didengar dan diampuni. Jika hati mereka sudah plong, mereka kemudian pergi. Kembali lagi saat butuh dan pergi lagi tanpa menghargai sekalipun siapa yang ada di sebelahnya," ujar Halwa menahan isak.


"Aku bukan tempat sampah Sam, yang dugaan orang-orang untuk membuang unek-unek kesalnya, ketika sudah plong kemudian pergi. Aku manusia butuh didengar juga. Butuh teman juga untuk mengurai kesal di kepalaku, dan semuanya tak ada saat aku butuh Sam!" tambah Halwa yang semakin mengubah suasana malam ini menjadi sendu.


Perlahan gerimis pun turun menemani tetesan air mata Halwa yang tak sanggup ditahan. Hujan pun terlihat tak tega untuk turun lebih deras seperti biasanya. Lebih memilih gerimis seperti ingin ikut bersama menemani sendunya seorang gadis. Aku pun mengajak Halwa berdiri dan duduk di kursi, takut hujan akan deras menerpa.


Ery, apa yang telah kau lakukan pada Halwa sehingga dia seperti ini larut dalam sendu saat dukungan emosional sangat dibutuhkan untuk menghadapi UN sebentar lagi. Baru kali ini Halwa terlihat murung setelah sekian lama hidup dalam rasa ceria dan bahagia. Raut muka yang terbiasa tersenyum sekarang berubah murung.


"Apa itu cinta pertama? Menyebalkan dan palsu?" ucap Halwa sinis.


"Ery?" tanyaku.


"Sepertinya aku salah membuka pintu dan membiarkan orang lain masuk tanpa lebih dulu kutahu orangnya. Aku kira dia adalah panutan ternyata dia penuh tuntutan. Aku kira dia adalah surga dunia ternyata mengajakku ke pintu sebelahnya. Sedangkan aku menutup pintu pada orang yang sekian lama selalu hadir menemaniku dalam canda," jawab Halwa sambil melihatku dengan harap sendu. Sekali lagi sendu, begitu murung tanpa canda. 


"Selugu itukah aku sehingga mudah disakiti dan dipermainkan. Selugu itukah aku, Sam? Sepahit inikah cinta pertama?" tambah Halwa berusaha melawan isak tangisnya.


"Cinta pertama? Aku pun tak mengerti Awa apa itu cinta pertama? Semahal itukah cinta pertama? Jika cinta pertama itu gagal, apakah sebuah rasa cinta itu pergi dan hilang? Terus bagaimana jika kita bertemu orang lain di masa depan? Apakah rasa cinta itu tidak bisa kembali lahir?" jawabku dengan lirih.


"Apakah cinta pertama yang kita rasakan saat ini benar-benar sebuah cinta pertama? Ataukah cinta palsu?" tambahku.


Halwa pun perlahan berusaha mengubah mood-nya menjadi lebih tegar setelah mendengar beberapa kalimatku. Frekuensi isaknya pun perlahan melambat meski sesekali masih terdengar suara seperti menahan  


"Berhentilah Halwa. Kita masih terlalu muda untuk hal-hal seperti ini. Kita belum siap untuk masuk terlalu dalam pada kisah yang melenakan itu. Berdirilah dan kembali menatap masa depan," nasihatku pada Halwa dengan harap sedihnya akan meredup. 


"Apakah kamu yakin bahwa aku dan Fani akan selamanya bersatu?" tanyaku.


Halwa pun menatapku dengan menggeleng sebagai jawaban ragu. 


"Enggak kan? Begitulah Awa, jangan kan kamu, aku sendiri juga nggak tahu besok cerita kita seperti apa? Orang bijak berkata, syukuri yang ada saat ini dan berdoalah untuk masa depan yang belum ada."


"Sok tua," jawab Halwa usil sambil guratan senyum mulai kembali terlihat.


"I, aku kan teman kamu, wajar kan kasih masukan, malah dibilang sok tua," jawabku dengan kesal.


"Iya, tapi masukanmu kayak bapak-bapak yang nasihatin anaknya. Itu terlalu tua!" jawab Halwa.


"Ya harusnya gimana dong?" tanyanku balik dengan kesal pada Halwa.


"Ya nggak gimana-gimana, cari dong yang romantis dikit," jawab Halwa.


"Hadeh, Awa sejak kapan aku romantis? Ada-ada aja deh." 


"Emang kamu orang nya bebal, nggak bisa romantis," jawab balik Halwa bercanda.


Hujan pun reda. Aku buru-buru membuka kap bagasi motorku, mengambil lap kaneboku untuk melap jok motorku. Aku pun sambil bergumam bernyanyi lagu Dewa 19.


Hawa tercipta di dunia 

Untuk menemani sang Adam 

Begitu juga dirimu 

Tercipta tuk menemani aku


"Bisa diem nggak?" teriak Halwa kesal sambil melempar sendalku ke arah motor.


"Hei ini motor habis dicuci, ya Allah Awa!" balas teriakku dengan kesal.


"Lagian, kamu nyanyi jelek banget, ngerusak lagu orang," jawab Halwa.


"Lagian kamu dari tadi sedih terus, bentar lagi ujian nih, bahagia kek," ujarku. 


"Lah, kamu dari tadi sok-sokan ikut sendu. Bikin aku tambah sedih," jawab Halwa tersenyum.


"Masa aku cekikikan ngeliat kamu sedih," jawabku.


"Ya, setidaknya bawa aku kek ke dalam hatimu," ujar Halwa.


"Hatiku sudah full, nggak bisa menerima tamu," jawabku.


"Hawa tercipta di dunia...," aku menggoda Halwa lagi.


"Bisa diem nggak?  Aku lempar lagi nih nanti motormu!" Teriak Halwa kesal.


"Untuk menemani sang Adam...," godaku lagi. 


"Sam! Berhenti!" teriak Halwa lebih keras.


Teriakan Halwa menggangu isi rumah. Perlahan suara pintu pun terbuka. Terlihat ayah Halwa dengan sedikit kesal menatap kami berdua.


"Eh, Halwa dan Salim, udah jam sepuluh malam Nak, jangan ribut, malu sama tetangga. Salim udah ya Bak, udah malam, bisa besok lagi," ujar Pak Haji agak kesal dengan kelakuan kami.


"Syukurin," ujar Halwa.


"Ya udah Awa, aku pamit ya, terima kasih kopinya ya."


"Iya, lain kali kalo main bawa kek martabak. Jangan gratisan melulu," ujar Halwa.


Aku hanya bisa tersenyum sambil menyalakan motor.


Hawa tercipta di dunia 

Untuk menemani sang Adam


Aku pun bernyanyi lagi.


Prak!

Spakbor belakangku berbunyi. Ternyata sebuah lemparan sendal mengenai motorku yang kedua kalinya.


"Bisa diem nggak?!" teriak Halwa dengan senyum paling manis yang mengingatkanku saat kita pertama kali dekat dan akrab. 



(Bersambung)