Oleh Kabut
Judul buku yang mengingatkan bacaan dari masa lalu. Apa yang diimajinasikan anak bila membaca buku berjudul Nun Jauh Di Sana? Judul yang masih terpengaruh bahasa dan sastra Melayu. Kata-kata yang tidak hanya terdapat dalam sastra. Biasanya kata-kata itu digunakan dalam lagu. Di hadapan anak, judul buku itu mungkin sudah “menganggu” untuk kemauan mendapat cerita yang mengesankan.
Cerita digubah Arti D Wijaya. Buku kecil dan tipis diterbitkan Gaya Favorit Press, 1979. Apakah buku itu masih ada yang mengenangnya pada masa sekarang. Di arus kesusastraan anak, nama pengarang itu kurang mendapat perhatian dan tepuk tangan. Ia mungkin rajin menggubah cerita. Namun, para penikmat sastra anak kurang terpikat atau tidak ada kemauan memoncerkannya.
Padahal, buku itu mendapat stempel “Seri Anak Dunia”. Diksi yang digunakan “dunia”, bukan “nasional”. Apa yang dimaksud penerbit dengan pembuatan stempel?
Kita tidak mengenal pengarangnya, tidak ada data diri dimuat dalam buku. Kita mendingan mengutip keterangan panjang dari penerbit: “Seri penerbitan ini akan memperkenalkan sastra anak-anak dunia (termasuk Indonesia) kepada anak-anak/remaja pembacanya dan memberikan kepada mereka citra buku sebagai sarana memperoleh kebahagiaan masa anak-anak/remaja.” Bacalah bahwa Indonesia ditulis dalam kurung, diinginkan pantas setara sastra anak di dunia.
Kita mengutip paragraf kedua: “Seri ini akan terdiri dari karya asli Indonesia maupun terjemahan dengan pilihan yang memungkinkan anak-anak/remaja memperoleh dasar apresiasi yang baik terhadap kesusastraan dunia secara keseluruhan dan orientasi yang luas terhadap ragam kehidupan.” Orangtua atau anak/remaja yang mau membaca buku sudah dipusingkan oleh satu paragraf yang sangat serius. Yang diinginkan adalah “memperoleh dasar apresiasi.” Kita ingat, apresiasi sering terpilih ketimbang orang membaca istilah kritik, ulasan, atau pertimbangan. Namun, apresiasi akhirnya klise.
Penerbit yang punya misi besar dan mulia. Beberapa buku diterbitkan berstempel Seri Anak Dunia. Pada masa lalu, apakah buku-buku itu mendapat banyak pembaca dan berdampak besar? Kita ingin bukti tapi esai-esai atau makalah dalam seminar mengenai sastra anak masa 1970-an sangat jarang bermunculan.
Kita membuka lembaran-lembaran buku. Sejak awal, tokoh-tokoh yang dikenalkan berusia dewasa. Mengapa bukan tokoh berusia anak? Tokoh utamanya Hadi, sudah lulus dari SPG. Jadi usianya dewasa, melewati masa remaja. Tokoh-tokoh yang lain pun dewasa: bapak, ibu, teman, paman, bibi, dan lain-lain. Apa yang membuat penerbit menetapkan itu buku cerita untuk anak dan remaja? Kita sedang dapat saran yang penting dari penerbit bahwa cerita anak tidak mutlak tokoh utamanya adalah anak.
Hadi mengalami hari-hari yang bimbang. Ia bercita-cita menjadi guru. Bapak dan ibu berbeda pendapat. Ibunya ingin Hadi menjadi carik di desa. Sejak halaman pertama, para pembaca yang masih anak dan remaja memasuki masalah-masalah kaum dewasa mengenai pekerjaan, keluarga, desa, dan lain-lain. Apakah anak dan remaja tertarik melanjutkan membaca cerita setelah 12 halaman?
Cerita yang kurang “tepat” dengan dunia (imajinasi) anak-anak. Hadi meminta pertimbangan mengenai keputusannya ingin mengabdi menjadi guru di desa terpencil, yang berada di Pacitan. Ada yang membuatnya ragu. Namun, ada yang menasihati bahwa keputusannya itu mulia. Halaman-halaman yang berisi pertemuan dan percakapan mengenai pekerjaan menjadi guru. Yang ikut diobrolkan adalah geografi, kesepian, hiburan, dan lain-lain. Buku yang sebenarnya bisa dianggap sebagai bacaan dewasa.
Nasihat yang diberikan memberi penguatan atas keputusan mau ditempatkan di desa terpencil: “Ingat, di luar pulau Jawa, masih banyak sekali tempat-tempat bertugas yang sangat jauh letaknya dari kota. Misalnya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Bukannya hanya berhari-hari, melainkan berminggu-minggu orang harus bepergian dari suatu kota untuk mencapai tempat-tempat yang terpencil di pedalaman. Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang mau bekerja di sana atas dasar rasa pengabdian terhadap tugasnya. Karena itu Hadi mantapkanlah hatimu untuk menerima pengangkatan sebagai guru di desa Watusari.”
Anak-anak yang membacanya ikut membayangkan sosok Hadi. Pembayangan selanjutnya adalah desa yang terpencil. Apakah itu membuat anak-anak ikut tergoda bercita-cita menjadi guru? Pada masa Orde Baru, Indonesia membutuhkan banyak guru. Yang rumit adalah tidak meratanya guru di pelbagai pulau. Orang-orang yang mau menjadi guru selalu dianjurkan untuk pengabdian, tidak usah berpikir kaya.
Latar cerita adalah Ponorogo, Madiun, dan Pacitan. Yang membaca cerita gubahan arti agak mengerti tempat-tempat di Jawa. Di situ, masih ada desa terpencil. Guru-guru tetap diperlukan untuk mewujudkan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan sedang dijadikan tema besar dalam rezim Soeharto. Guru-guru yang mau mengajar di tempat terpencil adalah “pelita”. Pekerjaan yang berat yang selalu diatasnamakan demi kepentingan negara dan masa depan anak-anak yang kelak dapat mengubah nasib desanya.
Hadi ikhlas dan bersemangat menjadi guru. Akhirnya, ia tiba di Watusari. Ia bangga menjadi guru meski tidak dijanjikan kaya. Yang diceritakan Arti: “Pak Kepala Sekolah berbicara di depan anak-anak, untuk memperkenalkan mereka kepada Pak Guru Hadi. Dikatakan bahwa Pak Hadi akan mengajar di kelas 4. Diserukannya agar murid-murid lebih giat dan lebih tekun belajar. Hari Hadi berdebar-debar. Ya, hari ini ia benar-benar sudah harus memulai tugasnya sebagai guru. Kini, murid-muridnya sudah ada di depannya. Ikut mendidik mereka itulah kini tanggung jawab yang terletak di atas pundaknya. Menjadi kewajibannyalah untuk ikut serta mempersiapkan hari depan mereka. Mulai sekarang, ia dipanggil Pak Guru.”
Pada halaman-halaman menjelang terakhir, tokoh-tokoh yang bersuara dalam cerita tetap kaum dewasa. Penyebutan murid-murid SD atau anak-anak hanya menjadi pelengkap. Pengarang tidak ada kepentingan menampilkan tokoh anak, yang ikut mempengaruhi biografi dan pekerjaan Hadi. Pembaca mulai berani membuat pernyataan buku itu kurang cocok dijadikan bacaan untuk anak. Bagaimana dengan stempel yang dibuat penerbit bahwa buku itu memenuhi kriteria “Seri Anak Dunia” bila ceritanya kurang bermutu?
Di akhir cerita, Hadi meraih keberhasilan-keberhasilan. Yang rampung membaca buku berpikiran bahwa buku itu “propaganda” agar anak-anak dan kaum remaja bercita-cita menjadi guru, pekerjaan yang mulia dalam memajukan Indonesia. Buku cerita yang lumrah sulit bersaing dengan cerita anak terjemahan dari pelbagai negara yang telanjur diakui sebagai sastra anak dunia.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
