Sunday, January 11, 2026

Cerpen Yuditeha | Semua Penulis Pemakan Bangkai

Cerpen Yuditeha



Kekasih lelaki itu mati karena terpeleset saat bercinta. Itu fakta. Polisi bahkan menulisnya dalam laporan dengan ketikan kaku dan datar: Korban terpeleset dalam aktivitas seksual dan mengalami benturan fatal. Tak ada puisi dalam laporan polisi. Tak ada ruang untuk ironi. Hanya kalimat-kalimat yang bersih, kering, dan nyaris menghina realitas.


Lelaki itu duduk di meja kerjanya, menatap laptop yang menyala. Kursor berkedip, menunggu kelanjutan novel yang tak kunjung selesai. Novel yang ia tulis selama dua tahun, yang katanya akan menjadi mahakarya, yang katanya akan mengguncang dunia sastra. Tapi kini, semua terasa konyol. Ia tak bisa melanjutkan satu kalimat pun. Setiap kali ia mencoba menulis, ia melihat kekasihnya di lantai kamar, tubuhnya telanjang, kepala miring dengan darah tipis mengalir dari pelipis.


Malam itu, sesuatu bergerak di ambang pintu. Sebuah bayangan pendek, gemuk, berkaki empat. Moncongnya menyentuh lantai. Hidungnya mengendus-endus, mencari sesuatu. Seekor babi. Ia duduk di ambang pintu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Matanya kecil, gelap, penuh rahasia. Lalu ia berjalan ke dalam, mendekati meja, mengendus kertas-kertas yang berserakan, menjilat tepian naskah.


Sementara lelaki itu, jari-jarinya membeku di atas keyboard. Di luar, hujan mulai turun. Hujan selalu datang di saat yang buruk, seolah langit pun gemar bersikap berlebihan. Kalau saja dunia ini adalah novel, ia pasti akan mengutuk penulisnya yang terlalu malas mencari metafora lain.


Babi itu tidak pergi. Ia mengorek-ngorek sampah dapur, menggigit kertas-kertas revisi, dan tidur di ranjang, Kadang-kadang ia mengubur moncongnya dalam tumpukan naskah, mengendus dengan rakus seakan mencium sesuatu yang busuk. Mungkin naskah itu memang busuk. Mungkin yang busuk adalah dirinya sendiri.


Tiap malam, lelaki itu bangun dan menemukan babi itu di sana. Duduk di dekat pintu, diam, tapi memperhatikan. Tidak bersuara. Hanya napasnya yang terdengar, pelan dan teratur. Napas seekor babi terdengar lebih hidup dibanding dirinya sendiri.


Ia mencoba menulis lagi. Kata-kata keluar seperti darah dari luka. Lebih liar. Lebih tajam. Lebih kotor. Seakan ada sesuatu yang menggiringnya ke arah yang lebih gelap. Ia tidak tahu apakah itu babi atau dirinya sendiri.


Dulu, ia selalu percaya bahwa menulis adalah ritual sakral. Ia bahkan pernah memberi ceramah di seminar kecil tentang “integritas dalam berkarya.” Omong kosong. Sekarang ia sadar menulis hanyalah soal bertahan hidup, soal merangkai kata sebelum kata-kata itu membunuhnya lebih dulu. Babi itu menatapnya, seakan mengerti bahwa kebohongan yang paling sering diucapkan adalah kebohongan pada diri sendiri. Di luar, hujan semakin deras.


Beberapa malam kemudian, ia mulai mencium bau itu. Bau anyir yang tidak datang dari babi, bukan pula dari sisa makanan di dapur. Bau yang lebih dalam, menusuk, lebih melekat pada dinding-dinding apartemen, seperti dosa yang tidak akan pernah terhapus.


Ia mencari sumbernya. Ia membongkar lemari, mengangkat sofa, bahkan membuka lantai kayu yang mulai berdebu. Tapi bau itu tetap ada. Bau yang tidak bisa dihapus dengan pewangi ruangan atau doa-doa pendek yang dulu diajarkan ibunya.


Suatu malam, ia menemukannya. Di bawah meja kerja, di antara tumpukan kertas yang sudah menguning, ada sesuatu yang nyaris menyerupai wajah. Tidak jelas apakah itu sisa kekasihnya, sisa dirinya sendiri, atau hanya imajinasi yang mulai membusuk. Babi itu datang mendekat, mengendus pelan, lalu berbaring di sana, di samping sisa itu, seakan menunggunya melakukan hal yang sama.


Lelaki itu duduk. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap layar laptop yang kini kembali menyala tanpa perintahnya. Kursor berkedip. Lalu, tanpa sadar, tangannya mulai mengetik. Kata-kata mengalir seperti sungai yang meluap, liar, tanpa kendali. Ia menulis tanpa peduli lagi pada alur, pada makna, pada estetika. Tulisannya yang dulu selalu patuh kepada ketentuan itu tapi orang-orang tidak pernah suka. Ia ingat semuanya, ingat kekacauan hidupnya, ingat kegagalan tulisannya. Ia tak ingin terbelenggu lagi hingga ia menulis seperti seseorang yang mengabarkan terakhir tentang dirinya sebelum semuanya runtuh. Dan babi itu tetap di sana, diam, menyaksikan.


Pagi itu, naskahnya hilang. Laptopnya hilang. Buku-bukunya hilang. Apartemennya pun kosong, seperti baru ditinggali seorang gelandangan yang terlalu rapi. Ia tertawa. Ia menangis. Ia tertawa lagi.


Hanya ada satu hal yang tersisa, babi itu. Duduk di tengah ruangan. Moncongnya basah. Bibirnya merah. Ia mengunyah sesuatu, mungkin kertas. Atau sesuatu yang lebih lunak? Lebih lentur. Tapi lebih bernyawa. Babi itu perlahan kembali mendekati meja, menatap layar laptop, menyentuhnya dengan moncongnya, mencoba menggigit tombol-tombolnya dengan perlahan, seolah ia sedang mencoba menulis sesuatu yang sangat penting, meski hanya muncul huruf-huruf acak. Ia tidak berbicara. Babi itu hanya membuat suara-suara tidak jelas, seperti desahan dari kedalaman sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, semacam bisikan dari kegelapan.


Lelaki itu bergeming. Napasnya tercekat. Dinding apartemen penuh coretan kata-kata yang tampaknya ia tulis sendiri dalam keadaan setengah sadar. Huruf-huruf yang menari seperti arwah penasaran. Seperti tangan-tangan dari masa lalu yang tak rela dilupakan. Kata-kata itu berantakan. Tidak ada alur dan struktur. Tidak ada ejaan yang benar. Hanya kejujuran mentah yang menyengat. Ada kalimat-kalimat aneh yang ia bahkan tidak mengingat kapan menulisnya:


Setiap kalimat adalah racun, dan kita meminumnya pelan-pelan. Semua kata yang bagus pernah mati. Luka adalah kalimat yang belum pernah ada di buku mana pun. Cinta hanya bisa dimakan setelah dimuntahkan. Bibir tahu lebih banyak dari kata-kata yang diludahkan. Semua penulis pemakan bangkai. Kata-kata adalah kunci. Sayang, kunci itu tidak ada lubangnya. Selesaikan ceritamu, dan lihatlah dirinya terkulai di lantai.


Semuanya terasa seperti ujung dari kisah. Di luar, langit menggantung berat, seperti tak benar-benar ingin runtuh tapi juga tak sanggup menahan beban sendiri. Di dalam, serpihan-serpihan kecil berserak di lantai, sesuatu yang pernah utuh. Tak jelas asalnya, seakan telah ada di sana sejak sebelum apa pun dimulai.


Lelaki itu mendengar sesuatu, denting, desah, atau hanya gema dari pikirannya sendiri. Mungkin tak ada suara. Mungkin seluruh dunia telah berhenti berbunyi. Ia ingin melakukan apa pun yang bisa memutus sambungan antara ingatan dan kesadaran. Lelaki itu membaca tulisan di layar. Tulisan yang tidak diingatnya pernah diketik. Kalimat-kalimat yang tidak bisa ia akui lahir dari tangannya.


Ia tidak mati karena terpeleset. Ia mati karena aku memaksanya menjadi tokoh dalam naskah yang belum selesai. Aku memaksa tubuhnya mengikuti cerita yang belum kutulis.


Babi itu menatap layar. Ia mendekat laptop, lalu menekan satu tombol. Layar menjadi kosong. Di luar, hujan akhirnya reda dengan keheningan untuk menulis ulang segalanya. Ia mengerti sesuatu pada detik itu, bukan babi yang memakan bangkai. Ia-lah bangkainya. Setiap trauma, setiap tubuh yang pernah mencintainya, setiap kematian yang ia rangkai menjadi adegan, semuanya ia kunyah demi kalimat yang tampak jenius. Ia menulis dari sisa-sisa yang tidak ditanam dengan layak, menghirup bau busuknya, lalu menjadikannya prosa. Tidak ada penulis yang bersih. Tidak ada yang suci saat mengais luka untuk jadi estetika. Mereka hanya memilih bangkai mana yang paling empuk untuk digigit.


Dan babi itu, dengan moncong merah dan mata yang tenang, seperti sedang mengajarinya satu kebenaran terakhir, setiap cerita dimulai dari daging yang membusuk. Setiap kalimat adalah sisa tubuh yang pernah hidup. Pada akhirnya, babi bukan ancaman, ia hanyalah cermin. Karena semua penulis adalah pemakan bangkai, dan yang membusuk paling cepat adalah hati mereka sendiri.


______


Penulis


Yuditeha, tinggal di Karanganyar



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post