Saturday, January 10, 2026

Resensi Kabut | Terpikat Burung

Oleh Kabut



Para pembaca majalah Intisari akrab dengan satu nama: Slamet Soeseno. Ia memberi halaman-halaman mengasyikkan mengenai flora dan fauna. Jenis tulisannya menerangkan dan mengisahkan. Para pembaca gampang paham mengenai beragam tanaman dan binatang yang ada di Nusantara. Jadi, rubrik Slamet Soeseno termasuk unggulan dalam Intisari.


Tulisannya dapat dibaca murid, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan lain-lain. Pokoknya tulisan-tulisan Slamet Soeseno menghibur dan mencerahkan. Bagi yang kesulitan belajar biologi dapat terbantu bila rutin membaca majalah Intisari. Apakah seharusnya pelajaran di sekolah mengikuti gaya Slamet Soeseno? Kita membayangkan murid-murid pasti senang untuk berilmu.


Pada setiap tulisan, dipasang beberapa gambar atau foto. Artinya, yang membaca makin terpikat. Dulu, para pembaca memuliakan apa-apa yang tersaji di lembaran kertas, belum perlu tangan mengetik di mesin pencarian. Pada masa lalu, Slamet Soeseno adalah pengajar dan pengisah yang mumpuni, yang membuat publik melek flora dan fauna.


Apakah rubrik di majalah Intisari itu cukup? Slamet Soeseno terus mengalirkan pengetahuannya melalui penulisan buku-buku untuk anak dan remaja. Temanya tetap flora-fauna atau kealaman-lingkungan hidup. Novelnya yang apik pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Novel yang menggembirakan bagi anak dan remaja yang menghindari buku-buku pelajaran yang membosankan. Novelnya yang terkenal dan sering cetak ulang berjudul Bertualang di Pulau Panggang.


Kini, kita mengenang dan menghormati segala warisannya dengan membaca buku yang berjudul Burung Cenderawasih yang Mempesona. Buku yang tipis, terbitan Pustaka Jaya, 1986. Dulu, buku menjadi koleksi perpustakaan di SMP Kristen 3 Margoyudan, Surakarta. Di lembaran-lembaran yang tersisa, novel itu jarang dipinjam oleh murid. Terjadi empat kali peminjaman, dari 1987-1995. Akhirnya, buku itu “terbuang” ke pasar buku bekas. Kita beruntung mendapatkannya dengan sedikit duit. Novel yang bermutu ketimbang kita tergoda melihat tayangan-tayangan sembarangan di internet. Yang kita pelajari adalah burung. Slamet Soeseno mengajarkannya melalui cerita.


Ingat, yang terbaca bukan cerita-fantasi. Pengarang memberi cerita-berilmu sekaligus mengajak para pembacanya mengagumi khazanah alam di Nusantara, terutama di Papua. Di halaman-halaman cerita, pembaca ikut merasa menginjakkan kaki di Papua. Pengalaman pembaca berada di tempat yang jauh dari Jawa. Tempat yang sering diwartakan dengan pergolakan besar: politik, pertambangan, alam, adat, dan lain-lain. 


Slamet Soeseno bercerita dalam suasana Orde Baru. Kita ingat kebijakan penguasa atas Papua masa lalu. Penyebutan yang berlaku adalah Irian Jaya. Konon, kesuksesan pembangunan nasional tidak sampai di sana. Pemerataan pembangunan adalah omong kosong bila melihat kenyataan-kenyataan di sana.


Kita mulai menikmati cerita, yang menghindari dari sorotan politis dan sulit menghindari nalar-imajinasi pembangunanisme. Slamet Soeseno bercerita: “Pada liburan tahun ini, beberapa orang murid SMP Teladan Jayapura berkemah di Cagar Alam Pegunungan Cyclops. Selain ingin menikmati udara sejuk pegunungan, mereka juga ingin melihat burung cenderawasih di lingkungan hidupnya yang asli.” Apakah ada lingkungan yang tidak asli? Jawabannya adalah kebun binatang. Dulu, anak-anak TK dan SD mengenali dan mengagumi beberapa binatang di kebun binatang. Piknik yang indah dan menyenangkan. 


Pembaca pun tergoda untuk bisa sampai ke Papua. Pemenuhan keinginan melihat alam yang indah, melihat burung yang istimewa. Pada masa lalu, orang butuh dana besar untuk bisa menikmati anugerah Tuhan di Papua. Kodrat yang sulit berubah. Semua mahal akibat “gagalnya” pembangunan nasional.


Keajaiban itu tampak mata. Yang membaca merasa iri gara-gara tidak melihat secara langsung, cuma membaca kata-kata: “Salah seekor di antara cenderawasih yang mereka lihat itu ada yang sedang menggelar semua bulunya. Agaknya burung itu ingin memamerkan seluruh bulu hiasnya yang indah mempesona. Bulunya yang pendek dibuka selebar-lebarnya dan digetar-getarkan, sedang bulunya yang panjang dan halus seperti renda sutera dibelai dengan paruhnya. Kemudian, bulu panjangnya itu dinaikkan lalu dibentangkan ke semua arah, sehingga melayang-layang di udara.” 


Di lembaran buku, gambar yang dicetak cuma berwarna hitam dan putih. Pembaca kecewa. Dulu, mencetak gambar yang berwarna dalam buku memerlukan ongkos yang besar. Kita tetap mengikuti pengalaman para tokoh yang melihat secara langsung. Ada yang berusaha mendokumentasi dengan memotret. Maka, foto-foto burung cenderawasih menjadi koleksi yang “mahal”. 


Apakah yang terpikat hanya penduduk setempat atau orang-orang di Indonesia. Sejak lama, orang-orang Eropa sangat mengaguminya, memberinya nama dalam bahasa asing. Mereka sangat memuji dan mengakui eloknya burung cenderawasih. Bagaimana anak-anak yang diajari burung-burung? Apakah mereka akan memberi perhatian besar kepada burung cenderawasih yang disajikan secara terbatas di buku pelajaran? Mereka dapat mencari informasi lanjutan di koran, majalah, atau televisi. Anak-anak yang membaca novel gubahan Slamet Soeseno tentu beruntung. 


Para tokoh yang diceritakan dalam novel didampingi guru dan pegawai di cagar alam. Murid-murid yang berlimpah pengetahuan dan pengalaman. Buku itu mungkin sempat memicu murid-murid di Jawa mengangankan piknik yang diadakan di sekolah mendingan tujuannya adalah Irian Jaya, tidak selalu Jakarta atau Bali. 


Pengetahuan yang unik tentang sarang burung. Pembaca merasa ikut melihat meski tokohnya menggunakan teropong: “… Sarang itu terbuat dari ranting tanaman kering yang kecil, kulit pohon, daun, yang diperkuat di sana sini dengan potongan cabang yang lebih besar. Dinding bagian dalamnya dilapisi rumput dan daun kering yang lebih halus. Sarang itu berbentuk cawan sebesar satu kobokan yang ditaruh di tempat percabangan dahan pohon gempol.” 


Pada akhirnya, novel itu mengajak orang tak sekadar mengagumi alam. Yang disampaikan Slamet Soeseno adalah penelitian ilmiah mengenai cenderawasih dan lingkungannya. Anehnya, para peneliti yang tangguh seringnya peneliti asing, bukan peneliti Indonesia. Yang paling paham cenderawasih justru orang-orang yang menekuninya dan mengajarkannya di pelbagai universitas di dunia.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com