Tuesday, January 13, 2026

Proses Kreatif | Buku: Masa Lalu, Masa Depan

Oleh Encep Abdullah



Bagi seorang penulis, setiap pergantian tahun biasanya punya resolusi. Resolusi ini semacam catatan, harapan, bahkan tuntutan yang harus dicapai. Target saya sejak dulu mungkin tidak berubah: menghasilkan minimal satu buku per tahun. Tahun lalu, di akhir tahun saya paksakan menerbitkan buku novel remaja yang sudah lama mengendap di laptop. Buku tersebut saya bagikan saja PDF-nya di laman NGEWIYAK. Judulnya Sepotong Cinta. Sekadar bacaan hiburan ringan saja. 


Sebenarnya saya punya stok tulisan banyak, terutama puisi dan esai. Untuk puisi bisa dijadikan 2 buku dan esai 1 buku. Cerpen hanya satu biji. Memang agak payah dalam menulis cerpen ini. Entah kenapa. Motivasi untuk memaksakan menulisnya sudah tak sebergelora dan seberdebum—meminjam istilah Wan Anwar—seperti dulu. Selain puisi bahasa Indonesia, saya juga punya stok puisi bahasa Jawa Banten. Sepertinya belum terlalu memenuhi untuk disatukan menjadi buku. Masih butuh beberapa puisi lagi. 


Sebenarnya ke depan saya lebih tertarik membuat buku puisi atau cerpen berbahasa Jawa Banten. Saya belum punya. Mungkin ini yang akan menjadi PR saya. Namun, sebelum kepikiran itu, saya lebih dulu kepikiran untuk membukukan puisi-puisi Bahasa Jawa Banten yang dimuat di NGEWIYAK.com sejak 2021. Agak sayang kalau berdebu di sana. Khawatir NGEWIYAK sudah tak beroperasi lagi atau data-datanya hilang atau di-hack. Kalau dikumpulkan, lumayan banyak. Pasti para penulisnya senang karya mereka dibukukan. Cuma, waktunya belum saya siapkan untuk merekap ulang semua karya itu. Saat ini masih sibuk merapikan buku dakwah Setetes Embun karya Bapak saya, Ust. Drs. Abu Bakar. Kerjaan ini cukup melelahkan. Bayangkan, catatan Bapak saya itu sejak 2017 dan sudah menumpuk di laptop saya. Kisaran ada 2.000 halaman A4—sebenarnya bisa dirampingkan karena banyak tulisan yang bertema sama, bahkan salin-tempel dari catatan-catatan tahun sebelumnya. Saya bilang kepada Bapak, kayaknya saya cukupkan saja untuk diarsipkan, kecuali Bapak menulis tema yang berbeda.


Pada 2019 buku Bapak pernah saya rangkum jadi satu jilid buku—sekadar dumi. Itu pun banyak yang belum rapi, ayat-ayatnya banyak yang terbalik susunannya. Belakang ini, Bapak bilang bahwa tulisan-tulisan tersebut lebih baik dibukukan saja sebagai kenang-kenangan hidup Bapak. Saat Bapak bilang begitu, saya jadi agak sedih, seolah-olah Bapak mau pergi. Padahal alhamdulillah Beliau masih sehat walafiat, segar bugar. Semoga Allah memperpanjang usia beliau dan hidupnya berkah. Amin. Saya juga memberi saran kepada Bapak untuk menuliskan kisah hidupnya atau semacam autobiografi. Tapi, Bapak menjawab bahwa beliau bukan pujangga seperti Buya Hamka yang bisa luwes bercerita. Hidup Bapak saya sangat misterius, banyak hal yang belum terungkap akan pemikiran orisinal yang hendak disampaikan kepada umat. Mungkin dengan menulis autobiografi, Bapak bisa mengungkapkan hal-hal yang belum pernah disampaikan kepada orang lain. Saya bilang bahwa barangkali saya wawancara sedikit-demi sedikit saja hidup Bapak. Saya yakin ini akan sangat bermanfaat untuk dibaca, khususnya untuk anak-cucunya. 


Mengapa saya berpikiran semacam itu? Belakang ini, tepatnya dua bulan terakhir, saya tiba-tiba gandrung memesan buku-buku bekas. Bahkan ada buku H.B. Jassin yang dicetak pada tahun 1950. Buku tersebut masih bisa dibaca dengan baik walaupun tampak usang. Pikiran saya tentu tak hanya sedang memegang buku, melainkan juga merasa sedang memegang sebuah sejarah hidup seseorang, masa lalu, dan kadang saya berimajinasi sedang berada di tahun-tahun itu. Wah, padahal H.B. Jassin sudah tiada. Tapi, saya masih bisa pegang bukunya 70 tahun kemudian setelah buku itu dilahirkan. Sampai saya berkhayal, apakah 70 tahun yang akan datang buku cetakan pertama saya masih ada yang baca? Mungkin begitu ya rasanya usia panjang itu. Meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang tertuang dalam buku. Maka, saya jadi termotivasi lagi untuk membaca ulang dan merapikan ulang tulisan-tulisan Bapak itu. Setidaknya Bapak bangga punya karya, bahkan akan dibedah pada Ramadan nanti di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pontang. Saya jadi lebih semangat lagi menyusun ulang tulisan Bapak. Ini menjadi momentum penting dalam hidup Bapak punya label baru: penulis. 


Kembali kepada resolusi. Mungkin sudah terlalu banyak resolusi yang sudah tercapai sehingga saya tidak terlalu menggebu-gebu dalam dunia literasi ini. Saat ini ingin mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya dan ingin punya perpustakaan pribadi yang besar. Bulan lalu, saya sudah habis-habisan beli buku. Selama hidup, baru kali ini saya beli buku 150 buku dalam sebulan, tentu dengan harga yang beragam. Pengeluaran ini lebih banyak dari pembelian mana pun yang sudah-sudah. Bahkan harus membuat rak buku baru, itu pun masih kurang. Tapi, saya tidak pernah merasa menyesal. Bahkan istri saya selalu mendukung—walaupun kebutuhan dapur harus diutamakan terlebih dahulu, kadang beli buku-buku tertentu masih sembunyi-sembunyi. 


Apakah semua buku yang saya beli itu dibaca? Tidak juga. Sebagiannya sebagai koleksi, sebagiannya dibaca para siswa saya di sekolah, bahkan dibawa pulang dan sering tak kembali. Apakah ada rasa penyesalan? Ada, kalau buku-buku yang dipinjam itu langka, atau harganya cukup mahal, atau buku kesayangan saya. Tapi, apa mau dikata, mereka juga perlu baca buku-buku itu. Agar mengurangi risiko hilang tak kembali itu, saya suruh mereka beli sendiri saja, beli online. Beli buku bekas, tapi orisinal dan murah. Anak-anak malah menyuruh saya yang membelikan mereka buku. Duit mereka saya yang pegang. Saya tidak mau. Kalau tidak membeli sendiri, mereka tidak punya pengalaman bagaimana cara membeli buku. Saya juga tidak tahu apakah setelah mereka belajar bersama saya, mereka jadi candu membaca. Kalau sudah candu, tidak mungkin pinjam kepada saya terus-menerus. Maka, mengajarkan mereka bagaimana cara dan membiasakan beli buku online juga sangat perlu agar mereka terbiasa membeli sendiri.


Ah, bicara buku tak akan pernah ada habisnya. Resolusi saya entah sampai kapan pun agar bersinggungan dengan dunia tersebut. Saya berusaha untuk beresolusi menjadi yang lain, misalnya menjadi power ranger begitu atau spiderman, atau presiden, kok kayaknya berat. Untuk pindah haluan, saya perlu beradaptasi kembali. Harus memberikan luka yang baru pada tubuh, pikiran, dan jiwa sampai saya benar-benar akrab dengan cerita hidup yang baru. Belasan tahun di dunia literasi, mungkin borok-boroknya sudah saya kenali, tahu obatnya apa. Saya sudah kenal dengan tubuh, pikiran, dan jiwa saya dari pengalaman-pengalaman itu. Bila, saya tinggalkan, rasanya mubazir. Saya harus tetap berada dalam track ini apa pun situasi dan kondisinya.


Tuhan tidak menyuruh kita pindah haluan dalam sekejap—apalagi tidak dipikirkan matang-matang— melainkan melakukan apa yang kita sukai dan kita cintai secara tulus dan istikamah walau kita melakukannya selangkah demi selangkah. Dalam buku Atomic Habits, James Clear menjelaskan bahwa kalau bisa manusia berkembang setiap hari, minimal naik ”1%” kebaikan sehingga dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan energi kebaikan ”365%”, lalu menuju 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Seperti halnya ”Setetes Embun” karya Bapak saya yang ditulis sejak 8 tahun lalu itu yang setetes demi setetes kata ditulis setiap hari, lalu menjadi ribuan halaman.


Pontang 13 Januari 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 



redaksingewiyak@gmail.com



This Is The Newest Post