Thursday, January 15, 2026

Esai Heru Anwari | Bertemu Sinta

Esai Heru Anwari



Perjalanan saya dari Miami menuju Doha memakan waktu 13 jam di atas pesawat. Biasanya saya habiskan untuk menyaksikan film, menulis, atau membaca. Perjalanan kali ini berbeda. Tiba-tiba saya bertemu dengan Sinta, wanita muda berumur 22 tahun. Personal yang friendly (mudah bergaul), ia menceritakan perjalanannya ke India untuk mengikuti kelas meditasi.


Ia menceritakan tentang bagaimana sulitnya mengatur kesehatan mental yang ia hadapi dalam berbagai persoalan. Saat saya katakan usianya masih muda, seolah ia tak menerimanya. “What do you mean young people?” tegasnya.


Saya katakan kepada Sinta bahwa kebanyakan anak muda mendapati persoalan cinta di usia 22 tahun. Tapi, tidak semua juga begitu. Salah satunya ya Sinta ini. Justru di usia mudanya, ia malah mencari ketenangan, bahkan antarbenua. Obrolan kami seperti saling terkoneksi. Saya tertarik dengan pernyataan Sinta bahwa ia akan mengunjungi India hanya untuk mengikuti kegiatan meditasi (berzikir jika di Islam; uzlah jika istilah sufistik), menjauh dari hiruk-pikuk dunia yang ramai.


Sinta terdaftar dengan kelompok atau organisasi meditasi di Virginia, Amerika. Lalu pada kesempatan akhir tahun ini, ia mengikuti trip meditation dengan jalan yoga sampai ke India. Kita tahu bahwa India merupakan negara yang sudah mewarisi meditasi sebagai ritual pembersihan jiwa dan jalan spiritual sejak ribuan tahun lalu. Bukti arkeologis seperti segel kuno dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekitar 3300-1900 SM) menunjukkan figur manusia dalam posisi meditasi. Ini membuktikan bahwa praktik pencarian kejernihan jiwa ini sudah ada jauh sebelum catatan sejarah modern dimulai.


Istilah "yoga" pertama kali muncul dalam kitab Rig Veda, salah satu teks tertua di dunia. Kemudian, dalam kitab Upanishad (sekitar 800-500 SM), meditasi mulai dijelaskan secara mendalam sebagai metode untuk memahami diri dalam (Atman) dan hubungannya dengan alam semesta (Brahman).


Saat mendengar yoga di India, saya tahu ini menarik untuk menjadi topik pembicaraan kami di atas pesawat. Sinta menjelaskan bahwa ia sangat struggle dengan kesehatan mentalnya karena ia berprofesi sebagai Holistic Financial Planner. Sangat penting untuk menjaga pikiran tetap jernih tanpa harus terdistraksi persoalan-persoalan kecil yang mengganggu pikirannya.


Saya mengingat bagaimana dan apa yang saya kerjakan di usia 22 tahun; sepertinya saya sudah memiliki anak, saya sudah memulai bisnis, dan saya sudah kontrak bersama sponsor perusahaan yang menjamin kehidupan bersepeda saya untuk keliling Indonesia. Pasti juga sudah banyak masalah; masalah bisnis, keluarga, dan sebagainya. Bagaimana saya menghadapinya? Mungkin saya diuntungkan memeluk agama, memiliki ritual yang dijaga seperti salat, tahajud, tahlil (mengirim doa), bahkan berselawat mengharap syafaat dari Nabi Muhammad saw. agar terus diberikan jalan keluar dan kedamaian. Pastinya ada guru (kiai sebagai orang yang dituakan).


Tapi, kita simak apa sebenarnya yang dicari Sinta. 


Sinta kesulitan mendaftarkan diri masuk ke dalam organisasi/klub yoga di Virginia hingga mentornya menyarankan untuk menempuh perjalanan ke India agar mendapatkan pengalaman meditasi spiritual. Sinta mengatakan bahwa ia sudah menempuh berbagai cara untuk mengatasi kesehatan mentalnya--atau bahasa kerennya mental health. Ia berkonsultasi ke dokter, menempuh jalur medicine (obat-obatan), hingga meditasi yoga. Sinta tak malu menceritakan bahwa ia banyak merokok dan minum sebagai pencarian jalan keluar persoalannya.


Saya teringat pada teori piramida pencarian manusia dari Ary Ginanjar Agustian (ESQ). Beliau menyebut fenomena ini sebagai jebakan "Pencarian Kebahagiaan Semu". Ada yang dirindukan dalam diri manusia yang terus-menerus dicari. Manusia secara alami bergerak mencari tiga hal, namun sering kali terjebak pada kulitnya saja:


1. Kekayaan (physical): Banyak orang mengira harta adalah ujung perjalanan. Tapi setelah kaya, banyak yang tetap merasa lelah, cemas, kebingungan, hampa, bahkan takut kehilangan harta tersebut.


2. Ketenaran (emotional): Banyak orang mencari pengakuan dan pujian. Namun, ketenaran justru sering mendatangkan tekanan mental karena harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.


3. Kebahagiaan (psychological): Orang mencari kesenangan lewat hiburan atau pencapaian. Tapi kebahagiaan ini sifatnya sementara (temporary); ia sangat bergantung pada kondisi luar yang rapuh.


Saya ceritakan juga kisah Nabi Adam a.s. dan Ibunda Hawa yang turun ke bumi—kisah tentang kerinduan. Bagaimana mereka "terlempar" dari rumah aslinya (surga) lalu turun ke dunia, dan sisa hidup mereka di bumi digunakan untuk mencari jalan kembali ke kedamaian tersebut. Saya katakan kalau kita semua manusia adalah dari surga, lalu ke bumi untuk kembali menemukan kedamaian (rida Allah), ya surga itu sendiri. Sontak pertanyaan aneh kembali muncul, “Apakah kamu percaya surga?” Panjang sekali jika harus saya ceritakan di tulisan ini. Lalu sampai kepada Sinta pun berkata “Makes sense,” (masuk akal).


Ya, sebenarnya manusia merupakan makhluk cahaya. Karena turun atau terlahir di bumi, lalu banyak mengonsumsi dan tumbuh dari bahan baku yang ada di bumi (tanah), maka manusia kesulitan untuk kembali menyatu kepada cahaya. Dan semua perjalanan manusia merindukan itu: kembali bersinar, bersatu dengan Cahaya, menebar kebaikan.


Mbah Nun berkata: “Jika kita melakukan kebaikan, dan orang lain berterima kasih atas kebaikan kita, kita telah berhasil mencahayai.”


Diskusi kami terus berlanjut semakin seru, sampai kepada pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia beragama dan apa fungsinya. Saya jelaskan mengenai pandangan pribadi saya: salat untuk menjernihkan pikiran setiap hari. Ada jeda-jeda waktunya untuk memahami kembali rute tujuan perjalanan.


Ada gelas air putih di meja kursi pesawat, saya ibaratkan air itu keruh berwarna cokelat; kita tidak bisa melihat mana atau apa di dalamnya secara jelas. Itu yang terjadi jika distraksi di pikiran sedang kacau. Bingung mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Namun, jika kita melakukan meditasi atau salat tahajud (istilah Islam bangun malam hari), kita melakukan proses pengendapan. Esok kita akan mampu melihat sesuatu yang baru secara jelas. Mungkin sesuatu itu sudah ada, namun sebelumnya tidak terlihat jelas. Dan salat berfungsi untuk menjaga kejernihan tersebut setiap saat.


Lagi-lagi Sinta berkata: “Makes sense” (masuk akal). Saya katakan di usia Sinta yang muda, ia sangat hebat mau peduli pada kesehatan mental. Perjalanan ini bukan liburan atau main, justru penting bagi bisnisnya. Ia mengatakan bahwa dirinya seorang business owner. Ia harus mampu mengontrol pikirannya sendiri.


Saya mampu melihat sebegitu penting dan sulitnya orang lain mencari kedamaian dalam hidupnya. Begitu pun yang saya alami. Walaupun sering mendirikan salat, tapi saya masih sangat susah mendapat ketenangan-ketenangan tersebut jika tidak kuat mengamalkan agar iman terus kokoh.


“Menurutmu Amerika seperti apa?” Sinta kembali bertanya kepada saya. Sebelum saya menjawab, ia melanjutkan kalimatnya, “Evil semua” (semua jahat). 


Sinta sangat berani mengatakan itu.


“Kamu American (asli kelahiran AS), saya tidak berani mengatakan hal buruk terhadap Amerika walau aslinya seperti itu,” jawab saya. 


Memang, Sinta merupakan generasi kedua yang lahir dan besar di Amerika. Ia pun menyadari bahwa di sana panas gersang (hampa dari tujuan hidup, kebingungan). Orang-orang sudah banyak mencari jalan lain. Berhenti sejenak dari kesibukan atau rutinitas bukan suatu kemunduran, justru itu peningkatan yang baik dibanding kebutaan yang terus-menerus. Manusia harus ada jarak untuk melihat realitas yang terjadi. Cermin itu bisa terlihat jelas saat proses pengendapan (meditasi) usai berhenti dari keterjebakan, lalu bertanya arah tujuan pada diri sendiri. Tren di Barat menunjukkan hal yang anomali (kebiasaan yang berbeda). Gen Z di Amerika banyak lari ke astrologi, tarot, bahkan spiritual seperti yoga. Contoh nyatanya adalah Sinta ini.


Mas Sabrang menjelaskan di podcast YouTube-nya mengenai pola yang terjadi di alam semesta. Manusia selalu mencari, selalu merasa kurang. Ketika terasa terlalu dikekang oleh peraturan, manusia akan mencari kebebasan. Saat manusia merasa terlalu bebas, maka akan mencari peraturan. lama-lama akan kebingungan. Dalam society, manusia mencari rule. Saat di luar tidak ditemukan, manusia akan mencari ke dalam. Informasi esoteris (rahasia langit) yang memberi kepastian kepada manusia. Yang menutupi lingkaran yang tidak diketahui, maka konsep Tuhanlah yang menutupi lingkaran sehingga kita merasa stabil.


Begitu pentingnya dimensi spiritual bagi manusia. Tidak hanya olahraga, tapi perlu sekali olah jiwa. Tidak hanya makan untuk tubuh, tapi juga makanan rohani. Tidak hanya ada bumi, ada juga langit dalam tubuh manusia.


Sinta kembali bertanya, “Apa kamu happy?”


Apa yang dimaksud happy? Apakah bahagia itu tertawa dan berdendang menyanyi, berjoget? Bisa jadi orang yang sengaja banyak berdendang dan mendengarkan lagu, bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya, justru sangat ragu terhadap kebahagiaannya. sehingga membuat ia mencari tools agar bahagia atau terlihat bahagia. Diam merenung berpikir tentang apa yang terjadi bukanlah suatu kondisi tidak bahagia. Justru itu proses management problem dalam diri agar hidup tetap berjalan dengan baik. 


Saya teringat pesan Mbah Nun kepada saudara Helmi Mustofa sebagai orang yang dekat dengan beliau--pesan kepada jemaah "Maiyah" mengenai management problem dalam diri. Sesuatu menjadi sesuatu dalam diri karena kita memberi tiga hal: space (ruang), time (waktu), energy (tenaga).  


Jika kebencian kita memberi ruang, memberi waktu, memberi energi, kebencian itu akan membara menjadi sesuatu yang berbahaya. Begitu juga kesedihan. Sedih tidak apa-apa lima menit, misalnya, cukup. Demikian dengan kesenangan. Senang jangan lama-lama, cukup 10 menit, misalnya. Selebihnya sudah kembali bekerja-mencipta, tidak euforia berlebihan.


Sebenarnya bahagia menurut Islam ada pada Surah Ar-Ra'd ayat 28:


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram."


Artinya, bahagia itu adalah ketika hati "pulang" kepada penciptanya. Seperti ponsel yang diisi daya baterainya, jiwa yang ingat Tuhan akan merasa penuh dan tenang.


Esai ini akan saya tutup dengan puisi Maulana Jalaluddin Rumi:


Ku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno

Tiada tanda apa saja di dalam-Nya

Nuju ke pegunungan Herat ku melangkah

Dan ke Kandahar ku memandang

Dia tak di dataran tinggi

Tak pula di dataran rendah

Ku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan

Yang ada cuma tenpat tinggal burung Anqa

Kutanya pula Bu Ali Sina, tiada jawaban, sama saja

Ku pergi ke Kakbah di Mekkah

Dia tak di sana

Lalu kejenguk dalam hatiku sendiri

Di situ kulihat diri-Nya

Di situ, tak di tempat lain


Doha, Qatar, 1 Januari 2026


_______


Penulis


Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com


redaksingewiyak@gmail.com