Esai Heru Anwari
Suatu hari saya berkunjung ke Everglades Alligator Farm, tepatnya pada 29 Desember 2025. Di sana, saya banyak belajar dari aligator Florida.
Everglades Alligator Farm yang terletak di dekat Taman Nasional Everglades merupakan penangkaran buaya terbesar dan tertua di Florida Selatan. Tempat ini menawarkan tur perahu rawa (airboat), pertunjukan satwa liar, dan berbagai demonstrasi.
Di sela pertunjukan saat memberikan makan aligator di tengah penangkaran, ada mungkin sebanyak 250 aligator seperti di alam bebas. Ada sedikit perbedaan terkait aligator dan crocodile/buaya. Meskipun terlihat mirip, aligator dan buaya berasal dari keluarga yang berbeda dalam ordo Crocodylia. Perbedaan keduanya cukup mudah dikenali jika kita memerhatikan detail fisik dan perilakunya. Buaya Amerika dan Kuba bisa kita temui di kebun ini. Moncongnya terlihat tipis atau runcing, juga bentuk tubuh dan warnanya berbeda. Sifat buaya lebih agresif, sedangkan aligator pemalu.
Namun, yang menarik bagi saya adalah mengenai informasi bahwa buaya mampu bertahan hidup satu tahun hanya dengan memakan dua ekor ayam atau beberapa ikan kecil, memproses makanan cukup lama. Aligator dan buaya dewasa yang sehat sanggup bertahan hidup tanpa makan selama satu tahun, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem dilaporkan bisa lebih dari itu. Dilansir dari berbagai informasi bahwa buaya sudah hidup sejak ratusan juta tahun lalu, yang sangat mungkin mereka berdampingan dengan dinosaurus. Mereka berhasil selamat dari peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun yang lalu, kemungkinan besar karena kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap lingkungan air dan darat yang membuatnya terus bertahan sampai saat ini.
Secara sekilas buaya terlihat bermalas-malasan, hanya tidur, berenang, berjemur. Memang ia seharusnya begitu, memproses makanan dengan sangat lambat dan lama. Tidak seperti manusia yang menghabiskan sekitar 90% energi makanan hanya untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat, buaya mendapatkan panas dari matahari. Hal ini membuat metabolismenya sangat lambat dan hemat energi.
Buaya menyimpan cadangan energi yang sangat besar di bagian ekor dalam bentuk lemak. Saat makanan langka, tubuh mereka akan "memakan" cadangan lemak ini secara perlahan. Memiliki "Power Saver". Saat tidak ada makanan, mereka akan menurunkan detak jantung dan aktivitas tubuh hingga titik minimal.
Fenomena makhluk di alam semesta seperti ini jika kita cermati dan diambil hikmahnya, akan sangat banyak ilmu yang bisa kita ambil untuk kehidupan di tengah kecepatan dan supersibuk dewasa ini. Tidakkah ingat bahwa anak Nabi Adam belajar kepada burung gagak untuk mendapatkan ilmu cara menguburkan manusia.
Tuhan berkomunikasi melalui alam selalu berbicara kepada kita, namun kita tak mampu menangkapnya dengan jelas. Suara tidak melulu melalui telinga. Lakon teatrikal drama dipahami dengan gerakan menyiratkan cerita yang menyentuh. Kita mampu melihat atau mengetahui seseorang hanya dengan mendengar suaranya, tanpa mata. Begitu istilah dimensi komunikasi dengan kelembutan atau kedetailan.
Hidup manusia dewasa ini seperti sudah diatur dengan pola-pola materialistis. Hidup harus seperti ini, harus seperti itu, umur segini harus punya ini, harus punya itu. Nanti harus begini dan begitu. Katakanlah pola yang terjadi kebanyakan yang terjadi di masyarakat saat ini. Memasuki usia 25–30 tahun harus sudah memiliki pekerjaan tetap, harus sudah menikah, memiliki keluarga, mendapatkan gaji, cicilan perabotan, rumah, kendaraan, dan sebagainya. Jika saja manusia keluar dari pola kebanyakan yang terjadi, maka akan terlihat aneh bahkan berbeda, bisa dianggap tidak waras.
Dinarasikan seperti ketakutan jika sudah melampaui usia 40 tahun belum menikah atau bahkan belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaan juga diidentikkan dengan adanya jam kerja pukul 07.00 s.d. 17.00, dengan sistem absensi dan gaji 30 hari menunggu lamanya.
Apakah buaya mengatakan seperti itu? Buaya mengatakan, “Hei, nikmatilah hidup ini! Makanlah secukupnya! Bahagialah, kita sudah hidup ratusan juta tahun!”
Saya teringat kepada suatu pemikiran Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, sastrawan, dan filsuf besar asal Indonesia. Beliau sering menggunakan perumpamaan "tamu di meja makan" atau "dunia sebagai hidangan", sama persis seperti pemikiran sufi besar Imam Al-Ghazali yang mengajarkan bahwa dunia adalah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal perjalanan berikutnya.
Jika manusia diumpamakan seorang tamu yang berada di meja makan, maka kita makan secukupnya saja. Karena dunia bagai meja makan dengan sangat banyak menu hidangan makanan dengan berbagai rasa. Jika mungkin manusia kerakusan, tidak akan ada waktu untuk menikmati perjalanan singgahnya di dunia.
Manusia jika hidup sudah sadar bahwa alam semesta menyediakan segalanya, sudah memiliki atap untuk berteduh, sudah ada makanan untuk hidup, kenapa takut lagi hidup dengan tergesa atau terus takutkan masa depan, berperang dalam kegelisahan dan perlombaan. Pemilik rumah sudah memberi takaran yang tidak akan tertukar bagi dia yang bertamu. Sopir dan pilot akan membawa penumpang dengan selamat, mengapa masih takut pada kehidupan yang sudah dijamin? Bekerja dan beribadah (pengabdian) berimbang dan menjadi keindahan dalam kehidupan. Mereka yang sudah merasa cukup akan menikmati pemandangan.
Pada buku Montaigne tertulis pada salah satu bab esainya:
Dan orang kaya yang gelisah, kekurangan, dan terlalu sibuk tampaknya lebih celaka bagiku daripada orang yang benar-benar miskin. "Kemiskinan dalam kekayaan adalah bentuk kekurangan yang paling menyakitkan" (Lucius Annaeus Seneca).
Semua manusia pasti takut dan khawatir karena itu bagian dalam perasaan dimensi kehidupan manusia. Jika kita yakin bahwa semua sudah diatur oleh Sang Pemegang Skenario, sekalipun keluarga, anak, dan istri, alangkah baik jika mewariskan sikap berhenti dari sifat kehausan yang berkepanjangan. "Kelaparan" mental jauh lebih berbahaya daripada kelaparan fisikal. Mana yang akan diwariskan?
Kapan dimulai kehidupan bahagianya? Jika sudah menyadari bahwa warna apa yang pantas digunakan, dan bermain sesuai warna sabuk yang dimiliki. Menikmati bukan berarti berhenti, tapi sudah menikmati menjadi irama. Bersyukur atas apa yang sudah ditetapkan dan semua terus berproses tanpa tergesa-gesa.
Konsep kekayaan jika merujuk kepada Asmaul Husna Al-Ghany artinya 'Maha Kaya' atau 'Maha Tidak Membutuhkan' (cukup). Maka sangat jelas manusia yang sudah merasa cukup dan menikmati itu yang disebut kaya. Jika masih terus kurang maka bisa disebut masih miskin. Bagaimana tidak dikatakan paling kaya jika semua alam semesta dicipta untuk ia, manusia yang bersyukur.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta (ghina al-'aradh), melainkan kekayaan jiwa atau rasa cukup dalam hati (ghina an-nafs). Cukup.
Saya ceritakan kisah saya 34 tahun tidak bekerja seperti manusia kebanyakan; pergi ke kantor dan menggunakan seragam. Selama 20 tahun berkarier saya digaji semestinya karyawan mendapat jaminan kehidupan, Jamsostek, bahkan tiket kepergian dinas, tanpa memakai seragam. Seragamnya kaos polos, sepatu kasual, layaknya seperti bermain bersama sepeda. Sepeda menjadi meja kantor dan alat bekerja. Terlihat aneh dan tidak masuk akal. Namun, perjalanan dinasnya bisa sampai keliling di berbagai benua dengan hotel bintang 5, disambut dan diservis seperti artis papan atas.
Bagaimana dengan konsep ini? Apa harus takut dan khawatir jika yang tidak diinginkan saja bisa kita dapatkan? Yang tidak terbayangkan saja bisa terjadi begitu saja, seperti sudah digariskan. Ini mematahkan konsep bekerja harus keras dan sebagainya. Saya konsisten dan keras pada pendirian saya terus di olahraga BMX, menjadi idealis. Memang ideal bagi saya karena sudah memakan waktu ribuan jam terus-menerus di dunia BMX ini.
Memang benar yang bersungguh-sungguh akan pantas mendapatkan ganjaran dari apa yang ia kerjakan. Tapi tidak dalam kekurangan dan kerakusan. Sungguh-sungguh dengan sifat saleh, siddiq, jujur, sungguh. Jalan itu yang akan membawa kepada penemuan warna sabuk atau fadhal-nya. Fadhal atau fadhilah, keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan. Akhirnya ia menjadi dirinya. jadi, tidak harus saya harus seperti orang lain. Ditambah bersyukur maka keindahan tercapai sebagai puncak kehidupan manusia.
Kita bisa saksikan juga pada kisah kehidupan para seniman, mereka para pencipta keindahan, mereka para pejalan keindahan. Seniman pelukis, desainer, musisi, dsb. Mereka menjadi dirinya semestinya.
Begitu pelajaran yang saya dapatkan di Miami, Florida, Amerika yang saya lihat dari perjalanan kisah aligator/buaya. Bisa saja Allah menginginkan saya menjadi manusia yang berjalan dengan sepedanya sampai ia kelak mati dan menikmati banyak pemandangan saat proses kehidupan berlangsung (cukup dengan makan dua ekor ayam satu tahun seperti buaya) sifat cukupnya. Kuncinya ada pada saya rida mensyukurinya, ibu (keluarga) rida kepada jalan itu, dan pasti Allah rida pada jalan ini. Apa lagi yang dicari jika rida Allah sudah dituju? Bukankah itu titik terakhir dari perjalanan?
Keluar dari mengikuti pola yang dicipta manusia. Karena manusia banyak sekali mencipta distraksi pola-pola kehidupan, sampai saya lupa bahwa ada Sang Pencipta pola sesungguhnya. Banyak sekali makhluk Allah bisa hidup karena keahlian mereka, katakan membengkel, bertani, memijat, menulis, dsb. Apa susahnya buat Allah mencipta satu manusia untuk bisa hidup karena ahli BMX.
Saya cerita untuk menceritakan perjalanan pencarian diri pribadi, tapi bisa saja menjawab semua keraguan atau pertanyaan manusia dan keluar dari pola-pola manusia saat ini. Dan, saatnya generasi baru menemukan keahliannya.
Jika pesan dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bagi para generasi selanjutnya adalah: “Kalau kamu ikan, jangan ikut lomba terbang. Kita dicipta berbeda.”
Dan di dunia ini banyak sekali jika kita mau belajar, tokoh besar hidupnya selesai bahkan berkelimpahan hanya dari mereka menemukan di mana posisi hidupnya. Robert Nesta Marley, musisi (Reggae), dikenal sebagai ikon musik dunia asal Jamaika yang membawa pesan perdamaian. Bruce Lee (Lee Jun-fan), bela diri (martial artist), pendiri Jeet Kune Do dan aktor film laga yang merevolusi cara pandang dunia terhadap bela diri. Cristiano Ronaldo (dos Santos Aveiro), pemain sepak bola, salah satu pemain terbaik sepanjang masa dengan rekor gol terbanyak di dunia. Khabib Abdulmanapovich Nurmagomedov, petarung MMA (mixed martial arts), beliau spesialis gulat dan sambo. Ia pensiun sebagai Juara Kelas Ringan UFC yang tak terkalahkan.
Ungkapan Mamah yang paling kuingat,
“Emang Aa mah geus aya jangji ti Allah, tah urusan Mamah jeung anak ti sapeda. Jadi jelma mah ulah mak-mak (rakus), syukuri baé éta, Allah geus méré kaahlian éta. Mamah mah sifat ngadoakeun.
Miami, Florida Selasa, 30 Desember 2025
_________
Penulis
Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
