Sunday, February 22, 2026

Puisi-Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi



Buku Paket


Menaruh rasa curiga

akan dijadikan sebagai

barang pajangan semata yang

lama-lama tidak menggoda juga.


Sesekali dibuka hanya

agar Pak Guru yang

budiman tidak naik pitam

lalu meluncurkan kata keras.


Keterpaksaan kadang 

tidak menggugah 

dengan lemah lembut

justru membuat siswa 

semakin cemberut.


Anak-anak, 

aku adalah

taman bermain

di dalam diriku ada berbagai wahana

yang mengasyikan pikiran. 


Itulah goda buku pada bocah 

yang lebih asyik menggenggam telepon

ketimbang buku


Dijamin, setelah tuntas 

bermain dengan kata

kau akan menjadi 

pengelana tangguh.


Purbalingga, 2026 



Balada Pujangga


Aroma kopi menemani

pujangga di meja kerjanya

yang penuh dengan

remah-remah huruf.


Aroma kopi memunguti

satu persatu huruf itu

untuk ditempelkan pada

secarik kertas yang suci.


Ia dan pujangga bersama-sama

menjodohkan huruf agar menjadi 

kata-kata  yang sakinah, mawaddah

wa rahmah dalam haribaan sajak.


Hujan ikut menyaksikan 

pertunjukan tersebut.

Ia menyumbangkan sebuah

musik yang barangkali

bisa menjadi terapi alami

bagi telinga penulis.

Berharap prosesi 

perjodohan huruf

bisa berjalan dengan lebih khidmat.


Purbalingga, 2026 



Kisah Kehidupan di Angkringan


Kepul panas teh

menghalau kepenatan yang

telah menumpuk di kepala 

pekerja kantoran.


Tempe bacem, tahu bacem

memberi isyarat hidup 

pada pengelana malam

bahwa hidup bisa nikmat tanpa

harus mahal.


Sate usus, sate telor puyuh

menegaskan jika dalam hidup

banyak sekali perbedaan 

yang harus kita tusuk menjadi

satu kesatuan agar bisa lebih

enak disantap mata dan cinta.


Ah, kopi juga berceramah jika manis-pahit

itu seperti kesulitan dan kemudahan

yang silih berganti merondai hidup manusia.


Di Angkringan, pelajaran digelar

bahwa kemanusiaan itu masih ada 

selama kita bercengkrama.


Purbalingga, 2026 



Mengelilingi Kota di Malam Hari


Seorang pujangga mengelilingi kota

di malam hari yang dibasuh hujan.

Di sepanjang jalan ia belajar

mengeja puisi dari gerobak abang tukang bakso

yang kecipak kakinya lebih syahdu dari puisi.


Di beberapa titik, ia terbata juga

saat membaca nasib seorang anak yang 

hingga larut malam menemani ibunya berjualan

wedang ronde.


Ia beranikan diri untuk tetap melaju

Betapa sensitif hati dan matanya


Ia kembali tak kuasa membaca berapa porsi

Es Teh yang terjual dari gerobak

nenek tua yang dikerjai oleh hujan.

Sesekali ia juga tersenyum riang

melihat abang penjual mie ayam

mengumbar senyum lantaran hujan

datang menggandeng pembeli.


Setelah berkeliling, pujangga 

kembali ke sajaknya dan menulis.


Betapa mulia mereka yang istikamah

menjemput jejak rezeki

meski hujan datang mengaburkan

langkah kaki rezeki.


Purbalingga, 2026 



Balada Seorang Penulis


Setiap malam ia selalu tengkar

dengan kata-kata yang

sudah menghadangnya di ujung gang.

Penulis sudah menyiapkan pena

barangkali  bisa menikam kata

hingga tidak berdaya.

Kondisi tidak bisa dibaca seenaknya saja.

Ternyata kata datang bergerombol.

Kepala penulis digerumuti huruf.

Ada yang memerah, ada yang bintik

ada pula yang luka dalam.

Pujangga akhirnya mengobati 

lukanya dengan meminum

puisi tiga kali dalam sehari.

Ia pun bisa sembuh dengan lekas

berharap agar pertarungan 

dengan gerombolan kata bisa

digelar kembali.


Purbalingga, 2026


________


Penulis


Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!