Puisi Yanuar Abdillah Setiadi
Buku Paket
Menaruh rasa curiga
akan dijadikan sebagai
barang pajangan semata yang
lama-lama tidak menggoda juga.
Sesekali dibuka hanya
agar Pak Guru yang
budiman tidak naik pitam
lalu meluncurkan kata keras.
Keterpaksaan kadang
tidak menggugah
dengan lemah lembut
justru membuat siswa
semakin cemberut.
Anak-anak,
aku adalah
taman bermain
di dalam diriku ada berbagai wahana
yang mengasyikan pikiran.
Itulah goda buku pada bocah
yang lebih asyik menggenggam telepon
ketimbang buku
Dijamin, setelah tuntas
bermain dengan kata
kau akan menjadi
pengelana tangguh.
Purbalingga, 2026
Balada Pujangga
Aroma kopi menemani
pujangga di meja kerjanya
yang penuh dengan
remah-remah huruf.
Aroma kopi memunguti
satu persatu huruf itu
untuk ditempelkan pada
secarik kertas yang suci.
Ia dan pujangga bersama-sama
menjodohkan huruf agar menjadi
kata-kata yang sakinah, mawaddah
wa rahmah dalam haribaan sajak.
Hujan ikut menyaksikan
pertunjukan tersebut.
Ia menyumbangkan sebuah
musik yang barangkali
bisa menjadi terapi alami
bagi telinga penulis.
Berharap prosesi
perjodohan huruf
bisa berjalan dengan lebih khidmat.
Purbalingga, 2026
Kisah Kehidupan di Angkringan
Kepul panas teh
menghalau kepenatan yang
telah menumpuk di kepala
pekerja kantoran.
Tempe bacem, tahu bacem
memberi isyarat hidup
pada pengelana malam
bahwa hidup bisa nikmat tanpa
harus mahal.
Sate usus, sate telor puyuh
menegaskan jika dalam hidup
banyak sekali perbedaan
yang harus kita tusuk menjadi
satu kesatuan agar bisa lebih
enak disantap mata dan cinta.
Ah, kopi juga berceramah jika manis-pahit
itu seperti kesulitan dan kemudahan
yang silih berganti merondai hidup manusia.
Di Angkringan, pelajaran digelar
bahwa kemanusiaan itu masih ada
selama kita bercengkrama.
Purbalingga, 2026
Mengelilingi Kota di Malam Hari
Seorang pujangga mengelilingi kota
di malam hari yang dibasuh hujan.
Di sepanjang jalan ia belajar
mengeja puisi dari gerobak abang tukang bakso
yang kecipak kakinya lebih syahdu dari puisi.
Di beberapa titik, ia terbata juga
saat membaca nasib seorang anak yang
hingga larut malam menemani ibunya berjualan
wedang ronde.
Ia beranikan diri untuk tetap melaju
Betapa sensitif hati dan matanya
Ia kembali tak kuasa membaca berapa porsi
Es Teh yang terjual dari gerobak
nenek tua yang dikerjai oleh hujan.
Sesekali ia juga tersenyum riang
melihat abang penjual mie ayam
mengumbar senyum lantaran hujan
datang menggandeng pembeli.
Setelah berkeliling, pujangga
kembali ke sajaknya dan menulis.
Betapa mulia mereka yang istikamah
menjemput jejak rezeki
meski hujan datang mengaburkan
langkah kaki rezeki.
Purbalingga, 2026
Balada Seorang Penulis
Setiap malam ia selalu tengkar
dengan kata-kata yang
sudah menghadangnya di ujung gang.
Penulis sudah menyiapkan pena
barangkali bisa menikam kata
hingga tidak berdaya.
Kondisi tidak bisa dibaca seenaknya saja.
Ternyata kata datang bergerombol.
Kepala penulis digerumuti huruf.
Ada yang memerah, ada yang bintik
ada pula yang luka dalam.
Pujangga akhirnya mengobati
lukanya dengan meminum
puisi tiga kali dalam sehari.
Ia pun bisa sembuh dengan lekas
berharap agar pertarungan
dengan gerombolan kata bisa
digelar kembali.
Purbalingga, 2026
________
Penulis
Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!