Monday, February 23, 2026

Karya Guru | Pulang Siang | Esai Restu Andika Purnama Indah

Esai Restu Andika Purnama Indah



Dulu, saya kira hanya pelajaran Matematika yang dianggap rumit. Ternyata, setelah menjadi dewasa, hidup tidak sesederhana “saya suka kamu, dan kamu suka saya”. Selesai. Mungkin apa yang dikatakan Chairil Anwar dalam kutipan puisinya yang berjudul Karawang–Bekasi terasa lebih tepat: “Kerja belum selesai, belum apa-apa.”

Menjadi anak-anak memang identik dengan bermain, selain makan dan membuat keributan. Terlebih ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Siang hari, tepatnya pukul dua belas teng, sudah pulang sekolah. Sesegera mungkin kembali ke rumah dan melakukan aktivitas lainnya: bermain (lagi, dan lagi). Menjelang magrib, mengaji di rumah guru ngaji yang juga tetangga di tempat tinggal saya.


Lalu, kapan tidurnya? Kemungkinan besar itu pertanyaan yang muncul dari orang tua. Jawabannya ada dua: tidur siang (setelah pulang sekolah) dan tidur malam (pukul 21.00 sebagai batas maksimal waktu istirahat). Konon, tidur siang sudah menjadi ritual krusial bagi sebagian besar orang tua dahulu, yang diperuntukkan dan diwajibkan bagi anak-anak mereka. Barangkali kebiasaan itu masih berlaku hingga saat ini, begitu pula dengan saya.


Waktu kecil, saya selalu disuruh tidur siang oleh orang tua. Tidak ada kata “tidak”, tidak ada penolakan, apalagi negosiasi. Bagi orang tua saya, tidur siang adalah ritual yang harus dilakukan. Anak ditemani—lebih tepatnya dijaga—hingga terlelap. Jika tidak, akan ada akibatnya: pernah mencoba kabur demi main bersama teman-teman, tapi tidak lama saya terjatuh dan kedua kaki (lutut) saya terluka. Namun, dari situlah saya baru ngeuh ketika beranjak dewasa, tepatnya saat duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas): ternyata tidur siang itu mahal.


Sejak SMA, tidur siang menjadi sesuatu yang langka. Dari pagi hingga sore harus belajar tanpa henti. Kalaupun ada jeda, itu hanya saat sekolah mengadakan kegiatan tertentu, barulah terasa angin segarnya. Berbeda ketika di universitas. Jam pembelajaran tidak selalu berurutan. Kadang pagi, siang, atau sore. Ada yang siang hingga sore. Tidak selalu konsisten dari pagi sampai sore seperti masa SD hingga SMA.


Pendidikan di Indonesia mengenal sistem pulang sore hari. Saat ini dikenal dengan istilah full day school, meskipun tidak diterapkan di semua jenjang. Sistem ini lebih banyak diberlakukan di jenjang SMA, meski kini mulai marak pula di SMP. Hampir setara dengan pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore, bedanya, siswa tidak digaji. Barangkali sejak awal pendidikan kita memang disetel untuk mencetak karyawan, bukan pemimpin, terlebih pemilik usaha yang mereka bangun sendiri.


Padahal, semua itu bisa saja diwujudkan jika siswa diberi waktu lebih, misalnya pulang siang. Seusai menunaikan ibadah salat Zuhur (bagi umat Islam), mereka bisa menikmati tidur siang. Sore harinya, mereka dapat kembali beraktivitas. Bercengkerama bersama keluarga atau sekadar mager (malas gerak) di rumah pun tidak menjadi persoalan. Itu hak mereka.


Bahkan, ada pula yang memanfaatkan waktu luang dengan berjualan sebagai bentuk usaha untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai calon pengusaha yang kelak mampu membuka lapangan pekerjaan tanpa basa-basi. Karena itu, biarkanlah mereka berekspresi sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki.


Jika mengingat padatnya waktu pembelajaran di sekolah, sebentar lagi kita akan menyambut bulan Ramadan. Hanya di bulan Ramadan, waktu pembelajaran terasa lebih efektif (bagi saya). Bagaimana tidak, siswa yang biasanya belajar hingga sore hari, kini hanya setengah hari, sampai siang saja. Setidaknya mereka bisa bernapas lega, meski sementara, setelah ditempa tugas, ulangan, dan berbagai tuntutan lain.


Perlu diingat, fokus siswa di sekolah rata-rata hanya mampu bertahan sekitar dua puluh menit. Selebihnya? Pikiran mereka mulai bergentayangan: “Nanti istirahat makan apa, ya?” Barangkali itu salah satu isi kepala mereka.


Bukankah sekolah adalah rumah kedua bagi siswa? Rasa senang dan bahagia seharusnya menjadi sesuatu yang diidam-idamkan dalam pembelajaran. Belajar karena ingin tahu, ingin bisa. Bukan untuk ajang pamer, bukan pula untuk perlombaan menentukan siapa pemenang. Mereka tidak sedang berlomba. Kalaupun ada perlombaan, itu dengan diri sendiri: apakah hari ini lebih baik dari kemarin, atau justru sebaliknya?


Jika ilmu mampu membuat mereka merenung, maka tahap berikutnya adalah penerapan. Melalui proses itulah, barangkali pembelajaran yang bermakna akan benar-benar terasa.


Belajar dari sistem pendidikan luar negeri tentu boleh. Namun, di lapangan perlu dilihat pula bagaimana penerapan yang cocok bagi siswa di Indonesia. Jangan sampai sistem dari luar negeri di-copy paste mentah-mentah ke negeri ini.


Berkaca pada Jepang dan Korea, misalnya. Kedua negara ini dikenal sangat tekun dalam belajar. Saking tekunnya, jam pulang ke rumah bisa hingga larut malam karena adanya jam tambahan les atau bimbel (bimbingan belajar). Namun, tidak sedikit pula kasus hara kiri di Jepang dan bundir (bunuh diri) di Korea. Mungkin mereka lelah karena tekanan persaingan yang begitu berat, atau karena tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam prosesnya.


Mengapa kita tidak belajar dari Finlandia, yang dinobatkan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia? Waktu belajar di sana fleksibel, hanya sekitar 4–5 jam per hari, dengan waktu istirahat yang cukup panjang di setiap pelajaran. Anak-anak diberi ruang untuk istirahat dan menekuni hobi. Pekerjaan rumah pun sangat minim. Fokus pendidikan lebih ditekankan pada kreativitas, berpikir kritis, dan keseimbangan emosional, bukan semata kemampuan akademik.


Dari sana, pada akhirnya tumbuh rasa bahagia dalam diri anak, terutama dalam proses belajar. Tanpa kekangan, tanpa perundungan, dan tanpa tekanan untuk menjadi peringkat pertama. Barangkali, hal-hal semacam inilah yang sesungguhnya dibutuhkan siswa: belajar karena memang ingin bisa, tanpa tekanan dari siapa pun dan dari mana pun.

______

Penulis

Restu Andika Purnama Indah, lahir di Bandung, 4 Februari 1991. Ia adalah guru di SMAN 3 Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!