Sunday, March 8, 2026

Cerpen Tin Miswary | Raibnya Piring Raja di Batee Raya

Cerpen Tin Miswary 




Andai pun ada seseorang yang mengaku baru turun dari langit, tetap saja dia tidak akan mampu membuka pintu itu lagi. Gua itu sudah tertutup rapat. Tidak ada lagi piring, gelas, talam, cerek dan perlengkapan lainnya yang bisa kami ambil untuk kenduri. Yang tersisa hanyalah batu besar di pinggir gua, bertengger pada lubang yang dulunya selalu terbuka setelah dibaca doa-doa. Sekarang, jangankan dibaca doa-doa, ditarik ekskavator pun, batu itu akan tetap bergeming.

Dulu, sebelum peristiwa itu terjadi, aku menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang Batee Raya berkumpul di sana, menggelar tikar pandan, membaca doa-doa, dan lalu batu besar itu akan bergeser ke barat. Lalu beberapa laki-laki memasuki gua seraya salah satu tangan mereka memegang suwa, diikuti kaum perempuan dari belakang, membawa ija sawak. Kaum perempuan akan keluar lebih dulu seraya menggendong piring, gelas dan alat-alat kenduri lainnya yang sudah dibungkus ija sawak

Sebagian warga yang menunggu di luar menyambut barang-barang itu untuk kemudian mereka angkut ke meunasah. Di sana, barang-barang itu dibersihkan sekadarnya dan lalu  diantar ke alamat tuan rumah yang hendak menggelar kenduri kawin atau pun kenduri mati. 

Begitulah. Setiap kenduri-kenduri itu akan digelar, orang-orang Batee Raya akan berbondong-bondong menuju gua yang terletak di selatan kampung dengan dipimpin seorang tetua. Gua itu menghadap ke utara dan membelakangi tumpukan batu-batu besar di belakangnya yang memanjang ke arah rimba maha lebat di Selatan, tempat orang-orang tak dikenal menebang pohon-pohon besar untuk dijual pada penadah berseragam. Orang-orang Batee Raya sendiri menganggap penebangan pohon-pohon itu sebagai pantangan. Namun, apalah daya. Membendung kedatangan orang-orang asing itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

***

Tiga puluh tahun lalu, ketika usiaku baru menginjak 12 tahun, kampung Batee Raya selalu saja ramai dengan kedatangan orang-orang dari kampung sekitar. Mereka adalah orang-orang miskin yang hendak menggelar kenduri, akan tetapi tidak memiliki peralatan. Kepada para tetua, mereka mengajukan permohonan untuk bisa meminjam barang-barang peninggalan raja di dalam gua. Para tetua kemudian mencatat jadwal-jadwal kenduri yang mereka rencanakan agar tidak berbenturan dengan kenduri yang sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh warga Batee Raya.

Seingatku, sebenarnya bukan cuma orang-orang miskin yang sering meminjam peralatan kenduri milik raja yang tersimpan dalam gua, tapi orang-orang kaya juga melakukan hal yang sama. Aku pikir itu wajar, sebab barang-barang peninggalan raja itu memang terbilang sangat mewah dan mahal harganya. Boleh dibilang, tidak ada orang kaya di Batee Raya yang memiliki barang-barang semewah itu, seperti piring keramik bercorak Tiongkok, cerek dan talam yang terbuat dari perak dan juga gelas-gelas kecil yang dilapisi emas.

“Setelah dipakai barang-barang ini harus dikembalikan lagi seperti semula, tidak boleh ada yang rusak atau pun hilang. Siapa pun yang meminjam harus mampu menjaganya seperti ia menjaga anak gadisnya dari gangguan lelaki,” demikian pesan tetua setiap barang-barang itu dikeluarkan dari gua. Semua orang menurut dan menjaga nasihat itu selama puluhan tahun.

Satu lagi yang kuingat, bahwa para peminjam barang-barang raja itu haruslah seorang yang saleh, yang rajin mengaji di meunasah, tidak pernah meninggalkan salat dan juga puasa.

Pernah satu kali, aku melihat sendiri pintu gua tidak mau terbuka saat Bang Baka ingin menggelar kenduri pernikahan anak gadisnya. Saat itu, usiaku mungkin sekitar 25 tahun. Aku dimintai Bang Baka untuk menjumpai Leube Yusuf guna menyampaikan keinginannya untuk meminjam barang-barang tersebut.

“Kenapa dia tidak datang sendiri?” tanya Leube Yusuf saat itu.

“Dia harus menyampaikan undangan kepada kerabat-kerabatnya yang jauh. Dia meminta bantuan saya menemui Leube,” jawabku dengan wajah menunduk.  

“Permintaan Baka tak mungkin bisa kupenuhi. Tak pernah sekali pun aku lihat dia salat dan puasa. Kerjanya hanya bermain catur seharian penuh. Jangankan untuk meminjam peralatan kenduri, menjadi wali nikah saja dia tidak pantas, tak cukup syarat. Dia tergolong orang fasik, jadi tak layak memakai piring raja.”

Mendengar jawaban Leube Yusuf, aku terkesiap. Mulutku seperti dibekap beuno, tak mampu berkata-kata lagi. Aku benar-benar terdiam. Bang Baka adalah sepupuku yang paling baik, yang sering membantu keluargaku di saat-saat genting. Seperti umumnya orang-orang di Batee Raya, dia terbilang miskin. 

Saat aku sampaikan jawaban Leube Yusuf kepada Bang Baka, laki-laki itu hanya tersenyum. “Ya, sudahlah,” katanya. “Aku akan temui sendiri Leube Yusuf,” tegasnya. Maka berangkatlah kami ke rumah orang tua itu menjelang petang, ketika warna langit berubah redup.

Setelah memberi salam dan berbasa-basi sekadarnya, Bang Baka berkata pada orang tua itu, orang tua paling dihormati di Batee Raya, “Cobalah Teungku berdoa di pintu gua, Siapa tahu pintu itu terbuka.”
Leube Yusuf melirik tajam ke arah Bang Baka, “Mana bisa begitu. Itu memang sudah ketentuan sejak dulu-dulu.”

“Tugas Teungku hanya mencoba, kalau memang pintu tetap tertutup, ya sudahlah. Saya batalkan kenduri.”

Keesokan harinya, Leube Yusuf mengundang orang-orang untuk berdoa di pintu gua. Aku dan Bang Baka yang hadir di sana juga turut berdoa, mengangkat tangan tinggi-tinggi. Namun, pintu gua tetap bergeming, seperti mengejek kami yang berkumpul di sana. Aku melihat raut kecewa di wajah Bang Baka dan rona sinis di mata Leube Yusuf.

“Sudah kamu lihat sendiri?” sindir Leube Yusuf sambil mengakhiri doa siang itu.

Melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri, aku dipaksa untuk yakin kalau peninggalan raja itu hanya boleh dipakai oleh orang saleh. Tentu saja orang saleh yang kumaksud bukanlah wali yang bisa terbang atau berjalan di atas air, tapi sekurang-kurangnya dia rajin salat dan tidak suka menggoda perempuan. Namun, aku juga menyimpan sedikit keraguan yang terus mengerak, jangan-jangan doa Leube Yusuf kala itu tidak serius alias pura-pura. Itu sangat mungkin terjadi sebab dia memang menaruh dendam pada Bang Baka yang pernah mempermalukannya saat ia menilap jatah zakat milik Wak Bidin bertahun-tahun lalu. 

***
   
Saat mendengar ceritaku di awal tadi, kau pasti akan bertanya-tanya kenapa pintu gua Batee Raya tidak bisa dibuka lagi sampai sekarang. Sama seperti kau, pertanyaan itu juga pernah mengangguku selama beberapa waktu sampai kemudian ayahku menceritakan yang sebenarnya.

Pada penghujung Desember 1989, Leube Yusuf menyelenggarakan kenduri di rumahnya. Kenduri perkawinan putrinya dengan Kopral Jono yang digelar di musim penghujan tersebut dihadiri oleh banyak tamu, dan juga beberapa aparat militer berseragam lengkap dengan senapan tersangkut di bahu.
Leube Yusuf tidak menduga kalau biaya kenduri tiba-tiba saja membengkak karena tamu-tamu yang datang terlalu ramai. Hari itu, beberapa kali juru masak melaporkan kalau stok beras dan ikan sudah habis. Maka bingunglah Leube Yusuf. Cadangan uang belanja sudah benar-benar menipis dan tamu-tamu terus berdatangan. Lalu diperintahkanlah beberapa warga kampung untuk bergegas ke pasar, mencari beras dan ikan dengan cara mengutang terlebih dahulu. Atas bantuan Tauke Leman, akhirnya kebutuhan kenduri di rumah Leube Yusuf pun dapat tertutupi. Namun, utang kepada orang kaya itu harus segera dibayar begitu kenduri usai.

Leube Yusuf yang tak mau malu dengan keluarga mempelai laki-laki harus berpikir keras untuk melunasi utang-utangnya. Saat itulah ayahku menyarankan pada Leube untuk menyembunyikan beberapa piring raja, talam emas, gelas perak dan beberapa barang lainnya untuk dijual pada kolektor barang antik. Menurut pengakuan ayahku, dia mengusulkan demikian karena kasihan pada Leube Yusuf. 

Awalnya Leube Yusuf menolak. Ia memarahi ayahku. Namun, kemudian dia sadar, hanya itu satu-satunya pilihan. Maka dijalankanlah usul dari ayahku. Dia menjual beberapa barang peningggalan raja kepada Longwei, seorang kolektor Tionghoa. Saat dia menjual barang-barang itu, tak ada seorang pun warga yang tahu, kecuali ayahku, yang saat itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di toko Longwei.
Sejak saat itulah pintu gua Batee Raya tidak bisa lagi dibuka, dihalangi batu besar yang berdiri kekar di depan mulut gua. Sampai dengan Leube Yusuf meninggal, tak ada seorang pun yang tahu kalau dialah punca masalah di kampung kami, pembawa petaka yang membuat penjaga gua mengutuk kami seumur masa. Maka, kau tak perlu marah saat sesekali kau menemukan diriku mengencingi kuburannya. Aku kehabisan akal, sebab aku akan menggelar kenduri untuk perkawinan anakku beberapa hari lagi, sementara aku tak memiliki peralatan apa pun. Sialnya kampung kami juga tak memiliki barang-barang itu, sebab selama bertahun-tahun sudah terlanjur berharap pada barang-barang peninggalan raja yang kini terkunci dalam gua.

Catatan:
Suwa: obor.
Ija sawak; selendang Panjang.
Beuno: sejenis jin yang sering menindih orang yang sedang tidur.  

_______

Penulis

Tin Miswary, alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, menulis cerpen, esai dan resensi buku di beberapa media lokal dan nasional. Berdomisili di Bireuen.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!