Sunday, March 8, 2026

Puisi-Puisi Gimien Artekjursi

Puisi Gimien Artekjursi




Tentang Hari-Hari di Hidupku


hari-hari kemarin dan hari ini memang milikku

karena di hari kemarin aku masih bergulung di tengahnya

dan hari ini aku masih bisa memperjuangkan 

dan menikmatinya


entahlah esok

bisa jadi aku sudah pergi menjauhinya

tanpa meninggalkan apa-apa


atau hariku malah diambil orang lain

sampai sedikitpun tak ada lagi untukku


jangankan menikmati

bahkan sekedar tempat bermimpi tak lagi tersisa


masihkah aku bisa terus berharap menemukannya? 

tak lenyap seperti gelembung sabun yang tertiup angin?


bukannya aku tak yakin pada sang pemberi nyawa

tapi raga tua ini terlalu sering jatuh dan runtuh

terlalu lama memendam lelah dan payah

hampir lupa bagaimana rasanya berserah dan pasrah


sampai mantra pun serasa tak mengandung tuah

dan doa serasa tak diijabah


jika sudah seperti itu

masihkah ada harapan yang bisa dipercaya?


(di hidup ini tak ada yang pasti

selain kematian) 


Kumendung, 4 Januari 2026



Ketika Hari Itu Tiba


tak usah ditunggu 

hari itu pasti tiba tanpa kau minta


segala sudah jauh ditempuh:

peristiwa, kenangan, semua tahun dan pergantian musim

terlampaui sekian silam

datang dan pergi

seolah tak akan berhenti


akhirnya apa yang harus diingat, dievaluasi 

jika sesuatu tak terganti? 

adakah yang mesti ditimbang, ditakar

sesuatu yang tak bisa ditukar? 


waktu terus berputar tak akan pernah ingkar

bulan dan tahun berlalu dan tiba 

membawa serta suatu tak terduga 

—mimpi yang tak hendak berhenti

   bisa juga kenangan yang lama terlupa dan mati—


semua akhirnya akan sampai di penghabisan

tanpa harus saling kejar mengejar

tanpa pernah akan tertukar dari daftar

dan satupun tak akan bisa menghindar


Kaliwungu, 5 November 2025



Di Pemakaman


tua atau muda

tak ada beda


usia bukan lagi tanda


yang dikubur di sini

tak peduli pada waktu

tak hiraukan kenangan

apalagi mimpi


yang dikubur di sini

suatu yang pasti

dan sudah dipastikan

tanpa tunda

ketika tiba


Kumendung, 29 Desember 2025



Tentang Sebuah Kubur

(setelah pemakaman) 


di atas kubur

masih basah

aku melihat doa-doa berserakan 

seperti daun-daun berguguran

di sekelilingnya

bunga-bunga yang ditabur

tampak begitu tergesa-gesa dirapikan

 

tak ada yang menangis.

 

sekuntum kamboja gugur

sendiri

ketika sepi menjelma jadi dinding yang tak bisa ditembus

 

tak ada yang peduli


para pelayat sudah pergi

setelah mengantar doa-doa sampai ke ujung akhirat


hanya si mati

barangkali sedang diinterogasi malaikat 

dengan suara setipis angin

atau menunggu kiamat datang

yang melangkah lambat namun pasti

atau hanya diam tak berbuat apa-apa

  

kubur basah tinggal sepi

menunggu 

peziarah yang mungkin datang hanya ala kadar

seperti doa-doa yang hanya singgah sejenak

bahkan seperti embun yang hilang ketika matahari muncul


(tapi dalam kubur

aku rasa kau menikmati hari-harimu

jauh lebih baik daripada ketika bersama di dunia) 


Kumendung, 31 Desember 2025



Kematian: Kenyataan Sesungguhnya


isi dunia hanya mimpi dan halusinasi

tapi kematian yang kau terima adalah nyata 

dan abadi

kau lihatkah kerabat, sejawat atau teman dekat

berurai duka dan air mata? 

benarkah nyata atau ala kadarnya? 

apa bedanya? 

semua akan berlalu

seperti angin mengibaskan rambutmu

lalu mereka akan kembali terbenam dalam mimpi 

dan halusinasi masing-masing

sedang kau 

bahagia sesungguhnya mulai menikmati

selamanya

abadi

tanpa mimpi

karena kematian kenyataan sesungguhnya 


Kumendung, 11 Januari 2026



Demi Menghindari Kematian


demi menghindari kematian

kau bisa perjuangkan hidup

sekuat kemampuanmu

tapi tuhan punya batas

yang tak akan pernah bisa dilampaui siapapun

dengan cara apapun


Kumendung, 12 Januari 2026



Pada Akhirnya


begitulah pada akhirnya, kita tak perlu lagi bertikai 

tentang hari, tahun atau sekedar cuaca


setelah meninggalkan halaman

di manapun berada

mimpi, kenangan bahkan halusinasi

menyatu nyata jadi hidup kita


dan hari-hari akan selalu berlalu 

seperti burung-burung migrasi

menuju tempat baru 

melanjutkan hidup yang sudah dimulai hari-hari kemarin


tak ada lagi istimewa

semua akan jadi setara atau biasa

bisa jadi sia-sia


tak perlu lagi menentang waktu apalagi melawan 

sampai akhirnya kita akan sampai di titik pemberhentian

yang kita ingin atau tidak

tanpa bisa mengelak apalagi menolak


Kumendung, 1 Januari 2026


______


Penulis


Gimien Artekjursi, lahir pada 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Puisi-puisinya tampil di media cetak dan online, juga di beberapa antologi bersama.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!