Puisi Gimien Artekjursi
Tentang Hari-Hari di Hidupku
hari-hari kemarin dan hari ini memang milikku
karena di hari kemarin aku masih bergulung di tengahnya
dan hari ini aku masih bisa memperjuangkan
dan menikmatinya
entahlah esok
bisa jadi aku sudah pergi menjauhinya
tanpa meninggalkan apa-apa
atau hariku malah diambil orang lain
sampai sedikitpun tak ada lagi untukku
jangankan menikmati
bahkan sekedar tempat bermimpi tak lagi tersisa
masihkah aku bisa terus berharap menemukannya?
tak lenyap seperti gelembung sabun yang tertiup angin?
bukannya aku tak yakin pada sang pemberi nyawa
tapi raga tua ini terlalu sering jatuh dan runtuh
terlalu lama memendam lelah dan payah
hampir lupa bagaimana rasanya berserah dan pasrah
sampai mantra pun serasa tak mengandung tuah
dan doa serasa tak diijabah
jika sudah seperti itu
masihkah ada harapan yang bisa dipercaya?
(di hidup ini tak ada yang pasti
selain kematian)
Kumendung, 4 Januari 2026
Ketika Hari Itu Tiba
tak usah ditunggu
hari itu pasti tiba tanpa kau minta
segala sudah jauh ditempuh:
peristiwa, kenangan, semua tahun dan pergantian musim
terlampaui sekian silam
datang dan pergi
seolah tak akan berhenti
akhirnya apa yang harus diingat, dievaluasi
jika sesuatu tak terganti?
adakah yang mesti ditimbang, ditakar
sesuatu yang tak bisa ditukar?
waktu terus berputar tak akan pernah ingkar
bulan dan tahun berlalu dan tiba
membawa serta suatu tak terduga
—mimpi yang tak hendak berhenti
bisa juga kenangan yang lama terlupa dan mati—
semua akhirnya akan sampai di penghabisan
tanpa harus saling kejar mengejar
tanpa pernah akan tertukar dari daftar
dan satupun tak akan bisa menghindar
Kaliwungu, 5 November 2025
Di Pemakaman
tua atau muda
tak ada beda
usia bukan lagi tanda
yang dikubur di sini
tak peduli pada waktu
tak hiraukan kenangan
apalagi mimpi
yang dikubur di sini
suatu yang pasti
dan sudah dipastikan
tanpa tunda
ketika tiba
Kumendung, 29 Desember 2025
Tentang Sebuah Kubur
(setelah pemakaman)
di atas kubur
masih basah
aku melihat doa-doa berserakan
seperti daun-daun berguguran
di sekelilingnya
bunga-bunga yang ditabur
tampak begitu tergesa-gesa dirapikan
tak ada yang menangis.
sekuntum kamboja gugur
sendiri
ketika sepi menjelma jadi dinding yang tak bisa ditembus
tak ada yang peduli
para pelayat sudah pergi
setelah mengantar doa-doa sampai ke ujung akhirat
hanya si mati
barangkali sedang diinterogasi malaikat
dengan suara setipis angin
atau menunggu kiamat datang
yang melangkah lambat namun pasti
atau hanya diam tak berbuat apa-apa
kubur basah tinggal sepi
menunggu
peziarah yang mungkin datang hanya ala kadar
seperti doa-doa yang hanya singgah sejenak
bahkan seperti embun yang hilang ketika matahari muncul
(tapi dalam kubur
aku rasa kau menikmati hari-harimu
jauh lebih baik daripada ketika bersama di dunia)
Kumendung, 31 Desember 2025
Kematian: Kenyataan Sesungguhnya
isi dunia hanya mimpi dan halusinasi
tapi kematian yang kau terima adalah nyata
dan abadi
kau lihatkah kerabat, sejawat atau teman dekat
berurai duka dan air mata?
benarkah nyata atau ala kadarnya?
apa bedanya?
semua akan berlalu
seperti angin mengibaskan rambutmu
lalu mereka akan kembali terbenam dalam mimpi
dan halusinasi masing-masing
sedang kau
bahagia sesungguhnya mulai menikmati
selamanya
abadi
tanpa mimpi
karena kematian kenyataan sesungguhnya
Kumendung, 11 Januari 2026
Demi Menghindari Kematian
demi menghindari kematian
kau bisa perjuangkan hidup
sekuat kemampuanmu
tapi tuhan punya batas
yang tak akan pernah bisa dilampaui siapapun
dengan cara apapun
Kumendung, 12 Januari 2026
Pada Akhirnya
begitulah pada akhirnya, kita tak perlu lagi bertikai
tentang hari, tahun atau sekedar cuaca
setelah meninggalkan halaman
di manapun berada
mimpi, kenangan bahkan halusinasi
menyatu nyata jadi hidup kita
dan hari-hari akan selalu berlalu
seperti burung-burung migrasi
menuju tempat baru
melanjutkan hidup yang sudah dimulai hari-hari kemarin
tak ada lagi istimewa
semua akan jadi setara atau biasa
bisa jadi sia-sia
tak perlu lagi menentang waktu apalagi melawan
sampai akhirnya kita akan sampai di titik pemberhentian
yang kita ingin atau tidak
tanpa bisa mengelak apalagi menolak
Kumendung, 1 Januari 2026
______
Penulis
Gimien Artekjursi, lahir pada 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Puisi-puisinya tampil di media cetak dan online, juga di beberapa antologi bersama.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!