NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Suasana Aula Masjid Darul Arqom, Kampung Pasar Sore, Desa Singarajan, Pontang, terasa hangat pada Minggu sore (8/3). Sekitar tiga puluh peserta dari berbagai kalangan, termasuk akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. H. Muhyi Mohas, S.H., M.H. berkumpul untuk mengikuti Launching dan Bedah Buku Setetes Embun Pagi karya Drs. Abu Bakar. Kegiatan yang digelar oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pontang ini berlangsung hingga waktu berbuka puasa bersama.
Acara dibuka dengan penuh semangat oleh moderator sekaligus Sekretaris PCM Pontang, Farid Supriadi. Diskusi buku ini menghadirkan Kiai Manar MAS, Founder Manar Institute Foundation, sebagai pembedah buku.
Ketua PCM Pontang, Amrullah Aftah, S.Pd.I., turut memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai langkah baik dalam memperkaya literasi dakwah di lingkungan Muhammadiyah. Namun, ia juga memberi masukan sederhana namun penting.
“Kalau bisa tulisan dalam bukunya diperbesar, jangan terlalu kecil,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam pemaparannya, Kiai Manar MAS menggambarkan proses menulis buku dakwah sebagai sebuah ikhtiar yang penuh niat baik. Ia mengibaratkan hubungan antara penulis dan pembaca dengan sebuah perumpamaan sederhana.
“Menulis buku dakwah itu seperti gentong yang mencari gayung-gayung. Gentong itu penulisnya, sedangkan gayung-gayungnya adalah jamaah atau para pembacanya,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran buku seperti Setetes Embun Pagi menjadi penting karena kebutuhan utama umat, termasuk warga Muhammadiyah, adalah ilmu. Ia bahkan menyebut karya tersebut sebagai salah satu bentuk kelanjutan dari tradisi keilmuan para ulama terdahulu.
Namun demikian, ia juga memberikan beberapa catatan agar buku tersebut semakin mudah diterima masyarakat luas. Misalnya dengan memperbesar ukuran huruf dan menambahkan unsur visual seperti warna agar lebih nyaman dibaca, terutama bagi kalangan awam.
Sementara itu, penulis buku Drs. Abu Bakar membagikan cerita di balik proses kreatif lahirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa judul Setetes Embun Pagi memiliki makna filosofis yang dekat dengan perjalanan batinnya.
Menurutnya, embun melambangkan keikhlasan, ketenangan, dan kesederhanaan hidup.
Menariknya, sebagian besar tulisan dalam buku tersebut sebenarnya berawal dari pesan-pesan singkat yang ia bagikan di grup WhatsApp sejak sekitar tahun 2017, ketika penggunaan Android mulai marak.
“Tulisan-tulisan itu saya kirim ke grup-grup WA, dan ternyata mendapat sambutan hangat dari pembaca,” tuturnya.
Dari sanalah ia terus melanjutkan menulis. Bahkan, beberapa jamaah kemudian menggunakan tulisan-tulisan tersebut sebagai bahan kultum dan materi pengajian.
Diskusi buku sore itu pun berlangsung hangat, santai, dan penuh refleksi. Bagi sebagian peserta, buku Setetes Embun Pagi terasa seperti namanya: sebuah embun kecil yang menyegarkan hati di pagi hari, sederhana, tetapi memberi makna.
Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan berbuka puasa, menambah keakraban di antara para peserta yang hadir.
(Redaksi/Encep)


Terimakasih telah berkomentar!